Blue Scandal

Blue Scandal
53 - Liburan


__ADS_3

Seperti yang dijanjikan oleh Gavin, ia mengajak serta Lilia dan Fani untuk ikut ke kota U. Laki-laki yang akan mengikuti lomba essay tingkat SMA di Universitas itu ingin sekalian menghibur Lilia yang tampak tidak bersemangat akhir-akhir ini.


“Dari guru ada yang dampingin nggak sih?” tanya Fani penasaran.


“Ada dan emang diharuskan. Aku udah minta tolong pak Julio, beliau bilang nggak bisa mengantar, hanya bisa mendampingi saat disana,” jawab Gavin menjelaskan.


Fani mengangguk mengerti sedangkan Lilia tidak memberikan respon apapun. Gadis bermata coklat itu masih saja tidak banyak bicara. Ketiga orang itu pun berangkat dengan motornya. Lilia dibonceng oleh Fani sedangkan Gavin menaiki motor sendirian.


Setelah tiba di tempat tujuan, Gavin langsung menuju tempat yang disebutkan oleh Julio. Guru muda itu tampak kaget melihat Lilia dan Fani yang juga ada di Universitas U itu.


“Lilia? Fani? Kalian juga ikut lomba?”


“Tidak kok, kami hanya menyemangati Gavin, sekalian jalan-jalan,” jawab Fani dengan ekspresi senang.


Julio tidak menyangka Lilia akan datang ke kota U. Ekspresi guru muda itu sekilas terlihat aneh. Gavin yang memperhatikan guru itu hanya terdiam karena bingung.


“Kami tidak akan mengganggu kok, kami mau lihat-lihat sekitar dulu,” ucap Fani menambahkan.


Julio menghela nafas. “Jangan pergi terlalu jauh, nanti saya akan antarkan kemanapun kalian ingin pergi, jangan jalan-jalan sendiri.”


Lilia menetap Julio dengan ekspresi bingung. Kali ini ia bisa melihat dengan jelas guru muda itu sedang mengkhawatirkan sesuatu.


“Iya pak, siap,” jawab Fani sambil tersenyum.


Lilia hanya mengangguk kemudian berlalu pergi bersama Fani mengelilingi taman Universitas yang besar itu.


“Gavin, kenapa Lilia ikut ke kota ini?” tanya Julio dengan ekspresi datar.


“Ehmm sebenarnya Lilia akhir-akhir ini jadi sering diam pak. Sejak kejadian Zora itu, dia lebih sering menyendiri… Saya pikir mengajaknya jalan-jalan akan membuat pikirannya jadi teralihkan.”


Julio yang mendengar itu terkejut. Ia memang tidak memperhatikan Lilia belakangan ini karena ada hal lain yang harus dikerjakannya dan cukup menyita banyak perhatian. Guru muda itu tampak tidak tenang. Kota U adalah wilayah kekuasaan orang-orang yang dulu berhubungan dengan Nina.


“Pendamping dan peserta essay, silakan segera melakukan registrasi,” ucap salah satu panitia acara. Gavin dan Julio pun mendekat ke arah tempat registrasi.


...◇◇◇...


Di saat yang sama di tempat lain…


.


.


Lilia dan Fani berkeliling melihat bangunan dan taman Universitas yang besar itu. Keduanya tampak takjub dengan bangunan-bangunan tinggi yang terlihat mewah.

__ADS_1


“Gede banget gedungnya,” ucap Fani kagum.


Lilia memperhatikan beberapa mahasiswa yang tampak berjalan tidak jauh dari tempat ia berdiri.


“Suasana di Universitas jauh berbeda dengan sekolah ya,” gumam Lilia.


“Iya, keren banget. Aku jadi pengen deh kuliah disini,” ucap Fani dengan mata berbinar.


Lilia tersenyum, ia juga menginginkan hal yang sama. Ia sudah membayangkan masa depan yang diinginkannya.


Brukk…


“Aw… .”


“Ah, maafkan saya,” ucap seorang pria berkacamata hitam, ponsel pria itu jatuh tepat di dekat Lilia.


Lilia yang ditabrak tadi mencoba bangkit lalu pria berkacamata hitam itu mengulurkan tangannya mencoba membantu. Saat Lilia mendongakkan kepalanya, pria itu tampak terkejut. “Nina?”


Lilia terkejut, merasa dejavu. Fani juga tidak kalah terkejut. “Maaf pak sepertinya anda salah orang, ini teman saya namanya Lilia.”


“Oh begitu? Hahaha maafkan saya,” ucap pria itu sambil tersenyum.


Lilia membersihkan bagian celananya yang kotor lalu memandang curiga ke arah pria itu. Ia jadi ingat dengan jelas saat itu Julio juga menyebutkan nama yang sama.


“Tidak ada yang luka kan?” tanya pria itu lagi.


“Ehmm, bagaimana jika sebagai permintaan maaf, saya belikan adik berdua ini minuman?”


Fani menatap curiga ke arah pria berkacamata hitam itu. “Tidak usah, terimakasih.”


“Aduh saya jadi merasa tidak enak, kalian dari fakultas mana, kapan-kapan saya akan mampir untuk membelikan sesuatu.”


“Kami masih SMA, sedang mengantar teman yang lomba,” jawab Fani yang mulai menurunkan kewaspadaannya, ia mengira pria itu mungkin salah satu dosen atau pegawai di universitas itu.


“Oh begitu, lomba essay ya? Hmm di dekat tempat penyelenggaraan lomba itu ada kantin fakultas Teknik, mari saya belikan makanan dan minuman disana. Sekalian saja kalian melihat-lihat.”


Fani mulai tertarik dengan tawaran pria misterius itu sedangkan Lilia tampak ragu karena pria itu memanggilnya dengan sebutan ‘Nina’, sama seperti Julio memanggilnya pertama kali saat itu.


“Maafkan kami, tapi kami harus segera kembali ke guru kami,” ucap Lilia mencoba menolak.


“Ih Lili, tapi kan katanya kantin itu deket sama gedung tadi,” ucap Fani mencoba meyakinkan.


Lilia tampak tidak tenang. Entah kenapa firasatnya mengatakan sebaiknya tidak mengikuti pria tersebut. “Nanti pak Julio marah.”

__ADS_1


Pria itu melepas kacamatanya. “Maafkan saya jika saya terlihat aneh, saya lupa mengenalkan diri. Nama saya Jerry Andara, saya salah satu staff di Universitas ini.”


“Tuh kan Lil, beliau bukan orang aneh,” ucap Fani pelan.


Pria tampan itu tersenyum kepada Lilia dengan tatapan yang sama seperti Julio waktu itu. Gadis bermata coklat itu merasa aneh.


‘Saat itu berarti bukan kebetulan kan? Tapi siapa Nina?’ gumam Lilia dalam hati.


“Ehmm, apa anda mengenal guru kami pak Julio?” tanya Lilia dengan ekspresi serius.


Pria itu menatap Lilia, ia menimbang akan menjawab apa. Jika ia menjawab kenal pasti ia akan bertanya lebih lanjut. Jerry tersenyum, memuji kepekaan gadis itu dalam hati.


“Hmm, apa Julio yang kalian maksud itu guru kalian? Sepertinya saya mengenal beberapa teman yang bernama Julio, tapi saya tidak tahu apakah itu orang yang sama dengan guru kalian.”


Jawaban ambigu itu tentu lebih aman jika nantinya ia mendapatkan pertanyaan lanjutan dari Lilia.


Fani menyenggol Lilia yang sedari tadi tampak berpikir keras. “Kenapa Lil?”


“Bagaimana kalau kita berbincang sambil minum es? Kalian tidak haus? Sepertinya presentasi essaynya masih lama,” ucap Jerry sambil melihat jam di tangannya.


“Baiklah,” ucap Lilia setuju yang kemudian disambut dengan ekspresi senang Fani.


‘Kamu peka sekali seperti dia, tapi kecerobohan mu juga seperti dia. Apa kamu gadis yang dimaksud oleh Halina?’ gumam Jerry dalam hati.


Ketiga orang itu berjalan menuju kantin teknik yang tidak jauh dari taman itu. “Kalian dari sekolah mana?”


“SMA 1 Harapan Negeri,” jawab Fani jujur.


Pria itu mengernyitkan keningnya. ‘Itu tempat Halina sekolah kan? Jauh sekali, apa siswa yang mengikuti presentasi essay itu sangat pintar?’


“Ah anda pasti tidak tahu ya? Itu masuk wilayah Jawa Tengah sih,” ucap Fani lagi.


“Oh begitu… Hebat sekali berarti ya teman mu itu bisa diundang untuk presentasi disini.”


“Iya pak, dia sangat pintar, ketua OSIS juga.”


“Wah, oh iya saya belum tau nama kalian.”


“Nama saya Fani pak, dia Lilia.”


Jerry mengangguk. “Fani dan Lilia ya… .”


Lilia tetap diam, entah kenapa ia merasa tidak nyaman dengan firasat anehnya. Seolah pria itu sedang mencoba mencari tahu tentangnya.

__ADS_1


‘Apa nanti aku tanya saja ke pak Julio ya?’


...◆◇◆◇◆...


__ADS_2