
Gue berbaikan dengan Aga. Berkat bantuan Kak Eza, pagi ini gue memberanikan diri mendatangi Aga ke rumahnya. Gue senang sekali, bisa memeluk Aga lagi seperti dulu. Sejujurnya, gue sangat merindukan Aga. Tapi gue masih mempertahankan ego dan baru berani menemui Aga hari ini.
Gue harus berterimakasih pada Kak Eza setelah ini. Kalau bukan karena dia, sampai sekarang pasti gue belum berani menemui Aga dan meminta maaf. Karena gue terlalu takut akan respon yang diberikan Aga nantinya. Padahal gue belum juga mencobanya.
"Lo kesini sama siapa, Rhe?" Tanya Aga disela-sela kami mengobrol.
"Tadi dianter Kak Eza, makanya tadi gue dorong lo pas pelukan. Soalnya keinget Kak Eza nunggu. Tapi ternyata dia udah nggak ada pas gue balik sana, kayaknya udah pulang." Papar gue menjelaskan.
"Oh iya, kan kemarin lo nginep rumah Lyra ya." Timpal Aga.
Gue cuma mengangguk dan fokus ke ponsel. Gue baru ingat belum mengabari Lyra dan Mei. Pasti mereka kebingungan mencari gue tadi pagi.
Lyra
Lo tuh kemana sih Rhe!!
Masih pagi udah bikin satu rumah panik
Mei
Kalau pergi tuh pamit dong Rhea,
Biar kita nggak pusing nyarinya
^^^Me^^^
^^^Maaf, gue aman kok^^^
^^^Kalian ngga usah khawatir^^^
^^^Besok gue ceritain lengkap^^^
Itu baru sebagian saja dari pesan mereka yang gue balas, sebenarnya pesan yang mereka kirimkan jauh lebih banyak lagi.
Gue salah sih memang, pergi pagi buta tanpa pamit pada salah satu dari mereka. Padahal gue bisa saja membangunkan Mei dan pamit padanya. Tapi gue lebih memilih pergi diam-diam dengan bantuan Kak Eza. Untungnya Kak Eza bersedia, walaupun ada sedikit perdebatan tidak penting.
Setelah berbaikan pagi tadi, hari ini gue menghabiskan waktu libur bersama dengan Aga. Seharian penuh, gue berada di rumahnya dan menganggu Aga menikmati hari liburnya.
"Lo nggak bisa diem bentar gitu, gue mau nyantai sambil baca komik. Mumpung libur." Aga memprotes tingkah gue yang kelewat rusuh.
"Ya lagian, masa gue dicuekin. Padahal baru juga baikan. Kan gue kangen manja-manja sama lo." Ujar gue merajuk.
"Kalau tahu kayak gini, mendingan gue tunda deh baikan sama lo." Celetuk Aga.
"Heh! Ngomongnya ya, gue udah bela-belain kesini pagi buta juga."
Jujur saja, gue sangat tidak suka dengan celetukan Aga barusan. Kesannya seolah-olah dia menyesal sudah berbaikan dengan gue.
"Yah ngambek, maaf ya. Nggak gitu lagi." Ucap Aga dan mengusak pelan rambut gue.
Pada akhirnya gue dan Aga memilih menghabiskan waktu untuk marathon movie yang belum sempat kami tonton. Gue sangat menikmati hari ini, sangat menyenangkan. Karena kami bisa kembali akrab seperti dulu, setelah insiden di kantin beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Gue kembali ke rutinitas sebelumnya, berangkat ke kampus bersama Aga. Hari ini dia sengaja tidak menjemput Mei, karena katanya Mei berangkat bersama Zayn.
Sebenarnya gue berangkat bersama Aga karena mobil gue masih di rumah Lyra sejak menginap tempo hari. Untungnya hari ini, Lyra berbaik hati akan membawakan mobil gue ke kampus.
"Makasih lho, Ra. Sorry kalau jadinya bikin lo repot." Ujar gue setelah bertemu Lyra di parkiran fakultas.
"Kalau bukan karna Kak Eza, males banget gue bawain mobil lo. Nanti pulang lo harus anterin gue pokoknya." Sahut Lyra terlihat kesal.
"Iya nanti gue anterin, sekalian nanti kita jalan dulu. Udah lama nggak jalan kita."
"Harus, lo utang cerita ya sama gue dan Mei. Awas aja lo pura-pura lupa." Ancam Lyra galak.
"Iya, iya. Ntar sekalian kalau ada Mei."
"Kenapa malah ke ruang musik deh. Nggak ada kelas lo?" Tanya Lyra heran, karena biasanya gue akan mengajaknya ke kantin.
"Mau ketemu Mei, gue penasaran kenapa sekarang dia jadi deket banget sama Zayn. Lagian lo nggak ada kelas pagi juga kan? Sekalian ntar gue ceritain disana." Sahut gue sambil tetap berjalan cepat menuju ruang musik.
"Nggak mau ah, gue hari ini ada kuis. Mending ke perpustakaan deh gue daripada ikut lo. Ceritanya bisa ntar aja, pas kita jalan." Lyra melepaskan tangan gue yang masih merangkulnya sejak tadi dan berbalik arah melangkah ke arah perpustakaan.
Akhirnya gue sendiri menuju ruang musik dan disambut dengan pemandangan Zayn yang tiduran di paha Mei. Sungguh pemandangan yang tidak terduga disenin pagi. Sangat mesra sekali mereka.
"Duh, masih pagi tapi udah dapet asupan aja gue." Sindir gue dengan sengaja bersuara keras.
Jujur saja, gue sangat terhibur dengan tingkah Mei dan Zayn yang gelagapan dan langsung duduk tegap. Gue bisa melihat, rona merah memenuhi pipi Mei dan juga Zayn karena ketahuan sedang bermesraan oleh gue. Salah sendiri, tidak kunci pintu sebelumnya, jadi ketahuan.
__ADS_1
"Lo tuh, kalau mau masuk ketuk pintu dulu. Hobinya kok main nyelonong aja." Protes Zayn masih dengan sisa-sisa rasa malunya.
"Kan biasanya juga gue suka mampir sini. Terus kalian juga cuma latihan. Mana gue tahu kalo kalian lagi pacaran. Lain kali kunci pintu dulu makanya." Ujar gue tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Kamu mau apa kesini Rhe?" Tanya Mei setelah bisa menetralkan eskpresinya.
"Gue tuh pengen minta saran sama lo. Zayn diem, nggak usah ikut ngomong." Ucap gue mengancam sebelum Zayn membuka mulut.
"Gue kayaknya beneran suka sama Aga. Tapi bukan sebagai sahabat. Gue nggak tahu sejak kapan punya perasaan kayak gini ke dia. Dan sekarang gue bingung harus gimana. Gue takut perasaan gue buat dia bakalan makin tumbuh. Sebenernya itu juga alasan gue marah banget sama lo dan Aga kemarin, karena sebenarnya gue cemburu."
Gue mengungkapkan semua yang gue rasakan di hadapan Mei dan Zayn. Mereka justru hanya diam dan tidak merespon. Gue memaklumi itu, karena memang terlalu mengejutkan. Tapi memang seperti itulah yang gue rasakan. Rasa itu ada sebenarnya sudah sejak lama dan rasa itu semakin jelas karena gue merasa cemburu dengan kedekatan Mei dan Aga.
"Kenapa kamu baru bilang? Kenapa kamu nggak jujur dari awal, Rhe?" Tanya Mei menyesalkan keputusan gue yang baru bercerita sekarang.
"Terus lo mau gimana? Tetep simpen perasaan lo sampai entah kapan atau lo kau jujur ke Kara?" Imbuh Zayn ikut berbicara setelah sejak tadi diam seperti yang gue minta.
"Menurut kalian gimana? Gue masih ragu mau jujur, gue takut kayak kemarin atau lebih parah lagi, Aga jauhin gue." Cicit gue sambil memainkan jari-jari tangan.
"Kalau menurut gue mending jujur, masalah ntar mau diterima atau ditolak, seenggaknya lo udah ungkapin perasaan lo." Tutur Zayn memberikan saran.
"Zayn bener, masalah akhirnya kayak gimana. Setidaknya kamu udah coba dan pasti akan ngerasa lega juga." Timpal Mei.
"Makasih, kalian bikin gue sedikit tenang. Gue akan pikirin lagi saran kalian." Ujar gue sambil memeluk Mei.
Gue bertekad akan jujur pada Aga tentang perasaan gue untuk dia. Mungkin bukan sekarang, tapi bila sudah saatnya, gue pasti akan mengungkapkan perasaan gue pada Aga seperti saran dari Mei dan Zayn. Tapi untuk saat ini, biarlah gue yang tahu sebesar apa rasa yang gue punya untuk Aga, sahabat sekaligus cinta pertama gue.
__ADS_1
...~~~~~~~~~~...