
Apa yang lo rasain ketika dua sahabat lo yang tadinya kayak orang musuhan tiba-tiba akur. Pasti senenglah, itu jelas. Gue pun begitu, gue beneran seneng banget melihat Rhea dan Mei berdiri di hadapan gue sekarang.
Tanpa berpikir lagi, gue langsung memeluk Mei dengan erat. Gue kangen banget sama Mei, karena sejak dia ada masalah sama Rhea, kami jadi jarang ketemu. Rasanya tuh kayak dapet hadiah yang emang diharapkan dari lama.
"Gue kangen lo, Mei. Akhirnya kalian baikan juga. Gue seneng banget."
"Udahan pelukannya. Ayo, ke kamar. Katanya pengen tahu gimana kita baikannya."
Dasar Rhea, nggak bisa lihat gue seneng dikit. Padahal kalau mau masuk tinggal masuk aja, nggak perlu gangguin gue yang lagi pengen lama-lama peluk Mei.
"Lepasin dulu, Ra. Ngobrol sambil duduk aja." Ujar Mei dan langsung gue turuti.
Kami akhirnya menghabiskan waktu dengan mengobrol. Kami membicarakan banyak hal, dari cerita tentang bagaimana mereka berbaikan dan bahkan curhat juga. Lebih tepatnya gue sih yang curhat, karena sebal di tinggal Kak Bryan tanpa kabar.
Ngomong-ngomong soal Kak Bryan, sebenarnya gue bisa saja tanya Kak Eza karena mereka satu kantor. Tapi pasti nanti diledek habis-habisan oleh Kak Eza.
Keesokan paginya, gue dan Mei disambut wajah kusut Kak Eza. Anehnya, pagi ini dia sudah rapi, entah habis dari mana sepagi ini orang itu. Padahal biasanya Kak Eza tidak akan bangun pagi bila tidak ada pekerjaan.
"Pagi-pagi dah rapi aja, Kak?" Gue menyapa Kak Eza yang sedang merebahkan kepalanya di meja makan.
"Abis nganterin temen lo, tapi setelah itu gue tinggal. Karena kayaknya dia nggak akan pulang. Eh, maksudnya udah pulang." Ucap Kak Eza tanpa konteks yang jelas.
"Gimana deh maksudnya?" Tanya gue bingung sendiri karena ucapan tidak jelas Kak Eza.
"Bentar deh, Ra. Rhea kemana ya? Aku nggak lihat dia sama sekali." Tanya Mei yang menyadari ketidakberadaan Rhea pagi ini.
"Lah iya, tuh anak dah ilang aja pagi-pagi." Imbuh Lyra setelah menyadari ketidakberadaan Rhea diantara mereka.
"Kan gue udah bilang, Dek. Gue abis nganterin temen lo itu pulang. Terus gue tinggalin karena dia kelamaan." Tambah Kak Eza kembali bersuara, kali ini untungnya lebih jelas konteksnya.
__ADS_1
"Kok ditinggalin Kak?"
"Kan dia pulang, Dek. Lagi pula ada Kara yang siap anter kemanapun dia pergi." Sahut Kak Eza tidak peduli.
"Udah ah, gue mau tidur lagi. Nggak usah ganggu."
Gue hanya diam dan menatap bingung Kak Eza yang berjalan gontai menuju kamarnya. Sebenarnya gue masih penasaran dengan ucapan Kak Eza. Tapi gue tidak bertanya lebih lanjut, karena sepertinya mood Kak Eza sedang tidak baik dan gue tidak berani mengganggunya.
"Mei, coba lo telpon Rhea deh. Tuh anak masih pagi tapi bikin panik aja."
Mei bergegas mengeluarkan ponsel dan menelpon Rhea. Tapi sampai panggilan ketiga masih tidak terjawab juga. Entah apa yang sedang dia lakukan di rumahnya, sampai-sampai tidak sempat mengangkat telpon Mei.
Gue mengangguk pasrah dan memilih untuk menyiapkan sarapan, daripada pusing memikirkan Rhea. Kami sarapan berdua, karena Kak Eza sedang tidak bisa diganggu dan gue memang tidak berani mengganggu.
Sore menjelang, Mei sudah pulang sejak tadi karena dijemput Zayn. Entah mau dibawa kemana sahabat gue itu.
Gue berdiam sendirian di ruang tengah karena Kak Eza masih didalam kamar sejak tadi pagi. Rasanya sepi sekali, karena kemarin gue ditemani Rhea dan Mei. Tapi sekarang gue sendirian di rumah sebesar ini.
Gue beranjang ke kamar Kak Eza, berharap dia akan membiarkan gue masuk. Gue bosan sendirian sejak tadi.
"Kak, boleh masuk nggak? Bosen dari tadi sendirian mulu."
Gue mengetuk pintu kamar Kak Eza sedikit heboh, agar segera dibukakan pintu oleh sang empunya kamar.
"Berisik, Dek. Biasanya langsung masuk juga. Ini pakai ketuk pintu segala." Protes Kak Eza setelah membuka pintu.
__ADS_1
"Kan takutnya Kakak lagi beresin berkas atau rapat online gitu." Kilah gue.
"Halah, biasanya juga langsung nyelonong masuk, Dek. Walaupun gue ada rapat atau sibuk beresin berkas. Pasti ada maunya nih." Cibir Kak Eza bisa menebak maksud terselubung gue.
"Ehehehe, mau minta tolong telponin Kak Bryan atau chat deh. Gue chat nggak di bales dari semalem." Adu gue pada Kak Eza.
"Dia sibuk, Dek. Lagi pula, emangnya kenapa sih kalau nggak dibales chatnya." Tanya Kak Eza.
"Kangen tahu, Kak. Kan biasanya aku selalu chat Kak Bryan." Cicit gue pelan.
"Lo suka sama dia, Dek?" Tanya Kak Eza kali ini sambil menatap gue serius.
Gue mengangguk kecil. Gue memang suka dengan Kak Bryan, tapi gue masih nggak tahu rasa suka seperti apa yang gue miliki untuk sahabat Kakak gue itu.
"Udah ah, malah bahas gue mulu. Gue mau nanyain Kakak sekarang. Kakak tadi pagi abis darimana sama Rhea?" Tanya gue penasaran.
"Dibilang nganterin Rhea pulang kok, katanya dia mau ketemu Kara." Ujar Kak Eza menjelaskan.
"Rhea baikan sama Kara, Kak?" Sahut gue antusias. Kalau memang benar, berarti misi gue sudah tidak dibutuhkan.
"Gue nggak tahu, karena abis dia turun gue langsung puter balik terus pulang." Jawab Kak Eza sekenanya.
"Dih, Kakak nggak tanggung jawab. Masa langsung ditinggalin."
"Ya ngapain nunggu, dia mau pulang juga tinggal jalan beberapa langkah sampai."
"Bilang aja cemburu, Kak. Makanya langsung kabur." Goda gue dan membuat Kak Eza terlihat kesal.
"Nih, katanya dia lagi sibuk. Nggak ada waktu buat balas chat." Ujar Kak Eza sambil menunjukan pesan balasan dari Kak Bryan.
Gue cuma bisa menghela napas dalam. Nggak ada waktu buat balas chat katanya, tapi dia membalas chat Kak Eza. Emang guenya aja yang bukan prioritas, kalah saing sama kerjaan. Miris sekali ya kisah gue, baru juga mulai belajar suka sama orang. Ternyata dinomor duakan sama kerjaan.
Kak Eza menarik gue pelan dan memeluk gue. Rasanya mau nangis kalau kayak gini. Untungnya ada Kak Eza yang siap sedia menghibur gue, walaupun kadang tidak peka.
"Nangis aja Dek, biar lega. Kalau Bryan malah bikin lo sedih terus, gue nggak akan biarin dia ketemu lo lagi. Lo adek kecil kesayangan gue, nggak boleh ada yang bikin lo sedih." Ujar Kak Eza sambil tetap memeluk dan mengelus pelan kepala gue.
Rasanya nyaman, Kak Eza emang obat paling ampuh saat suasana hati sedang sedih kayak gini. Dia selalu punya cara buat bikin rasa sedih gue menghilang sedikit demi sedikit. Sungguh Kakak idaman dia tuh.
"Daripada sedih-sedih, mending jajan yuk. Khusus hari ini, Kakak jajanin apapun yang lagi kamu pengen. Mau es krim, coklat, snack atau yang lainnya." Tawar Kak Eza setelah gue puas meluapkan kesedihan gue dibalin pelukannya.
"Mau eskrim, tapi nanti aja. Masih mau dipeluk Kakak." Ujar gue bertingkah semakin manja.
Beruntungnya gue memiliki Kakak yang care, ya walaupun dia aslinya galak banget. Tapi gue sayang banget sama Kak Eza, karena dia selalu punya cara unik buat bikin gue senyum terus. Pokoknya sayang Kak Eza.
__ADS_1
...~~~~~...