Blue Scandal

Blue Scandal
49 - Pembersihan


__ADS_3

Saat tiba di danau N, sekelompok remaja laki-laki tampak sedang duduk di bawah pohon. Melihat ada motor berhenti tidak jauh dari mereka, Deon bangkit lalu mendekat.


“Kok kamu ngasih tau orang?” tanya Deon dengan ekspresi kesal.


“Aku nggak bisa naik motor,” ucap Lilia beralasan.


Elena melepas helmnya lalu melihat ke arah Deon dan segerombolan remaja laki-laki lain.


“Wahh, kamu bawa temen cewek, boleh juga.”


Deon bermaksud menggandeng tangan Lilia, namun gadis bermata coklat itu menepisnya.


“Pastiin dulu semuanya udah dihapus,” ucap Lilia dengan ekspresi kesal.


Deon tertawa lalu berbalik dan mendekat ke arah temannya. Ia tidak bersikap waspada karena yang mendatanginya adalah perempuan.


“Ku hapus satu dulu ya, ini nggak ada back up nya kok,” ucap Deon sambil tersenyum.


“Bohong.”


Laki-laki bermata hitam itu tertawa. “Yah kok nggak percaya sih, yaudah sini tanya editor videonya ehehe.”


Elena masih diam di tempatnya menganalisa semua remaja laki-laki yang ada di tempat itu, ia juga melihat ke sekeliling memastikan tidak ada orang lainnya.


“Kakaknya kok kayak kebingungan gitu, disini aman kok,” ucap Deon sambil tersenyum santai.


Deon mengambil tablet miliknya yang sedang di pegang Ari lalu menunjukkannya kepada Lilia.


“Kalau kamu nurut, semua bakal aman,” ucap Deon berbisik di telinga Lilia.


Elena dengan sigap menutupi telinga gadis itu dengan tangannya. Ia sudah berjanji kepada Jun agar Lilia tidak terluka sedikitpun.


“Kakak ini ganggu banget,” ucap Deon dengan ekspresi kesal.


“Bawa itu, lalu mundur,” ucap Elena pelan.


Lilia yang masih memeriksa tablet itu menuruti perkataan Elena. Deon bermaksud menahan tangan Lilia, namun Elena memukul tepat di pelipisnya hingga laki-laki itu jatuh tersungkur.


Lilia berlari mendekati motor Elena, walau kebingungan ia tetap melakukan seperti apa yang dikatakan teman Julio itu. Melihat Deon dipukul perempuan, teman-temannya langsung bangkit. Ada yang bermaksud menuju Lilia namun Elena lagi-lagi menghajar siapapun yang melangkah maju.


“Hah? Ternyata kakak ini bisa berantem juga ya, gue kira Lilia polos ternyata otaknya licik juga sampai ngajak orang kayak gini, jadi makin sayang,” ucap Deon sambil tertawa.


Semua teman Deon bermaksud mengeroyok Elena namun semuanya justru babak belur karena dipukuli gadis itu. Deon mulai emosi melihat teman-temannya jatuh tersungkur.


“B*ngsat masa kalian kalah sama cewek?”


Elena memandang Deon dengan ekspresi dingin, perempuan itu mendekat. “Oh, kamu ya pelaku utamanya?”

__ADS_1


“Pelaku?” tanya Deon bingung.


Bugghhh…


Sebuah pukulan keras mengenai rahang Deon. Laki-laki bermata hitam itu jatuh tersungkur. “Padahal orang tua mu cuma anjing kecil, tapi anaknya sampai begini kelakuannya.”


Bughhh…


Elena melayangkan pukulannya lagi, Deon mulai merasa pusing karena mencium bau amis darah yang keluar dari mulutnya.


Elena memandang dingin ke arah teman-teman Deon, ada salah satu remaja laki-laki yang berlari ke arahnya dengan membawa senjata tajam. Elena tersenyum lalu menarik paksa tubuh Deon untuk dijadikan tameng.


“Arrghhh… “ Deon berteriak keakitan karena benda tajam yang diayunkan temannya itu mengenai bahunya.


Beberapa teman Deon yang lain mendekat mencoba mengeroyok lagi, namun Elena menjatuhkan semuanya dengan mudah.


“Wah? Ada yang bisa bela diri juga? Sayang sekali digunakan untuk seperti ini, sayang sekali tapi kamu harus behenti.”


“Aghh, ampun kak… aghhh… ughh.” Semua remaja laki-laki di tempat itu bergidik ngeri karena mendengar suara pukulan Elena.


Elena mengeluarkan ponselnya lalu memotret semua lalu mengirimkannya kepada rekan lainnya. Hal tersebut bertujuan untuk membatasi semua akses yang mungkin digunakan keluarga mereka untuk balas dendam.


“Oi, tablet yang itu punya siapa?” tanya Elena sambil menunjuk ke arah Lilia yang membeku di tempatnya.


Semua diam di tempatnya dengan ekspresi takut. Elena merasa kesal karena tidak mendapat jawaban. Ia mendekat ke arah laki-laki yang sedang menangis memegangi tangan kanannya. “Kamu tau tablet tadi punya siapa?”


“Tangan kirinya mau dipatahin juga?” tanya Elena kesal.


“P-punya Deon kak,” jawab laki-laki itu dengan suara serak.


Elena bangkit lalu mengambil sabit kecil yang tergeletak. Ia mendekat ke arah Deon yang masih tersungkur.


“Device mu ada passwordnya kan? Kasih tau, termasuk situs tempat mu upload video,” ucap Elena dengan ekspresi dingin. Deon masih diam, kepalanya terasa berdenging dan teraa sakit.


“Kalau nggak mau kasih tau, jarimu ku bawa satu ya buat buka kuncinya?” ucap Elena lagi, ia berjongkok, menyentuh tangan Deon pelan.


“S-saya, saya tau kak,” ucap Ari terbata-bata. Tatapan matanya dipenuhi ketakutan.


Elena tertawa lalu mengangkat sabit kecil itu “Hahaha, kalian takut sama ini? Kok bisa? bukannya kalian tadi semangat mau pakai ini?”


“P-passwordnya tabletnya 119928, situsnya,,, username blueking passwordnya 289911,” ucap Ari dengan tubuh gemetar. Ia mengumpat berkali-kali dalam hati karena merasa ketakutan.


Elena diam lalu melemparkan sabit kecil itu ke danau yang tidak jauh dari tempat itu. “Okey, thanks. Oh iya, wajah kalian sudah ada di data ku. Kalau kalian buat masalah lagi nanti yang datang mungkin lebih kejam dari kakak ini, hehe.”


Elena langsung berbalik meninggalkan sekumpulan remaja laki-laki yang tersungkur di tanah.


“Lilia, ayo pulang.”

__ADS_1


“Eh? Baik.” Lilia ikut merasa takut setelah menyaksikan perempuan di depannya itu memukuli semua laki-laki yang ada di tempat itu.


“Saya antar ke sekolah atau rumah?” tanya Elena memecah keheningan.


“Sekolah saja kak, tas saya masih di sekolah.”


“Oke, sekarang masukkan tablet itu ke tas saya. Saya yang akan membersihkan semua.”


“B-baik… .” Lilia menurut, ia merasa takut. ‘Siapa sebenarnya kakak ini? Kenapa pak Julio punya teman seperti ini?’


“Hei… .”


“Ya kak?”


“Menurut mu Julio orang seperti apa?”


“Ehmm… Beliau orang yang baik dan ramah, beliau selalu memberikan banyak nasehat untuk saya… .”


“Kamu senang mengenalnya?” tanya Elena lagi.”


“Ya… beliau guru yang paling baik yang pernah saya temui.”


Elena diam, ia menghela nafas panjang di balik helmnya. Meski Lilia adik dari Nina, tidak seharusnya Julio berbuat sejauh itu.


“Anu, kakak sudah berteman lama dengan pak Julio?” tanya Lilia pelan.


“Saya bukan temannya kok.”


“Eh?” Lilia diam, ia penasaran tapi tidak berani bertanya lagi.


“Oh iya, jangan ceritakan tentang saya ke siapapun ya," ucap Elena tanpa ekspresi.


“Baik, terimakasih sudah menolong saya.”


“Well, saya nggak nolong kamu kok, saya hanya menuruti permintaan Julio,” ucap Elena sambil menghela nafas.


“Nanti setelah sampai sekolah, jaket Julio berikan kepada saya,” ucap Elena lagi.


“Baik kak.”


Lilia tidak banyak berbicara lagi, ia sebenarnya merasa aneh dengan perempuan tersebut tapi ia yang merasa sudah ditolong jadi tidak ingin banyak berkomentar.


Meski belum mengenal perempuan itu, entah kenapa Lilia merasa aman dan percaya karena Julio berkata bahwa orang itu adalah temannya. Gadis bermata coklat itu yakin bahwa urusan video itu akan diselesaikan dengan baik.


Lilia tidak pernah tau jika satu tindakannya itu akan membuatnya semakin terseret ke dalam sebuah permasalahan yang lebih besar di masa depan.


...◆◇◆◇◆...

__ADS_1


__ADS_2