Blue Scandal

Blue Scandal
48 - Impulsif


__ADS_3

Lilia menelungkupkan kepalanya di atas meja, segala pikiran buruk muncul di kepalanya.


‘Apa Deon sengaja upload video itu karena aku emang nggak datang?’ tanya Lilia dalam hati.


“Lilia?”


Telinga Lilia menangkap suara yang dikenalinya, ia mengangkat kepalanya yang sejak tadi disenderkan di atas meja.


“Oh Reza? Pak Julio lagi nggak ada di ruangannya.” Gadis itu berpikir kedatangan Reza adalah untuk mencari guru BK itu.


“Aku nggak cari pak Julio kok, tadi ketemu di jalan malahan.”


Lilia diam, ia bisa menebak mungkin Julio sengaja menyuruh Reza menamaninya.


“Ada apa? Tadi kayaknya pak Julio panik banget,” tanya Reza sambil menarik satu kursi di seberang Lilia.


Drrrtt…


Belum sempat menjawab, ponsel Reza berbunyi berkali-kali. Pesan dari Julio muncul, guru muda itu menyempatkan diri menjelaskan kepada Reza agar ia bisa menenangkan Lilia.


Reza mengernyitkan dahinya lalu memandang ke arah Lilia yang tampak gugup. Setelah memasukkan ponselnya ke dalam kantong, laki-laki bermata hitam itu menghela nafas panjang, dalam hati ia mengumpat kepada Deon.


“Zora… ,” ucap Lilia ragu.


“Aku udah dapat kabar dari pak Julio,” jawab Reza cepat.


Lilia menunduk. “Kamu tau soal video itu?”


Reza diam sejenak, menghela nafas panjang. “Barusan beberapa temen ada yang ngasih tau.”


Lilia menggenggam erat tangannya. “Apa Deon emang nyebarin video itu karena aku nggak dateng nemuin dia?”


“Jangan mikir aneh-aneh. Tuh anak emang nggak waras, bukan cuma videonya Zora, banyak korban lainnya. Jadi itu bukan karena kamu.”


Gadis bermata coklat itu menunduk. Meski sudah mendengar hal tersebut dari Reza. Lilia masih saja menyalahkan dirinya.


Drrrttt… drrrttt…


Secara bersamaan ponsel milik Lilia dan Reza berbunyi. Keduanya sempat bertatapan sejenak lalu memeriksa hp milik masing-masing.


Reza mendapatkan pesan dari Gio yang menceritakan keadaan Zora saat ia tiba di rumahnya tadi. Setelah membaca pesan dari Gio, Reza menoleh ke arah Lilia. Saat itu ekspresi gadis bermata coklat itu tampak aneh, wajahnya menjadi pucat.


“Ada apa?”


Lilia diam, ia menggenggam erat ponselnya dengan tangan gemetar. Reza yang melihat perubahan sikap Lilia langsung mendekatinya.


“Hei… Kamu kenapa?” tanya Reza lagi.


Lilia mencoba mengatur nafasnya, ia berusaha mengandalikan dirinya. “Anu, kamu bisa panggilin Fani nggak?”


Reza mengernyitkan keningnya, ia merasa aneh dengan sikap Lilia namun laki-laki bermata hitam itu mengangguk. “Oke… .”


Setelah berbalik dan akan melangkah, Reza menoleh lagi ke Lilia. “Kamu harus tunggu sini.”


Lilia diam sejenak lalu mengangguk pelan. Reza pergi dari ruangan itu dengan ekspresi bingung. ‘Kenapa dia kelihatan takut? Tadi katanya Gio, Zora udah dapat penanganan?’


Setelah Reza pergi, Lilia langsung membuka ponselnya lagi. Ia mencoba berpikir jernih lalu memeriksa kontak di ponselnya. Matanya tertuju pada satu nama, Julio.


Tangannya masih gemetar tapi ia mencoba menghubungi guru yang sudah dianggapnya kakak itu. Lilia melihat ke arah jam, ia semakin panik karena Julio masih belum mengangkat telfonnya.


Setelah percobaan ketiga, akhirnya guru itu menerima panggilannya.


Klik…

__ADS_1


“Ya halo Lilia?”


Gadis bermata coklat itu tidak bisa lagi menahan rasa cemasnya.


“Pak… saya harus gimana?” ucap Lilia dengan suara parau.


“Ada apa?”


“Saya dihubungi nomor tidak dikenal yang mengaku sebagai Deon, dia bilang masih memiliki 2 video Zora… Dia menyuruh saya menemuinya, kalau tidak, ia akan menyebarkan video kedua. Saya juga tidak boleh bilang orang lain… Katanya kalau sampai ada yang tau, kedua video itu akan disebarkan bersamaan… .”


Hening, Julio kaget dengan apa yang diucapkan siswanya itu.


“Kamu jangan turutin dia, kamu tenangin diri dulu."


“Saya diberi batas waktu jam 1 siang ini pak, kalau videonya tersebar lagi bagaimana?”


“Kamu sedang bersama siapa sekarang?”


“Saya sendiri, saya menyuruh Reza pergi dulu karena jika ia tahu pasti langsung bertindak… Saya harus bagaimana?”


Julio diam selama beberapa waktu, memikirkan berbagai macam solusi yang berguna.


“Saya akan meminta tolong teman saya… Kamu tunggu sebentar, matikan telfonnya dulu. Ingat jangan bertindak sendiri.”


Klik…


...◇◇◇...


Di waktu yang sama di tempat lain…


.


.


Bersamaan dengan itu Julio juga dihubungi oleh ‘Ayah’nya untuk melakukan penyelidikan baru tentang pergerakan Eurusz setelah mendapat sanksi dari pusat.


Setelah itu tiba-tiba ada panggilan masuk dari Lilia. Sebenarnya Julio merasa lebih baik jika membiarkan saja video tersebut tersebar. Itu kesalahan Zora sendiri karena mempercayai seorang laki-laki baj*ngan kan?


Julio ingin menyarankan Lilia untuk diam saja, tapi jika seperti itu tentunya nanti akan banyak komentar negatif jika terjadi hal-hal yang tidak diingankan. Satu-satunya jalan adalah meminta tolong pada rekan kerjanya.


Klikk…


“Tumben Jun lu siang gini nelfon.”


“Gue butuh bantuan.”


“Apa?”


“Dateng ke depan sekolah, temuin Lilia, antar dia ke suatu tempat yang diminta, pake topeng mu, kasih pelajaran buat semuanya, hapus semua video perempuan yang namanya Zora, termasuk backupnya.”


“Apa hubungannya sama kerjaan lu?”


“Nggak ada, gue minta tolong sebagai temen.”


“Ck… Targetnya adiknya Nina itu? dia mirip Nina kan?”


“Nggak, tapi dia ikut terseret masalah ini. Jangan sebut nama Nina didepannya. Gue bakal minta dia pakai jaket gue buat alibi supaya lu tau.”


“Okay, gue ngerti garis besarnya, kasih pelajaran ke anak anak itu sama hapus video, itu aja?”


“Jangan sampai Lilia luka.”


Elena diam, meski kesal ia cukup mengerti perasaan Jun yang ingin melindungi adik dari mantan tunangannya itu.

__ADS_1


“Okay.”


Klik…


Julio menghela nafas panjang. Ia seharusnya tidak menggunakan rekannya untuk keadaan seperti ini, tapi ia tidak ingin melihat Lilia berekspresi seperti itu lagi.


...◇◇◇...


Lilia memandang ke arah ponselnya dengan tatapan resah, tak lama kemudian datang Reza tanpa membawa Fani.


“Lil maaf, Fani sama Gavin lagi dapet tugas dari pembina OSIS.”


Lilia menoleh. “Oh.. iya nggak apa-apa.”


Reza bermaksud melangkah ke dalam ruangan itu namun seorang guru memanggilnya. “Reza, bisa bantu saya sebentar?”


Laki-laki bermata hitam itu menoleh, bu Sri tampak sedang kesulitan membawa tumpukan buku di dalam kardus.


“Sekarang bu?” tanya Reza ragu, ia melirik ke arah Lilia yang masih duduk terdiam.


“Iyalah, ayo cepat.”


“Lil, aku tinggal dulu nggak apa-apa?”


“Iya,” jawab Lilia singkat.


Reza menghela nafas lalu keluar dari ruang BK itu dengan perasaan berat.


Drrrtttt… drrrttt…


klik..


“Lilia, kamu pergilah ke tempat Deon bersama teman saya, namanya Elena, dia akan sampai di gerbang sekolah sebentar lagi. Pakai jaket saya supaya dia mengenali kamu yang harus ia antar.”


Lilia ragu, ia takut terjadi sesuatu padanya. Seperti mengerti kekhawatiran Lilia, Julio pun menjelaskan lebih lanjut,


“Tenang aja, dia akan lindungin kamu. Saya akan bertanggungjawab atas keselamatan kamu.”


“Baik,” ucap Lilia pelan.


Klik…


Setelah mematikan ponselnya, Lilia meraih jaket Julio yang berada di kursi yang biasa dipakai guru itu duduk. Ia pun memakainya. Sebenarnya ia ragu dengan apa yang dikatakan guru muda itu. Namun kali ini ia tidak bisa berpikir jernih.


Setelah bersiap, ia langsung menuju gerbang sekolah dengan melewati belakang bangunan perpustakaan agar tidak berpapasan dengan siswa lainnya.


Tak lama setelah itu seorang dengan motor hitam Yamaha CBR berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Pengendara motor itu membuka helmnya.


Seorang perempuan cantik memandang dingin ke arahnya. “Lilia?”


Gadis itu mengangguk lalu segera mendekat ke arah perempuan cantik itu.


“Saya Elena, teman Julio, pakai helmnya lalu pegangan yang erat.”


“Baik.” Lilia mencoba menenangkan keraguannya namun badannya masih saja terus gemetar.


“Jangan takut, semua akan baik-baik saja,” ucap Elena menenangkan.


“Terimakasih, maaf merepotkan.”


Motor hitam itu melaju kencang menuju danau tempat Deon yang meminta Lilia datang.


...◆◇◆◇◆...

__ADS_1


__ADS_2