
Setelah dipikir kembali, ternyata Kak Eza tidak semenyebalkan itu. Justru bisa dibilang dia kakak yang sangat baik. Tapi kenapa setiap berbicara padaku terkesan angkuh dan menyebalkan.
"Dicariin dari tadi ternyata malah bengong disini." Lyra menghampiri gue yang duduk diam di ruang tengah.
"Gue bingung sama tuh orang." Entah sadar atau tidak, tiba-tiba gue berucap seperti itu. Lyra yang mendengarnya hanya menatap gue bingung.
"Kalian ngapain masih disini? Tidur sana, besok masih ada kuliah kalian," tegur Kak Eza sambil berjalan masuk ke kamarnya.
"Apasih Kak, masih jam segini juga." Lyra mendengus sebal medengar ucapan Kakaknya, sebenarnya gue pun sedikit sebal.
"Ah iya, Dek. Abis ini temen lo suruh ke ruang kerja gue. Mau bahas soal proposal yang dia kasih tadi."
Padahal gue berada disitu bersama Lyra tapi kenapa dia tidak berbicara langsung sama gue. Ini gue nggak dianggap atau bagaimana. Huh, menyebalkan. Baru juga tadi gue puji karena dia sedikit berbeda dari sebelumnya, ternyata sama saja.
"Kenapa nggak ngomong langsung, ini orangnya di samping gue lho, Kak" Lyra memprotes kelakuan Kakaknya yang sangat aneh itu.
"Males, dia lagi bengong pasti ngga nyambung kalau diajak ngomong," kata Kak Eza sambil berlalu meninggalkan kami. Sebenarnya omongan Kak Eza nggak salah sih, tapi kenapa gue sebal banget ya.
"Gue udah denger, nanti deh gue kesana kalau nggak males." Gue lebih dulu berbicara sebelum Lyra menjelaskan soal itu.
"Rhea, ini hp lo bunyi mulu. Telpon dari Kara, kayaknya penting." Mei menghampiri gue sambil membawa ponsel yang terus menerus berdering dalam genggamannya.
"Lo tuh kemana aja sih, di telpon nggak bisa-bisa." Begitu panggilannya tersambung, gue langsung di sambut dengan omelan Aga dari seberang telpon.
"Kenapa sih, baru juga dijawab panggilannya langsung ngomel."
"Proposal udah jadi lo kasihin Bang Eza?
"Lo nelpon terus ngomel-ngomel kayak gini cuma buat nanya itu?" Nggak habis pikir gue, kalau Aga menelpon hanya untuk menanyakan hal itu.
"Masalahnya, salah satu proposal itu masih ada yang salah. Gue ada salah print tadi." Aga menjelaskan alasannya menelpon dan seketika membuat gue panik.
"Kenapa nggak bilang dari tadi, gue tutup. Mau menyelamatkan diri dulu." Gue langsung mengakhiri panggilan dari Aga dan bergegas menuju ruang kerja Kak Eza.
"Kenapa? Baru sadar kalau proposalnya banyak yang salah?" Begitu masuk ruangan gue langsung disambut sindiran halus yang dilontarkan Kak Eza.
"Kan kata lo tadi udah bagus, Kak?"
Gue berusaha membela diri, karena memang tadi Kak Eza mengatakan proposalnya sudah bagus. Itu artinya sudah tidak ada yang salah kan?
__ADS_1
"Iya, udah bagus yang tadi saya cek. Cuma satu ini berantakan parah. Jangan-jangan yang ngerjain bukan kamu."
"Gue yang ngerjain, sembarangan banget ngomongnya. Mana yang itu proposalnya gue ambil. Mau gue benerin dulu."
Gue melangkah mendekati meja kerja Kak Eza dan berniat mengambil proposal yang masih salah itu. Tapi Kak Eza justru menahan tangan gue dan menyuruh gue duduk di sofa.
Gue menatap bingung pada Kak Eza, karena tidak paham apa tujuan Kak Eza menyuruh gue duduk di sofa. Bukannya tadi dia menyuruh untuk memperbaiki proposal, sekarang malah membuat gue terjebak di ruangan ini bersamanya.
"Proposalnya beresin di sini, pakai laptop gue," ucap Kak Eza berbicara non formal sambil menyerahkan laptopnya pada gue dan dengan masih kebingungan gue menerima laptop itu.
"Ini harus dikerjain disini Kak? Nggak boleh gitu gue bawa pulang terus kerjain besok. Gue kan kesini tujuannya mau seneng-seneng sama adik lo." Gue mencoba menawar kepada Kak Eza agar diijinkan untuk merevisi besok. Karena hari ini gue benar-benar ingin bersantai.
"Nggak ada protes, selesein sekarang. Lo nggak boleh keluar ruangan ini sebelum proposal itu sesuai kayak yang gue minta." Kak Eza tetap Kak Eza, galak dan menyebalkan. Rasanya menyesal karna gue sempat sedikit terpesona padanya tadi.
Gue buru-buru membuka laptop Kak Eza dan berusaha fokus merevisi proposal yang seharusnya sudah jadi. Kalau bukan karna keteledoran Aga, gue nggak akan berakhir kerja rodi seperti ini. Awas saja Aga, sudah membuat gue harus berurusan dengan Kak Eza lagi.
Hampir satu jam sudah berlalu dan gue masih saja berkutat dengan proposal. Sedangkan Kak Eza malah duduk santai sambil memainkan gitarnya. Untung saja permainan gitar Kak Eza bagus, jadi justru bisa menjadi sedikit hiburan buat gue.
"Kak, ini camilan sama susunya. Gue taruh meja sini aja ya." Gue yang tadinya fokus mengetik langsung mendongak begitu mendengar suara Lyra. Rupanya dia membawakan makanan untuk kami, ah atau hanya untuk Kak Eza.
"Makasih, Dek. Lo sama Mei kalau mau makan duluan aja. Nanti Rhea biar sama gue," ujar Kak Eza sambil mengambil segelas susu dan meletakannya di depan gue.
"Sini laptopnya, tuh diminum dulu susunya. Buat ganjel, karna ini masih kurang banyak."
Kak Eza mengambil alih laptop yang berada di depan gue dan membiarkan gue sedikit bersantai.
"Sini Kak, gue udah selesai. Biar cepet kelar." Gue beranjak dari sofa dan meminta kembali laptop yang tadi diambil Kak Eza.
"Duduk, biar gue aja yang beresin. Lo cukup duduk disini." Ujar Kak Eza sambil fokus mengetik di laptop. "Atau lo mau belajar main gitar juga boleh," lanjutnya dan tidak lagi memperdulikan gue yang duduk diam di sofa.
Gue sudah nggak tahu berapa lama ada di ruangan ini, tapi sepertinya sudah lebih dari dua jam. Jujur saja, gue sudah sangat bosan sekarang. Apa gue belajar gitar aja ya? Pelan-pelan gue beranjak dan mengambil gitar yang terletak di sofa seberang gue duduk. Dengan bantuan tutorial dari youtube gue mencoba memainkannya.
Awalnya cukup susah, tapi lama kelamaan gue menikmati memainkan gitar dengan kunci-kunci random yang baru saja gue pelajari.
"Lumayan juga lo, baru belajar bentar udah bisa," ujar Kak Eza memuji gue. Padahal gue hanya memetik senar gitar dengan asal sesuai kunci yang gue tahu.
"Ngga bisa Kak, ini gue asal aja modal nonton tutorial di youtube." Gue meletakan gitar di pangkuan dan fokus pada Kak Eza.
"Kenapa lo natap gue kayak gitu?" ujar Kak Eza heran karena gue memang menatap intens.
__ADS_1
"Nggak, gue cuma bingung. Lo tuh kadang baik tapi kadang juga galak banget."
Gue mengutarakan apa yang sedang berkeliaran di pikiran. Gue nggak peduli Kak Eza mau marah atau bagaimana karna gue beneran penasaran.
Kak Eza cuma ketawa pelan merespon pertanyaan gue dan malah megambil gitar yang ada di pangkuan gue. "Kan gue cuma berusaha profesional. Gue sama lo itu rekan kerja. Walaupun kita sekarang ngomongnya informal kayak gini, lo tetep rekan kerja gue." Kak Eza menjelaskan alasan di balik sikapnya yang kadang membingungkan.
"Profesional apanya? Masa gue di suruh kerja rodi hampir 3 jam. Tapi cuma dikasih susu doang." Gue sedikit protes pada Kak Eza. Sedangkan Kak Eza, hanya terkekeh pelan mendengar protesan gue.
"Sebentar lagi, nih lo cek dulu proposalnya. Udah bener belum. Kalau udah diprint sekalian." Kak Eza menyerahkan laptopnya sama gue dan dengan semangat gue meneliti kembali hasil revisi tadi.
"Udah sih, Kak. Kemarin sempet gue cek udah bener. Yang salah cuma sebagian kecil aja kemarin."
"Yaudah, ini gue save dulu, print nanti aja. Sekarang lo bantuin gue masak buat makan kita," jak Kak Eza sambil berjalan keluar ruang kerja dengan gue yang mengekor di belakangnya.
"Lo mau makan apa? Biar gue masakin" Kak Eza menawarkan.
"Kak, mending delivery aja nggak sih? Terus kita duduk diteras sambil lo main gitar atau keluar gitu. Gue jenuh banget dari tadi lo kurung di ruang kerja." Entah keberanian dari mana gue menolak untuk memasak dan justru memberi usul agar delivery makanan.
"Yaudah, lo mau makan apa? Gue pesenin." Kak Eza mengeluarjan ponselnya dan bersiap untuk memesan makanan.
"Apapun deh, yang penting bikin kenyang."
Tanpa bertanya lagi, Kak Eza memesankan makanan dan kami menunggu di teras sambil bermain gitar, lebih tepatnya Kak Eza bermian gitar dan gue hanya menjadi pendengar.
Setengah jam berlalu, akhirnya makanan kami tiba juga. Gue yang memang sudah sangat lapar langsung melahap makanan itu.
"Kalem Rhea, nanti ke-"
"Uhuk, Kak bagi minum dong."
Sebelum Kak Eza selesai memperingati gue, malah gue lebih dulu tersedak karena makan dengan buru-buru. Untungnya Kak Eza sigap mengambilkan minum, kalau tidak pasti sakit sekali tenggorokan gue.
"Makanya kalau makan pelan-pelan," tutur Kak Eza menasehati gue.
"Iya Kak iya. Anyway, makasih buat makanannya. Gue balik kamar ya kak, selamat beberes." Gue langsung kabur menuju kamar begitu selesai makan, meninggalkan Kak Eza dan beberapa bungkus makanan yang harus di bereskan.
Bodoamat deh dia mau marah, gue sebel karena harus terjebak di ruang kerja miliknya.
__ADS_1