
Latihan, latihan dan latihan lagi, menjelang hari H Launching Rumah Baca, aku dan anggota yang lain semakin sibuk berlatih. Kami semakin sering berada di ruang latihan dan tentunya masih di pantau oleh Kak Eza dan Rhea, atau terkadang oleh Kara.
Hari ini latihan kami dikunjungi oleh banyak orang, mungkin karna ini latihan terakhir sebelum besok mulai gladi bersih.
"Ini kenapa jadi kumpul disini semua sih? Cuma latihan lho ini." Zayn yang memang tidak terlalu suka dilihat banyak orang ketika latihan memprotes.
"Diem aja sih, buru latihan sana. Lagi pula gue juga nggak akan lama-lama disini."
"Udah nggak usah ribut, ayo mulai aja latihannya." Aku mencoba menengahi Zayn dan Lyra yang hampir berdebat.
Mereka baru berhenti berdebat setelah Kak Bryan datang. Aku lihat, akhir-akhir ini Lyra lebih menurut dengan Kak Bryan dibanding kakaknya sendiri.
Latihan langsung dimulai begitu Zayn kembali ke posisinya. Dengan semangat Zayn memimpin latihan dengan gebukan drumnya. Satu lagu selesai, kami beristirahat sebentar sebelum melanjutkan ke lagu yang lain.
"Za, saya duluan. Urusan soal project sudah beres. Laporan kita bahas besok. Saya mau nganterin adikmu pulang."
Samar-samar, aku mendengar Kak Bryan ijin dengan Kak Eza untuk membawa Lyra pulang.
"Mei, kita duluan ya. Lo semangat latihannya." Lyra sedikit berteriak menyemangatiku sebelum dia keluar dari ruang latihan.
Latihan berakhir lebih cepat dari pada biasanya, karna Kak Eza meminta kami untuk berdiskusi sebentar sebelum pulang.
"Berarti besok kalian gladi bersih di tempat buat perform. Terus masih butuh yang lain nggak?"
Rhea bertanya lebih dulu soal keperluan kami ketika gladi bersih nantinya.
"Kayaknya sih nggak ada." Sahut Zayn masih terlihat sambil berpikir.
"Baiklah, kalau butuh apapun. Kamu bisa menghubungi Rhea atau Kara."
Aku lihat Rhea hanya mengangguk pasrah pada keputusan Kak Eza, tidak seperti biasanya yang sering mendebat bila tidak sesuai dengan keinginannya. Ada apa dengan anak itu, tiba-tiba jadi terlalu pendiam dan penurut.
Ketika aku menatapnya, dia juga memalingkan wajah dan melayangkan tatapan ke arah lain asal bukan bersitatap denganku atau Kara. Apa Rhea marah padaku? Tapi kenapa?
"Ngelamun mulu lo, Mei. Mau pulang nggak? Ayo gue anterin." Kara tiba-tiba menawariku untuk pulang bersama.
__ADS_1
"Nggak, nggak, Mei pulang sama gue. Jadi lo kalau mau pulang, gih pulangĀ sendiri."
Baru aku mau menjawab pertanyaan Kara, Zayn sudah lebih dulu menyahutinya. Dan sepertinya sebentar lagi kedua lelaki ini akan berdebat masalah siapa yang akan mengantarkanku pulang.
"Diam lo, gue nggak ngomong sama lo. Gue nawarin Mei."
"Batu amat sih, pulang sendiri sono. Mei masih mau latihan sama gue. Ntar pulangnya gue yang anter."
Benar kan, mereka malah semakin sengit berdebat. Tidak ada satupun yang mau mengalah. Lebih baik aku pulang dengan Kak Eza saja kalau seperti ini.
"Kak, pergi aja yuk. Males banget disini jadi penonton perdebatan nggak penting."
Baru juga aku mau meminta ijin Kak Eza untuk ikut pulang bersama. Tapi Rhea sudah lebih dulu mengajak Kak Eza pergi. Ada apa ini? Tidak biasanya Rhea seperti ini. Dia membiarkan Kara dan malah pulang bersama Kak Eza.
Aku berakhir di dalam mobil Kara bersama dengan Zayn juga. Entah apa yang membuat mereka akhirnya membuat kesepakatan seperti ini. Yang lebih mengherankan lagi, untuk apa Zayn ikut mengantarkanku dan meninggalkan motornya di kampus.
"Kamu tuh kenapa aneh-aneh sih? Malah ikut mobilnya Kara dan motornya ditinggal kampus."
Aku menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan kelakuan Zayn yang super aneh.
"Nggak jelas emang tuh bocah, biarin aja. Ntar tinggalin di pinggir jalan aja biar tahu rasa."
"Lo yang gue turunin pinggir jalan."
Padahal aku juga sudah pulang bersama mereka. Tapi mereka tetap melanjutkan kembali perdebatan yang sempat terjeda. Entah sampai kapan mereka akan berdenat seperti itu.
__ADS_1
H-1 Launching Rumah Baca, aku dan Zayn sudah bersiap untuk gladi bersih. Rasanya seperti kami benar-benar tampil hari ini karena banyaknya orang-orang yang menonton kami.
"Udah siap kan kalian?"
"Siap! Yuk, mulai sekarang aja." Ujarku diikuti Zayn yang mengacungkan jempol tanda setuju dengan ucapanku.
Ternyata Lyra ditunjuk menjadi MC bersama salah satu anak komunitas. Dia mulai membuka acara gladi bersih, seolah-olah sedang memandu acara resmi.
Waktu berjalan cepat, gladi bersih sudah sampai di penghujung acara yakni penutup. Aku dan Zayn bersiap menyanyikan lagu khusus untuk acara ini. Lagu yang berjudul Rumah ke Rumah milik Hindia.
"Istirahat dulu, setelah itu kita evaluasi gladi kali ini. Biar besok kita bisa antisipasi hal yang akan terjadi." Ujar Kak Eza setelah kami selesai bernyanyi.
Lima belas menit sudah berlalu, kini kami sedang duduk melingkar di tengah panggung. Kami semua bersiap untuk evaluasi.
"Kak, kayaknya tadi yang band agak kurang cepet ngga sih mulai musiknya. Menurut gue, harusnya mereka ngisi dari awal acara aja sekalian." Ujar Rhea memberi sedikit usulan.
"Boleh, gitu aja. Daripada band harus keluar masuk. Nanti berhenti pas bagian pemotongan pita. Terus masuk lagi, setelah pemotongan pita." Tambah Kara.
"Ada usulan lagi yang lain?"
"Sepertinya nggak ada. Gue rasa udah cukup sih Kak."
"Kalau gitu, evaluasi hari ini saya tutup. Setelah ini kalian boleh pulang. Dan besok tolong yang bertugas datang tepat waktu." Ujar Kak Eza mengakhiri evaluasi dan gladi bersih.
"Mei pulang bareng gue yuk, biar dianter Kak Bryan sekalian. Kara sama Zayn kayaknya masih nanti pulangnya."
Lyra menghampiri ku dan mengajak ku untuk pulang bersama.
"Rhea nggak sekalian? Kan katanya tadi Kara masih ntar pulangnya."
"Kalian duluan aja, gue masih perlu beresin berkas." Sahut Rhea singkat.
Setelah berpamitan, aku akhirnya ikut pulang bersama Lyra yang diantarkan oleh Kak Bryan. Sepanjang perlajanan kami hanya saling diam dan menikmati musik yang terputar dari audio milik Kak Bryan.
"Ra, kamu ngerasa nggak sih kalau akhir-akhir ini Rhea kayak menghindar dari kita. Atau perasaanku doang ya?"
Aku bertanya pada Lyra soal sikap Rhea yang menurutku berbeda akhir-akhir ini. Memastikan apa itu benar atau hanya perasaanku saja.
"Biasa aja sih, mungkin karna kita jarang ketemu kayak biasanya. Kan lo tahu, Rhea sibuk banget." Sahut Lyra.
Tapi entah kenapa aku masih merasa ada yang mengganjal. Walaupun Lyra sudah menjelaskan kalau itu hanya perasaanku saja.
"Tapi rasanya kayak beda gitu." Aku masih membantah, masih tidak yakin kalau itu hanya karena kesibukan kami masing-masing.
"Nggak ada Mei. Nggak ada yang beda, itu mungkin perasaanmu aja karna kita jarang ketemu dan jarang ngobrol bertiga kayak dulu."
Aku mengangguk, mengiyakan ucapan Lyra walaupun masih sedikit ragu. Ku buang jauh-jauh pikiran aneh itu dan berusaha menyakini kalau itu hanya perasaanku saja.
"Udah sampai nih, sampai ketemu besok ya, Mei." Lyra melambaikan tangan padaku setelah aku turun dari mobil Kak Bryan.
"Makasih Kak Bryan atas tumpangannya. Sampai ketemu besok, Lyra." Aku mengucapkan terimakasih dan balas melambaikan tangan sampai mobil Kak Bryam tidak terlihat lagi.
...~~~~~...
__ADS_1