
Tadinya gue berniat menemui Kak Eza dan langsung mengajaknya pulang. Tapi niat itu langsung gue urungkan ketika tanpa sengaja melihat Zayn dan Mei yang terlihat buru-buru menuju ruang musik.
Tidak biasanya Zayn menarik Mei seperti itu dan gue sebenarnya sedikit penasaran.
"Kak, ke ruang musik bentar yuk. Mau denger lo main gitar."
Iya, gue memang terbiasa bicara informal dengan Kak Eza, di kampus sekalipun. Karena gue enggan memanggilnya dengan sebutan Pak Eza, aneh rasanya memanggilnya seperti itu.
"Mau ngapain? Nggak usah aneh-aneh, saya lagi nggak berminat meladeni ulah kamu."
"Kelamaan ah, buruan sebelum ada yang lihat gue narik-narik lo kayak gini."
Gue menarik Kak Eza agar mau ke ruang musik. Terserah kalau nantinya gue akan kena amukan Kak Eza, asalkan dia mau gue bawa ke ruang musik.
"Mau ngapain sih, lihat nih pintunya aja kekunci."
"Sssst, nggak usah berisik. Buruan buka, lo kan ada kuncinya, Kak."
Karena Kak Eza terlalu lelet, akhirnya gue mengambil alih kunci itu dan membukanya. Sebenarnya Kak Eza nggak lelet sih, lebih tepatnya dia kaget karena mendengar suara teriakan yang saling bersautan.
Begitu pintu terbuka, hal pertama yang gue lihat yaitu tangan Mei yang di cengkeram oleh Zayn. Bisa-bisanya nih bocah satu kasar sama Mei, sama pacarnya sendiri.
Gue langsung melepaskan paksa genggaman Zayn dan menyembunyikan Mei di balik punggung. Sebenernya tidak berpengaruh sih, karena postur tubuh kami tidak terlalu berbeda. Tapi setidaknya dengan begini Zayn tidak akan bisa menyentuh Mei lagi.
"Lo nggak usah ikut campur, Rhe. Urusin masalah lo sendiri."
Gue tahu Zayn sedang mati-matian menahan amarahnya. Tapi gue justru menantang dan membuat Zayn nyaris menampar wajah gue kalau saja Kak Eza tidak ikut masuk dan menengahi.
"Rhe, bawa Mei ke mobil ya. Saya urus Zayn dulu."
Gue menurut, tanpa protes. Gue bergegas membawa Mei ke mobil Kak Eza yang ada di area parkir.
"Nih minum dulu, biar agak tenang."
Gue menyerahkan botol minum yang ada di tas gue untuk Mei.
"Makasih,"
Tidak ada lagi percakapan setelah itu, gue lebih memilih fokus dengan ponsel dan membiarkan Mei sedikit lebih tenang. Sejujurnya gue sangat penasaran dan ingin menodong Mei demgan banyak pertanyaan. Tapi mengingat kejadian tadi, sepertinya gue harus mengesampingkan rasa penasaran gue itu.
"Yuk, gue anter pulang. Lo pindah depan, Rhe. Gue berasa kayak supir kalau lo berdua di belakang kayak gitu."
"Udah sih, gue udah enak duduk ini. Ribet kudu keluar segala buat pindah."
"Buru pindah, lewat sini aja."
Kak Eza tetap memaksa gue untuk pindah dan lewat sela-sela kursi penumpang depan, ada-ada saja memang idenya. Mau tak mau gue menurut juga dan berpindah walaupun agak repot karena ide aneh Kak Eza.
Sepanjang perjalanan hanya diisi dengan keheningan, baik gue maupun Kak Eza tidak ada satupun yang berniat mengeluarkan suara. Tapi lebih baik seperti ini, karena gue lihat Mei bisa sedikit beristirahat sekarang.
"Makasih ya Rhe, Pak Eza juga. Maaf kalau jadi merepotkan." Ujar Mei setelah sampai di depan pagar rumahnya.
"Formal amat, diluar kampus ini."
"Kalau ada apa-apa kabarin Rhea atau Lyra."
Mei hanya mengangguk kecil mendengar pesan Kak Eza.
__ADS_1
"Gue balik ya, istirahat lo. Lupain dulu soal tadi."
"Lo apain Zayn tadi? Nggak aneh-aneh kan?"
"Nggak, cuma diajak ngobrol doang. Lagi pula tadi dia dijemput Bryan." Sahut Kak Eza sambil tetap fokus pada makanannya.
Iya, setelah mengantarkan Mei, gue meminta Kak Eza untuk mampir ke tempat makan karena gue tiba-tiba merasa lapar.
"Tapi nggak ada yang tahu soal ini selain kita kan, Kak? Gue nggak mau gara-gara ini Mei kena masalah. Kalau Zayn mah bodoamat, itu ulah dia sendiri."
"Aman, untungnya mereka tadi ada disudut yang nggak kelihatan cctv. Kalau kelihatan pasti udah rusuh sih."
"Makasih, Kak. Maaf jadi repotin lo mulu dari kemarin."
"Oh, tahu diri ternyata. Gue kira nggak akan bilang makasih kayak kemarin." Cibir Kak Eza pelan tapi masih bisa gue dengar.
"Kak! Nggak usah mulai deh. Baru juga gue baikin lo, malah lo mau ngajak ribut lagi. Nggak capek emang lo, tiap ketemu debat mulu."
Kak Eza hanya terkekeh melihat gue yang sewot karena omongannya barusan. Dia benar-benar, kayaknya gue perlu stok sabar yang banyak setiap kali ketemu Kak Eza.
"Nggak capek lah, kan gue emang seneng isengin lo. Lo lucu soalnya kalau ngambek."
Nah kan, sekarang malah dia menggoda gue. Sangat tidak jelas memang asdos satu ini. Untung dia kakak kesayangannya sahabat gue, coba aja bukan, gue tinggalin disini kayaknya.
"Terserah deh, capek gue ngadepin lo yang kadang nggak jelas."
Pasrah juga gue akhirnya. Tapi sejujurnya, sikap Kak Eza yang sekarang itu tidak semenyebalkan awal kita bertemu. Entah kenapa, gue malah merasa nyaman dengannya. Yaah, walaupun kadang dia bisa sangat menyebalkan sih.
__ADS_1
"Iya, iya, nggak lagi-lagi saya godain kamu. Udah buruan, setelah ini saya antar kamu pulang."
"Iya, tapi tolong kenapa ngomongnya jadi kaku sih Kak? Kan kita berdua doang ini. Rasanya kayak gue lagi ketemu dosen astaga."
"Template, Rhe. Jadi maklumin aja."
Setelah itu tidak ada percakapan apapun diantara kami dan fokus menghabiskan hidangan yang tadi kami pesan. Agar bisa segera pulang, karena cuaca tiba-tiba mendung.
"Sampai jumpa besok, Rhe. Gue pulang ya. Istirahat, nggak usah pusing mikirin hal yang nggak ada kaitannya sama lo."
"Iya, hati-hati di jalan."
Gue menunggu di depan pagar sampai mobil yang ditumpangi Kak Eza menjauh dan hilang di balik tikungan kompleks.
"Gue lihat-lihat makin deket aja kalian. Kalian pacaran?"
"Ngapain lo disini?"
Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Kara secara tiba-tiba, gue justru balik bertanya.
"Rumah gue kan depan rumah lo, jelas aja gue bisa disini." Sahutnya tidak nyambung.
"Lah, kok gue ditinggalin sih Rhe. Tunggu."
Gue nggak memperdulikan seruan Kara yang protes karena gue tinggalkan di depan pagar rumah. Salah sendiri tiba-tiba muncul, mana nggak pakai alas kaki pula.
"Mau ngapain sih? Gue capek mau istirahat dan gue males ketemu lo. Balik sono."
"Nggak peduli, gue kangen lo. Sejak kita ribut bebeberapa bulan lalu, terus soal tempo hari lo jadi menghindar mulu."
Sejujurnya gue sudah muak dengan tingkah Kara yang sangat plin plan ini. Bisa-bisanya dia dengan seenaknya bilang kangen ke gue, sedangkan dia baru saja nembak sahabat gue. Gila emang nih anak.
"Kan itu salah lo sendiri. Makanya jadi cowok tuh nggak usah plin plan. Renungin sana, sebenernya mau lo tuh apa? Capek Ga, ngadepin lo yang nggak jelas kayak gini."
Gue berakhir menumpahkan segala hal yang gue pendam selama ini soal Aga. Soal cowok plin plan yang bodohnya masih gue sayang sampai saat ini.
"Hati lo tuh sebenarnya milih siapa? Gue atau Mei? Kalau emang nggak ada kesempatan buat gue, jangan kayak gini. Gue bingung ngadepi lo yang kayak gini."
"Gue juga bingung, Rhe. Hati gue mau Mei, tapi disisi lain gue nggak mau lo jauh dari gue. Gue nggak rela lo deket sama Bang Eza."
Gue bisa melihat Aga juga sama bingungnya dengan gue. Tapi tetap saja, itu tidak membenarkan tindakannya kemarin. Karena ulah yang dibuat dia, Mei jadi ikut kena imbasnya.
"Bego sih lo. Gue nggak mau tahu, pokoknya lo kudu beresin masalah lo sama Zayn. Karena ego kalian, Mei yang kena imbasnya dan gue mau lo tanggung jawab."
"Gue harus apa? Mei aja nggak mau ketemu gue dan Zayn, yang ada kita perang kalau ketemu."
"Gue nggak peduli. Lo yang berulah, berarti lo juga yang harus beresin. Udah ah, sana pulang lo."
Setelah puas meluapkan semua yang ada dalam pikiran gue dan juga semua kekesalan yang gue pendam. Aga gue usir untuk pulang. Karena gue tidak ingin Aga melihat gue yang lagi-lagi patah untuk kesekian kalinya karena dirinya.
__ADS_1