Blue Scandal

Blue Scandal
25 - Mundur


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Lilia langsung memasukkan es kelapa itu ke dalam kulkas. Setelah mandi dan berganti pakaian, barulah Lilia mengatakannya kepada sang ibu.


“Ma, itu ada es kelapa muda dari temen,” ucap Lilia sambil menyalakan televisi.


“Dari pacar?”


“Bukan maa, temen sekolah,” jawab Lilia menekankan.


“Orang yang sama waktu minjemin kamu jaket?”


“Bukan.”


Melihat anaknya hanya menjawab singkat bahkan berekspresi sedih, bu Ani akhirnya diam dan tak menanyakan apapun lagi.


Lilia menghela nafas panjang, mematikan televisi lalu kembali ke kamarnya dan merebahkan badan.


Perempuan bermata coklat itu merasa tak tenang. Ia masih tak mengerti kenapa Reza melarangnya terlalu dekat dengan Julio padahal laki-laki bermata hitam itu baru saja menegaskan bahwa apa yang diucapkannya bukanlah karena rasa cemburu.


Lilia merasa malu karena mengira Reza juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


Perhatiannya yang dianggap spesial oleh Lilia mungkin hanya ditujukkan sebagai ungkapan rasa bersalah karena saat SMP dulu laki-laki bermata hitam itu menjauhi Lilia.


Lilia menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya. Ia bahkan tak tau harus berekspresi apa jika melihat Reza lagi.


...◇◇◇...


Setelah mengantar Lilia pulang, Gavin langsung menemui Reza yang sedang ada di tempat tongkrongannya.


Melihat Gavin yang dikenal sebagai siswa berprestasi datang ke tempat itu tentu saja membuat semua teman Reza terkejut.


“Loh c*k, Gavin kesini tumben banget,” ucap Reno sambil tertawa geli.


Gavin hanya tersenyum simpul mencoba tetap ramah.


“Za, ngomong sama gue bentar,” ucap Gavin dengan ekspresi serius.


Reza meletakkan minumannya lalu menghela nafas. Kedua remaja yang masih memakai seragam itu keluar dari café dan berjalan agak jauh hingga tak ada orang di dekat mereka.


“Lu selama ini ngapain sih?” tanya Gavin dengan ekspresi marah.


Reza mengalihkan pandangannya. “Ngapain gimana? Ya biasa, berantem, minum…,” jawab Reza malas.


Gavin mengepalkan tangannya. “Kalau dari awal lu emang nggak ada niatan serius, jangan deketin Lilia, b*ngsat.”


Reza yang mendengar Gavin mengumpat menjadi agak terkejut. “Sorry… .”


Gavin menghela nafas panjang. “Jangan bikin orang bingung Za, sikap lu harus jelas mau ngapain.”


“Iya gue tau, makanya… gue bakal ngejauh,” ucap Reza tanpa melihat ke arah Gavin.


Gavin terkejut dengan apa yang diucapkan temannya itu. “Lu kenapa lagi sih?”


“Setelah gue pikir, gue nggak pantes Gav. Kayaknya Lilia lebih cocok kalau deket orang kayak lu, sama-sama berprestasi, sama-sama punya kehidupan yang baik,” ucap Reza sambil memandang ke arah café tempat teman-temannya sedang memperhatikan dari kejauhan.


Bughhh...


Reza yang tak siap menerima pukulan akhirnya terjatuh karena tak bisa menahan keseimbangan.


“Sialan emang lu, padahal lu juga tau Lilia suka lu, tapi kayak b*ngsat ya rasa rendah diri lu. Gue nggak masalah kalau Lilia akhirnya deket lu, tapi gue nggak terima kalau lu cuma ngasih harapan palsu dari tingkah lu itu.”


Gavin benar-benar marah. Saat dia sudah merelakan semua, justru temannya yang didukung malah mundur begitu saja.


“Maaf… ,” ucap Reza pasrah.


“Lu juga aslinya nggak mau kan gue deket Lilia? Berandalan, sering berantem, minum…” ucap Reza lagi.


“Jangan ngomong lagi Za. Gue nggak bisa lagi simpati sama alasan lu yang sama kayak dulu,” ucap Gavin dengan ekspresi marah.


Reza diam, rasa perih di sudut bibirnya tak terasa. Justru perasaannya lah yang terasa sakit.


Melihat pandangan mata Reza yang seperti itu membuat Gavin menjadi tambah marah.


“Lu kan laki, tanggung jawab sama keputusan yang lu ambil, karena gue nggak bakal kasih kesempatan lagi,” ucap Gavin mengakhiri percakapan sepihak.


Gavin langsung pergi begitu saja meninggalkan Reza yang masih terdiam dengan ekspresi datarnya. Sekilas tidak terlihat emosi apapun dari wajahnya. Namun matanya menunjukkan rasa luka dan kesedihan mendalam.


Laki-laki itu memejamkan matanya sejenak lalu menghela nafas panjang berkali-kali. Ia bangkit lalu kembali menuju café.


Nino yang melihat sudut bibir Reza terluka menjadi kaget.


“Loh berantem lagi Za?”


Reza hanya tersenyum tanpa menjawab. Ia meneguk kembali minumannya. Rasa perih yang dirasakannya entah kenapa tidak terlalu sakit seperti biasanya.


Gio datang mendekat ke arah Reza yang sedang duduk diam dengan ekspresi datar.


“Si Gavin kenapa c*k? Kok lu diem aja dipukul?” tanya Gio penasaran.


“Masalah pribadi,” jawab Reza singkat.


“Lah tumben? Dulu waktu lu baru banget sering berantem kayaknya si Gavin biasa aja tuh dan tetep mau temenan sama lu.”


Reza diam sejenak, pandangan matanya fokus pada gelas yang dipegangnya. “Ada r*kok nggak?”

__ADS_1


Gio yang mendapat pertanyaan itu terkejut. “Lah lu bukannya udah berhenti r*kok dari lama?”


“Jangan banyak nanya, ada nggak?” ucap Reza dengan ekspresi kesal.


Gio buru-buru mengeluarkan satu bungkus r*kok dari saku jaketnya dan langsung menyodorkannya beserta korek yang dipunya kepada Reza.


Reza mengambil satu batang dari bungkus hitam itu lalu menyalakannya. Ekspresi dingin laki-laki bermata hitam itu entah kenapa membuat Gio merasa ngeri.


Reza menghembuskan asap itu kuat-kuat. Ia sepertinya masih ragu dan sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri tentang keputusannya yang sudah diambil.


“Gio, apa gue pindah aja ya?”


“Lu kenapa c*k? Habis dipukul Gavin jadi geser otak lu? Mau ngapain lu pindah segala?”


“Iya ya kalau gue pindah yang ngawasin siapa… ,” gumam Reza dengan suara pelan.


“Ngawasin? Ngawasin siapa?” tanya Gio penasaran.


Reza tak menjawab. Tangan kirinya mengambi gelas di hadapannya lalu meneguknya kembali.


“Mas, satu kaleng lagi,” ucap Reza kepada Nino.


Nino memandangnya dengan ekspresi serius. “Nggak za, lu nggak boleh minum lebih dari 2 kaleng,” ucap Nino tegas.


Reza menatap kesal ke arah Nino namun pemilik café itu masih tetap dengan ekspresi yang serius.


“Gue nggak tau lu kenapa, tapi jangan lakuin hal diluar yang biasa lu lakuin,” ucap Nino dengan tatapan mata yang tajam.


Reza diam, menghela nafas panjang. Ia meletakkan gelasnya yang sudah kosong. Berpikir ulang apa yang sedang dilakukannya saat ini.


“Gue balik dulu, sampein ke anak-anak yang lain, Gio.”


Reza bangkit lalu membayar minuman yang dipesannya kemudian pergi dari café itu. Gio dan Nino hanya memandang Reza dengan ekspresi bingung.


...◇◇◇...


Esoknya…


.


.


Pagi itu langit tampak cerah. Burung-burung beterbangan dari satu dahan pohon ke dahan lainnya. Embun pagi juga masih menempel di rerumputan.


Penampilan Lilia hari ini tampak berbeda dari biasanya. Ia mengikat rambutnya dengan satu tali.


Fani yang menjemput Lilia seperti biasa, merasa kaget dengan penampilan Lilia hari ini.


“Lu tumben rambutnya diiket?”


Fani merasa ada sesuatu yang lain dengan temannya itu namun ia tak bertanya lebih lanjut.


Sesampainya di sekolah, tampilan Lilia yang terlihat manis membuat sebagian siswa yang melihatnya merasa kagum. Tidak hanya laki-laki, bahkan siswa perempuan lainnya pun iri dengan paras gadis bermata coklat itu.


Lilia tampak tetap tenang meski banyak orang yang memperhatikannya. Halina yang baru saja sampai tempat parkir juga cukup terkejut dengan penampilan temannya yang satu itu.


“Lilia? Tumben diiket rambutnya?” tanya Halina penasaran.


“Ya kan?” ucap Fani setuju.


Lilia tertawa kecil. “Apaan sih kalian? Cuma iket rambut aja heboh banget.”


“Ih nggak kayak biasanya kan?” ucap Halina dengan ekspresi gemas.


Lilia tak menjawab lagi dan hanya tertawa. Ketiganya pun berjalan bersama menuju kelas masing-masing.


Sesampainya di kelas, Lilia langsung duduk dan membuka buku pelajaran, ia fokus membaca untuk menyiapkan pelajaran nanti.


“Eh besok kamu nggak masuk ya, Lil?”


“Iya nganter lomba cerdas cermat gantiin ketua OSIS. Katanya sih habis lomba nanti bakal mampir jalan-jalan dulu,” ucap Lilia senang.


Tak lama kemudian Reza datang. Ia langsung duduk dan memejamkan mata.


Halina memperhatikan sekilas, tapi ia merasa aneh karena biasanya Lilia akan sedikit menoleh saat Reza datang, namun kali ini Lilia sama sekali tak melakukan hal tersebut.


“Kenapa Halin?” tanya Lilia yang melihat wajah Halina bingung.


“Eh? Nggak kok… Aku juga pengen banget bisa ke kota B, katanya pantainya bagus,” ucap Halina mengalihkan.


Lilia hanya tersenyum. Tak lama kemudian guru datang. Pelajaran pagi itupun berlangsung seperti biasa, begitupun dengan pelajaran kedua.


Saat istirahat tiba, Reza tetap diam di tempatnya sedangkan Lilia dan Halina pergi menemui Fani dan bersama-sama ke kantin.


Saat di kantin, ada banyak siswa melihat ke arah Lilia, Fani dan Halina.


“Lil, beli roti aja yuk terus makan di taman, gue agak nggak suka kalau lagi makan banyak yang ngeliatin,” ucap Fani pelan.


Halina juga mengangguk setuju. Lilia pun akhirnya menuruti keinginan dua temannya itu.


“Cakep banget c*k diiket gitu,” bisik salah satu siswa laki-laki yang sedari tadi memperhatikan Lilia.


Setelah membeli roti dan minuman, Lilia, Fani dan Halina pun pergi menuju taman sekolah.

__ADS_1


“Orang-orang pada kenapa sih? Cuma iket rambut doang… ,” ucap Lilia kesal.


Fani dan Halina tertawa. “Ya karena penampilan yang belum pernah dilihat mungkin?”


Lilia membuka roti yang dibelinya dan memakannya begitupun dengan Fani dan Halina.


...◇◇◇...


Di saat yang sama di ruang BK…


.


.


Julio telah meminta seseorang siswa untuk memanggil Gavin ke ruang BK. Itu adalah pertama kalinya ketua OSIS tersebut memasuki ruangan tersebut.


Tok.. tok.. tok..


Julio mengalihkan pandangan matanya dari laptop ke arah pintu. Reza memasuki ruangan itu dengan ekspresi bingung.


“Siang Gavin,” sapa Julio ramah.


“Siang pak, ini saya dipanggil ada apa ya?” tanya Gavin penasaran.


“Gimana persiapan untuk pekan olahraga minggu depan?”


“Lancar pak,” jawab Gavin cepat.


Julio tampak berpikir. “Anggota yang ikut pekan olahraga dari ekskul olahraga semua ya?”


“Benar, pak.”


“Ada beberapa siswa yang akan saya masukkan ke eksul olahraga untuk sementara,” ucap Julio sambil menyodorkan data beberapa siswa.


Gavin membaca formulir itu. Ekspresi laki-laki bermata coklat keabuan itu berubah begitu melihat ada nama Reza. Ia meletakkan kembali kertas yang tadi dipegangnya.


“Anda bilang sementara itu untuk jangka waktu berapa lama?”


“Satu bulan, bisa dimulai setelah pekan olahraga. Kamu tidak perlu terlalu memikirkan terkait hal itu, saya hanya ingin kamu atau ketua ekskul untuk mencatat kehadiran mereka, 5 anak itu mungkin sebagiannya bisa berubah jika ikut kegiatan yang positif,” ucap Julio menerangkan.


Gavin tampak berpikir. Sebenarnya ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Julio. Ia cukup tau kelima siswa yang disebut akan mengikuti ekskul sementara itu sebelumnya hanyalah siswa berandalan.


“Kamu pasti bingung kenapa mereka dimasukkan ke ekskul?”


“Ya pak, saya tidak mengerti. Tapi bukankah itu akan mengganggu yang lain? Mereka kan sudah terkenal sebagai berandalan.”


Julio menyilangkan tangannya sambil melihat ke arah Gavin dengan ekspresi serius.


“Biasanya kamu cukup bijak dalam menilai segala sesuatu, tapi pendapat mu hari ini tidak seperti biasanya,” ucap Julio sambil mengernyitkan dahi.


“Bukan begitu, hanya saja saya khawatir dengan suasana ekskul,” ucap Gavin berkelit.


“Saya penasaran bagaimana kamu menilai teman-teman mu, tapi ya itu bukan urusan saya sih… Saya memasukkan mereka ke ekskul sebagai hukuman sekaligus pembelajaran,” ucap Julio sambil melihat kertas di mejanya.


“Mereka telah melakukan pengeroyokan pada siswa di kota T, kamu pasti tau itu kan? Sebenarnya saya harus menghukum mereka, tapi setelah saya pertimbangkan ulang, sepertinya lebih baik memberikan mereka pembelajaran,” ucap Julio lagi.


Gavin diam sejenak, ia cukup terkejut dengan keputusan yang diambil gurunya.


“Kenapa anda berpikir begitu?”


Julio mengambil kertas di meja itu. “Saya banyak belajar tentang hidup. Siapapun punya kesempatan yang sama. Saya ingin melihat itu… Bagimana jika anak-anak ‘berandal’ itu dipaksa menjalani kehidupan yang sama seperti orang lain? Diberikan kesempatan yang sama… .”


Gavin hanya menghela nafas panjang dan tidak menanggapi. Sedangkan Julio masih berekspresi serius.


“Ada yang ingin saya tanyakan, kenapa kamu memberitahu siswa yang katamu berandalan itu tentang orang yang memukuli Gio?”


Gavin diam, ia tak menyangka Julio akan bertanya terkait hal itu.


“Itu karena kalian berteman kan? Karena itu saya merasa pilihan untuk memberikan mereka pembelajaran akan kamu dukung karena kamu temannya, respon mu tadi cukup membuat saya bingung,” ucap Julio lagi.


Gavin menghela nafas dan pasrah. Ia pun menceritakan tentang rasa marahnya melihat sahabatnya tak sadarkan diri karena dipukuli.


Karena tidak bisa membalas langsung, Gavin pun memberitahu temannya Gio karena yakin mereka bisa membalas dendam.


“Kamu tidak berteman dengan mereka?” tanya Julio penasaran.


“Saya berteman dengan siapa saja pak, tapi ya tidak akrab dekat dengan semua,” jawab Gavin cepat.


“Saya pikir kamu sering nongkrong juga dengan Gio dan kawan-kawannya.”


“Tidak, meski berteman, saya tidak harus mengikuti apapun yang dilakukan teman saya bukan?”


Julio tersenyum. “Ya, kamu benar. Kalau begitu mohon bantuannya untuk anggota ekskul sementara.”


Gavin mengangguk mengerti. Setelah itu laki-laki bermata coklat keabuan itu keluar dari ruang BK dan langsung menuju ruang OSIS.


...◆◇★◇◆...


Bonus pict: Lilia


^^^


__ADS_1


☆☆☆^^^


__ADS_2