
Kuliah-latihan, kuliah-latihan, kuliah-latihan, seminggu ini kegiatanku hanya berputar pada hal itu. Bahkan, karena kesibukanku ini aku jadi jarang bertemu dengan Lyra dan Rhea, tapi justru lebih sering bertemu dengan Zayn atau Kara. Entah aku harus sedih atau bersyukur.
"Ayo, mulai latihannya."
Aku langsung berusaha fokus dan kembali ke posisiku ketika Zayn memberi aba-aba untuk memulai latihan.
Latihan kali ini dimulai dari pagi, karena kebetulan kami semua pinya jadwal kuliah yang hampir sama. Untungnya sejauh ini jadwal latihan dengan kuliah tidak saling bertabrakan. Semoga saja kedepannya seperti itu.
"Ini tuh besok kita tampilnya di outdoor atau indoor sih?"
"Kayaknya sih indoor, tapi belum pasti juga. Mungkin besok mau dibahas lagi sama Kak Eza dan tim."
"Okey,"
Setelah beristirahat sebentar, kami kembali memulai latihan. Memanfaatkan sisa waku sebelum kuliah dimulai.
Kuliah ku hari ini hanya presentasi mandiri tanpa dosen. Bahkan kebanyakan teman-temanku hanya duduk sambil memainkan ponselnya tanpa memperhatikan kelompok yang presentasi.
"Rajin amat sih, nggak ada dosen juga. Mending makan aja yuk di kantin."
Aku langsung menegok ke samping kananku setelah mendengar suara yang cukup ku kenali. Zayn sudah duduk manis di kursi itu.
"Ngapain anak HI nyasar ke Sasing? Kurang kerjaan amat kamu."
Aku menatap heran Zayn yang malah sok memperhatikan presentasi. Padahal aku yakin dia tidak paham dengan materi yang sedang di sampaikan.
"Keluar gih kamu, ngapain disini. Kalau ada dosen jadi masalah ntar."
"Tenang aja, kelas lo kan nggak ada dosen ini dan teman-teman lo nggak nggeh juga." Zayn berujar dengan tenang.
Aku akhirnya pasrah dan membiarkan Zayn melakukan apa yang dia inginkan. Lagi pula dia tidak mengganggu, hanya menjadi mahasiswa nyasar di jurusan lain.
Zayn benar-benar mengikuti perkuliahan dengan tenang dan memperhatikan sepanjang teman-temanku presentasi.
"Udah yuk, kuliahnya udah kelar. Katanya tadi kamu pengen ke kantin."
Aku mengajak Zayn untuk segera ke kantin begitu kuliah selesai. Sebelum teman-temanku menyadari kalau ada penyusup di kelas.
"Iya Mei, sabar."
Zayn lekas beranjak dari duduknya dan mengikutiku keluar kelas.
"Ikut gue aja yuk, kita makan diluar. Di kantin isinya cuma gitu-gitu doang."
Zayn menarik ku menuju parkiran. Entah mau mengajak ku pergi kemana dia.
"Kalau gue ajak lo ke pasar malam mau nggak? Kemarin Bang Bryan kasih tahu gue kalau ada pasar malam di sekitar sini."
__ADS_1
Zayn menawariku untuk ke pasar malam, sepertinya menarik. Tapi pasti di tempat itu akan penuh dengan orang-orang.
"Em.. boleh deh, tapi apa nggak masih kecepatan kalau kesana sekarang?"
Gue bertanya ragu, karena setahuku pasar malam akan semakin rame dan semakin menarik bila sudah malam.
"Iya sih, pasti belum ada apa-apa disana."
"Mending sekarang kita cari makan siang dulu aja, sekalian katanya kamu mau diskusi sama Kak Eza."
Aku memberi saran dan untungnya langsung di setujui oleh Zayn.
Kami berakhir makan siang di kantin FMIPA, karena yang terdekat dari parkiran tempat kami berdiri tadi.
"Nggak ada tempat lain apa? Gue lagi males kalau ketemu Kara."
"Ini yang paling dekat. Udah makan aja kita, nggak akan ketemu Kara. Dia ada kuliah hari ini. Jadi nggak mungkin nongkrong di fakultas orang."
Sambil menunggu pesanan kami jadi, Zayn mencoba menghubungi Kak Eza, untuk menanyakan perihal diskusi yang dia janjikan tempo hari.
"Udah telponannya?"
"Udah telpon Kara?"
"Nggak mau, lo aja gih yang telpon terus nanya-nanya."
Zayn bersikeras tidak mau menghubungi Kara, pada akhirnya aku mengalah dan menelpon Kara agar segera menyusul kami.
"Kenapa Mei? Gue lagi kuliah."
"Masih lama nggak? Ini kamu diminta Kak Eza buat nyusulin kita di kantin FMIPA. Nanti Kak Eza sama Rhea nyusul."
"Bentar lagi ya, ini dosennya masih jelasin. Nanti gue kesana. Lo sama Zayn kan?"
"Iya, kita tunggu di kantin ya."
Setelah Kara mengiyakan, aku langsung menutup panggilan. Kebetulan juga, makanan yang kami pesan sudah datang.
Aku dan Zayn makan dalam diam, menikmati makanan yang kami pesan.
__ADS_1
"Maaf ya, bikin lo nunggu lama." Kara menyapa kami dan duduk di kursi kosong sampingku. Begitu Kara tiba, seharusnya diskusi bisa dimulai. Tapi baik Kara maupun Zayn malah saling diam. Jujur saja aku bingung harus bagaimana.
"Ini mau bahas apa emangnya?"
Akhirnya setelah lebih dari sepuluh menit hanya diam, Kara memulai pembicaraan.
"Cuma mau memastikan, kita tampilnya indoor atau outdoor. Karna kita mau mulai mempersiapkan alat dan yang lainnya."
"Jadinya indoor, untuk konsepnya seperti apa yang tahu Bang Eza. Gue cuma tinggal eksekusi nantinya kalau udah fix."
"Itu orangnya dateng." Aku melambaikan tangan pada Kak Eza dan Rhea yang berjalan memasuki area kantin.
"Nih orangnya dateng, lo tanya sendiri aja soal konsep dan yang lainnya."
Diskusi dilanjutkan sampai benar-benar clear semuanya. Aku hanya menyimak saja karena tidak begitu paham dengan yang mereka bahas.
Samar-samar gue mendengar Rhea mengeluh pada Kara karena dia yang selalu di pekerjakan oleh Kak Eza. Sepertinya Rhea sudah mulai jenuh.
"Untung aku cuma nyanyi, nggak bisa bayangin secapek apa Rhea." Aku tiba-tiba membandingkan pekerajaan yang aku lakukan dengan yang di lakukan Rhea.
"Udah ya, berarti kalian bisa mulai persiapan alat-alatnya. Nanti kalau mau cek tempat bisa hubungi Kara atau Rhea karena mereka yang punya kunci."
Akhirnya, Kak Eza mengakhiri diskusi dan langsung pergi bersama Rhea. Sedangkan aku, mengikuti Zayn yang berjalan ke arah parkiran.
"Ayo, Mei naik. Kita ke pasar malam."
Zayn membantuku untuk menaiki motornya. Sebenarnya aku benci naik motor seperti ini, karena memerlukan usaha. Tapi naik motor seperti ini, sayang untuk dilewatkan.
Zayn membawa motor dengan kecepatan sedang. Kami menikmati sore dengan penuh rasa senang.
Setelah melewati kepadatan kota Bandung, akhirnya kami sampai ke area pasar malam. Zayn memarkirkan motornya dengan rapi, menitipkannya kepada penjaga penitipan.
Dengan cekatan Zayn menggandeng tanganku dan berjalan pelan mengelilingi area pasar malam yang luas.
"Ini belum terlalu rame, nanti kalau udah jam delapan ke atas pasti mulai rame. Apalagi ini menjelang weekend."
"Iya sih, kelihatan. Tadi belum terlalu ramai dan sekarang mulai terlihat pengunjuk semakin bertambah.
"Lo nggak pengen coba jajanan atau wahana, Mei?"
Zayn menawariku, tapi aku masih ingin menikmati suasana pasar malam. Tempat ini sungguh menarik. Ada pelajaran berharga yang nggak bisa di dapatkan di tempat lain.
"Zayn, kamu tahu. Dari tempat ini kita bisa belajar dari pengunjung yang datang. Disini pengunjungnya dari berbagai golongan dengan problema masing-masing. Walaupun mereka lagi ada masalah... pasar malam tetap berjalan kayak biasa."
Zayn hanya menatapku dalam diam ketika aku berbicara panjang seperti itu, entah dia benar-benar mendengarkan atau tidak. Tapi yang pasti, aku sangat berterimakasih karena dia membawaku kesini.
"Ini gue mau kasih kejutan sama lo tapi kayaknya lo lebih tahu soal pasar malam dari pada gue."
Akhirnya Zayn berbicara juga, setelah sejak aku berbicara dia hanya diam.
"Aku baru kali ini mengunjungi pasar malam dan itu sangat menarik."
__ADS_1