
Gue sedang berdiam diri di kamar ketika Rhea muncul dan mengganggu. Padahal biasanya dia langsung masuk tanpa ketuk pintu. Tidak seperti biasanya, kali ini Rhea mengetuk pintu kamar gue. Mau nggak mau gue harus membukakan, sebelum Rhea semakin bar-bar mengetuknya.
Gue membuka pintu dengan enggan, karena sebenarnya gue malas beranjak dari kasur. Tapi sepertinya gue harus bersyukur karena Rhea mengetuk pintu. Gue jadi bisa langsung memeluk Mei yang ternyata bersembunyi dibalik punggung Rhea.
Gue memekik senang seraya menghambur memeluk Mei. Gue kangen banget sama dia. Sampai-sampai gue melupakan Rhea yang sedari tadi menatap kami dengan tatapan kesal. Karena tidak diajak berpelukan.
"Sekarang cerita ke gue, gimana bisa kalian tiba-tiba udah baikan kayak gini? Tahu nggak, gue tuh udah pusing banget kalau sampai lo berdua nggak baikan juga."
Gue duduk dihadapan Rhea dan Mei, gue penasaran cerita mereka bisa sampai berbaikan dan bahkan terlihat seolah-olah mereka tak pernah bertengkar.
"Intinya, Mei chat gue kemarin malem. Terus paginya gue ajakin ketemu dan ngobrol. Yaudah abis itu baikan. Kebetulan juga kan lo minta kita nginep." Jelas Rhea memberitahu gue secara garis besar.
"Gue kira malah Mei duluan, ternyata malah lo yang samperin dia." Tanya gue memastikan.
"Iya, Rhea yang nyamperin aku abis kelas tadi." Sahut Mei.
Kami mengobrol sampai Kak Eza memanggil untuk makan malam. Sepertinya hari ini dia memasak.
Selesai makan malam kami semua berkumpul di ruang keluarga untuk sekedar mengobrol. Tapi Rhea dan Kak Eza malah ribut sendiri, kebiasaan memang mereka. Bila bertemu pasti selalu meributkan hal kecil.
Rhea lebih memilih melipir ke teras belakang daripada perdebatan dengan Kak Eza berlanjut. Gue tahu, sebenarnya dia berniat untuk menghubungi Kara. Tapi entah kenapa, dia masih ragu-ragu.
"Udah kirim aja chatnya, nggak usah mikir nantinya gimana. Mau dibalas atau nggak, itu urusan belakangan. Seenggaknya lo ada usaha buat minta maaf ke dia."
Karena terlalu geregetan dengan Rhea yang sedari tadi buka tutup iMessage, gue berkomentar juga. Tapi semoga Rhea tidak merasa gue ikut campur deh karena lancang berkomentar soal tindakannya.
"Gue takut, Ra. Tapi gue kangen dia, walaupun masih ada sebelnya dikit." Sahut Rhea setelah dia berhasil mengirimkan pesan yang dia tulis tadi.
"Udah tenang aja, nggak akan ada apa-apa kok. Kalian bisa baikan pasti, Kara tuh diem-diem juga kangen lo. Cuma dia gengsi aja mau hubungin lo duluan."
__ADS_1
Gue berusaha menenangkan Rhea. Sejujurnya gue senang, karena dengan begini misi membuat Rhea dan Kara berbaikan menjadi lebih mudah.
Gue cuma perlu membujuk Kara, agar anak itu mau menurunkan ego dan gengsinya untuk bertemu dan ngobrol dengan Rhea.
Kami memanfaatkan pertemuan kali ini untuk sekedar mengobrol. Ternyata banyak hal yang terlewat selama kami jarang berkumpul seperti ini. Walaupun gue masih berhubungan dengan Rhea atau Mei, tapi tetap saja gue masih ketinggalan banyak hal.
"Ternyata gue ketinggalan banyak banget ya, terutama soal Mei. Padahal gue juga masih ketemu kalian lho, walaupun ketemunya sendiri-sendiri." Ujar gue heran.
"Ya kan, kamarin-kemarin kita ketemunya juga nggak lama. Palingan cuma berangkat bareng atau pulang bareng doang." Sahut Rhea.
"Iya juga sih, gue ketemu kalian bisa dihitung. Apalagi sama Mei."
Gue membenarkan ucapan Rhea dan Mei. Memang sih, akhir-akhir ini gue justru lebih banyak bertemu dengan Kak Bryan dan Kara. Ya gimana, kan selagi Kak Bryan masih longgar jadi gue manfaatkan dong waktunya.
"Lo mah keseringan ketemu Kak Bryan daripada kita." Celetuk Rhea tepat.
"Kan ketemu Kak Bryan tuh susah, jadi sekali ada kesempatan manfaatkan dong. Kalau ketemu kalian kan bisa kapan aja, apalagi sekarang kalian udah baikan." Sahut gue membela diri.
Rhea dan Mei hanya tersenyum memaklumi, karena memang begitu kenyataannya. Minggu ini saja, Kak Bryan sudah sibuk lagi. Bahkan sampai nggak bisa di chat. Benar-benar menyebalkan, tapi ya mau nggak mau gue tetap harus sabar nunggu Kak Bryan longgar.
__ADS_1
Seperti tujuan awal gue kemarin, hari ini gue kembali bertemu dengan Kara. Lebih tepatnya gue yang datang menemui Kara ke sekertariat komunitas. Karena kebetulan anak itu sedang berada disana.
"Ngapain lo sampai sini?" Ujar Kara tanpa basa basi setelah melihat gue masuk ke ruangannya.
"Lo tuh ya, kebiasaan emang. Baru ketemu bukannya disapa malah langsung nodong pertanyaan. Dan kenapa masih nanya, gue udah kasih tahu di chat. Pasti nggak lo baca."
Gue sebal sekali dengan sikap Kara. Kalau bukan karena mau bantu Rhea, malas banget gue harus ketemu dan ngobrol sama dia. Karena gue dan Kara itu tidak cocok, setiap mengobrol pasti akan berakhir dengan perdebatan.
"Nggak tahu ponsel gue dimana. Lupa naro dari semalem." Sahut Kara tak peduli karena sepertinya dia sedang fokus dengan pekerjaannya.
"Bentar, berarti lo nggak baca chat dari semalem dong."
Kara menggeleng, membenarkan tebakan gue. Berarti sampai sekarang dia belum tahu kalau Rhea mengiriminya pesan.
"Cari ponsel lo, cek isi chat gue dan Rhea. Setelah itu kita ngobrol. Gue mau bicarain sesuatu sama lo." Titah gue.
"Ini gue nggak salah baca? Rhea ngajak ketemuan dan mau minta maaf." Ujar Kara yang ternyata sedang membaca pesan yang dikirimkan Rhea.
"Seperti yang lo lihat. Gimana menurut lo?"
"Gimana apanya?" Tanya Kara polos, entah emang nggak paham atau pura-pura tidak paham maksud pertanyaan gue.
"Sebelum lo jawab, boleh nggak gue kasih saran. Coba lo iyain ajakannya Rhea, kalian udah saatnya baikan. Turunin ego sama gengsi lo. Rhea udah bersedia ngajak lo ketemu dan ngobrol, sekarang lo tinggal menerima dan masalah selesai." Tutur gue panjang lebar.
"Gue bingung, gue masih marah sama Rhea karena ucapannya waktu itu. Tapi gue juga tahu kalau itu karena gue yang lebih dulu memancing emosi Rhea." Kata Kara yang membuat gue geregetan sendiri.
"Lo tuh, tinggal bilang iya apa susahnya sih. Pakai ngomong muter-muter segala." Ucap gue sambil menyentil dahi Kara karena terlalu sebal.
"Sakit!"
"Gue nggak mau tahu. Pokoknya besok lo ketemu Rhea dan baikan sama dia." Ucap gue final.
Kara hanya bisa pasrah dan mengiyakan permintaan gue. Semoga setelah ini, hubungan Rhea dan Kara bisa kembali seperti biasanya. Walaupun gue nggak yakin, akan bagaimana nantinya. Karena persahabatan cowok dan cewek tidak ada yang murni. Pasti akan ada satu waktu dimana salah satunya menaruh hati.
Misi gue udah selesai, setelah ini gue bisa fokus dengan urusan gue sendiri. Seharusnya gue mengurusi hubungan gue dengan Kak Bryan yang tanpa kejelasan, dibandingkan mengurusi Rhea dan Kara.
Ribet memang ya, memiliki hubungan tapi tanpa ada embel-embel apapun. Mau cemburu bukan siapa-siapa, tapi kalau diam juga bikin kepikiran. Gue harus gimana? Mau protes tapi kita jarang ketemunya karena terhalang pekerjaan. Bingung gue.
...~~~~~...
__ADS_1