
Hari ini gue ke kampus bareng Rhea dan dia yang menjemput gue. Patut diberi tepuk tangan nggak sih? Rhea itu tidak pernah mau kalau disuruh membawa mobil. Tapi hari ini, dengan sendirinya dia membawa mobil dan bahkan menjemput gue. Sungguh kejadian yang langka sekali.
Ternyata gue terlalu berekspektasi, hue kira dengan Rhea membawa mobil, gue akan jadi penumpang yang tinggal duduk saja. Rupanya, tetap saja gue yang harus menyetir. Mau tak mau gue yang harus berpusing ria mencari celah diantara padatnya kendaraan pagi ini. Huh, Rhea memang hobi merepotkan.
Kami tiba dikampus tepat waktu, walaupun tadi sempat terjebak macet sebentar. Tapi setidaknya kami belum terlambat.
Gue langsung menyeret Rhea menuju kantin FIB untuk membeli minuman. Rutinitas kami setiap kuliah pagi sebenarnya. Tapi entah kenapa hari ini Rhea memprotes gue. Padahal sudah sejak lama gue selalu melipir ke kantin FIB sebelum kelas pagi.
Karena protesan Rhea, kami berakhir menjadi tontonan seisi kantin. Pagi-pagi sudah membuat keributan saja, untungnya kantin tidak terlalu ramai.
"Lo berdua tuh, hobi amat bikin keributan."
Zayn yang kebetulan juga berada di tempat yang sama menegur kami. Sepertinya dia baru saja bertemu dengan Mei.
Ah, ngomong-ngomong soal Mei. Gue baru ingat kalau dua sahabat gue itu belum berbaikan.
"Rhea, lo nggak berniat baikan sama Mei? Udah lewat lho, masa masih marahan aja. Lagi pula yang salah kan Kara."
Gue mencoba membujuk Rhea agar mau berbaikan dengan Mei. Kan tidak seru kalau di acara gue minggu depan Rhea dan Mei masih belum berbaikan.
"Zayn, ajarin lagi main gitarnya. Kemarin gue coba-coba pakai punya Kak Eza. Udah lumayan lancar sih ini, masih agak kagok dikit sih."
Rhea justru mengalihkan pembicaraan, dia enggan membahas masalahnya dengan Mei. Ya sudahlah, mungkin memang gue harus sabar menunggu mereka berbaikan.
"Gue duluan deh, lima menit lagi kuliah gue mulai." Pamit gue sebelum pergi menuju kelas.
Gue beranjak setelah meneguk habis soda yang gue beli tadi.
Lagi-lagi presentasi mandiri, lama-lama ini kelas kuliah mandiri juga. Bisa-bisanya hampir seminggu terus menerus presentasi mandiri. Dosennya pada nggak butuh uang kali ya? Masa tiap abis pergantian jam kuliah, nggak ada dosen.
"Ini dosen FEB pada niat ngajar nggak sih? Masa seminggu lebih isinya presentasi mandiri mulu." Gerutu gue sambil tetap fokus memperhatikan presentasi.
"Lo aja gih, gantiin dosennya. Lo kan biasanya paling cepet menguasai materi kuliah. Atau kakak lo aja suruh jadi asdos buat dosen kita tercinta itu." Celetuk salah satu teman kelas gue yang duduk di belakang gue.
"Ogah, ribet kalau sama Kak Eza tuh." Sahut gue sambil tetap fokus mencatat point-point yang dipresentasikan.
Kuliah berakhir setelah dua kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Gue bergegas membereskan notes dan juga beberapa barang yang sempat gue keluarkan tadi.
Gue bergegas keluar kelas untuk segera menemui Rhea, karena tadi gue berangkat bersamanya. Tapi belum sempat gue menuruni tangga, sebuah notifikasi masuk dan terlihat di pop up Rhea mengirim chat ke gue.
__ADS_1
Rhea😼
Ra, sorry. Gue lupa kalu tadi pagi bareng lo :(
Lo pulang sendiri naik taxi ya?
Gue udah balik bareng Kak Eza.
Benar-benar Rhea itu, bisa-bisanya dia meninggalkan gue dikampus dan pulang bersama Kak Eza. Padahal pagi tadi berpesan pada gue untuk menunggunya bila gue lebih dulu keluar kelas.
Gue mencoba menelpon Rhea, tapi sepertinya dia sudah tidak memengang ponsel. Sekali lagi gue mencoba menelpon Rhea dan tersambung.
"Maaf, Ra. Gue lupa. Tadi kakak lo ngajak pulangnya buru-buru banget."
Rhea langsung meminta maaf begitu panggilan tersambung.
"Lo tuh, bisa-bisanya lupa. Mana gue ditinggalin lagi. Ini gue pulangnya masa naik taxi sih."
"Masih hapal ye jadwalnya Kara. Gue kira karena musuhan jadinya nggak diingat-ingat."
Gue malah salah fokus dan menggoda Rhea yang masih hafal jadwal kuliah sahabat tersayangnya itu.
"Apaan sih, malah fokus kesitu. Udah ah, mau jalan sama kakak lo."
Rhea langsung memutus panggilan setelah memprotes godaan gue tanpa memberi kesempatan gue untuk bicara lagi. Kan harusnya yang marah karena gue ditinggal kenapa jadi Rhea yang marah.
Tepat seperti yang dikatakan Rhea tadi, Kara juga baru saja keluar dari gedung fakultasnya tepat ketika gue melewatinya.
__ADS_1
"Sendirian, Ra?" Sapa Kara.
"Iya. Gara-gara sahabat lo nih, gue kudu jalan kedepan buat nyari taxi." Sungut gue melampiaskan kekesalan pada Kara.
"Biasanya lo bawa mobil sendiri."
"Rhea jemput gue tadi pagi, terus sekarang dia malah balik duluan sama Kak Eza. Gue ditinggalin."
"Bareng gue aja, tunggu sini. Gue ambil mobil ke parkiran dulu."
Belum sempat gue mengiyakan tawarannya, Kara sudah melangkah menuju parkiran untuk mengambil mobil.
"Ayo, naik. Gue anterin."
"Nggakpapa nih lo nganterin gue dulu, jadinya muter ntar lo."
Gue memastikan lagi kalau Kara benar-benar akan mengantarkan gue pulang. Karena arah rumah kami berbeda.
"Iya, gue anter sampai depan pintu. Buru naik." Sahut Kara sambil membukakan pintu sebelahnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah kepadatan jalanan Bandung di sore hari. Sepanjang perjalanan kami hanya diam dan fokus dengan aktivitas masing-masing.
"Ra, Rhea apakabar? Dia baik-baik aja kan?"
Tiba-tiba Kara menanyakan Rhea. Padahal sejak peristiwa di kantin waktu itu, Kara sama sekali tidak mau bertemu dengan Rhea dan hanya fokus mendekati Mei. Sampai-sampai gue menyimpulkan kalau Kara mulai membenci Rhea dan lebih menyukai Mei.
"Kenapa lo nggak tanya sendiri, toh rumah hadap-hadapan." Sahut gue sambil lalu.
"Gue nggak berani. Rhea pasti marah banget sama gue. Ucapan gue kemarin keterlaluan." Ujar Kara yang sepertinya menyesali ucapannya kemarin ketika ribut dengan Rhea.
"Tapi Rhea juga salah sih, dia nggak mau dengerin penjelasan gue dan malah menyimpulkan sendiri." Lanjutnya.
Gue hanya diam, karena bingung harus merespon seperti apa. Baru tadi dia menyesali perbuatannya kemarin, eh tiba-tiba langsung menyalahkan Rhea, benar-benar tidak jelas. Pantas saja Rhea masih enggan memaafkan Kara dan Mei juga enggan bertemu dengannya. Kara plin plan kayak gini sih.
"Baru pulang kok malah cemberut?"
"Kak Bryan!"
Gue memekik senang ketika melihat Kak Bryan berdiri diambang pintu.
"Bareng siapa tadi, kenapa nggak minta jemput saya aja?" Tanya Kak Bryan terlihat penasaran.
"Kara yang anter, mau chat Kakak takutnya ganggu. Jadi bareng Kara, niatnya sekalian cari informasi tapi Kara malah curhat nggak selesai-selesai."
"Masih tentang masalah yang kemarin?"
Gue mengangguk, memang benar gue dan Kara membahas masalah kemarin.
"Oh, yaudah ayo masuk, istirahat. Nanti saya bantu kamu cari solusi buat masalah teman-temanmu."
"Beneran Kak? Tapi tuh mereka keras kepala banget. Sama-sama nggak mau ngalah, jadi susah mau bikin mereka baikan tuh."
__ADS_1
Gue dan Kak Bryan melangkah masuk. Kami melanjutkan obrolan yang tadi sambil duduk santai di sofa ruang tengah. Kami membicarakan banyak hal yang baru gue tahu hari ini.
...~~~~...