
"Akhirnya sampai juga kita. Kamu bebersih terus istirahat gih. Pasti capek banget kan?" Ujar Zayn sambil mengusap pipiku lembut.
Aku hanya mengangguk kecil. Sejujurnya aku masih merasa aneh diperlakukan seperti itu oleh Zayn. Rasanya jatungku berdebar sangat cepat dan pipiku terasa panas. Tapi aku suka saat Zayn melakukan hal-hal kecil seperti ini padaku.
"Iya, nanti aku bebersih terus istirahat. Kamu juga ya. Nggak usah begadang." Sahutku yang juga mengingatkan Zayn untuk beristirahat setelah ini.
"Okey, gue pulang dulu ya. Dadah Mei sayang. Ntar gue telpon kalau udah sampai rumah." Ucap Zayn sebelum menghilang dibalik gerbang.
Jantungku masih saja berdebar, padahal Zayn sudah berlalu sejak tadi. Sungguh, beginikah rasanya menyukai seseorang dan orang itu membalas perasaanmu. Rasanya sangat menyenangkan, seakan-akan ada banyak kupu-kupu yang beterbangan dalam perutku.
Aku jadi teringat saat di pantai tadi, ketika aku dan Zayn sedang menikmati indahnya sunset di Rancabuaya.
"Zayn, kamu tahu darimana pantai sebagus ini? Langitnya pas senja indah banget." Ujarku takjub melihat samubarat warna jingga di langit.
Langit hari ini sungguh indah, samubarat cahaya matahari yang mulai terbenam membuat langit sore ini terlihat indah dan megah. Dengan perpaduan warna jingga dan sedikit warna merah jambu. Benar-benar sebuah mahakarya Tuhan yang patut diabadikan.
"Dulu pernah kesini sama Bang Bryan." Sahut Zayn sembari mengikutiku menatap sang matahari yang mulai tenggelam.
"Iya, langitnya indah banget emang. Tapi, buat gue ada yang jauh lebih indah dari langit senja itu. Lo, buat gue lo jauh lebih indah dari langit senja diatas laut." Lanjut Zayn sambil menatapku dengan tatapan penuh cinta yang membuatku tersipu.
"Apasih kamu, nggak usah sok manis." Kilahku berusaha menyangkal pujian yang dilontarkan Zayn.
"Bagi gue, lo lebih indah dari langit senja, lo lebih cantik dari bunga. Dan gue udah jatuh dalam pesona lo, berkali-kali. Boleh nggak kalau buat kali ini, gue yang bikin lo jatuh cinta sama sama pesona yang gue punya?
Sejujurnya sejak tadi jantungku sudah berdebar tidak karuan dan aku tak bisa mengalihkan pandanganku pada wajah Zayn yang terlihat semakin menarik. Pesona Zayn benar-benar membuatku terkunci.
"Boleh, Zayn." Sahutku pelan, karena aku terlalu malu untuk bersuara lebih dari ini.
Tanpa aba-aba Zayn langsung memelukku erat. Aku sangat kaget dan hampir saja mendorong Zayn untuk menjauh. Tapi melihat Zayn yang sangat bahagia, aku membiarkan dia memeluku sepuasnya. Karena sejujurnya aku pun menikmati pelukan Zayn yang terasa hangat dan nyaman.
Zayn♡ is calling....
Aku langsung tersadar dari lamunan ketika mendengar ponselku berdering. Ternyata telepon dari Zayn. Memang tadi dia sempat menjanjikan untuk menelpon bila sudah sampai rumah.
"Kamu udah sampai rumah?"
"Udah, baru aja bebersih ini. Terus sekarang lagi rebahan."
__ADS_1
"Syukurlah, aku juga lagi rebahan."
"Mei, jujur rasanya masih nggak nyangka akhirnya aku bisa dapetin kamu. Setelah usahaku berbulan-bulan lalu nyaris gagal. Makasih ya, Mei. Karena udah mau kenal aku dan kasih aku kesempatan." Ucap Zayn disambungan lain yang tiba-tiba berganti memakai aku-kamu.
"Iya, Zayn. Makasih juga udah sabar nunggu aku yang terlalu pendiem ini. Makasih Zayn sayang." Ucapku pelan dan langsung memutuskan sambungan telepon. Karena sejujurnya aku masih malu bila harus memanggil dengan sebutan sayang.
Hari berganti, pagi ini aku pergi kuliah bersama Zayn. Dia menjemputku di rumah pagi ini. Entah kenapa, setelah peristiwa kemarin, rasanya Zayn menjadi dua kali lebih menarik dibanding sebelumnya.
Begitu tiba di kampus, kami langsung menuju ruang musik. Rupanya Zayn mengajakku ke tempat ini karena punya tujuan terselubung.
Zayn langsung merebahkan dirinya di kursi dan meletakan kepalanya di pahaku. Awalnya aku kaget dan ingin menolak, tapi aku urungkan sebelum Zayn ngambek.
Kami mengobrol dengan posisi seperti itu sampai Rhea datang tiba-tiba. Dan tentu saja membuat kami kaget dan sedikit panik karena posisi kami yang terlihat sangat mesra.
Tidak perlu ditanya bagaimana rasanya ketahuan bermesraan di area kampus. Jelas saja memalukan, apalagi ketahuan oleh sahabatmu sendiri.
Kalau bisa kabur, aku ingin kabur saat itu juga. Karena rasanya sangat memalukan. Apalagi Rhea terus menerus menggoda kami, hingga membuat wajahku semerah tomat.
"Kalian gemes banget astaga. Harusnya tadi gue potret, lumayan buat kenangan. Sama buat jaminan kalau Zayn aneh-aneh." Ujar Rhea yang masih saja menggoda kami.
__ADS_1
"Udah ah, kamu mah iseng mulu. Tadi kesini mau ngapain kamu." Tanyaku.
Setelah itu, tanpa aku minta Rhea menceritakan tujuannya menemui kami. Sebenarnya itu curhat berkedok meminta saran, soal dia dan Kara.
Benar dugaanku waktu itu, Rhea menyukai Kara dan sudah jatuh berkali-kali karena pesona yang Kara punya. Aku hanya nggak habis pikir, bisa ya menyimpan perasaan selama dan serapi itu.
Seharian ini, aku dan Zayn serasa amplop dan perangko. Kemanapun aku pergi pasti ada Zayn yang memgikuti, kecuali ketika ada kelas tentunya.
Bahkan, ke kantin pun dia tetap mengikutiku. Padahal aku bersama Rhea dan nanti Lyra juga akan mengusul. Tapi Zayn terus mengekor seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya.
Kali ini katanya Rhea yang akan bercerita, soal masalah tempo hari. Ketika dia kabur saat pagi buta dan membuatku juga Lyra kebingungan mencarinya.
"Sorry, dosen gue lama keluarnya." Ujar Lyra begitu sampai dan langsung duduk di sebelah Rhea. Padahal biasanya dia pasti selalu duduk sebelahku. Berhubung sebelahku sekarang ada penghuninya, jadi Lyra harus pindah tempat.
"Santai aja, Kara belum dateng." Sahut Rhea membuatku bingung.
Apa maksudnya dengan Kara? Bukankah mereka belum berbaikan atau aku yang ketinggalan sesuatu. Sepertinya sih, aku yang ketinggalan sesuatu. Pantas Rhea bilang kalau dia utang cerita.
"Hai, Mei. Lama nih nggak ketemu."
Begitu datang Kara langsung menyapaku dan dibalas dengan tatapan tajam dari Zayn. Lucu sekali melihatnya cemburu seperti itu. Tapi semoga saja tidak akan ada adu jotos nantinya.
"Nah tokoh utamanya udah dateng." Ujar Lyra begitu Kara duduk.
"Jadi?"
Rhea menceritakan semuanya kepada kami, termasuk soal dia dan Kara yang akhirnya saling memaafkan dan berbaikan.
Jadi ternyata, waktu itu Rhea memang sengaja tidak memberitahu kami karena takut Kara tidak menerima maafnya dan tidak mau berbaikan. Makanya dia memilih untuk diantar Kak Eza. Ada saja emang ide sahabatku satu itu.
Setelah cerita dari Rhea dan Kara tuntas, kami berakhir makan siang di caffe depan kampus. Zayn berinisiatif mentraktir mereka, tapi tanpa alasan jelas. Walaupun sebenarnya aku tahu tujuan Zayn mentraktir mereka untuk apa.
__ADS_1
Tapi, kami memang sepakat untuk menyimpan itu untuk berdua. Belum saatnya mereka tahu, kecuali Rhea tentunya karena dia sudah melihat kemesraan kami dengan mata kepalanya sendiri. Kami masih ingin menikmati waktu berdua tanpa gangguan dan juga, kami tidak ingin ada hati yang tersakiti.