
Sesampainya di rumah, Lilia sempat meminta Reza untuk mampir, namun laki-laki bermata hitam itu menolak. Reza juga membiarkan jaketnya dibawa oleh Lilia lagi. Keduanya tampak canggung satu sama lain namun tetap mencoba menyembunyikannya.
“Jaket siapa itu Lili?” tanya sang mama yang penasaran dengan jaket yang tak pernah dilihatnya.
Lilia yang sedang mengelap rambutnya yang basah sehabis mandi tampak gugup. “Jaket temen tadi dipinjemin karena katanya angin sore nggak bagus.”
Bu Ani menganggung mengerti. “Lagian kamu tumben banget nggak pakai jaket atau kardigan, biasanya juga pakai.”
“Lupa ma,” jawab Lilia cepat.
“Jaketnya besar, temen cowok?”
“Iya, emang kenapa sih ma?”
“Yang nganter kamu cowok? Kok nggak diajak mampir, mama kan pengen tahu juga siapa yang anterin anak mama.” Goda sang mama.
“Udah nyuruh mampir tapi orangnya buru-buru.”
“Pacar?”
“Ihh mama bukannn,” ucap Lilia sambil cemberut.
Bu Ani tertawa melihat tingkah gemas anaknya. “Kirain tadi bilang pulang sore sekalian bareng Fani.”
“Fani pulang lebih sore karena nyiapin buat pekan olahraga.”
“Hoo gitu, ganteng nggak temennya?”
“Maaaa!” Lilia tampak sangat kesal dengan mamanya yang terus menggodanya.
Bu Ani hanya tertawa melihat anaknya yang sedang tampak malu itu. Lilia langsung masuk ke kamarnya dan membuka bingkisan yang diberikan Reza.
Bingkisan itu berisi beberapa vitamin dan juga permen kesukaan Lilia. Gadis bermata coklat itu cukup terkejut dan tak menyangka dengan apa yang diberikan oleh Reza.
Lilia memang membutuhkan vitamin tambahan karena ada banyak kegiatan yang harus dilakukan. Namun ia tak menyangka Reza bisa memikirkan hal itu. Apalagi laki-laki bermata hitam itu tau permen yang disukainya.
...◇◇◇...
Kabar tentang pak Julio yang menjadi pembina OSIS pengganti sudah menyebar di seluruh siswa.
Banyak yang menyebut pengurus OSIS kali ini sangat beruntung karena mendapat guru pembimbing yang enak dipandang.
Beberapa aturan yang telah dibuat dan disepakati bersama telah Julio kerjakan dengan pengurus OSIS.
Keterampilan Julio dalam mengelola data dan membagi jadwal kegiatan membuat banyak pengurus OSIS merasa lega karena kegiatan tidak menjadi sepadat seperti sebelumnya.
Lilia yang sering bekerjasama dengan pembina OSIS kali ini juga merasakan keterampilan Julio dalam mengerjakan apapun. Gadis bermata coklat itu merasa kagum dengan guru muda yang serba bisa itu.
Semua normal, kehidupan anak SMA yang seperti biasa berjalan dengan baik tanpa drama atau keributan yang berarti.
Namun hal yang terlalu lancar itu justru merupakan sebuah pertanda akan datangnya suatu masalah besar.
Setelah memasuki bulan September, ketenangan sekolah itu berubah. Usai upacara bendera selesai, Julio mengumumkan diberi kewenangan penuh sebagai pendamping kesiswaan untuk mendisiplinkan siswa.
Laki-laki dengan ekspresi ramah itu bahkan mendatangi warung-warung yang biasa digunakan siswa membolos.
Bahkan jika menemukan satu siswa membolos sampai tiga kali dalam sebulan maka langsung dilakukan pemanggilan orang tua.
Tentu saja hal tersebut membuat banyak siswa laki-laki merasa kesal. Namun banyak siswa perempuan yang memuji tindakan tegas Julio yang memang sudah seharusnya dilakukan itu.
“Pak Julio keren banget nggak sih?” ucap Lilia yang saat itu sedang makan siang bersama dengan Fani dan Halina.
“Lah, sekarang lu yang jadi ngidol pak Julio? Wkwkwk” Fani tertawa.
Halina ikut menanggapi. “Padahal dulu waktu semua siswa bilang pak Julio ganteng, Lili nggak respon apa-apa."
“Yee, bukan gantengnya markonah, aku juga tau beliau ganteng tapi yaudah ganteng aja gitu kan banyak yang ganteng. Tapi yang buat aku bilang keren kan karena sikap tegasnya.”
Halina tertawa geli mendengar pembelaan yang diucapkan Lilia. Ketiganya melanjutkan mengobrol tentang berbagai hal hingga jam istirahat selesai. Setelah bel berbunyi, ketiganya pun masuk kelas masing-masing.
Saat memasuki kelas, mata Lilia langsung melihat Reza yang sedang duduk di bangkunya sambil membaca buku.
“Muka mu kenapa lagi, Za?”
Laki-laki bermata hitam itu mengalihkan pandangan matanya dari buku ke sumber suara.
Pandangan mata mereka bertemu. Lilia bisa melihat jelas ada bekas luka tergores di pipi Reza bagian kanan.
“Biasa,” jawab Reza singkat lalu tersenyum simpul.
Lilia merogoh bagian dalam tas nya lalu menyodorkan plester luka di meja Reza. Tak lama kemudian guru datang memasuki kelas.
“Jangan baik terus gini, aku jadi makin kesusahan… .”
Ucapan Reza yang lirih itu terdengar samar karena suara siswa lain yang sedang menggerutu karena sang guru membawa kertas ulangan.
Lilia ingin memastikan apa yang ia dengar, namun Reza memasang ekspresi seolah tak mengatakan apapun dan langsung mengerjakan tugas.
__ADS_1
Lilia ingin memastikan setelah pelajaran terakhir selesai, namun Reza lebih dulu menyelesaikan ulangan dan langsung diizinkan pulang.
Lilia menjadi tidak tenang. Entah kenapa melihat ekspresi Reza yang seperti itu membuatnya kepikiran.
Karena tak fokus mengerjakan soal, Lilia pun jadi membutuhkan waktu lebih banyak untuk menyelesaikan 20 soal matematika itu.
...◇◇◇...
Sikap Reza yang kembali terlihat aneh membuat Lilia merasa khawatir. Entah kenapa gadis bermata coklat itu merasakan bahwa Reza kembali semakin menjauh.
“Reza nggak masuk lagi ya?” tanya Halina yang tak melihat tas di tempat duduk Reza.
“Iya, kenapa ya? Kamu tau sesuatu, Halin?”
Halina tampak ragu untuk menjawab. Lilia yang bisa menebak jika Halina mengetahui sesuatu langsung
“Ada apa?”
“Umm, kayaknya ini bukan sesuatu yang boleh diceritain ke orang lain deh… ,” ucap Halina ragu.
Lilia diam, perasaannya bimbang. “Tapi Reza baik-baik aja kan?”
Halina diam sejenak. “Tadi pagi aku lihat dia sih pakai seragam, tapi luka di wajahnya kayak nambah gitu.”
“Berantem?”
Halina mendekatkan wajahnya ke telinga Lilia. “Kata mama ku, ortunya Reza kdrt gitu… ,” ucap Halina berbisik.
Lilia yang mendengar itu membelalakan matanya. Pikirannya bercampur dengan semua kejadian yang telah terjadi.
“Anu Lilia, jangan bilang kalau aku yang bilang ini ya… pura-pura aja nggak tau.” Halina tampak khawatir.
Lilia mengangguk mengerti. Ia sama sekali tak menyangka mendengar hal tersebut. Lilia mulai menghubungkan tentang perubahan sikap Reza saat SMP.
“Kamu tau hal lainnya nggak?”
Halina melihat sekeliling, setelah memastikan tak ada siapapun di dekat mereka, Perempuan berambut lurus panjang itu bercerita dengan suara lirih.
“Kalau nggak salah, dulu ayahnya Reza pernah masuk penjara. Aku kurang tahu pastinya sih, katanya ayahnya produksi obat terlarang gitu,” ucap Halina dengan suara sepelan mungkin.
“Hah? Yang bener ah kamu? Waktu kelas 1 smp aku pernah kok ketemu om Bayu dan dia baik,” ucap Lilia tak percaya.
“Aku nggak tau Lil, aku Cuma denger dari gosip ibu-ibu. Pabrik obat yang ada di kawasan deket rumah sakit Adhibumi itu katanya awalnya resmi, tapi ternyata produksi obat terlarang juga.”
“Tapi karena mertuanya om Bayu terkenal, jadi berita itu nggak lama ada di media. Tapi tetap dipenjara karena penyalahgunaan izin,” ucap Halina menambahkan.
Lilia membeku, pikirannya fokus kepada keadaan Reza, ekspresinya yang kosong dan juga sikapnya yang berubah.
Gadis bermata coklat itu mulai bisa menyimpulkan sebagian hal yang selama ini menjadi pertanyaannya.
Drrtttt
Lilia memeriksa ponselnya, mukanya terlihat semakin pucat.
“Kenapa Lilia?” tanya Halina bingung.
“Aku ke ruang OSIS dulu ya, ada urusan penting.”
Halina mengangguk walau tak mengerti dengan apa yang terjadi.
... ◇◇◇...
Saat tiba di ruang osis, sudah berkumpul Gavin, Fani dan beberapa anak osis lainnya. Jantung Lilia berdetak lebih cepat, perasaannya tidak enak.
“Itu bener informasinya?” tanya Lilia memastikan.
“Iya, ada tawuran yang libatin sekolah kita dan beberapa siswa sekolah luka-luka.”
“Tawuran dimana?”
“Deket perbatasan,” jawab Gavin cepat.
“Lu kenapa Lil? Muka mu pucat banget,” tanya Fani yang merasa terkejut dengan ekspresi Lilia.
“Ah nggak… umm, terus ini gimana?”
“Kata pak Julio bakal ada pertemuan tiga sekolah yang terlibat,” jawab Mia menjelaskan.
Tak lama kemudian datang Julio dan bu Endah.
“Sudah berkumpul semua?” tanya bu Endah.
“Hanya 7 orang yang bisa hadir bu,” ucap Gavin menjelaskan.
“Kalian sudah baca informasinya kan?”
“Sudah bu,” jawab semua siswa yang hadir di ruangan itu.
__ADS_1
“Kita ada rapat darurat dengan dua sekolah lainnya siang ini juga. Saya perlu beberapa siswa membantu. Gavin, Fani dan Mia ikut saya untuk bertemu pihak sekolah lain. Pak Julio akan ke kantor polisi sekaligus ke puskesmas terdekat,” ucap bu Endah menjelaskan.
Julio sesekali memperhatikan ekspresi Lilia yang tampak khawatir.
“Untuk sementara itu saja, besok saya akan adakan rapat OSIS untuk pembahasan lebih lanjut. Kalian bisa beraktivitas seperti biasa. Oh iya jika ada yang bersedia ikut saya silahkan,” ucap Julio menjelaskan.
Lilia menghela nafas panjang. “Saya boleh ikut pak?”
Semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Lilia. Gavin dan Fani melihat dengan ekspresi bingung ke arah Lilia.
“Saya juga ikut pak,” ucap Fahmi mengajukan diri.
“Oke, kalian berdua ikut, yang lain tetap di tempat dan lanjut kegiatan ya.”
“Siap pak,” jawab anggota osisi di ruangan itu.
Gavin, Fani dan Mia segera mengikuti bu Endah. Sedangkan Lilia dan Fahmi mengikuti Julio.
“Lilia mau membonceng saya atau Fahmi?” tanya Julio memastikan.
“Sama pak Julio aja ya pak? Motor saya agak kurang aman buat boncengan pak,” ucap Fahmi.
Julio mengangguk mengerti, Lilia pun setuju. Pria bermata coklat terang itu memperhatikan ekspresi Lilia.
“Kamu yakin mau ikut? Muka mu agak pucat,” ucap Julio dengan ekspresi khawatir.
“Eh? Saya nggak apa-apa kok.”
“Kamu sedang mengkhawatirkan seseorang?”
Lilia diam tak menjawab. Julio mengeluarkan sesuatu dari tas punggungnya lalu memberikan sesuatu kepada Lilia.
“Makan ini, makanan manis bisa membantu mengurangi rasa cemas.”
Lilia menatap permen rasa susu melon tersebut lalu memandangi Julio dengan ekspresi bingung.
“Tadi saya dapat kembalian ini saat makan di kantin. Bu Inah bilang tak ada kembalian,” ucap Julio menjelaskan seolah memahami apa yang ada di pikiran Lilia.
Lilia menerima permen itu. Ketiga orang itu pun langsung menuju kantor polisi. Dalam perjalanan Lilia hanya diam saja dan berkali-kali menghela nafas.
“Reza baik-baik aja kok, dia mungkin cuma luka sedikit,” ucap Julio menenangkan.
“Bagaimana anda tahu?”
“Pihak puskesmas sempat menghubungi saya.”
“Bukan, maksud saya bagaimana anda tau saya mengkhawatirkan Reza?”
“Hehe, kalian kan saling memperhatikan begitu, mana mungkin saya tidak tau,” ucap Julio sambil tertawa kecil.
Lilia diam, ia tak dapat menyangkal apa yang dikatakan Julio. Perempuan bermata coklat itu hanya menghela nafas panjang.
...◇◇◇...
Usai urusan di kantor polisi selesai, Julio, Lilia dan Fahmi menuju puskesmas untuk memeriksa keadaan.
Lilia melihat ada beberapa siswa dengan seragam yang berbeda sedang diobati. Sebagian hanya luka-luka ringan, beberapa diantara mereka ada yang terluka cukup parah.
Ada beberapa guru yang datang dari sekolah lain dan sedang menasehati siswa sekolahnya.
“Lilia, Fahmi, siswa sekolah kita ada di ruangan sebelah sana,” ucap Julio mengarahkan.
Lilia dan Fahmi mengikuti Julio menuju ruangan tersebut. Beberapa siswa sedang diobati, namun ada yang belum diobati.
Tatapan mata Lilia dan Reza bertemu, namun laki-laki bermata hitam itu mengalihkan pandangannya.
“Permisi, boleh saya ikut membantu membersihkan luka?” ucap Lilia kepada salah satu perawat.
“Oh, kami akan sangat terbantu jika ada yang membantu. Itu teman mu juga bisa?” tanya perawat berbaju putih itu sambil menunjuk ke arah Fahmi.
Fahmi mengangguk, sedangkan Julio tampak sibuk menasehati siswa-siswa yang ada di ruangan itu.
Lilia membawa kapas dan cairan pembersih luka ke arah Reza. Namun laki-laki itu masih dengan ekspresi yang sama. Dengan hati-hati Lilia membersihkan luka di bagian tangan Reza.
Sambil memberikan nasehat, Julio sesekali melihat ke arah Lilia. Entah apa yang sedang dipikirkan guru muda itu.
Usai membersihkan luka di bagian tangan, Lilia mengambil kapas baru untuk membersihkan luka di pipi kiri Reza. Tatapan mata keduanya bertemu.
Lilia ingin mengatakan sesuatu tapi entah mengapa dia merasa tak menemukan kata yang tepat.
“Maaf,” ucap Reza lirih. Ekspresinya berubah namun ia tetap mengalihkan pandangannya.
Lilia yang tidak tahu harus menjawab apa akhirnya memilih diam. Setelah membersihkan luka Reza, perempuan bermata coklat itu pun membantu membersihkan luka siswa lainnya.
Reza menghela nafas panjang. Ia paling benci terlihat lemah apalagi di depan orang yang disukainya.
Julio hanya memperhatikan interaksi canggung 2 siswanya itu dari kejauhan. Ekspresi laki-laki bermata coklat terang itu sulit dijelaskan.
...◆◇◆◇◆ ...
__ADS_1