Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
8.2 [Lyra] Kebiasaan Baru


__ADS_3

Hari minggu biasanya gue pakai buat marathon movie. Tapi minggu pagi kali ini gue sudah berada di lapangan kompleks. Sedikit aneh memang, karena itu bukan gue banget. Berhubung Kak Bryan yang ajak jadi gue mau aja.


"Ini beneran nggakpapa kamu ikut saya joging? Kata Eza, biasanya minggu pagi kamu pakai buat marathon movie baru."


Gue lekas mengangguk, karena tidak ingin membuat Kak Bryan merasa bersalah sudah mengganggu jadwal nonton gue.


"Aman Kak, lagian juga udah lama gue nggak olahraga kayak gini." Ujar gue tidak sepenuhnya berbohong, karena memang sudah lama gue tidak olahraga seperti ini.


"Nanti kalau capek bilang ya atau kamu langsung cari tempat istirahat aja." Ujar Kak Bryan sebelum mulai berlari.


Satu putaran, gue masih bisa mengimbangi Kak Bryan. Dua putaran, gue sudah mulai sedikit tertinggal. Tiga putaran, gue hampir menyerah karena tertinggal sangat jauh dari Kak Bryan.  Putaran keempat, gue memilih untuk menyerah dan duduk dibawah pohon dekat lapangan.


Sepertinya gue memang tidak cocok dengan kegiatan yang berhubungan dengan fisik. Baru juga empat putaran, udah capek banget rasanya.


"Nih minum, terus itu kakinya lurusin dulu."


Kak Bryan yang sudah menyelesaika  larinya, langsung menghampiri gue dan menyodorkan sebotol air mineral.


Gue langsung meneguk air mineral itu, hingga hanya tersisa setengahnya saja. Gue sangat haus, apalagi cuaca sudah mulai panas.


"Capek banget ya? Mau pulang sekarang?" Tanya Kak Bryan lembut.


Gue lekas mengangguk semangat. Saat ini yang ada dipikiran gue adalah pulang dan tidur sepuasnya. Tapi sepertinya itu hanya angan gue saja, karena tiba-tiba Kak Bryan mendapatkan panggilan.


"Bentar ya, saya jawab telepon dulu."


Gue nggak tahu Kak Bryan dan penelponnya membicarakan apa, karena Kak Bryan menyingkir agak jauh dari tempat gue duduk. Tapi sepertinya itu telepon penting.


"Saya minta maaf, saya nggak bisa anter kamu pulang.


"Kenapa Kak?"


"Saya ada urusan mendadak, ini Kara baru saja memberitahu." Jelas Kak Bryan.


"Yaudah gue nanti pulang sendiri aja. Deket juga kok ini, cuma jalan bentar doang."


Gue nggak mau ganggu kerjaan Kak Bryan, jadi ya gue harus pulang sendiri. Walaupun sebenernya gue sangat malas karena terlalu capek.


"Ah, kalau kamu ikut saya aja gimana? Saya nggak tenang kalau kamu pulang sendiri. Apalagi mau jalan kaki kayak gitu." Kak Bryan menawari gue untuk ikut.


Sebenarnya gue sudah sangat lelah, tapi ajakan Kak Bryan sayang buat dilewatkan.


"Boleh deh Kak, nanti gue bisa tidur di mobil sambil nunggu lo."


Kak Bryan bergegas menuju mobilnya, setelah gue mengiyakan ajakan Kak Bryan.



Gue ternyata dibawa ke sekertariat komunitas. Disana sudah ada Kara dan juga Rhea. Tapi sepertinya mereka tidak sedang dalam mood yang baik. Karena jarang-jarang, Rhea jadi sangat diam ketika bersama Kara. Pasti ada yang nggak beres sama mereka.



"Kenapa lo? Ribut sama Kara ya?"


__ADS_1


Gue mendekati Rhea dan berbisik pelan padanya.



"Nanti aja gue ceritain, gue lagi nggak mood."



Gue hanya mengangguk pasrah, walaupun sebenarnya sangat penasaran. Tapi gue harus menunda rasa penasaran gue itu itu.



"Gue tunggu cerita lo pokoknya."



Gue lekas mengikuti Kak Bryan masuk ke dalam ruangan. Tanpa tahu entah apa yang akan dilakukannya.



Gue duduk diam di salah satu sofa. Menonton pekerjaan yang sedang dilakukan Kak Bryan. Membosankan sebenarnya, tapi Kak Bryan yang sedang bekerja terlihat keren jadi sayang kalau dilewatkan begitu saja.



"Setelah ini kamu akan dijemput Zayn. Saya masih ada urusan sama Kara."



Gue hanya mengangguk pasrah, sebenarnya gue lebih senang bila diantar oleh Kak Bryan sendiri, tapi yaudahlah ya. Dia sedang sangat sibuk sekarang.




Gue juga ikut keluar setelah itu, untuk menemui Rhea dan menagih cerita yang dia janjikan, sambil menunggu Zayn datang menjemput.



"Gue nagih cerita lo." Ucap gue tanpa basa-basi.



"Nggak ada cerita apapun, intinya cuma gue lagi ribut sama Aga. Dan gue males ketemu sama dia dan juga Mei. Gue nggak mau kelepasan ngomong jelek karena mood yang masih berantakan."



Singkat, padat dan hanya intinya aja. Itu kebiasaan Rhea ketika sebenarnya dia tidak berminat untuk bercerita.



"Terus lo belum baikan sampe sekarang?"



"Ngapain? Kara aja nggak peduli."

__ADS_1



Kalau sudah seperti itu, gue nggak bisa ikut campur. Gue cuma bisa jadi pendengar yang baik ketika Rhea butuh teman nantinya.



Hari berikutnya ternyata gue juga diantar jemput oleh Zayn, bukan oleh Kak Bryan sendiri. Entah pergi kemana orang itu, sampai-sampai Zayn yang datang menjemput gue.


"Kenapa jadi lo yang mulu yang jemput?"


"Bang Bryan sibuk, udah ngga usah kebanyakan protes."


Mau tak mau gue langsung masuk ke mobil yang langsung ku kenali sebagai mobil Kak Bryan.


Rutinitas gue setiap hari seperti ini sekarang, diantar jemput oleh Zayn atau ikut Kak Bryan menyelesaikan pekerjaannya. Lama-lama rasanya seperti gue juga salah satu panitia yang mengurusi Rumah Baca. Padahal gue hanya tidak sengaja terlibat karena harus menunggu Zayn atau Kak Bryan.


Sebenenarnya gue capek, tapi entah kenapa ada rasa senang tersendiri atau mungkin karna gue sudah jatuh hati sama Kak Bryan ya?


Apapun itu pokoknya gue menikmati setiap moment bareng sama dia. Semoga aja ini bukan cuma sekedar singgah tapi bisa tetap tinggal.


"Yaah, gue ditinggal ngalamun. Udah berasa kek supir aja."


"Apaan sih, diam aja kenapa? Ganggu orang aja lo."


"Ganggu apaan? Gue diem padahal."


"Diem darimananya? Lo ngoceh mulu dari tadi."


Kami berakhir berdebat, sepertinya gue dan Zayn memang tidak cocok bila disatukan. Tapi Zayn lebih baik daripada Kara menurut gue. Entahlah, ini baru saling kenal, kita tunggu selanjutnya kami akan bagaimana.


"Makasih udah anterin, Besok-besok jangan kebanyakan protes. " ujar gue sebelum keluar mobil.


"Kalau bukan karna Bang Bryan, ogah gue anter-jemput lo. Mendingan jalan-jalan sama Mei."


Samar-samar gue masih mendengar gerutuan Zayn. Kalau seperti ini, gue malah akan dengan senang hati membuat Zayn sebal setiap kali mengantarkan gue. Lumayan bisa jadi hiburan tersendiri.


Ponsel gue berdering saat sebelum gue masuk rumah, ternyata Kak Bryan menelpon.


"Udah sampai rumah?"


"Udah kok kaak, baru aja ini dianterin sama Zayn."


"Syukurlah, maaf saya sibuk banget hari ini."


"Iya kak, nggakpapa. Tapi lain kali mendingan gue sama Rhea, Kak. Zayn terlalu berisik"


"Okey deh, met malem cantik."


Kak Bryan langsung mengakhiri panggilan dan tidak membiarkan gue merespon panggilan barunya untuk gue.


Selamat malam cantik, katanya. Pipi gue rasanya panas, sepertinya pipi gue merah merona karena terlalu malu mendengar ucapan Kak Bryan barusan. Bagaimana ini? Gue nggak bisa berhenti tersenyum. Kak Bryan benar-benar membuat gue jatuh hati berkali-kali hari ini. Walaupun sempat membuat gue ngambek.


Semoga ini bukan cuma khayalan gue karna terlalu senang ya, semoga bisa bertahan seterusnya. Karena gue nggak mau patah hati dan berakhir menangis hanya kerna seorang lelaki, apalagi itu sahabat Kakak kesayangam gue.


__ADS_1


__ADS_2