
Lilia melangkah memasuki sekolah itu kembali dengan hati-hati, ia berharap tidak ada yang melihatnya pergi dan kembali dari luar. Gadis beramata coklat itu bahkan sengaja meninggalkan ponselnya di ruang BK agar tidak ada yang menghubunginya. Tindakan nekatnya itu dilakukan karena mengkhawatirkan Zora.
Reza sudah duduk di ruang BK saat Lilia kembali. Ia tampak kesal dan juga khawatir. “Lilia? Kamu darimana aja sih?”
Laki-laki bermata hitam itu sejak tadi sudah mencari Lilia keliling sekolah tapi tidak menemukan gadis itu.
“Ehmm, aku ke toilet.”
Reza memandang Lilia dengan ekspresi kesal. “Ke toilet selama itu? Kenapa hp nya nggak dibawa? Kamu nggak tau ya aku khawatir banget daritadi nyariin kamu?”
Lilia melihat ke arah Reza, laki-laki itu memang terlihat cemas. “Maaf... .”
Suasana menjadi hening di antara mereka berdua lalu Fani tiba-tiba datang.
“Lilia… .”
“Hai Fan… .”
“Gue tadi dikasih tau pak Darma katanya lu izin karena nggak sehat jadi nggak ikut rapat OSIS, tapi kok lu disini sama Reza?” tanya Fani bingung.
“Ehmmm… Daritadi aku emang istirahat disini,” jawab Lilia asal.
Fani maju mendekat lalu menyentuh dahi Lilia. “Suhu badan mu panas, muka mu pucat juga, kenapa nggak istirahat di UKS aja?”
Lilia menggaruk telinganya yang tidak gatal. “Rasanya nggak enak aja kalau di UKS, sepi gitu.”
Fani mengernyitkan keningnya, ia merasa ada yang aneh dengan sikap Lilia. Reza juga sedari tadi memandangi Lilia dengan ekspresi serius. ‘Dia barusan bohong ya? Kenapa?’
Kebiasaan Lilia saat berbohong atau saat sedang gugup bisa terlihat dari sikapnya yang tiba-tiba memegang telinganya atau mengalihkan pandangan matanya.
“Tadi aku nelfon sama chat kamu nggak dibales,” gerutu Fani, ia lalu menarik salah satu kursi untuk dijadikannya tempat duduk.
“Maaf, tadi aku ke toilet, hpnya ku tinggal disini,” jawab Lilia sekenanya.
“Tumben banget kamu ninggalin barang mu sembarangan.”
Lilia diam, entah kenapa kepalanya terasa pusing. Suhu badannya memang terasa tidak nyaman sejak tadi. Ia tidak menyadari respon tubuhnya yang sedang ketakutan sejak mendapat ancaman dari Deon.
“Lil… ,” ucap Fani dengan ekspresi serius.
“Ya?”
“Lu ganti parfum??” ucap Fani bingung karena mencium aroma parfum yang tidak biasanya dipakai temannya itu.
“Hmmm, iya lagi pengen nyoba parfum lain, hidung mu peka banget ya, hehe,” ucap Lilia sambil memaksa tersenyum.
Reza yang sedari tadi melihat tindakan aneh Lilia menjadi curiga. Ia melirik ke sekeliling ruangan, rasanya ada sesuatu yang tidak ada di ruangan itu, namun ia tidak ingat apa yang sebelumnya ada di ruangan itu.
Pandangan mata Lilia mulai kabur, kepalanya terasa sangat sakit.
__ADS_1
Bughhh…
“Lil?!”
Reza dengan sigap menahan tubuh Lilia agar tidak jatuh dari posisi duduknya, tangan laki-laki bermata hitam itu sempat membentur meja karena tidak siap menahan tubuh Lilia.
“Lil???” Fani bingung.
“Badannya kok panas banget,” gumam Reza pelan.
“Bawa ke UKS, Za,” ucap Fani dengan ekspresi cemas.
Reza mengangkat tubuh Lilia perlahan, ia berjalan secepat mungkin ke UKS diikuti oleh Fani.
“Lu daritadi sama Lilia kan? Kok lu nggak nyaranin dia ke UKS sih?” ucap Fani kesal.
“Tadi dia sehat-sehat aja kok, gue tinggal bentar karena bu Sri minta bawain buku,” jawab Reza dengan ekspresi datar.
Fani diam, ia memang belum mengetahui situasi apa yang sedang terjadi saat ini, ia hanya mendengar sedikit dari gosip para siswa yang membicarakan Zora.
Aroma parfum yang terasa asing itu membuat Reza mengernyitkan keningnya. Ia yakin itu bukan wangi parfum perempuan. Reza semakin curiga dengan Lilia. Alasan gadis itu yang disebut ke toilet menjadi sulit dipercaya. Memangnya apa yang dilakukan 1 jam di toilet?
Laki-laki bermata hitam itu sempat melihat ada notifikasi banyak pesan yang masuk ke ponsel Lilia, hanya saja ia tidak bisa melihatnya karena hanya ada tulisan pesan tanpa ada preview pada layar yang terkunci.
Sesampainya di UKS, Reza membaringkan Lilia dengan hati-hati. Ia merasa pernah mencium aroma parfum yang serupa.
Fani melihat ke arah Reza dengan ekspresi bingung. “Oke, tapi emangnya lu mau kemana?”
Reza diam sejenak, memandang ke arah Lilia yang tidak sadarkan diri. “Ada urusan.”
“Oke.”
Tidak lama setelah Reza pergi, petugas kesehatan yang baru saja dari ruang guru itu kembali.
“Loh, Lilia kenapa Fani?” tanya bu Eni heran.
“Pingsan tiba-tiba bu, badannya panas banget,” jawab Fani dengan ekspresi cemas.
Eni mengernyitkan keningnya, ia bingung karena selama ini Lilia hampir tidak pernah terlihat sakit. Petugas kesehatan itu membuka kotak penyimpanan obat lalu mengambil satu kantong berisi kompres instan penurun panas.
“Ini sudah sejak tadi?” tanya Eni membuka suara.
“Baru aja sih bu.”
Eni mengangguk lalu menyentuh dahi Lilia, ia juga melakukan pemeriksaan singkat sebelum menempelkan kompres penurun panas itu ke dahi Lilia.
“Apa kegiatan OSIS sedang padat?” tanya Eni lagi.
“Enggak sih bu, ini kan sudah masuk November, jadi kegiatannya sudah tidak banyak,” jawab Fani dengan ekspresi bingung.
__ADS_1
Eni mengernyitkan keningnya. Ia bingung melihat Lilia yang sepertinya sedang banyak pikiran dan tertekan karena suatu hal padahal kegiatan OSIS sudah tidak banyak.
...◇◇◇...
Reza masuk kembali ke ruangan BK itu, ia mendekat ke arah samping kursi guru yang terdapat tas hitam milik Julio. Laki-laki bermata hitam itu mendekatkan hidungnya. Ia bisa mencium aroma yang mirip meski samar.
“Kamu sedang apa?”
Reza menoleh, ia kaget melihat Julio dengan ekspresi dinginnya.
“Ah, pensil saya jatuh… ini,” ucap Reza sambil menunjukkan sebuah pensi berwarna biru.
Julio melihat Reza dengan ekspresi kesal, namun ia tidak bisa bertanya lebih lanjut. Tentu saja ia tidak meninggalkan sesuatu yang mencurigakan di dalam tasnya. Namun ia tidak suka ada orang lain mendekat barang miliknya tanpa izin.
“Pak, saya ke kelas dulu ya,” ucap Gio pelan. Ia sempat melirik ke arah Reza namun langsung berpaling.
“Kamu nggak ke UKS aja?” tanya Julio yang khawatir karena muridnya itu masih luka-luka.
“Tidak apa-apa kok, saya permisi dulu.” Gio langsung pergi tanpa menyapa Reza lebih dulu. Ia merasa lelah dan enggan berbicara banyak.
Reza memundurkan langkahnya ketika Julio maju untuk kembali ke tempatnya.
“Dimana Lilia?” tanya Julio sambil meletakkan ponselnya.
“Lilia pingsan.”
Julio terkejut. “Pingsan?”
Reza memandnag Julio dengan ekspresi curiga sekaligus bingung. “Anda dari tadi tidak bersama Lilia?”
Julio mengernyitkan keningnya, ia tadi sudah memastikan ke Elena bahwa semuanya sudah beres dan Lilia tidak terluka. 'Kenapa dia pingsan? '
“Kan tadi saya pergi bersama Gio, saya tadi menyuruh mu menjaganya kan? Kenapa bertanya begitu ke saya?” ucap Julio dengan ekspresi kesal.
Reza diam, ia yakin aroma parfum dari baju Lilia itu sama dengan aroma di tas Julio.
‘Aneh… .’
“Maaf pak… .”
Julio bangkit dari tempat duduknya, ia tiba-tiba merasa khawatir dengan kondsisi Lilia. “Kamu kembali ke kelas saja.”
Reza tetap diam di tempatnya dengan ekspresi bingung. Ia memang diminta Julio untuk menemai Lilia karena guru muda itu pergi ke rumah Zora bersama Gio.
‘Lalu kenapa ada aroma parfum pak Julio di bajunya Lilia?’ gumam Reza dalam hati.
Dipikirkan bagaimana pun, Reza tidak bisa menemukan jawabannya. Laki-laki bermata hitam itu mengepalkan tangannya. Ia merasa sesuatu sudah terjadi di antara jeda waktu saat ia tidak di dekat Lilia, tapi ia tidak tahu apa itu.
...◆◇◆◇◆...
__ADS_1