
Gue benar-benar di bawa ke rumah Kak Bryan hari ini. Bahkan sekarang dia sedang duduk berhadapan dengan Kak Eza untuk meminta ijin. Sekedar makan malam bersama katanya.
Gue gugup sebenarnya, karena Kak Eza masih saja diam setelah Kak Bryan mengutarakan maksudnya menjemput gue sekarang. Tapi gue berharap Kak Eza akan mengijinkan. Walaupun aku sedikit ragu apakah akan berjalan baik nantinya.
"Gue terserah Lyra, kalau dia bersedia silakan aja. Asalkan lo anterin dia pulang sebelum jam sepuluh."
"Gimana, Ra. Eza udah kasih ijin, tinggal kamu mau atau nggak ikut saya makan malem sama Ayah dan Bunda."
Gue bingung, gue nggak tahu harus menjawab apa. Disatu sisi gue sangat ingin sedikit lebih mengenal keluarga Kak Bryan tapi disisi lain gue juga takut kalau nantinya tidak akan berjalan sesuai harapan gue.
"Kelamaan mikir lo dek, udah sana ganti baju. Biar abis ini kalian bisa langsung berangkat."
Dengan berat hati akhirnya gue beranjak masuk kamar untuk berganti baju. Kalau boleh memilih, sebenarnya gue lebih senang Kak Eza tidak memberi ijin karena gue sangat gugup sekarang. Tapi apa boleh buat, gue harus tetap pergi karena Kak Eza justru mempersilahkan Kak Bryan untuk membawa gue.
"Kita berangkat ya, Kak."
Kak Eza hanya mengangguk kecil dan menepuk pundak Kak Bryan ketika gue berpamitan.
Rumah Kak Bryan ternyata tidak terlalu besar, malah lebih terkesan seperti rumah minimalis. Tapi justru menurut gue rumahnya sangat indah. Entah kenapa rumah ini membuat gue merasa nyaman.
"Aduh, anak mama bawa siapa ini?"
Begitu memasuki rumah, kami langsung disambut oleh Mama Kak Bryan.
"Ini Lyra, Ma. Adiknya Eza."
"Halo Tante, saya Lyra."
Walaupun sudah dikenalkan oleh Kak Bryan, gue tetap memperkanalkan diri dan bersalaman dengan beliau.
"Halo, sayang. Sini-sini kamu sama Tante aja. Biar Bryan ganti baju dulu."
Gue diajak ke dapur oleh Tante Rila, sepertinya secara tidak langsung Tante Rila meminta gue untuk membantu menyiapkan makanan untuk makan malam secara tidak langsung. Untung saja gue sudah terbiasa memasak, jadi semuanya akan baik-baik saja.
"Lyra emang suka masak atau..?"
"Ah, nggak. Saya cuma terbiasa masak di rumah. Karena kadang teman-teman saya menginap jadi kami masak bareng-bareng."
"Pantas saja. Ah, kamu masih kuliah, Nak?"
Tante Rila bertanya di sela-sela kesibukan kami menyiapkan makan malam.
"Iya, tante. Masih semester 5 dan sudah mulai persiapan untuk magang juga."
"Oh, kok bisa kenal Abang gimana?"
Abang? Jadi itu panggilan Kak Bryan kalau dirumah, lucu juga panggilannya. Cocok sama gue yang dipanggil adek.
"Saya kenal Kak Bryan nggak sengaja, karena waktu itu saya yang menemukan dompet Kak Bryan dan kebetulan dia sahabatnya Kak Eza."
Tante Rila hanya mengangguk kecil menanggapi penjelasan gue soal gimana gue kenal anaknya. Aneh, memang hanya karena dompet bisa sedekat sekarang dan bahkan diajak ke rumah pula. Tapi sayang, nggak ada status apapun.
__ADS_1
"Makasih ya udah dibantuin, kamu tamu malah jadi ikut repot di dapur." Ujar Tante Rila setelah kami berdua selesai menyiapkan makan malam.
"Wah, Mama masak apa nih? Kayaknya enak."
Seorang lelaki, yang gue yakini Papa Kak Bryan datan dan ikut bergabung bersama kami.
"Eh, ada tamu ternyata. Maaf ya, saya kurang sopan. Saya Satya, Papanya Bryan."
"Halo Om, saya Lyra. Teman Kak Bryan."
"Bryan pinter ya, nyari teman cantik." Bisik Om Satya yang sayangnya masih bisa gue dengar.
"Ra, Papa sama Mama nggak ngomong aneh-aneh kan?"
Gue hanya menatap bingung Kak Bryan karena pertanyaannya barusan. Aneh seperti apa yang dia maksud? Apa ucapan lirih Om Satya tadi termasuk aneh.
"Nggak ada, Papa cuma kenalan kok sama Lyra. Kamu itu, senengnya kok nuduh."
"Papa kan biasanya begitu."
Ah, ternyata Kak Bryan tidak sekaku itu. Tapi kenapa setiap kali bersama gue dia tidak bisa seperti ini ya? Jujur saja, aku dibuat jatuh berkali-kali hari ini karena melihat sisi lain Kak Bryan ketika bersama keluarganya.
"Gimana Ra? Enak nggak kue buatan Tante? Ini tante coba resep baru kemarin."
"Enak banget, Tan. Kapan-kapan Lyra boleh belajar masak sama Tante?"
"Boleh dong sayang, nanti kalau ada waktu luang main aja kesini, nggak usah nungguin Abang, dia mah rumahnya cuma buat transit. "
"Nggak gitu, Ma. Jangan jelek-jelekin aku didepan Lyra dong."
"Mamamu itu ngomong fakta, Bang. Kamu memang makin sibuk akhir-akhir ini."
Gue lihat Kak Bryan pasrah saja mendengarkan ucapan Papanya. Tapi gue jadi merasa bersalah, karena dibalik sibuknya Kak Bryan itu ada gue yang selalu minta bertemu. Padahal kalau gue nggak minta bertemu pasti dia bisa sering-sering kumpul sama orang tuanya kayak gini.
Makan malam selesai, gue kembali membantu Tante Rila membereskan meja makan. Bahkan gue berinisiatif untuk mencuci piring.
"Tante duduk aja, biar saya yang cuci piringnya."
"Nggak usah, biarin aja disitu. Biar besok mbak aja yang nyuci."
"Nggakpapa, Tan. Cuma dikit ini."
__ADS_1
Pada akhirnya Tante Rila membiarkan gue menuci piring bekas makan tadi dan sedikit merapikan area dapur dan juga meja makan.
Gue berniat untuk bergabung di ruang tengah begitu selesai mencuci. Tapi niat gue urungkan setelah mendengar pembicaraan Tante Rila dan Om Satya.
Hah, ternyata hanya pencitraan. Gue kira mereka benar-benar menerima gue. Ternyata hanya basa basi belaka, hanya bentuk sopan santun terhadap tamu. Rasanya gue ingin menangis sekarang.
Cepat-cepat gue mengusap kasar wajah gue sebelum air mata gue turun. Karena Kak Bryan datang menghampiri gue sekarang.
"Kenapa nggak bergabung, malah berdiri diam disitu."
"Ah, nggak. Ini tadi pas mau kesana kelilipan. Makanya berhenti dulu."
"Sini coba lihat, aku obatin aja ya. Merah ini matanya."
Kak Bryan menatap gue khawatir, padahal mata merah gue ini bukan karena kelilipan tapi karena gue menangis.
"Ma, minta tolong ambilkan obat tetes mata di kotak PPPK buat Lyra."
"Nggak usah, ini nggakpapa. Nanti juga sembuh sendiri. Cuma kena air sabun dikit tadi makanya merah."
Kak Bryan masih menatap gue khawatir, sejujurnya gue nggak tega. Tapi gue juga nggak mungkin bilang kalau orang tuanya tidak menyukai gue.
"Gue anter pulang ya. Yuk, pamitan sama Mama dan Papa dulu."
Gue mengikuti Kak Bryan untuk berpamitan dengan kedua orang tua Kak Bryan.
"Om, Tante, saya pulang dulu ya. Makasih untuk hari ini."
"Ah, tunggu dulu. Lyra sini ikut tante dulu, Tante udah siapin kue untuk kamu bawa pulang."
Gue menurut dan berjalan pelan dibelakang Tante Rila yang semangat mengambilkan gue kue buatannya.
"Makasih tante, maaf merepotkan."
"Saya malah senang, karena ada yang suka dengan kue buatan saya." Ujarnya sambil tersenyum manis.
"Ah iya, Lyra. Saya nggak masalah kamu berteman dengannya. Saya menyukai kamu, saya senang Abang punya teman seperti kamu. Saya tahu kamu menyukai anak saya dan mungkin dia juga menyukaimu. Tapi maaf, saya tidak bisa merestui hubungan kalian lebih dari teman. Jadi tolong, jangan buat Abang semakin jatuh padamu. Dia sudah saya jodohkan" Lanjutnya dan membuat gue seketika memantung.
Haah, ternyata begini rasanya diberi harapan tapi saat itu juga harapan yang kamu dapatkan dipatahkan begitu saja. Bahkan tidak diberi kesempatan untuk sekedar berjuang.
Gue hanya bisa mengangguk pasrah mendengar ucapan Tante Rila. Mau tak mau gue harus mengiyakan permintaannya itu, toh gue dan Kak Bryan memang tidak punya hubungan apapun. Jadi, mau bagaimanapun berusaha untuk berjuang hasilnya akan sama saja. Percuma dan sia-sia.
__ADS_1