Bianglala (Revisi)

Bianglala (Revisi)
18.3 [Mei] Zayn vs Kara


__ADS_3

Sejak kembali dari pantai waktu itu, Zayn semakin menempel denganku. Padahal aku juga tidak akan pergi darinya, tapi dia terus menerus berada di sekitarku.


Bila aku tanya alasannya, dia hanya akan menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. Agak aneh memang, tapi aku tetap menyukainya.


Pagi ini seperti biasa, Zayn mendatangiku ke fakultas dan mengajakku untuk makan siang bersama. Itu menjadi sebuah rutinitas baru untukku. Karena biasanya, aku akan menghabiskan waktu jeda perkuliahan bersama Rhea atau Lyra.


"Ini, kamu nggak mau ada yang tahu soal kita. Tapi kamu tiap hari dateng ke fakultas aku. Mendingan kasih tahu Lyra sekalian nggak sih, Rhea juga udah tahu."


Zayn terlihat berpikir mendengar usulanku. Sepertinya dia sedang menimbang-nimbang apakah akan mengikuti saranku atau tetap mempertahankan keinginannya.


"Nggak ah, nanti aja. Gue males diledekin Bang Bryan." Sahut Zayn sambil kembali fokus pada ponselnya.


Aku hanya mengangguk pasrah, terserah dia sajalah. Lama-lama capek juga mengikuti kemauan Zayn yang tidak ada habisnya.


"Tumben berdua doang sama nih bocah, biasanya bareng Rhea."


Kara tiba-tiba menghampiri kami dan duduk di kursi kosong sebelahku.


"Kayaknya dia masih kelas sih, karena dari pagi aku belum ketemu dia."


"Kenapa nyari Rhea?"


Zayn tiba-tiba bertanya karena penasaran. Tumben sekali dia penasaran dengan hal yang bukan urusannya.


"Kepo lo," tukas Kara tak suka.


"Yaudahlah terserah, mending pergi lo ganggu aja."


"Mei, nanti gue mau ngomong sama lo tapi kalau lo sendirian. Males banget ntar nih bocah kepo." Ujar Kara sambil berjalan menjauh dari kami.


"Nggak usah ngamuk, aku tinggal kamu kalau marah-marah mulu."


Sebelum Zayn protes dan marah-marah tidak jelas, aku lebih dulu mengancamnya. Karena kalau sampai Zayn marah aku juga yang akan repot nantinya.


Kami akhirnya makan siang dan langsung kembali melakukan aktivitas masing-masing. Ternyata Zayn masih memiliki project yang harus dia selesaikan sore ini, terpaksa untuk kali ini aku harus pulang sendiri.


Jujur saja, aku sudah terbiasa diantar jemput oleh Zayn dan rasanya aneh ketika aku harus pulang sendiri seperti ini.




Seperti yang diucapkan Kara tadi siang, dia benar-benar menemuiku. Bukan, lebih tepatnya dia mendatangiku ke rumah. Mau apa dia sebenarnya. Bukankah seharusnya dia sedang bersama Rhea saat ini.



"Mau ngomongin apa sih kamu?" Todongku begitu Kara berdiri dihadapanku.



"Ini gue nggak disuruh masuk dulu gitu, gue tamu lho."



"Banyak mau kamu,"



Tapi tetap saja aku mempersilahkan Kara untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu.



"Gue mau ngomong serius sama lo."



Aku yang tadinya berniat membuatkan minum untuk Kara langsung mengurungkan niat begitu Kara mulai membuka percakapan.



"Gue harap, setelah denger ini lo nggak akan benci gue atau jauhin gue dan Rhea."



Apa ini? Kenapa Kara membawa nama Rhea. Aku jadi sedikit takut dengan apa yang akan dia sampaikan.



"Mei, Rhea baru aja jujur soal perasaannya sama gue. Jujur, gue kaget. Gue nggak nyangka ternyata Rhea menyimpan perasaan buat gue. Kalau saja Rhea jujur dari dulu mungkin kami akan jadi pasangan bahagia sekarang. Sayangnya, dia baru jujur sekarang, saat perasaan gue udah berubah buat orang lain."


__ADS_1


Ada jeda sebentar, tapi entah kenapa rasanya justru semakin menakutkan. Aku merasa akan ada hal buruk diakhir pengakuan Kara.



"Gue berakhir nolak Rhea, jujur rasanya sakit. Tapi kalau gue terima dia pasti akan lebih sakit lagi. Karena rasa gue bukan buat dia, tapi buat sahabatnya."



Aku sedikit tersentak ketika Kara tiba-tiba menggenggam tanganku dan bodohnya aku hanya diam dan tidak berusaha untuk melepaskannya. Kalau sampai Zayn tahu Kara seperti ini pasti akan ada perang dunia nantinya.



"Bisa tolong lepasin tangan aku. Aku nggak mau nantinya malah ada yang salah paham sama kita."



"Sebentar, Mei. Biarin kayak gini sebentar."



Mau tak mau akhirnya aku membiarkan Kara tetap seperti itu dan menunggu sampai dia menyelesaikan apa yang ingin dia sampaikan.



"Mei, orang yang gue suka, sahabat Rhea yang bikin perasaan gue berubah itu lo. Gue harap lo mau terima perasaan gue ini."



Aku hanya bisa menatap Kara tanpa kata. Jadi yang dilakukan Kara selama ini karena dia memang menaruh hati padaku. Betapa bodohnya aku tidak menyadari itu.



"Tapi maaf, aku nggak bisa. Ada hati yang harus aku ja-"



Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, orang yang amat sangat tidak aku harapkan untuk datang malah berdiri di ambang pintu dan menatap kami sengit.



"Lo apa-apan! Lepasin tangan lo dari cewek gue."




"Berisik, siapa sih lo. Dateng-dateng ngamuk nggak jelas kayak orang gila."



"Gue cowoknya Mei, mau apa lo? Mei milik gue. Siapapun nggak boleh ambil Mei dari gue."



Tanpa aba-aba Zayn menarikku dengan kasar sampai tanganku rasanya sangat sakit. Tidak biasanya Zayn seperti ini semarah apapun dia. Tapi kali ini sepertinya Kara berhasil membangunkan sisi lain dari seorang Zayn, sisi lain yang tidak pernah aku ketahui.



"Zayn, sakit." Cicitku pelan, jujur saja aku sangat takut sekarang.



Zayn sangat berbeda, dia tidak seperti yang aku kenal. Dia sangat menakutkan.



"Diem! Lo itu milik gue. Jadi lo nggak boleh deket sama siapapun. Nggak ada yang boleh ambil lo dari gue."



"Emang gila lo, lepasin Mei. Dia kesakitan bego!"



Aku bisa melihat, Kara melayangkan tangannya untuk menampar Zayn. Zayn sedikit terhuyung akibat tamparan keras dari Kara.



Dengan cepat aku menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari cekalan Zayn yang sangat erat itu.


__ADS_1


"Sialan lo!" Murka Zayn semakin menggebu-gebu.



"Kara, cukup. Kamu mending pergi sekarang. Biar aku sendiri yang urus Zayn."



Aku mengusir Kara dari rumah, mendorongnya keluar dan mengunci pintu.



"MEI! BUKA PINTUNYA. KENAPA LO MALAH NGUSIR GUE, ZAYN YANG HARUSNYA LO USIR."



"DIEM! Kamu mending pulang. Kamu malah bikin semuanya makin ribet."



Setelah berhasil mengusir Kara, aku bergegas mendekati Zayn yang masih sangat marah. Pelan-pelan aku berusaha untuk menenangkannya.



"Zayn sayang, udah ya marahnya. Aku nggak akan kemanapun. Mei masih tetap punya Zayn."



"Lo punya gue, Kara nggak boleh rebut lo dari gue." Ujar Zayn sambil memelukku dengan erat.



"Iya, aku tetap disini. Aku maunya sama Zayn, bukan sama Kara. Mei sayangnya cuma sama Zayn. Udahan ya marahnya sayang."



"Nggak kedengeran Mei, tadi kamu panggil aku apa? Coba diulangi lagi."



"Zayn sanyang," lirihku karena tiba-tiba merasa malu sendiri.



"Ngomong apa sih? Nggak kedengeran Mei sayang. Kamu ngomongnya pelan banget." Goda Zayn memintaku mengulangi panggilan untuknya tadi.



"Diem, kamu nggak usah pura-pura nggak denger deh."



"Beneran Mei, nggak kedengeran."



"Diem nggak? Atau aku sumpel mulutnya."



"Boleh, sumpel pakai bibir kamu ya. Sekalian kasih cium, sakit ini pipiku ditampar si santan Kara."



"Zayn diem!" Jeritku sebal karena dia terus menerus menggodaku.



Zayn hanya terkekeh melihat tingkahku yang heboh sendiri karena malu digoda olehnya seperti itu.



"Diem nggak, aku tinggal nih kalau nggak mau diem."



"Mau kemana sih, disini aja sama aku. Nggak usah malu, kan kamu emang sayangnya Zayn." Ucapnya sambil merengkuhku lembut dan membuatku semakin tersipu dan berakhir menenggelamkan wajah di ceruk leher Zayn.



...~~~~~~~~~...

__ADS_1


__ADS_2