Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
1.1 [Rhea] Kesan Pertama


__ADS_3

Pagi ini gue dan Mei emang mengurus jadwal kuliah yang sudah memasuki semester baru. Huh, sebenarnya gue malas untuk mengurus itu, terlalu merepotkan. Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah kewajiban.


Sejak menyelesaikan urusan kami, gue dan Mei emang nggak langsung pulang. Mei berniat untuk tetap di kampus karena ia ada pertemuan perdana bersama anggota UKM Band siang ini dan gue cuma mengikutinya, karena sejujurnya gue nggak ada kegiatan apapun sampai nanti sore. Lagi pula gue juga bosan kalau cuma berdiam diri dirumah, tapi ternyata duduk di kantin bersama Mei jauh lebih membosankan karena kami hanya diam dan sibuk dengan aktivitas masing-masing.


"Teman baru? Emang harus ya?" Tiba-tiba gue teringat pembicaran semalam dengan Aga, sahabat gue sejak kecil.


"Apanya yang harus? Kalau ngomong tuh yang jelas Rhea." Mei yang tadinya fokus pada ponsel langsung menatap gue penuh tanya, sepertinya ia mendengar gumaman tidak jelas tadi.


"Em, tentang.." gue menjeda ucapan, karena masih ragu akan mengutarakannya pada Mei atau tidak mengingat akan seperti apa responnya, "ah, lupain deh. Anggep gue nggak ngomong apapun."


Mei hanya mendengus dan kembali menekuni aktivitasnya yang tertunda. Dia tidak lagi memperdulikan apapun yang gue lakukan. Gue pun begitu, tidak lagi berniat untuk mengajak Mei ngobrol karena bisa dipastikan pada akhirnya kami akan berdebat.


"Hey Mei, serius banget lagi ngerjain apaan?" Lyra yang memang sejak tadi berjanji untuk menemui kami akhirnya datang juga dan langsung menyapa Mei yang masih setia dengan ativitasnya.


"Bukan apa-apa." Mei menutup notesnya sebelum Lyra membaca apa yang ditulisnya.


"Nggak tahu tuh, dari tadi sibuk sama notesnya. Mana gue dicuekin pula." Gue memutar bola mata malas, melihat Mei yang masih saja fokus dengan notesnya mengabaikan gue dan Lyra.


"Apaan sih Rhea, siapa yang cuekin lo sih." Mei terlihat tidak suka dengan protesan gue yang merasa terabaikan sejak tadi dan berujar dengan nada sinis.


"Dih, gitu aja sewot." Gue melayangkan tatapan tajam menantang Mei yang masih menatap sinis. Begitulah kami berdua, sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah. Sepertinya sebentar lagi kami akan kembali bertengkar.


"Kalian berdua tuh kenapa sih, nggak bisa ya akur sehari aja." Lyra yang tadinya hanya diam menatap tajam ke arah kami, yang pada akhirnya gue abaikan. Jujur saja, gue malas bila harus ribut dengan mereka berdua.


Sungguh hari yang membosankan, setengah jam terlewat hanya untuk berdiam diri seperti ini. Seharusnya setelah selesai mengurus jadwal gue ikut Aga saja, ah ngomong-ngomong soal Aga sepertinya gue melupakan sesuatu.


"Eh iya, ini nanti malem kita jadi mau kumpul?"


"Jadi dong, masa nggak jadi sih. Kita kan udah lama nggak ketemu." Dengan penuh semangat Lyra mengiyakan pertanyaan Mei. "Yaudah mending sekarang kita ke supermarket buat belanja camilan sama sekalian beli bahan masakan." Lyra langsung beranjak dari duduknya, begitu juga Mei setelah dia selesai membereskan barang-barangnya.


"Aku mau ke ruang musik dulu, bentar lagi latihan dimulai. Kamu perginya sama Rhea aja, nanti aku langsung ke rumah kamu abis beres latihan," ucap Mei yang langsung membuyarkan lamunan gue tentang Aga.


"Iya, semangat latihan ya. Gue sama Rhea juga mau jalan kok." Itu Lyra yang berbicara, tapi gue sama sekali tak menggubrisnya dan masih fokus menginggat sesuatu yang gue lupakan soal Aga.


"Eh, bentar. Ini lo ngapain narik-narik sih." Gue berusaha melepaskan genggaman tangan Lyra.


"Kan mau nginep rumah gue. Tapi sekarang kita mau ke supermarket dulu. Yuk ah, berangkat sekarang."


"Hah? Ini kita perginya sekarang? Duh Ra, gue ada janji sama Aga dan gue lupa kalau hari ini juga. Gue cabut duluan deh."


Dalam pikiran gue sekarang hanya ada Aga, sahabat gue yang ternyata sejak satu jam lalu membombardir dengan panggilan yang tidak gue respon. Ah, sepertinya setelah ini gue akan mendapatkan omelan karena membuatnya menunggu terlalu lama.


"Rhea, lo ngapain sih lari-lari. Mana gue ditinggalin." Lyra yang tidak terima karena gue meninggalkannya di kantin memprotes sambil berusaha menoyor kepala gue. Tapi belum sempat niatnya itu terlaksana seseorang menyerukan nama lengkap gue. Ah, sepertinya Aga sudah benar-benar marah.

__ADS_1


"Rhea Arysta Yasmine."


Mendengar nama lengkap gue disebut dengan penuh penekanan oleh Aga, reflek Lyra langsung menengok ke arah asal suara itu. Rupanya Aga sudah berdiri samping mobilnya dan sepertinya sedang menunggu gue.


"Ehehe, maaf Ga. Gue lupa."


Aga menatap gue takjub dan berdecak, bagaimana bisa gue melupakan janji penting yang baru saja kami bahas semalam, "kebiasaan, pasti lo lupa juga kalau sore kita ada janji ketemu rekannnya Bang Eza."


"Eh, janji?" Gue mencoba mengingat janji yang dimasud Aga, jujur saja gue benar-benar lupa soal janji itu.


"Janji apaan sih? Kok kayaknya dari tadi bahas janji mulu. Bawa-bawa nama Kak Eza juga." Lyra yang penasaran akhirnya bertanya pada Aga yang sedari tadi terus-terusan mengungkit soal janji yang dilupakan Rhea.


"Iya, gue sama Bang Eza kerjasama. Lebih tepatnya sih komunitas yang gue ikutin ada proyek bareng sama perusahaan temennya dia," ujar Aga memberitahu Lyra juga sekaligus mengingatkan gue tentang janji itu.


Ah, rupanya janji untuk berdiskusi dengan Kak Bryan tentang kelajutan kerjasama komunitas menulis. Bagaimana bisa gue melupakan janji sepenting itu, untung saja Aga mengingatkan.


"Lo mau gimana Ra? Ini gue udah ditelpon sama abang lo. Rhea kudu ikut gue sekarang," ucap Aga sembari menerima panggilan dari Eza di ponselnya.


"Eh, kok sekarang? Gue kira masih nanti sore. Ngga mau tahu, gue mau jalan dulu sama Lyra." Gue merajuk pada Aga agar diperbolehkan pergi dengan Lyra. Tapi sepertinya Aga tak menghiraukan dan tetap fokus berbicara pada Eza di telepon.


"Ngga bisa Rhea sayang, kita nanti ada acara sama anak-anak. Lagi pula, nanti katanya lo mau nginep di rumah Lyra juga." Aga berujar dengan lembut sambil mengacak rambut gue pelan. Dia memang paling ahli meredam kekesalan gue.


"Maaf ya Ra, kayaknya lo ke supermarket sendirian deh. Gue harus kelarin urusan ini biar gue bisa ikut nginep." Mau tak mau akhirnya gue membatalkan rencana dengan Lyra untuk ke supermarket.


"Boleh ya Ga, nanti gue anter Rhea ke kantor Kak Eza. Bentar doang kok, janji deh." Lyra berusaha membujuk Aga agar mengijinkanku pergi. Sedangkan aku hanya menatap penuh harap pada Aga. Karena sejujurnya gue memang sangat ingin pergi bersama Lyra walaupun hanya sebentar.


"Oke, masih ada waktu sekitar tiga puluh menit. Kalian gue anter sekalian, searah juga kan." Setelah sedari tadi hanya diam menatap gue dan Lyra, akhirnya Aga berbicara pada Lyra setelah ia melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Sepertinya dia sedang memperkirakan waktu yang bisa kami gunakan sebelum bertemu Kak Eza.


Akhirnya kami bertiga menuju ke daerah Cihampelas untuk mengantar Lyra yang bersikukuh untuk berbelanja di supermarket. Sebenarnya tujuan awal kami, hanya untuk mengantarkan Lyra ke Ciwalk karena anak itu ingin membeli beberapa barang untuk acara nanti malam. Tapi entah kenapa, Aga justru menarik gue dan Lyra memasuki coffeshop.


"Aga pesenin ya, gue mau cappucino." Gue merajuk pada Aga agar mau memesankan cappucino.


"Nggak, lo nggak boleh minum kopi." Aga menggeleng dan menatap tajam ke arah gue. .


"Yaah, boleh ya. Dikit aja deh." Gue memohon kepada Aga agar diijinkan untuk memesan kopi. Tapi sepertinya usaha gue memohon sia-sia, karna sekarang Aga justru duduk diam dan menunjukan wajah datarnya.


"Udah, sini biar gue aja yang pesen. Kalian diem disini." Lyra yang sedari tadi hanya duduk diam disamping gue langsung beranjak untuk memesan.


"Nggak usah, gue mau pindah ke lantai atas. Bang Eza ternyata udah nunggu di atas dan ngajak ketemu sekarang. Lo mau gimana?" Aga menolak tawaran Lyra dan beranjak dari duduknya. Ah, ternyata ini alasan Aga mengajak kami masuk ke coffeshop ini.


"Tenang aja, ntar gue bisa balik naik gocar atau bareng Kak Eza sekalian," ucap Lyra meyakinkan Aga agar tidak khawatir.


"Yakin lo mau bareng abang lo yang galak itu." Gue berucap dengan nada sinis sambil menatap ragu Lyra ketika ia mengatakan akan meminta Kak Eza untuk pulang bareng.

__ADS_1


"Iya Rhea, lo tenang aja sih." Lyra mengangguk kecil menanggapi ucapan gue, "kalian langsung ke atas gih, keburu Bang Eza marah gara-gara kalian telat. Dia kan nggak suka kalau diskusinya ngaret."


"Okey, Kita duluan."


Begitu mendapat persetujuan dari Lyra, tiba-tiba Aga langsung menyeret gue yang jelas-jelas sedang membereskan novel yang tadi sempat gue keluarkan dari tas. Hah, cowok itu benar-benar tak punya perasaan.


Setelah diseret dengan tidak elit oleh Aga, disinilah gue sekarang di lantai atas untuk menemui Kak Eza yang ternyata sudah berada di sini sejak tadi. Begitu sampai, kami langsung disambut dengan berkas proposal yang sepertinya sedang diperiksa oleh Kak Eza.


"Udah nunggu lama Bang? Maaf kita agak telat." Aga bergegas duduk disalah satu kursi kosong.


"Lumayan, lain kali jangan telat lagi. Gue nggak suka nunggu, buang-buang waktu." Gue mendengus tak suka mendengar ucapan Kak Eza yang terkesan menyalahkan gue dan Aga yang datang terlambat.


"Apaan sih, sok banget. Padahal temen lo aja juga belum dateng." Entah gue bersuara terlalu keras atau memang pendengaran mereka cukup peka, karena Kak Eza dan Aga langsung menatap gue dengan sorot mata yang berbeda.


Aga menggeleng pelan sambil berbisik, berusaha memperingatkan gue agar diam dan tidak berulah lagi, "Rhea, nggak usah mulai."


"Bukan gue sok atau gimana, gue cuma nggak mau buang-buang waktu. Masih banyak hal penting yang bisa gue lakukan selain menunggu kalian." Kak Eza berujar tenang sambil tetap fokus pada proposal yang sedang dicek ulang. Dia sama sekali tidak terpancing dengan ucapan gue.


"Ini proposal udah bagus, cuma perlu diperbaiki dikit bagian aggarannya. Kalau bisa di buat lebih detail lagi."


"Ah, oke. Nanti biar gue sama Rhea benerin. Terus ini kan rencananya kita mau bikin rumah baca, kalau sekalian di adakan pelatihan menulis gimana?"


Sepertinya Aga tidak membiarkan gue kembali memprotes ucapan Eza karena ia langsung menyahuti dan fokus diskusi tanpa menunggu Kak Bryan yang belum datang.


"Maaf gue telat, tadi ada insiden kecil di bawah." Kak Bryan muncul tak lama setelah Kak Eza dan Aga berdiskusi tentang proyek rumah baca.


"Duduk Kak, ini Aga sama Kak Eza juga baru mulai kok diskusinya." Gue mempersilahkan Kak Bryan duduk di satu-satunya kursi kosong sebelah gue.


"Gimana? Masih ada yang perlu di perbaiki nggak?" Kak Bryan bertanya setelah membaca proposal dengan seksama.


"Tadi Bang Eza cuma minta proposalnya diperbaiki soal anggaran," sahut Aga sambil mencatat beberapa point yang menurutnya penting.


"Oke berarti udah clear ya ini. Tinggal bahas yang lain," ujar Kak Bryan memastikan lagi tentang proposal yang ku buat.


"Ini mau lanjut atau udahan?"


"Cukup dulu deh Bang, lanjut lagi kalau anggaran dananya udah fix," Aga menanggapi sambil membereskan beberapa berkasnya tercecer di meja.


"Kira-kira butuh waktu berapa hari lo nyelesein tuh revisi proposal? Dua hari cukup?"


Gue langsung mendelik begitu mendengar penuturan Kak Eza. Yang benar saja, merevisi anggaran dana sebanyak itu hanya dalam dua hari. Huh, ingin rasanya gue memprotes, tapi mengingat kalau itu akan membuat pertemuan ini semakin lama selesai, gue mengurungkan niat itu. Lagi pula Aga sudah menyanggupinya.


"Yaudah kami duluan ya Kak." Gue langsung menyeret Aga untuk bergegas pergi dari sana, karena gue sudah malas melihat Kak Eza. Lagi pula gue juga harus segera ke rumah Lyra.

__ADS_1



__ADS_2