Blue Scandal

Blue Scandal
43 - Hari tenang sebelum badai


__ADS_3

Setelah Gio mendengar semua cerita tentang Deon dari Mia, laki-laki bermata onyx itu langsung mencari Zora di kelasnya saat istirahat, tapi ternyata perempuan itu tidak masuk.


Lilia yang melihat Gio mondar-mandir kebingungan pun menghampirinya. “Kamu kenapa kayak setrikaan bolak-balik.”


Gio menoleh. “Kamu lihat Zora nggak Lil?”


“Nggak tuh, kenapa nggak tanya Faye aja? Dia kan temen deket Zora.”


“Kata kelas XI C tadi Zora sama Faye nggak masuk.”


“Itu tau nggak masuk, kenapa tanya aku lihat Zora atau nggak?”


Gio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ya, siapa tau aja tau.”


“Kenapa nggak coba telfon aja?”


“Nggak diangkat.”


Beberapa detik kemudian ponsel Gio berbunyi, sebuah pesan masuk dari Zora. “Oh nih anak udah ngabarin.”


“Lilia!”


Lilia menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.


“Ada apa Fan? Ekspresi muka mu kok sampai kayak gitu?”


“Kamu udah tau info terbaru belum?”


“Soal apa?”


“Salah satu siswa sekolah ini bunuh diri.”


“Hah? Siapa?”


Fani mendekat ke Lilia lalu berbisik. “Sella.”


Lilia memandang Fani dengan ekspresi tak percaya. “Kok bisa?”


Fani menarik tangan Lilia, mengajaknya menepi ke tempat dimana tidak ada siswa yang lewat.

__ADS_1


“Gue tadi denger dikit, jadi tuh Sella ketahuan pacaran gitu sama ayahnya, terus ayahnya emosi dan ngurung dia, nggak lama setelah itu katanya dia dijual sama ayahnya sendiri,” ucap Fani lirih.


Lilia terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Meski tidak terlalu dekat dengan gadis itu, beberapa kali Lilia pernah melihat banyak luka lebam di lengannya.


“Sella nulis surat gitu di IG nya sebelum bunuh diri, dia ceritain semuanya dan berharap ayahnya dapat hukuman, di postingan itu dia minta maaf karena ngaku nggak kuat lagi dan malu sama semua orang, sekarang guru-guru heboh banget.”


Lilia terdiam, perasaanya tiba-tiba terasa sesak. “Kok bisa sih ayahnya… .”


Fani menghela nafas panjang, ia juga merasa ikut sakit hati mendengar teman seangkatnnya mengalami hal yang sangat buruk.


Tidak lama kemudian bel tanda masuk berbunyi, Fani dan Lilia pun kembali ke kelas masing-masing dengan langkah gontai. Setibanya di kelas, Lilia banyak mendengar teman sekelasnya sedang berbisik-bisik membicarakan tentang kematian Sella.


“Bapaknya pasti udah putus asa banget sampai kasih pelajaran kayak gitu ke anaknya,” ucap salah satu siswa laki-laki.


“Tuh cewek kan emang gampangan aslinya, kenapa bilang malu segala hehehe, bukannya udah kesehariannya? Malah mendingan dapat uang,” sahut siswa laki-laki lainnya.


Lilia mengepalkan tangannya erat. Meski tidak tau kejadian sebenarnya, ia merasa sakit hati mendnegar teman sekelasnya membicarakan seseorang yang baru saja memilih mengakhiri kehidupannya.


“Sayang padahal cakep,” ucap siswa laki-laki lainnya.


“Emang kalau masih hidup lu mau juga bekas orang?” sahut siswa laki-lakinya.


Brakkk… Tangan Lilia digebrakan di meja. “Berisik banget sih!”


‘Kok bisa ya ada yang malah bela ayahnya padahal jelas salah?’ gumam Lilia dalam hati.


Setelah membasuh wajahnya dengan air, ia menatap wajahnya di cermin. “Seharusnya anak-anak itu perlu mendapatkan kehidupan seperti apa supaya bisa berempati sedikit kepada orang lain?”


Lilia berdiam diri cukup lama, ia sebenarnya enggan kembali ke kelas. Perempuan bermata coklat itu tidak ingin melihat orang-orang dengan perkataan buruk seperti tadi.


‘Bolos aja kali ya?’ ucap Lilia dalam hati. Ia tidak ingin menunjukkan emosinya kepada orang lain.


Saat melangkahkan kakinya keluar dari toilet, beberapa siswa lain lewat dengan membawa tasnya. Lilia mengernyitkan keningnya, ia segera berjalan menuju kelasnya.


Kelas sudah sepi saat Lilia tiba, hanya ada Reza yang tampak masih fokus membaca sebuah buku. Lilia mendekat ke bangkunya, membereskan tasnya.


“Semuanya dipulangkan lebih awal karena guru katanya ada rapat darurat,” ucap Reza tiba-tiba.


“Oh, oke, makasih udah ngasih tau.”

__ADS_1


“Halina nggak masuk?” tanya Reza memecah keheningan.


“Iya, sakit katanya.”


‘Sakit? Kemarin dia kayaknya sehat-sehat aja,’ ucap Reza dalam hati.


Akhir-akhir ini Halina memang sering izin tidak masuk sekolah, padahal beberapa kali Reza melihat gadis itu sehat-sehat saja.


 ‘Aneh… .’


“Lilia!”


Fani masuk kelas itu dan segera mendekat ke Lilia. “Mau langsung pulang atau mampir beli sesuatu?”


“Hmmm, beli es dulu yuk,” jawab Lilia singkat, hari ini suasana hatinya sedang buruk, ia ingin minuman yang manis dan dingin lalu segera berbaring di kasurnya yang empuk.


Fani menoleh ke arah Reza. “Za, tadi lu dicariin Gio.”


“Udah chat kok dia, gue duluan ya,” jawab Reza yang kemudian langsung bangkit lalu pergi dari kelas itu.


Fani mengangguk, ia menatap kepergian Reza dengan ekspresi bingung. Kadang laki-laki itu terlihat sangat peduli dengan Lilia dengan ekspresi hangatnya, tapi kadang ekspresi laki-laki bermata hitam itu terlihat dingin.


Rasa penasaran Fani sebenarnya sangat menggangunya, tapi ia merasa ragu untuk menanyakannya langsung kepada Lilia.


Setelah Lilia selesai memasukkan semuanya ke dalam tas, kedua gadis itu langsung meninggalkan kelas itu menuju tempat parkir.


“Lu kenapa daritadi kayaknya lagi kesel gitu?” tanya Fani sesaat sebelum menaiki motornya.


“Kesel aja denger banyak anak cowok yang ngomongin Sella.”


Fani diam, di kelasnya juga terjadi hal serupa. Pembicaraan buruk tentang seseorang yang sebenarnya adalah korban dalam sebuah keluarga itu mengganggu perasaan mereka.


Lilia dan Fani cukup bisa berempati. Lingkungan keluarga yang sehat membuat kedua gadis itu tetap bisa mempertimbangkan posisi orang lain meski tidak mengalami hal buruk secara langsung.


“Kalau orang tuanya baik, dia nggak akan mengalami semua itu kan?” gumam Lilia pelan.


Fani tidak menjawab. Ia hanya membenarkan perkataan Lilia dalam hati. Gadis berambut pendeki itu sendiri sudah mengetahui banyak remaja seuasianya yang terjebak pergaulan yang salah karena kondisi keluarga yang buruk.


Para orang tua yang sibuk, orang tua yang terlalu memanjakan anaknya atau orang tua yang terlalu keras, dan juga latar belakang kondisi rumit lainnya.

__ADS_1


Para remaja itu hanyalah korban dari ketidakmampuan orang tua dalam merawat anaknya dengan baik.


...◆◇◆◇◆...


__ADS_2