
Kak Bryan benar-benar mendiamkan gue. Padahal gue bertemu Kara tidak sengaja dan dia bertanya tentang Rhea makanya kami terlihat mengobrol akrab. Sialnya, Kak Bryan salah paham dan keburu termakan rasa cemburunya sendiri.
"Kak, ini beneran lo nggak mau ngomong sama gue?"
Gue mencoba mencairkan suasana yang sedari tadi sangat hening, karena Kak Bryan memang sedang mendiamkan gue.
Tapi pertanyaan gue hanya bagaikan angin lalu, karena Kak Bryan masih tetap bungkam. Hah sepertinya gue harus bekerja ekstra untuk membujuknya.
"Udah sampai, gih turun. Saya mau langsung pulang, masih ada urusan." Ujar Kak Bryan datar tanpa berniat menengok ke arah gue.
Kak Bryan sepertinya sangat kesal sekarang, bahkan dia berubah menjadi lebih kaku dari biasanya. Mau tak mau, gue bergegas turun sesuai perintahnya.
"Lah tumben Bryan nggak mampir dulu, Dek?" Celetuk Kak Eza dari balkon kamarnya, setelah melihat mobil Kak Bryan berlalu keluar gerbang.
"Katanya ada urusan." Jawab gue singkat.
Sudah lewat dua hari dan Kak Bryan masih mendiamkan gue. Kak Bryan tidak menghubungi gue sama sekali, padahal biasanya selalu menelpon gue. Kali ini, sekedar chat pun tidak.
"Kak? Temen lo kalau ngambek serem ya. Gue harus gimana? Mau jelasin dianya diem mulu."
Pada akhirnya gue curhat ke Kak Eza, kan siapa tahu Kak Eza bisa kasih tahu cara untuk bujuk Kak Bryan.
"Biarin aja dulu, ntar kalau udah ilang keselnya bakalan nelpon lo. Sabar aja kalau sama dia." Sahut Kak Eza yang sudah terbiasa dengan sifat unik Kak Bryan.
"Tapi tuh rasanya nggak enak, Kak. Maunya minta maaf secepatnya, biar kelar." Ujar gue sedikit memaksa.
"Dibilang sabar, ngeyel amat sih. Kalau masih nggak percaya, gih tanya Zayn tuh." Ujar Kak Eza sambiln menunjuk Zayn yang sedang mengobrol dengan Mei.
Gue bergegas turun dan melangkah mendekati Zayn dan Mei yang sedang mengobrol.
"Seru banget, ngobrolin apa nih?"
Zayn dan Mei menengok kompak, lucu sekali melihat mereka sehati seperti ini. Kayak lihat orang pacaran.
"Hai, Ra. Tumben banget lo dianter?"
"Iya, lagi males bawa mobil dan Rhea juga nggak jemput gue hari ini."
Sebentar, gue baru sadar kalau sejak tadi pagi tidak melihat Rhea. Kemana anak itu, tumben sekali sampai saat ini belum terlihat sama sekali.
"Rhea kayaknya nggak masuk. Ada urusan katanya." Ujar Mei memberitahu gue tentang Rhea.
__ADS_1
Kami bertiga bergegas menuju kelas masing-masing, karena perkuliahan akan segera dimulai.
Sore harinya, gue hanya berdiam diri di rumah karena sejak pagi tadi gue tidak bertemu dengan Rhea ataupun Mei. Padahal biasanya dia yang selalu mengajak gue jalan atau sekedar makan di luar. Sedangkan Mei, akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan Zayn.
"Nggak maen lo, Dek?"
Gue menggeleng pelan menyahuti pertanyaan Kak Eza. Lagi pula, gue mau main kemana. Temen aja nggak ada, pacar apalagi. Ada gebetan satu aja, malah ngambek diemin gue cuma karna salah paham.
"Nggak ada temen, Mei sibuk sama Zayn. Kalau Rhea nggak berangkat dia." Sahut gue sekenenanya, karena gus sibuk dengan tontonan gue.
"Kasihan amat lo, Dek. Ditinggal sendirian. Sabar aja, siapa tahu nanti di telpon Kak Bryan.
Entah Kak Eza sebenarnya sudah tahu atau memang hanya kebetulan. Tiba-tiba saja ponsel milik gue berdering.
Kak Bryan is calling....
Gue buru-buru menjawab panggilan dari Kak Bryan. Jujur saja, gue sangat senang sekarang. Tentu saja, karena Kak Bryan menelpon gue lebih dulu.
"Ra, kamu di rumah?"
"Iya, Kak. Ada apa ya?" Tanya gue bingung.
"Buka pintunya, saya di depan."
Mendengar ucapan Kak Bryan, gue reflek melompat dari kasur. Untung saja tidak terjatuh. Buru-buru gue berlari keluar untuk membukakan pintu.
"Lyra, saya minta maaf. Maaf kalau saya nggak dengerin kamu kemarin."
Gue disambut ucapan permintaan maaf begitu membuka pintu. Tentu saja langsung gue maafkan. Karena mana mungkin gue bisa berlama-lama tidak berbicara dengan Kak Bryan.
"Iya Kak, maaf juga kalau gue kadang kekanakan."
Kami berdua berakhir mengobrol cukup lama, sebelum Mei tiba-tiba menelpon gue. Sepertinya cukup penting, karena tidak biasanya Mei sampai menelpon.
"Kamu tahu nggak Rhea kemana? Dari tadi aku chat dia nggak dibalas dan telpon juga sengaja di reject sama dia." Ujar Mei begitu gue menerima panggilannya.
"Gue dari tadi nggak sama dia, abis kelas gue langsung balik."
"Duh, kemana sih dia? Tadi bilangnya mau ketemu Kara. Tapi Zayn tadi lihat Kara masih di kampus."
"Bentar, gue coba telpon dia deh."
Gue langsung mematikan sambungan telpon Mei dan berusaha menghubungi Rhea, tapi seperti kata Mei tadi panggilan telpon gue berakhir di reject.
"Kenapa Ra?"
Ah, gue sampai lupa kalau masih ada Kak Bryan disini. Bisa-bisanya gue mengabaikan dia karena terlalu fokus sama Rhea. Emang ya, dia tuh hobi banget bikin panik orang lain.
"Rhea nggak bisa dihubungi Kak dan sekarang nggak tahu dia dimana." Ujar gue sedikit panik.
"Gue tahu, dek. Ayo, lo ikut gue sekarang." Sahut Kak Eza sambil menarik tangan gue untuk segera mengikutinya.
"Gue pinjem cewek lo dulu, terserah lo mau disini atau balik."
Gue masih bisa mendengar Kak Bryan menyahuti ucapan Kak Eza walaupun samar-samar. Sepertinya dia lebih memilih untuk pulang, toh ini juga sudah sore jadi memang lebih baik Kak Bryan pulang.
Gue dan Kak Eza memilih untuk tetap di dalam mobil dan menunggu Rhea di seberang jalan. Kami bisa melihat Rhea dari balik kaca mobil walaupun tidak terlalu jelas tapi seenggaknya kami bisa mengawasinya dengan leluasa.
__ADS_1
"Kak, gue samperin sekarang aja ya?"
Gue berniat menghampiri Rhea yang sudah duduk sendirian sejak tadi, tapi dilarang oleh Kak Eza.
"Disini dulu, Rhea kayaknya mau ngobrol berdua sama Kara."
Gue kembali fokus dengan ponsel untuk mengabari Mei, agar anak itu tidak terlalu khawatir. Karena sepertinya Rhea baik-baik saja.
Setengah jam telah berlalu, Rhea dan Kara masih betah duduk berdua dan mengobrol di dalam kafe, begitu juga dengan gue dan Kak Eza yang masih berada di dalam mobil.
Tak berselang lama, gue melihat Kara beranjak dari duduknya dan meninggalkan Rhea yang tertunduk diam. Gue yakin, saat ini Rhea sedang berusaha menyembunyikan tangisnya, gue hapal kebiasaannya satu itu.
Tanpa menunggu persetujuan Kak Eza, gue langsung keluar mobil untuk menghampiri Rhea. Benar saja, begitu melihat gue, Rhea langsung memeluk erat gue dan menumpahkan tangisannya disana.
Gue membawa Rhea pulang ke rumah. Karena dia tidak mau pulang, belum siap katanya. Gue hanya bisa mengiyakan permintaannya itu.
Sejujurnya gue penasaran, tapi tidak mungkin gue tanya sekarang. Sepenasaran apapun gue saat ini, gue tidak mungkin memaksa Rhea untuk bercerita tentang pertemuannya dengan Kara.
"Lo istirahat gih, kalau ada apa-apa panggil aja. Gue mau ke teras belakang, mau nelpon Kak Bryan."
Rhea hanya menggangguk kecil menanggapi omongan gue dan langsung menutup pintu kamar. Dia benar-benar tidak berniat untuk berinteraksi dengan orang lain saat ini.
Kak Bryan is calling...
"Gimana? Rhea udah ketemu?"
Kak Bryan langsung menanyakan Rhea begitu gue menjawab panggilannya.
"Udah, sekarang lagi istirahat di kamar gue."
"Syukurlah, biarin dulu aja. Kamu nggak boleh paksa Rhea buat cerita."
Gue mengangguk kecil, mengiyakan ucapan Kak Bryan. Selanjutnya gue mengobrol banyak dengan Kak Bryan.
__ADS_1
...~~~~~~~~...