
Sudah lewat seminggu, tapi Rhea dan Mei masih seperti itu, saling menjaga jarak. Gue hanya bisa menjadi penengah keduanya. Berada di sisi Rhea ketika anak itu butuh teman atau berada di sisi Mei ketika dia sendirian.
Gue sempat cerita ke Kak Eza soal ini, tapi tanggapannya tidak memberi solusi sama sekali.
"Masih kepikiran soal Rhea sama Mei?"
Gue lekas mengangguk, masalah soal Rhea dan Mei masih saja berkeliaran dalam benak gue.
"Udah nggak usah dipikirin, bener yang dibilang Eza. Mereka udah gede, pasti bisa menyelesaikan sendiri masalahnya. Mungkin mereka butuh waktu." Ujar Kak Bryan menasehati gue.
"Tuh dengerin, bener kan yang gue bilang. Biarin dulu mereka, kalau udah waktunya pasti mereka baikan lagi. Percaya sama gue." Tambah Kak Eza bersemangat, karena Kak Bryan berpihak padanya.
Gue saat ini memang sedang bersama dua manusia kaku di cafe depan kampus. Tumben sekali emang, mereka memiliki waktu luang untuk sekedar nongkrong seperti ini.
"Nggak mau, percaya sama lo tuh sesat, Kak."
Tepat setelah gue selesai berucap, sebuah tissu bekas mengenai wajah gue. Dan pelakunya Arieza, kakak kesayangan gue.
"Kak Eza jorok ih, itu kotor astaga."
"Kalian tuh, tiap ketemu berantem melulu. Lo juga Za, kelakuannya ngalah-ngalahin bocah. Apa kata mahasiswa lo kalau tahu kelakuan dosennya kayak gitu." Ujar Kak Bryan heran sekaligus takjub dengan tingkah laku kami.
"Iya kan, Kak Eza tuh nggak jelas emang." Imbuh gue sengaja memancing keributan.
"Dek, gue timpuk lagi ya lo. Gih sono, mending lo berangkat kuliah. Berisik lo, ganggu doang disini."
Kak Eza mengusir gue, karena gue terlalu berisik menurutnya. Padahal kan gue hanya sesekali menimpali obrolan mereka. Dan Kak Eza bahkan lebih berisik dibanding gue.
"Iya deh iya, gue balik kampus. Lagi pula setengah jam lagi gue ada kelas."
Gue membereskan tas dan langsung melangkah keluar cafe. Membiarkan Kak Eza dan Kak Bryan melanjutkan diskusi yang sempat tertunda karena kedatangan gue tadi.
Untung saja gue masuk kelas tepat waktu, sebelum dosen yang mengajar matkul hari ini masuk. Kalau gue sampai telat, bisa-bisa gue diminta menutup pintu dari luar alias dikeluarkan dari kelas dan tidak bisa ikut kuis.
Ngomong-ngomong soal kuis, gue lupa nggak mempersiapkan materi untuk di baca. Semoga saja tidak terlalu sulit.
"Kuis akan dimulai lima menit lagi, silakan referensi dan catatan disimpan."
Pak Hendra memberi aba-aba agar kami bersiap dan merapikan barang-barang kami, terutama buku.
"Sekarang silahkan dikerjakan, waktu kalian hanya satu jam." Ujar Pak Hendra setelah membagikan lembar soal kuis.
__ADS_1
Saat kuis seperti ini, rasanya waktu berjalan terlalu cepat. Waktu satu jam rasanya masih kurang. Tapi untungnya materi yang di jadikan kuis adalah materi yang cukup mudah untuk diingat. Jadi gue tidak membutuhkan waktu lama.
Lima belas menit sebelum waktu habis, gue sudah menyelesaikan semua soal dan menuliskan jawaban di lembar jawab yang disediakan.
Gue menjadi orang pertama yang keluar kelas. Dengan penuh semangat gue berjalan menuju kantin.
Ah iya, sepanjang lorong menju gue masih memikirkan tentang masalah Rhea dan Mei. Gue yakin mereka ada masalah yang memang sengaja di sembunyikan dari gue.
Gue berjalan cepat dan bahkan setengah berlari setelah membaca pesan yang dikirimkan Zayn. Jujur saja, setelah membaca pesan itu, rasanya tidak tenang sama sekali.
Gue berusaha tiba di Kantin FIB secepat yang gue bisa. Berharap gue masih sempat menengahi mereka. Tapi ternyata gue terlambat.
Di hadapan gue sekarang, Rhea, Mei dan Kara menjadi pusat perhatian seluruh penghuni kantin. Entah apa yang terjadi di balik kerumunan itu. Tapi samar-samar gue bisa mendengar suara Rhea dan Kara yang saling berdebat.
Yang gue tahu, tepat saat gue berhasil menyeruak diantara kerumunan. Saat itu juga gue milihat Rhea yang menangis. Padahal selama ini sesedih dan semarah apapun Rhea, dia tidak akan pernah menunjukkan tangisnya. Tapi hari ini, Kara berasil membuat Rhea menangis seperti itu.
Gue berniat melerai mereka, menengahi perdebatan mereka seperti yang sudah-sudah. Tetapi Zayn menahan gue. Dia tidak membiarkan gue ikut campur.
"Terus gimana? Nggak mungkin kita diem aja." Gue berujar cepat dengan nada panik yang ketara.
"Telepon Bang Bryan. Minta tolong Bang Eza. Dia bisa bikin kerumunan ini bubar dan kita bisa lerai mereka."
Tanpa diperintah dua kali, gue segera menelpon Kak Bryan seperti permintaan Zayn sebelumnya. Untungnya Kak Bryan langsung menjawab panggilan gue.
"Kak, tolong Kak Eza disuruh ke kantin FIB sekarang,"
"Baik,"
Kak Bryan hanya menyahut singkat dan langsung memutuskan sambungan telepon gue.
Tak berselang lama, gue lihat Kak Eza datang dan sendirian. Dia langsung menyeruak diantara kerumunan.
"Udah cukup, sekarang lo ikut gue." Samar-samar gue bisa mendengar Kak Eza yang berbicara lirih pada Rhea.
"Zayn, gue titip Mei. Tolong bawa dia pergi dari sini."
Gue meminta tolong pada Zayn untuk membawa Mei pergi, karena jujur saja gue takut dengan tatapan marah Kara.
Tetapi Kak Eza langsung menarik Rhea pergi dari kantin tanpa memperdulikan tatapan marah dari Kara. Dia benar-benar tidak peduli dengan Kara sama sekali dan lebih mengutamakan Rhea.
__ADS_1
Tanpa menunggu diminta, gue segera mengikuti Kak Eza pergi dari tempat itu, meninggalkan Mei yang masih bersama Kara. Membiarkan Zayn melakukan apa yang gue minta.
Gue mengikuti Kak Eza dari belakang, tetapi gue masih belum berani untuk sekedar menegur keduanya. Gue membiarkan Kak Eza membawa Rhea masuk ke mobil dan menunggu sampai Kak Eza mempesilahkan gue untuk masuk.
Baru setelah Kak Eza keluar lagi dari mobil, gue berani mendekat dan bertanya soal Rhea.
"Rhea gimana? Gue sahabatnya, tapi gue nggak tahu dia ada masalah kayak gini. Harusnya tadi gue belain Rhea, tapi gue cuma bisa diam diantara kerumunan penghuni kantin yang menonton." Ujar gue menyesal.
Kak Eza langsung memeluk gue, membiarkan gue menumpahkan kekhawatiran juga rasa penyesalan gue karena sama sekali tidak tahu tentang masalah dua sahabat gue itu.
"Nggakpapa Dek, ini bukan salah lo. Ini emang pilihan mereka buat nggak cerita sama lo." Ujar Kak Eza sambil mengelus pucuk kepala gue lembut.
Gue mengangguk pasrah dalam pelukan Kak Eza. Karena mau menyesal seperti apapun, semua itu sudah terjadi.
"Kak, biarin Mei disana dan titipin dia sama Zayn, bukan berarti gue nggak peduli sama Mei kan Kak?"
Gue meminta validasi Kak Eza, kalau tindakan gue itu tidak salah. Gue minitipkan Mei pada Zayn itu bukan perbuatan yang salah.
"Iya Lyra sayang, tindakan lo nggak salah. Zayn pasti jagain Mei, Kara pun pasti juga nggak akan macem-macem sama Mei." Sahut Kak Eza.
Berkat Kak Eza, gue bisa sedikit tenang sekarang. Gue tidak lagi terlalu khawatir karena kedua sahabat gue dijaga oleh dua orang yang gue percaya.
"Gue berharap, semoga setelah ini Rhea dan Mei tidak lagi saling bermusuhan dan hubungan kami bertiga kembali seperti biasanya. Dan semoga tidak akan ada lagi kejadian seperti ini suatu saat nanti."
Gue berucap dalam hati, semoga harapan gue bisa terwujud menjadi kenyataan. Karena gue tidak ingin, lingkar persahabatan yang sudah erat tiba-tiba menjadi renggang atau bahkan putus.
__ADS_1
...~~~~~~~~~...