
9 Juli 2018, hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru…
Libur sekolah telah selesai, sudah waktunya semua siswa kembali sebagai pelajar lagi. Ada yang senang dengan hal itu, ada juga yang masih menginginkan liburan.
Kamar bernuansa coklat itu sudah rapi sejak pagi. Jendela sudah dibuka sejak setengah enam tadi.
Pemilik kamar itu sedang mematut dirinya di cermin sambil merapikan dasi yang dipakainya.
Rambut gadis itu sudah dipotong sejak seminggu yang lalu menjadi sebahu dengan model layer dobel yang panjang dibagian belakang.
Tinnnn…
Suara klakson motor terdengar dari halaman depan rumah. Lilia pun segera keluar dari kamar dengan tas punggungnya.
Setelah berpamitan dengan mamanya, Lilia berangkat bersama Fani seperti biasa.
Suasana di sekolah itu sangat ramai oleh siswa yang sedang antri untuk memarkir motor.
Banyak terlihat penampilan baru dari berbagai siswa laki-laki maupun perempuan. Tampaknya hal yang sama juga terlihat dari beberapa guru.
Hari ini adalah hari penerimaan siswa baru. Upacara penyambutan dilakukan seperti biasa.
Sebagian yang bertugas mengurus kedatangan siswa baru masih anggota osis yang lama karena anggota osis baru masih belum dipilih.
“Cepet banget ya waktu berlalu. Padahal rasanya kayak baru kemarin kita berdiri disana jadi siswa baru wkwk,” ucap Fani pelan.
Lilia hanya tersenyum dan tetap fokus mengikuti upacara.
Setelah upacara. Semua siswa berbondong-bondong menuju ke halaman depan ruang guru untuk melihat pengumuman pembagian kelas.
Biasanya pembagian kelas diumumkan melalui grup WhenApp, namun sekarang justru semua siswa diminta melihat sendiri di papan pengumuman.
“Oi Gav, nitip fotoin semua pembagian kelas 11 yak ehehe,” ucap Fani setengah berteriak.
Gavin hanya membalas dengan ekspresi malas lalu segera berlalu pergi.
Fani melihat Lilia dengan ekspresi serius. Kali ini ia ingin memastikan hubungan kedua temannya itu.
“Btw Lil, Gavin nggak jadi nembak kamu?”
Lilia yang sedang minum air pun hampir tersedak mendengar pertanyaan Fani.
“Hah? Nembak apaan?”
Lilia merasa gugup. Sebisa mungkin perempuan bermata coklat itu tak ingin menunjukkan bahwa dia telah mengetahui bahwa Gavin menyukainya.
“Lah? Bukannya Gavin sama lu sama-sama saling suka?”
“Siapa yang ngomong? Apa karena bercandaan ku waktu itu yang bilang dia ganteng?”
Fani mencoba memikirkan ulang semua kejadian sejak SMP hingga sekarang. Perempuan dengan rambut pendek itu tampak bingung.
“Nggak, bukan itu doang. Kan lu dari SMP bukannya bilang Gavin itu tipe pacar ideal ya?”
Lilia terkejut dengan pertanyaan Fani sedangkan Fani terlihat serius menunggu jawaban Lilia.
“Ya kan emang dia tipe pacar ideal buat semua orang kan? Ganteng, sopan dan bisa diandalkan? Kayak idol gitu?”
Fani terkejut dengan jawaban Lilia. Sepertinya ia salah memahami ucapan temannya yang satu itu.
“Ya kalau gitu dia tipe pacar ideal lu?”
“Nggak gitu ih, dibilang dia itu macam idol yang enak dipandang tapi kalau secara perasaan khusus ya nggak. Btw maksud lu nem-“
Tak lama kemudian Gavin datang hingga Lilia mengurungkan meneruskan pertanyaannya.
“Oi, cek WhenApp,” ucap Gavin dengan ekspresi kesal.
“Thanks Gav, nanti gue beliin es klim,” ucap Fani menggoda Gavin.
Gavin duduk di seberang Lilia. “Nope, gue cuma kesel motret pembagian kelas tadi desak desakan.”
Lilia dan Fani langsung memeriksa penempatan kelas. Keduanya tampak kecewa.
“Yahh… nggak sekelas sama Lilia.” Fani menggerutu kesal.
__ADS_1
“Fani sih waktu itu ngomong duluan kalau nggak sekelas… kejadian beneran kan,” ucap Lilia yang juga kecewa dengan pembagian kelas kali ini.
“Ya kan waktu itu gue ngomong misalkan..,” ucap Fani membela diri.
Tiba-tiba dari arah belakang Gavin, datang Reza membawa semangkuk bakso yang kemudian langsung ikut duduk.
“Sorry ikut nimbrung, gue belum sarapan, tempat duduk lainnya di kantin ini penuh,” ucap Reza memberikan alasan.
Fani dan Lilia tersenyum, mereka sekarang sudah mulai terbiasa dengan kedatangan tiba-tiba satu laki-laki tak jelas itu.
Gavin memperhatikan perubahan ekspresi Lilia. Namun laki-laki bermata coklat keabuan itu tak mengatakan apapun.
Keempat orang itu menjadi diam selama beberapa waktu karena tak tau apa yang harus dibicarakan.
“Kalian dapet kelas apa?” tanya Reza tiba-tiba sambil tetap fokus makan.
Fani terlihat terkejut. “Lu tumben nanya, kayaknya hari ini bakal hujan der-,”
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Lilia langsung menyubit pelan lengan Fani.
“Aww Lili,” ucap Fani kesal yang tak bisa melanjutkan perkataannya.
“Jangan ngomong yang aneh-aneh, nanti hujan beneran kita pulangnya gimana?
Fani tertawa. “Yaelah, itu mah cuma kebetulan. Kalau semua omongan gue jadi nyata mah gue minta dapet uang banyak yang nggak abis-abis wkwkw.”
Reza hanya tersenyum tipis melihat kedua perempuan itu saling berdebat.
“Anj*r, Reza senyum… bakal ada kejadian apa ini?”
Melihat ekspesi kesal Lilia, Fani tak melanjutkan perkataannya dan hanya tertawa.
“Gue dapet kelas XI B sama kayak Gavin,” jawab Fani dengan ekspresi kesal.
“Oh, kalau Lilia?”
“Kelas XI A,” jawab Lilia singkat.
Reza hanya mengangguk mengerti tanpa menyebutkan kelas yang dia dapat. Setelah baksonya habis, laki-laki bermata hitam itu langsung pergi setelah pamit kepada ketiga orang yang masih duduk itu.
Lilia tampak sangat kesal. “Kenapa aku sendiri di kelas A sih…”
“Ya nanti kan dapat temen juga. Kalau punya temen baru jangan ngilang trus jauhin gue,” ucap Fani mengingatkan,.
Gavin tertawa. “Ya nggak lah. Ini kan tujuan pembagian acak biar kenalan sama temen dari kelas lainnya kan?”
Liia masih tampak kesal. Sejak SMP Lilia dan Fani selalu berada dalam satu kelas. Keduanya seolah tak terpisahkan.
Kringgggg
Bel tanda masuk kelas berbunyi. Hari ini memang tak ada jadwal pelajaran, namun pembagian tugas pengurus kelas perlu dilakukan.
Setelah membayar makanan yang dipesan, Lilia pun melangkah menuju kelasnya dengan langkah gontai.
...◇◇◇...
Lilia mengambil tempat duduk dekat jendela di barisan kedua sebelah kanan. Sembari menunggu guru datang untuk pencatatan jadwal dan pembagian pengurus kelas, gadis bermata coklat itu mencoba berkenalan dengan teman sekelasnya.
Tak lama kemudian hidungnya mencium aroma parfum yang tak asing. Lilia pun menoleh ke bangku belakang tempat ia duduk.
Matanya menangkap sosok Reza yang dengan santai sedang memainkan ponsel.
“Loh? Reza?”
Laki-laki yang merasa dipanggil namanya itu menoleh ke arah sumber suara. Reza tersenyum geli melihat Lilia tampak kaget.
“Hai?”
“Loh, kamu dapet kelas XI A juga?”
“Ya, keberuntungan gue tahun ini,” jawab Reza singkat.
“Hah?” Lilia tak memahami maksud dari perkataan Reza.
Tak lama kemudian wali kelas XI A yang baru datang. Setelah mencatat jadwal pelajaran selama satu semester ini, pembagian pengurus kelas dilakukan.
Tentu saja Lilia menolak menjadi pengurus kelas lagi karena sudah memiliki rencana untuk menjadi anggota OSIS.
Reza tak banyak berkomentar namun tetap memperhatikan dengan tenang.
__ADS_1
Suasana pagi menjelang siang mulai menghangat dengan hembusan semilir angin yang masuk lewat jendela kelas yang dibuka.
Aroma parfum yang menggelitik hidung Lilia entah kenapa justru membuatnya merasa tenang.
Sedangkan Reza yang juga mulai terbiasa dengan aroma parfum Lilia menjadi semakin sulit mengendalikan perasaannya.
Usai pembagian pengurus kelas berakhir, Reza langsung pergi begitu saja dari tempat duduknya.
“Eh kamu tuh kenal Reza ya?” tanya siswa perempuan yang duduk di bangku paling depan.
“Hmm, ya kenal sih karena dulu juga satu SMP, tapi ya cuma kenal aja,” ucap Lilia asal.
Sebenarnya Lilia bingung harus menjawab apa karena hubungan pertemanannya dengan Reza juga tidak terlalu dekat untuk disebut teman.
“Oh aku lupa ngenalin nama, aku Halina. Aku dari satu kompleks yang sama kayak Reza.”
“Oh, halo namaku Lilia.”
“Oh kamu yang itu ya?”
Lilia tampak bingung. “Yang itu gimana maksudnya?”
“Itu loh katanya salah satu cewek paling cakep di angkatan ini. Ya ampun ku kira tuh mereka cuma asal bilang ternyata emang cantik ya,” ucap Halina dengan mata berbinar.
Lilia tampak bingung dengan apa yang diucapkan Halina, namun ia memaksa tersenyum.
“Aku boleh jadi temen mu nggak? Sebenernya aku nggak banyak punya temen karena sejak kelas 1 aku jarang ikut kegiatan gitu, sekarang juga sih… .”
Lilia yang menghadapi seseorang yang berbicara panjang lebar itu membuatnya agak kaget.
“Ya boleh aja.”
“Asikkk. Oh iya aku tuh sejak kelas 1 bantu usaha tante ku gitu jadi model baju remaja di usaha jahit yang dipunya. Kamu mau jadi model juga? Kamu kan cantik.”
“Hmm kalau aku sih lebih suka motret daripada dipotret,” ucap Lilia berkelit karena tidak enak menolak langsung.
“Jadi photographer mau?” tanya Halina lagi.
Belum sempat menjawab, Fani datang ke kelas Lilia sambil memanggil nama temannya itu.
“Liliaa, ayok ambil buku ke kantor,” ucap Fani yang langsung mendekat ke arah bangku Lilia.
“Yuk ambil bareng juga Halin,” ucap Lilia mengajak.
Fani langsung berkenalan dengan Halina. Ketiga siswa perempuan itu pun bersama mengambil buku paket dan LKS yang akan menjadi bahan pembelajaran.
... ◇◇◇...
Hari-hari sekolah berlangsung biasa. Seperti kisah anak SMA pada umumnya, ada yang fokus dengan studinya, ada juga yang hanya bersenang-senang dengan masa mudanya.
Pemilihan ketua OSIS pun sudah berlangsung lancar beberapa hari yang lalu. Pengurus yang akan menempati setiap divisi pun telah diseleksi. Semua berjalan lancar tanpa ada drama yang berarti seperti tahun sebelumnya.
Ketua OSIS yang terpilih tahun ini adalah Gavin dan Fani sebagai wakil ketua OSIS.
Awalnya dulu Fani memang bermaksud mencalonkan diri sebagai ketua OSIS juga, namun setelah melihat peluang menang Gavin yang tinggi, ia pun berbalik arah dan menawarkan diri menjadi partner Gavin.
“Omongan lu bener deh Lil,” ucap Fani dengan ekspresi cemberut.
“Omongan apa?”
“Yang lu bilang kalau Gavin nyalon ketua pasti gue kalah.
Halina yang sedari tadi mendengarkan akhirnya tertawa. “Jabatan wakil OSIS kan bagus juga.”
Lilia ikut tertawa. “Ya kan itu bedasarkan pengamatan ku, tau sendiri Gavin yang ngefans banyak banget.”
Fani meletakkan kepalanya di meja. “Gue tadi nggak ikut rapat, lu ditempatin di divisi apa Lil?”
“Divisi bidang 4, yang berkaitan sama prestasi akademik, seni, olahraga sama minat bakat. Belum tau sih bakal ngurus secara spesifik bagian mana.”
“Dapet yang prestasi akademik pasti wkwk. Btw, Halina kenapa nggak ikut OSIS?” tanya Fani penasaran.
“Pengen sih, tapi aku pulang sekolah langsung kerja,” jawab Halina menghela nafas panjang.
“Oh iya, pernah cerita ya jadi model. Eh tapi bagus juga loh ada pengalaman kerja sejak dini. Siapa tau jadi model kelas nasional kan?”
Ketiga siswa itu tertawa dan mengamini ucapan Fani yang biasanya sering menjadi kenyataan itu.
Ketiganya pun melanjutkan makan siang dengan cepat sebelum bel masuk kelas berbunyi.
__ADS_1
...◆◇◆◇◆...