Blue Scandal

Blue Scandal
35 - Perasaan aneh


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu. Pagi itu Lilia membawa jaket yang ingin dikembalikannya. Meski tak mendapat balasan pesan dari gurunya, perempuan bermata coklat itu tetap berniat mengembalikan jaket itu.


Lilia bermaksud menemui Julio di lapangan saat ekskul nanti jika ia tidak berhasil menemukan guru itu di ruangannya.


Saat istirahat tiba, Lilia meminta Fani dan Halina untuk pergi ke kantin lebih dahulu dan mengatakan akan menyusul.


Lilia langsung menuju ruang BK. Seperti dugaannya, guru muda itu ada di ruangannya.


Ekspresi laki-laki bermata coklat terang itu tampak serius sampai ia tidak menyadari ada seorang siswa yang sedang mengamatinya sejak tadi.


Tok..tok..


Lilia mengetuk pintu pelan. Julio menutup laptopnya secepat mungkin lalu menoleh ke arah pintu. Lilia yang melihat Julio bersikap tidak seperti biasa menjadi bingung.


“Permisi… .”


“Oh Lilia.. ,” ucap Julio sambil mengatur ekspresi.


Lilia memasuki ruangan itu dan menyerahkan tas dari kertas dengan ukuran sedang.


“Apa ini?” tanya Julio bingung.


“Jaket yang pernah saya pinjam. Saya sudah mencoba mengubungi anda, tapi pak Julio tidak membalas.”


“Oh itu, hp saya rusak… .”


Beberapa detik setelah Julio mengucapkan itu, suara getaran ponsel berbunyi. Lilia menatap Julio dengan pandangan penuh selidik. Ia bingung karena sikap gurunya tampak aneh.


Julio memeriksa ponselnya sebentar lalu mematikan layarnya. “Saya memakai ponsel baru jadi nomor lainnya masih ada di hp yang sedang diperbaiki itu,” ucap Julio menjelaskan, yang tentu saja hanya sebuah alasan.


Lilia mengangguk mengerti. “Umm, maaf jika saya geer, apa pak Julio sedang menghindari saya?”


Julio terkejut dengan apa yang dikatakan Lilia. “Saya menghindari kamu?”


Lilia menggaruk telinganya yang tak gatal, ia merasa malu dengan apa yang baru saja diucapkannya.


“Itu… waktu itu saya bilang tentang Reza yang mengira pak Julio memperlakukan saya berbeda… Saya pikir pak Julio sengaja mengurangi interaksi dengan saya karena hal itu… ,” ucap Lilia ragu.


Julio terdiam, ia memang menghindari Lilia, tapi alasannya bukan itu.


‘Hmm, alasan itu boleh juga…’ ucap Julio dalam hati.


“Hahaha, jadi apa tindakan saya membantu mu dekat lagi dengan Reza?”


Lilia memandang Julio dengan ekspresi kesal. “Jadi benar anda memang menghindari saya karena hal itu?”


Julio tersenyum. “Ya memang sebagiannya karena itu, saya berusaha untuk tidak membuat orang yang kamu sukai menjadi khawatir… tapi seiring waktu saya disibukkan dengan pekerjaan saya lainnya.”


Lilia diam, ekspresi kesalnya perlahan melunak. “Maafkan saya, pak Julio tidak perlu seperti itu. Lagian Reza sepertinya tidak peduli hal-hal seperti itu lagi.


“Ya ya, baiklah. Terimakasih sudah mengembalikan jaketnya.”


“Saya lah yang harus berterimakasih… Oh iya pak, selasa minggu lalu, apa anda ke Surabaya?” tanya Lilia tiba-tiba.


Ekspresi Julio berubah saat mengingat kejadian di depan toilet itu. Namun ia segera mengatur ekspresinya.


“Tidak, saya selasa minggu lalu sedang bertemu teman di kota B, yang punya jaket itu,” ucap Julio menekankan.


“Oh saya kira pak Julio kesana… .”


“Memangnya kamu melihat saya disana?”


“Nggak sih pak hehe, cuma orangnya seperti anda, aroma parfumnya juga.”


“Seperti saya?”


“Umm beda sih,” ucap Lilia ragu karena warna mata kedua orang itu berbeda.


Julio tertawa. “Kalau hanya parfum kan ya bisa saja orang yang pakai parfum seperti saya banyak. Tapi kamu sampai hafal parfum saya ya?” goda Julio sambil tertawa.


Ekspresi Lilia berubah menjadi kesal. “Saya hafal parfum banyak orang kok. Dahlah pak, saya mau ke kantin, makasih ya jaketnya.”


Julio mengangguk. Setelah Lilia pergi, laki-laki berkacamata itu menghela nafas panjang. Ia tak menyangka ada yang hafal aroma parfumnya.


‘Sepertinya aku harus ganti parfum…’ ucap Julio dalam hati.


Lilia yang baru keluar dari ruang BK itu menghela nafas panjang karena baru saja menyadari pertanyaan anehnya. Perempuan bermata coklat itu pun menuju kantin untuk menyusul Fani dan Halina yang lebih dulu kesana.


...◇◇◇...

__ADS_1


Saat Lilia tiba di kantin, suasana tempat itu lebih ramai dari biasanya.


“Lilia!” panggil Fani sambil melambaikan tangan.


Lilia mendekat ke arah tempat Fani, Halina, Mia, Gavin dan Fahmi berkumpul.


“Tumben kumpul ramean?” ucap Lilia sambil meraih roti yang diberikan Fani.


“Penuh banget kantin hari ini, jadi ya satu meja ramean gini,” jawab Mia yang masih sibuk dengan makanannya.


“Darimana Lil? Tumben nggak barengan sama Fani dari awal?” tanya Gavin penasaran.


Lilia membuka bungkus roti itu. “Habis balikin barang yang ku pinjem dari pak Julio.”


“Oh,” jawab Gavin singkat, merasa tak enak jika harus bertanya lagi.


“Eh Lil, si Reza sekarang jadi model loh,” ucap Fani dengan ekspresi senang.


“Model?”


“Iya, satu tempat kerja sama Halina ya? Gue udah lihat di IG-nya Black Major,” ucap Mia ikut membuka suara.


Hening, Lilia diam dengan ekspresi aneh. Semua yang sedang duduk mengitari meja itu menjadi bingung.


Gavin yang menyadari itu langsung menepuk bahu Lilia. “Kalau habis dari ruang BK pasti ngelamun, diomongin apa sih sama pak Julio? Sampai nggak dengerin yang lain ngajak ngomong kamu?”


Lilia tersadar dan secepat mungkin mengatur ekspresinya. “Hehe maaf… Oh Reza jadi model juga ya? Mana aku mau liat juga.”


Fani membuka ponselnya dan memperlihatkan foto Reza yang sedang berpose.


“Wah…,” ucap Lilia kagum sambil melihat foto-foto lainnya.


“Ini Halina?” tanya Lilia kagum.


“Iya,” ucap Halina yang merasa malu.


“Padahal sebelumnya, anak sekolah ini nggak ada yang tau aku kerja disana. Tapi pas Reza jadi model langsung terkenal ya,” ucap Halina lagi.


Mia ikut melihat ke layar ponsel Fani. “Ini Halina beneran? Kok kayaknya beda banget ya? Dari auranya kayak anak kota yang gimana gitu… .”


“Gimana gitu gimana?” tanya Halina bingung.


Halina terkejut mendengar apa yang dikatakan Mia, namun ia mencoba tersenyum. “Ah itu karena konsepnya memang begitu, karena sebagian besar pakaian yang dijual berwarna hitam, jadi harus ada kesan cool gitu,” ucap Halina menjelaskan.


“Oh gitu ya, iya iya kayak cool gitu loh,” ucap Mia sambil tertawa.


Fani dan Lilia ikut tertawa sedangkan 2 laki-laki disebelah mereka memandang keempat perempuan itu dengan ekspresi bingung.


“Reza ganteng banget yak ternyata,” ucap Mia lagi.


Fahmi melirik tajam ke arah Mia, namun ia tidak mengatakan apapun.


Mia yang mendapatkan tatapan tajam, mulai tertawa dan memberikan kalimat penekanan. “Ganteng kan emang, tapi gue lebih tertarik sama Fahmi sih.”


Semua temannya hanya geleng-geleng kepala melihat dua pasangan yang menyebalkan itu.


“Aku ke toilet dulu ya,” ucap Lilia yang sudah bangkit dari tempat duduknya.


“Perlu dianter nggak?” tanya Fani.


“Nggak lah, masa ke toilet aja harus dianter,” ucap Lilia sambil tertawa.


Lilia meninggalkan kantin itu menuju toilet. Ia membiarkan tangannya di bawah aliran air keran itu. Ekspresinya sulit dijelaskan.


Entah kenapa ia merasa tak nyaman. Semua orang mengetahui tentang Reza yang bekerja sekarang, tapi ia justru baru mengetahuinya hari ini.


Lilia melihat ekspresinya di cermin. Tatapan matanya menjadi aneh. Ia menyuci wajahnya, berharap air dingin keran itu dapat membuatnya sadar dari lamunan panjangnya.


Saat hendak mengikat rambutnya, bel tanda masuk jam pelajaran berbunyi. Perempuan bermata coklat itu menghela nafas panjang.


Saat keluar dari toilet, Gavin ada di depan toilet laki-laki, seperti sedang menunggu seseorang.


“Hey Gav, udah bunyi bel nya kok kamu nggak masuk kelas?” tanya Lilia penasaran.


“Tadi habis dari toilet… .”


“Oh gitu… .”


Gavin menghela nafas panjang. “Kamu nggak apa-apa?”

__ADS_1


“Maksudnya?”


“Apa Reza ngomong sesuatu yang bikin kamu ngerasa nggak enak?”


“Nggak kok… oh yang tadi makasih ya,” ucap Lilia yang baru saja menyadari maksud pertanyaan Gavin.


“Sorry aku nggak bisa bantu banyak. Duluan ya,” ucap Gavin lalu pergi dari tempat itu.


Lilia diam ditempatnya. ‘Dia tau ya? Apa kelihatan sejelas itu?'' ucap Lilia dalam hati.


Gadis bermata coklat itu tersenyum getir. Entah kenapa ia merasa semakin merasa malu dengan dirinya sendiri.


... ◇◇◇...


Setelah waktu sekolah di hari Sabtu itu berakhir, Julio membereskan barang bawaannya. Hari ini setelah mampir ke rumah yang ada di kecamatan itu,  ia akan langsung berangkat ke Semarang karena besok ada pertemuan besar dengan para ‘Family’.


“Pak Julio sudah mau pulang ya?”


Guru muda itu menoleh ke arah sumber suara. “Iyak pak Damar, ada apa ya?”


Pak Damar tampak ragu. “Itu pak, sebenarnya saya mau minta tolong pak Julio untuk bantu saya ganti lampu di toilet guru.”


“Pak Nono kemana, pak?”


Nono adalah tukang kebun dengan pekerjaan berbagai macam. Mengganti lampu yang mati atau membetulkan keran biasanya memang dilakukan olehnya.


“Pak Nono kemarin jatuh dari pohon saat sedang panen mangga, tulang kakinya retak jadi dia tidak bisa mengerjakan sesuatu yang berat dulu.”


Julio mengangguk mengerti lalu tersenyum ramah. “Oke saya bantu.”


“Sekalian lampu ruang komputer ya pak?”


Julio tersenyum lagi. “Siap!”


Kedua guru itu menuju toilet terlebih dahulu dengan membawa lampu dan juga tangga portable.


“Maaf ya pak Julio, saya ini sebenarnya takut ketinggian, tapi tadi bu Endah minta tolong ke saya.”


“Tidak apa-apa kok, jika butuh bantuan bilang saja.”


“Terimakasih pak Julio.”


Setelah selesai mengganti semua lampu yang mati, Julio dan pak Damar kembali ke ruang guru.


Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Julio baru ingat hari ini ada ekskul. Guru muda itu sekalian mampir ke lapangan sebelum ke tempat parkir.


Mata laki-laki itu melihat ke sekeliling lapangan. Ada Fani, namun tidak ada Lilia.


“Pak Julio!”


Julio menoleh, Gavin tampak baru saja selesai bermain bulu tangkis. “Saya hanya mampir sebentar untuk melihat. Bagaimana kegiatan hari ini?”


“Lancar pak, beberapa siswa yang anda ‘hukum’ mau lanjut ikut ekskul.”


“Wah, kemajuan yang bagus.”


“Benar, mungkin lingkungan pertemanan juga berpengaruh besar ya pak?”


“Tentu saja, saya pernah mempelajari itu saat kuliah, orang-orang sekitar yang sering ditemui akan mempengaruhi perubahan sikap seseorang, meski nggak semuanya begitu.”


Gavin tersenyum lega. “Terimakasih.”


“Untuk?”


“Biasanya orang-orang setelah dilabeli seseorang sebagai anak berandalan, mereka akan selalu dicap seperti itu,tapi anda memberikan pilihan lain, jadi terimakasih.”


“Itu murni keinginan mereka kok, saya hanya memberi pilihan. Ada juga yang tetap memilih untuk tetap dengan jalannya.”


“Ya tetap saja saya kagum, bagaimana pak Julio bisa berpikir untuk memberi pilihan? Bukankan hal yang umum dilakukan adalah menghukum?”


Julio diam sejenak. “Hmmm, saya dulu juga berpikir akan lebih baik menghukum semua yang tidak sesuai, tapi setelah saya ada disini dan mendengar banyak kisah dari guru lainnya. Saya jadi merasa tidak bisa menilai seseorang secara sepihak… Saya tidak tau latar belakang keluarga seperti apa yang membuat remaja menjadi seperti itu.”


Gavin diam, rasa kagumnya kepada guru muda itu bertambah. Ia melihat ke arah teman-temannya yang masih bermain bulu tangkis.


“Saya balik duluan ya,” ucap Julio sambil melambaikan tangan.


“Siap pak, hati-hati di jalan.”


Julio langsung menuju tempat parkir. Pikirannya kali ini dipenuhi oleh berbagai perkiraan tentang pertemuan besok. Malam ini Julio sudah harus berada di Semarang, tapi bahkan hingga sore ia masih di sekolahan itu

__ADS_1


...◆◇◆◇◆...


__ADS_2