Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
5.3 [Mei] Nomor Asing


__ADS_3

Hari ini kami kembali bisa bertemu dan saling mengobrol seperti sebelumnya. Karena kebetulan kami memiliki jadwal yang sama. Aku dan Rhea sudah sejak tadi berada di kantin, menunggu Lyra yang sepertinya belum keluar kelas.


"Mei, gue lihat-lihat lo makin deket aja sama Zayn. Dia naksir lo deh kayaknya."


Mendengar ucapan Rhea itu, aku jadi berpikir. Apa iya Zayn menyukaiku. Tapi rasa-rasanya tidak mungkin. "Mana ada, dia sama gue cuma temen satu Band." Sangkalku.


"Tapi tuh kelihatan, Mei. Dari kemarin coba ajak lo jalan. Apa coba kalau bukan naksir?" Rhea masih bersikeras dengan pendapatnya.


"Kamu mah sok tahu."


"Siapa yang sok tahu?" Lyra yang baru datang langsung ikut dalam obrolan, padahal dia sama sekali tidak tahu kami sedang membahas apa.


"Itu Rhea sok tahu." Sahutku sambil menunjuk Rhea dengan pulpen yang sedang aku pegang.


"Gue kan cuma berpendapat, bukan sok tahu." Bantah Rhea tidak mau kalah dengan omonganku.


"Udah, malah ribut. Kalian tuh kebiasaan deh, masalah sepele dibikin ribut."


Seperti biasa, Lyra menengahi kami. Sebelum kami berdebat lebih panjang lagi.


Tak sampai lima menit, aku dan Rhea sudah kembali seperti biasa. Memang seperti itulah kami, kadang ribut tapi dalam waktu cepat sudah akur kembali. Kami mengobrol dengan santai membahas banyak hal, dari hal penting sampai hal-hal random.


Saat kami sedang asik mengobrol, seseorang yang tidak asing datang berjalan ke arah tempat duduk kami. Ternyata Zayn, tapi tunggu siapa yang berjalan di belakangnya? Bukankah itu Kak Eza, untuk apa dia kemari.


Aku tahu, dia salah satu asisten dosen di kampus ini, tapi kenapa dia bersama Zayn. Aku masih menerka-nerka bagaimana mereka bisa saling kenal. Tapi perkataan Kak Eza membuyarkan lamunanku.


"Kenapa mukanya pada kaget gitu?"


"Bentar Kak, gue mikir dulu. Gue tahu lo asdos disini. Tapi gue bingung, lo kenal Zayn darimana?" Itu Rhea yang berbicara, menyuarakan keheranannya.


"Kan dia mahasiswa saya, Rhea. Jelas saya kenal dia." Jelas Kak Eza berbicara formal menjawab pertanyaan Rhea.


"Ah iya, saya kesini mau ngobrol sama Mei. Boleh saya gabung dengan kalian sebentar." Kak Eza meminta ijin kepada kami. Tapi belum sempat aku atau Rhea menyahuti pertanyaan Kak Eza, Lyra lebih dulu berbicara.


"Silahkan kalian lanjut, gue duluan ya. Masih ada tugas yang harus gue kerjain."


Aku hanya mengangguk mengiyakan, walaupun sebenarnya aku tahu itu hanya alasan saja. Entah kenapa Lyra terlihat menghindari kakaknya. Dan Kak Eza pun tidak menyapa adiknya itu ketika baru datang tadi. Padahal biasanya dia pasti akan menawari Lyra untuk membelikan snack.


"Gue masih boleh disini atau harus pindah nih?" Rhea bertanya setelah Lyra pergi dari kantin.


"Disini aja nggak apa-apa, lagi pula ini juga bakalan jadi urusan lo." Kak Eza sudah berbicara informal lagi dengan Rhea.


Aku lihat Rhea hanya menatap Kak Eza tidak suka. Tumben sekali dia tidak membantah dan hanya diam menurut. Tapi lebih baik seperti ini.


"Seminggu kedepan tolong kalian kosongkan jadwal. Karena gue mau, kalian tampil di acara opening Rumah Baca." Jelas Kak Eza memberitahu kami.


"Lagunya bebas kan ya Kak?"


"Lagunya bebas, terserah kalian. Yang penting pas acara kalian bisa tampil dan bagus." Sahut Kak Eza, membebaskan kami untuk memilih lagu sendiri.


Setelah semuanya sudah fix dan jelas, Kak Eza mempersilahkan kami atau lebih tepatnya aku dan Zayn untuk memulai latihan. Karena dia ingin melihat bagimana latihan kami.




Latihan sudah berlangsung sejak setengah jam yang lalu tapi Zayn masih saja enggan untuk membiarkan kami beristirahat. Aku sudah sangat haus sekarang dan butuh untuk minum.



"Udahan dulu latihannya, gue butuh minum." Salah satu anggota Band menyuarakan keinginanku untuk beristirahat.

__ADS_1



"Okay, istirahat dulu. Setelah itu kita main satu lagu lagi." Zayn bertitah, otomatis kami harus menurutinya.



Setelah lima belas menit beristirahat, Zayn meminta kami untuk kembali ke posisi masing-masing. Latihan kembali di mulai dan ternyata tidak hanya satu lagu, kami terlalu bersemangat hingga menyelesaikan dua lagu.



"Mulai hari ini dan seterusnya sampai hari H pembukaan rumah baca, kita latihan tiap hari." Ujar Zayn memberitahukan jadwal latihan kami.



"Siap, buat lagunya nggak ada tambahan kan? Aku mau latihan vokal dirumah juga."



Zayn lekas mengangguk menyahuti pertanyaanku. "Lagunya sesuai yang tadi aja, tapi kalau lo mau nambahin lagu boleh." Tambahnya.



Setelah selesai membereskan ruang musik, aku bergegas untuk turun. Karena Kara sudah menjemputku.



"Kok lo bur-buru banget sih, Mei." Protes Zayn begitu dia bisa mensejajari ku.



Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Zayn itu.  Karena aku harus buru-buru sampai depan gedung.




"Gue di jemput Kara, dia udah  diperjalanan. Lain kali aja aku bareng sama kamu."



Tak lama kemudian, mobil Kara tiba dam langsung berhenti didepanku. Aku serasa orang penting, karena setiap menjemputku Kara akan selalu parkir dimanapun yang dia suka.



"Aku duluan ya Zayn. Sampai ketemu besok." Pamitku sebelum masuk mobil Kara.



Ternyata Rhea tidak ikut menjemputku, hanya Kara sendiri yang menjemput. Jujur saja, berdua dengan Kara seperti ini rasanya sedikit canggung.



Sepanjang perjalanan pun kami hanya diam saja, yang terdengar hanya suara penyanyi dari MP3 yang diputar oleh Kara.



"Lo latihan buat acara Mei?" Kara mencoba mencairkan susana dengan memulai pembicaraan.



"Iya, tadi Kak Eza yang kasih tahu." Sahutku lebih santai, karena sedikit demi sedikit rasa canggung itu berkurang.

__ADS_1



Aku dan Kara bisa mengobrol santai dan menikmati lagu yang terputar sejak tadi. Jujur saja, bila tidak ada lagu yang terputar, mungkin suasana dalam mobil akan sangat hening.



Saat sedang menikmati lagu, ponsel gue berdering ternyata Rhea menelpon.



"Ada apa Rhea?"



"Nggak apa-apa sih, cuma tanya doang."



"Ini kita lagi jalan pulang. Kamu mau ada yang di sampaikan ke Kara nggak?"



"Nitip pesen, pulangnyan jangan kemalaman. Ditunggu sama Mami."



"Iya, nanti aku sampaikan pesannya ke Kara."



Setelah semua pesan tersampaikan, Rhea langsung menutup telpon secara sepihak. Tapi walaupu  begitu, semua pesan yang di katakan Rhea sudah tersampaikan dengan baik, karena ketika berbicara lewat telpon tadi, aku sengaja menloudspeakernya.



"Makasih ya, Kara. Maaf kalau jadi merepotkan kamu. Hati-hati dijalan ya, titip salam buat mami sama Rhea." Ucapku setelah turun dari mobil.



...iMessage...


...07.43 PM...



Oh jadi itu rumah lo,


Lain kali, lo pulang sama gue aja. Eh bukan lain kali tapi besok.



Aku tiba-tiba mendapatkan chat dari nomor asing. Tapi sepertinya aku mengenali pemilik nomor ini.



Dia sengaja mengikuti kami untuk mengetahui rumahku. Karena memang ketika dia bertanya aku tidak menjawabnya. Bukan apa-apa, hanya saja aku enggan orang asing mengetahui letak rumahku.



Aku memang sengaja tidak membalas pesan itu dan membiarkannya hanya terbaca saja. Karena aku penasaran, apa tujuannya melakukan itu. Apakah sesuai dengan dugaanku atau tidak. Aku akan menunggu apakah dia akan mengirimkan pesan lanjutan setelah ini.


__ADS_1


...~~~~~~~~~~...


__ADS_2