
Hari ini, aku akhirnya bertemu dengan Rhea setelah hampir dua minggu kami sama sekali tidak saling berkomunikasi. Kami mengobrol dan saling meminta maaf. Ah, lebih tepatnya Rhea yang meminta maaf padaku.
Kami sama-sama salah sebenarnya, karena kami sama-sama egois dan meninggikan gengsi. Saling memaafkan saja harus menunggu berhari-hari. Tapi, aku memaklumi karena yang kami rasakan itu valid.
Aku dan Rhea membicarakan banyak hal setelah itu. Kami membahas kejutan untuk Lyra dan juga soal Zayn.
Ngomong-ngomong soal Zayn, aku semakin dekat dengannya. Bahkan Rhea mengira kami berpacaran. Padahal kami hanya teman biasa, teman satu UKM dan tidak lebih.
Tapi terkadang, aku merasa perhatian-perhatian yang Zayn tujukan padaku lebih dari sekedar perhatian pada teman. Tapi lebih dari itu, perhatian selayaknya seorang kekasih. Jujur saja, aku masih bingung dengan semua itu.
"Mei, malah bengong. Mikirin Zayn ya lo? Orangnya kan udah di depan lo." Goda Rhea membuyarkan lamunanku.
Kebiasaan Rhea yang satu itu memang tidak pernah hilang. Dia masih saja senang menggodaku.
"Apa sih, berisik kamu. Mending fokus latihan lagi sana." Aku mengusir Rhea untuk fokus berlatih dengan Zayn daripada menggangguku.
Kami berlatih sampai sore. Setelah itu, aku dan Rhea langsung menuju rumah Lyra untuk memberinya kejutan. Rasanya menyenangkan, setelah berbaikan dengan Rhea.
Kami langsung menuju rumah Lyra setelah sebelumnya mampir ke supermarket untuk membeli beberapa camilan.
Kami disambut Kak Eza begitu sampai dan langsung dipersilahkan untuk naik ke kamar Lyra. Setelah drama pelukan dan yang lainnya, akhirnya kami bisa mengobrol dengan santai. Tapi tetap saja, Rhea masih menggodaku dan penasaran soal Zayn.
"Daripada kepo soal aku, mending kamu nanyain Lyra tuh. Dari tadi dia mukanya ditekuk mulu." Kilahku berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Lo kenapa, Ra? Masih galauin Kak Bryan?"
Rhea benar-benar langsung bertanya pada Lyra yang memang sedang diam dengan wajah kusut seperti baju yang belum distrika.
"Bukan apa-apa, gue cuma sebel aja. Kak Bryan makin susah dihubungi." Ucap Lyra lesu.
"Kan Kak Bryan sibuk, Ra." Ucapku mengingatkan Lyra.
"Bener tuh yang dibilang Mei. Kak Bryan sibuk, jadi nggak sempet pegang hp." Imbuh Rhea.
__ADS_1
"Gue tahu dia sibuk, tapi tuh sebel aja. Tiba-tiba dateng, tiba-tiba hilang nggak tahu kemana." Beber Lyra terlihat sebal sendiri.
Kami bertiga mengobrol sampai larut malam, membahas banyak hal. Tapi lebih banyak curhatan Lyra soal Kak Bryan.
Pagi harinya, kami bertiga bangun kesiangan. Untungnya hari ini kami semua tidak ada kelas. Hanya ada beberapa tugas yang harus dikumpulkan hari ini.
"Bosen Ra, gue bingung arus ngapain." Rhea merengek karena dia kebingungan akibat terlalu bosan.
Memang sejak tadi kami tidak melakukan apapun. Kami hanya sibuk dengan aktivitas masing-masing dan sesekali mengobrol.
Entah kenapa aku justru lebih senang seperti ini, sedikit aneh memang. Tapi menurutku dengan seperti ini, aku bisa dengan bebas melihat kedua sahabatku itu dengan leluasa.
"Mei, biasa aja lihat kitanya. Nanti dikira macem-macem lagi." Canda Lyra karena aku terlalu serius menatap mereka berdua.
"Udah ah, bosen. Mau gangguin Kak Eza aja." Ujar Rhea dan langsung berlari kecil menuju teras belakang.
Gue hanya bisa menggeleng heran dengan kelakuan sahabat gue satu itu. Benar-benar seperti anak kecil.
Zayn❌ is calling...
Pop up panggilan muncul dari ponselku yang tergeletak. Buru-buru aku menjawab panggilan itu sebelum Lyra melihat siapa penelponnya.
Aku sengaja agak menyingkir ketika menjawabnya. Bukan apa-apa, aku hanya tidak mau diganggu bila ternyata Zayn menelpon karena memang ada sesuatu yang penting.
"Nggakpapa, emang kalau nelpon lo harus ada alesan dulu?"
Aku bisa mendengar Zayn terkekeh ketika mengucapkan itu.
"Nggak juga sih tapi tuh aneh, tiba-tiba nelpon."
"Kalau gue bilang, gue kangen lo. Percaya nggak?"
"Apaan sih, udah ah. Aku matiin."
Aku merasa malu sendiri mendengar ucapan Zayn yang terakhir. Sepertinya saat ini wajahku langsung memerah seperti kepiting rebus saking malunya.
Lagi pula, untuk apa Zayn melakukan hal konyol seperti itu. Kurang kerjaan sekali dia.
Tak lama kemudian, ponselku kembali berdering. Kali ini panggilan dari Kara. Ada apa dengan dua manusia itu? Kenapa menelponku diwaktu yang hampir bersamaan?
Mau tak mau, aku menjawab juga panggilannya. Daripada ponselku terus menerus berdering.
"Lo lagi dimana, Mei?"
Kara langsung menodongku dengan pertanyaan begitu aku menjawab panggilannya.
__ADS_1
"Di rumah Lyra, kami nginep. Ah, maksudnya aku dan Rhea. Kenapa?"
"Pantas saja rumah sebelah sepi. Penghuninya sedang tidak dirumah ternyata."
"Hah? Gimana maksudnya?"
"Bukan apa-apa. Yaudah, lo have fun ya sama Lyra dan Rhea."
Aku sedikit bingung dengan ucapan Kara barusan. Apa maksudnya? Ah, atau mungkin sebenarnya menelponku hanya sekedar cara untuk mengetahui keberadaan Rhea. Bukankah rumah sebelah yang dia maksud adalah rumah Rhea.
Kalau memang dugaanku benar, ada kemungkinan mereka akan berbaikan dan kami bisa seperti dulu lagi. Ah, rasanya aku tidak sabar.
"Kamu abis darimana Mei?"
Aku berpapasan sama Rhea ketika mau kembali ke kamar Lyra.
"Abis jawab telpon. Kamu udahan latihan gitar sama Kak Eza?" Tanyaku, berharap bisa mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Kak Eza harus beresin berkas rapat katanya. Terus gue diusir suruh balik kamar Lyra." Sahut Rhea sambil melangkah menuju kamar Lyra.
"Lah, lo abis dari mana, Mei? Perasaan tadi masih disini deh."
Kami disambut dengan pertanyaan Lyra yang heran karena aku dari luar.
"Ra, aku udah keluar dari setengah jam yang lalu dan kamu nggak sadar? Padahal kayaknya kamu lihat pas aku keluar."
Aku juga merasa heran, bisa-bisanya Lyra tidak sadar kalau aku keluar dari kamarnya untuk menjawab panggilan telpon dari Zayn dan Kara.
Ah, soal Kara. Aku masih penasaran apa maksud ucapannya tadi. Apa aku tanyakan ke Rhea saja.
"Rhe, kamu udah baikan sama Kara?" Tanyaku ragu-ragu karena takut membuat Rhea tidak nyaman.
"Masih kayak biasanya, emangnya kenapa Mei?" Rhea malah balik bertanya, harus jawab apa aku?
"Nggakpapa, cuma mau nanya aja." Sahutku sekenanya, karena aku memang bingung harus menjawab apa pertanyaan Rhea itu.
"Sebenernya penasaran sih, soalnya waktu itu Kara sempat nanyain kamu. Aku kira kalian sudah baikan."
"Lo nggak berminat baikan sama Kara?" Imbuh Lyra yang sepertinya juga penasaran.
"Bukan nggak berminat tapi tergantung gimana Aga." Sahut Rhea singkat.
"Maksudnya gimana deh, Rhe?" Lyra menyuarakan rasa penasarannya.
"Ya kayak gitu, tergantung gimana dia respon gue nantinya." Sahut Rhea penuh teka-teki, seperti sedang menyembunyikan sesuatu tanpa kami ketahui.
Jawaban Rhea justru membuatku semakin bingung dan penasaran. Ingin rasanya aku kembali menanyakan maksud dari ucapannya itu. Tapi sudahlah, itu bukan urusanku. Biarlah Rhea dan Kara menyelesaikan sendiri soal itu.
Urusanku hanya sebatas mengingatkan Kara agar meminta maaf pada Rhea. Selebihnya itu urusan mereka masing-masing. Semoga saja ada jalan keluar untuk masalah Kara dan Rhea. Seperti kami yang akhirnya bisa saling memaafkan dan kembali seperti sebelumnya.
__ADS_1