
Sore itu Gerry pulang dalam keadaan marah besar. Baru kali ini ia merasa begitu tertekan hanya karena masalah yang dianggapnya sepele.
“Dimana Rion?!” tanya Gerry dengan ekspresi marah kepada salah satu ART yang bekerja di rumah mewah itu.
“Di ruang tengah bersama teman-temannya, tuan.”
“Sampaikan kepada Rion untuk menyuruh pulang temannya. Saya mau mandi dulu,” ucap Gerry tanpa tersenyum.
“Baik tuan,” ucap ART itu patuh lalu membawakan tas tuannya ke ruang kerja.
Laki-laki berusia 50 tahun itu segera ke ruang tengah untuk menyampaikan pesan tuannya kepada Rion.
“Maaf mas, tuan Gerry meminta anda untuk menyuruh pulang teman-teman mas Rion,” ucap ART itu berbisik.
Rion mengerutkan keningnya merasa agak bingung dengan apa yang diucapkan ART itu. Tidak biasanya sang ayah meminta temannya untuk pulang.
Meski tidak mengerti dengan apa yang terjadi, Rion akhirnya menurut dan meminta teman-temannya untuk pulang.
Teman-teman Rion pun pulang dengan ekspresi bingung. Tak lama kemudian Gerry menuju ruang tengah di tempat Rion berada.
“Pak Kardi, bawakan wine,” ucap Gerry kepada ARTnya.
“Baik.” Laki-laki yang dipanggil Kardi itupun membawakan apa yang diminta tuannya kemudian langsung kembali pergi.
“Kamu membuat masalah lagi di sekolah?” tanya Gerry dengan ekspresi dingin.
Rion tampak gugup, ia bisa menebak bahwa apa yang dibicarakan ayahnya berkaitan dengan razia yang dilakukan oleh guru BK itu.
“Maaf pa, Rion nggak tau kalau ada razia dadakan.”
Prangg…
Gerry melempar gelas wine itu tepat ke arah samping anaknya yang sedang duduk. Gelas itu membentur tembok di belakang anaknya.
“Apa kamu tidak bisa lebih hati-hati? Semua kemudahan dan apapun yang kamu inginkan sudah terpenuhi, bahkan papa mu ini selalu menyelesaikan masalah yang kamu buat. Apa menjaga citra diri saja sangat susah hah?!”
Rion diam, menunduk memandangi ujung kaki ayahnya.
“Siapa guru itu?” tanya Gerry dengan tatapan dingin.
Rion tetap dalam posisi duduk di karpet bawah tanpa berani mengangkat wajahnya.
“Guru BK baru, orang itu baru ada di sekolah sejak bulan Juli lalu.”
“Asalnya?”
“Yang saya dengar guru itu berasal dari Semarang, pa.”
Gerry diam sejenak, tampak berpikir keras. Melihat wajah Julio saat itu membuat Gerry merasa yakin pernah melihat sosok laki-laki itu.
“Ada informasi lain?”
“Tidak ada pa…”
“Dasar tidak berguna!”
Suasana hening sejenak, Gerry menghela nafas panjang lalu mengambil gelas lainnya yang ada di meja itu.
Setelah menuang wine itu ke dalam gelas, Gerry meminumnya perlahan.
“Anu pa… apa pak Julio menghubungi papa?” tanya Rion dengan ekspresi takut.
“Ya, dia mendatangi kantor… menanyakan tentang obat yang kamu bawa.”
“Apa papa tidak bisa memindahkannya seperti bu Selly saat saya masih SMP?” tanya Rion pelan.
Gerry meneguk lagi minuman itu lalu menghela nafas. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan anak semata wayangnya itu.
“Jalani saja kehidupan mu lebih hati-hati. Jangan membuat masalah lagi.”
Merasa tak puas dengan jawaban sang ayah, Rion bertanya lagi.
“Apa yang papa katakan pada pak Julio terkait obat itu?”
Gerry memandang anaknya dengan ekspresi datar. “Bukankah kita sudah sepakat sejak kamu SMP jika ada masalah serupa tinggal bilang bahwa kamu sedang menjalani pengobatan karena depresi?”
Rion diam, sejenak ia bisa merasa lega karena yakin guru BK itu tidak akan memberi hukuman lebih lanjut.
“Kurir barang dari Styx masih si botak?”
“Iya pa.”
Gerry tampak berpikir. Tangannya mengelus dagunya yang ditumbuhi jenggot tipis itu. Tiba-tiba ia langsung bangkit dan pergi dari ruang tengah itu.
Rion menatap kesal ke arah ayahnya yang sudah berlalu pergi. Ia pun pergi dari ruangan itu dan segera menuju tempat parkir.
Dengan Y*maha R25 hitam miliknya, Rion pergi dari rumah mewah itu menuju tempat tongkrongannya.
...◇◇◇...
Esoknya semua berjalan normal seperti hari-hari biasa lainnya. Julio sedang fokus mengetik soal ulangan tengah semester di tempat duduknya sambil mendengarkan lagu.
__ADS_1
“Pak Julio.”
Julio menoleh ke arah sumber suara lalu melepas earphone nya.
“Ya bu? Ada apa?”
“Anda diminta menghadap kepala sekolah,” ucap bu Sri dengan ekspresi khawatir.
“Baik, saya akan segera kesana.”
Guru-guru lain tampak berbisik-bisik membicarakan berbagai kemungkinan yang ada.
Sebagian dari guru-guru tersebut menebak bahwa kepala sekolah yang memanggil Julio itu berkaitan dengan guru muda itu yang menemui orang tua siswa.
Julio hanya tersenyum simpul saat melihat ekspresi guru-guru itu. Ia juga tak ambil pusing tentang pembicaraan yang menyebut bahwa dirinya bisa saja dikeluarkan dari sekolah.
Julio memasuki ruangan khusus kepala sekolah itu dengan santai lalu segera duduk di sofa hitam yang terlihat agak tua itu.
Kepala sekolah menutup pintu yang menghubungkannya dengan ruang tamu khusus.
“Aduh pak Julio ini baru beberapa bulan sudah membuat masalah saja,” ucap kepala sekolah sambil menuangkan teh.
Julio menyilangkan kakinya lalu menyenderkan punggungnya di sofa itu.
“Apa ada reaksi dari pihak itu?”
“Saya dihubungi dinas pendidikan setempat hahaha.”
Julio mengambil gelas yang berisi teh itu lalu meminumnya dengan perlahan.
“Berarti pihak dinas juga ada di bawah kendali mereka ya? Apa yang mereka katakan?”
“Mereka meminta pak Julio dipindahkan, hahaha,” ucap pak Arman sambil tertawa.
Julio tak menanggapi jawaban kepala sekolah dan malah memikirkan hal lain.
“Apa peredaran obat itu juga sudah diketahui dinas pendidikan setempat tapi diabaikan?”
“Saya dengar ada beberapa kasus beberapa tahun lalu, namun semuanya tidak berlanjut karena ada anak dibawah umur terlibat.”
Julio meletakkan gelas itu lalu menghela nafas.
“Alasan klasik.”
“Apa anda sudah memberitahu pak Adhi jika ‘kurir’nya melakukan pelanggaran?”
“Belum, saya belum menemukan bukti yang kuat. Saya tidak bisa menuduh sembarangan karena beberapa diantara mereka adalah orang kepercayaan pak Adhi.”
“Dia tipe orang yang menjaga citranya namun memiliki emosi besar dibaliknya. Melihat dia langsung menghubungi kenalannya untuk masalah seperti itu, sudah jelas dia bukan orang sembarangan. Saya justru baru tau dia salah satu petinggi Eurusz.”
Ekspresi kepala sekolah itu berubah lalu mengeluarkan beberapa foto dari sebuah map besar warna coklat.
“Sepertinya jabatannya cukup tinggi mengingat dia juga sebagai kadiv pr*pam. Beberapa kali ia tampak bertemu dengan pangeran EurusZ.”
“Jangan memakai istilah tua semacam itu, saya mual mendengarnya.”
“Hahaha maafkan saya. Tapi bukankah memang julukan untuk para pewaris memang pangeran?”
“Yang saya dengar, usia pewaris EurusZ itu seumuran dengan Reza,” ucap Arman alias Alex menambahkan.
Julio diam lalu mengambil teh itu lagi. Ia pernah sekali mendengar rumor itu. Namun ia tak menyangka orang yang disebut akan menjadi pewaris bisnis gelap ternyata masih sangat muda.
“Saya sarankan untuk bergerak lebih pelan lagi, bisa berantakan jika sampai anggota inti mereka menyadari pergerakan kita,” ucap kepala sekolah lagi.
“Yah itu kan tugas anda untuk mengamankan.”
Laki-laki berkumis tebal itu tampak kesal namun tertawa terbahak-bahak.
“Oh iya, 'ayah' meminta anda mengunjunginya,” ucap Julio dengan ekspresi datar.
“Hahaha, sepertinya ‘ayah’ khawatir jika saya tidak bisa menjaga anak kesayangannya,” ucap pak Arman sambil tertawa.
Julio melihat foto-foto yang diletakkan diatas meja itu. “Guru disini sepertinya sangat takut dengan Gerry.”
“Bukankah itu sudah biasa? Orang yang tidak memiliki kuasa selalu takut dengan orang yang memiliki kuasa.”
Julio meletakkan foto itu ke tempatnya seperti semula. “Saya akan menyampaikan ke guru yang lain bahwa anda memarahi saya supaya terlihat lebih alami.”
Laki-laki berkumis itu tertawa mendengar ucapan Julio.
“Wah akan lebih baik jika saya benar-benar bisa memarahi pangeran Notus hahaha.”
Ekspresi Julio tampak tak senang setiap laki-laki di hadapannya menyebutnya dengan julukan pangeran Notus.
“Mohon bermurah hati dan jangan adukan candaan saya ke ‘Ayah’… Ini adalah kesempatan langka saya bisa bicara santai dan bekerjasama dengan orang yang akan memimpin Notus di masa depan.”
“Anda berpikir terlalu jauh, Ayah masih terlalu muda untuk pensiun.”
Kepala sekolah itu tertawa lagi. Ia segera membereskan foto-foto itu dan menyimpannya di tempat yang aman.
Julio pun segera pergi dari ruangan kepala sekolah begitu mendengar bel istirahat berbunyi.
__ADS_1
...◇◇◇...
Di saat yang sama di tempat yang lain…
“Pak saya sudah mendapatkan informasi tentang seseorang yang ingin anda cari.”
Laki-laki berkacamata kotak itu menyerahkan beberapa lembaran kertas kepada Gerry.
Laki-laki berseragam coklat itu menerima lembaran kertas itu dan memeriksa datanya.
“Dia ini kenapa ya pak? Saya tidak menemukan keanehan pada data mengenai laki-laki itu,” ucap laki-laki berkacamata itu lagi.
“Saya hanya ingin memeriksanya karena ada yang memberikan saya sebuah informasi,” jawab Gerry singkat.
Laki-laki berkacamata itu diam dengan ekspresi bingung. Ia tahu betul bahwa laki-laki yang dimaksud adalah orang yang beberapa waktu lalu jauh-jauh mendatangi p*lres yang ada di kabupaten itu.
Laki-laki berkacamata itu ingin bertanya namun tak berani hingga akhirnya dia memilih pergi dari ruangan atasannya itu.
“Konsultan Bisnis?” gumam Gerry dengan dahi berkerut.
Informasi yang didapatkannya terlalu rapi sampai membuatnya terlihat aneh. Informasi tentang laki-laki itu cukup mudah didapatkan seperti saat dia mencari identitas dari orang biasa.
Meski sudah mendapatkan informasi lengkap Julio yang tampak bersih, Gerry masih merasa ada sesuatu yang aneh.
Gerry sebenarnya sudah bertanya kepada semua kenalannya, namun hampir semuanya mengatakan tak mengenal guru baru itu.
Hanya satu orang saja yang menyebutkan bahwa bupati dari provinsi sebelah lah yang menjadi perantara untuk menempatkan Julio di sekolah itu.
Gerry merasa kesal karena tak puas dengan hasil yang didapatkan. Instingnya bisa dengan jelas merasakan bahwa laki-laki yang menjadi guru baru itu bukanlah orang biasa.
...◇◇◇...
Di sekolah…
Saat memasuki ruang guru, semua pandangan mata tertuju ke arah Julio yang tampak tenang.
“Gimana pak? Katanya anda dipanggil kepala sekolah?” tanya pak Damar.
“Ya begitulah pak, saya dimarahi pak kepala sekolah karena beberapa orang tua siswa protes dan meminta hal tersebut diselesaikan di sekolah saja.”
“Waduh pak kepala sekolah kalau ngamuk serem loh pak,” ucap bu Sri ikut menimbrung.
Julio tampak terkejut dengan ucapan bu Sri. Ia sama sekali tak menyangka kepala sekolah itu pernah memarahi guru.
“Yah namanya juga orang marah, asal nggak dilempar asbak aja bu hehe,” ucap Julio bercanda.
Melihat Julio yang masih bisa bercanda meski sudah dimarahi kepala sekolah membuat guru-guru lain merasa sedikit lega.
“Oh iya pak, tadi Lilia datang mencari anda, sepertinya ingin mengonfirmasi tentang penggantian jadwal les untuk siswa yang akan lomba cerdas cermat,” ucap pak Damar sambil menata kertas ulangan tengah semester yang baru saja diprint.
“Oh iya, saya lupa memberitahu Lilia tentang itu. Nanti akan segera saya sampaikan.”
“Minggu depan sepertinya pak Darma sudah masuk lagi pak, jadi anda bisa lebih fokus mengurus tentang kedisiplinan siswa.”
“Ah begitu ya? Baik, terimakasih informasinya.”
Julio kembali ke tempat duduknya, ia menghela nafas panjang. Sesekali pandangan matanya tampak tak fokus.
Laki-laki bermata coklat terang itu sedikit merasa kecewa karena sebentar lagi waktunya bertemu dengan perempuan bermata coklat itu akan berkurang.
Julio melihat kalender yang ada di mejanya. Matanya fokus pada tanggal yang dilingkari. Ia menghela nafas lagi, waktu kembalinya pak Darma dari cutinya bertepatan dengan waktu dimana Julio harus mengunjungi suatu tempat.
Laki-laki berkacamata itu membuka ponselnya, mengetikkan sesuatu di ponselnya dengan ekspresi sedih.
“Pak Julio?”
Mendengar namanya dipanggil, Julio langsung mematikan ponselnya dan memasukannya ke dalam laci.
“Maaf saya belum sempat memberitahu kamu, untuk pengganti les kemarin kita adakan hari ini sepulang sekolah ya?”
“Baik pak, saya juga sudah membawa buku-buku yang dibutuhkan.”
“Oh iya, mulai minggu depan pak Darma sudah kembali masuk, jadi mulai minggu depan yang mendampingi lesnya bukan saya lagi.”
“Baik pak. Oh iya berarti tinggal dua pertemuan lagi ya? Mohon bantuannya ya pak,” ucap Lilia sambil tersenyum.
Perempuan bermata coklat itupun langsung berpamitan pergi untuk memberitahu siswa kelas satu.
Julio diam di tempatnya. Mata gadis itu, wajahnya, senyumnya selalu mengingatkannya kepada seseorang yang sudah tidak bisa dilihatnya lagi.
Nina…
...◆◇◆◇◆...
__ADS_1