Blue Scandal

Blue Scandal
07 - Class Meeting


__ADS_3

Sejak kejadian hari itu hubungan Lilia dan Reza semakin dekat walau sempat beberapa kali terlihat canggung. Hanya saja interaksi keduanya tidak terlalu sering terlihat.


Tampaknya Reza memang benar-benar tak ingin terlihat terlalu akrab dengan orang lain.


Sesekali Reza juga menyapa Fani. Meski merasa aneh, Fani juga sudah terbiasa dengan hal tersebut setelah Lilia menyampaikan permintaan maaf Reza.


Gavin sendiri tak banyak berkomentar dengan perubahan sikap Reza yang sedikit melunak, namun laki-laki bermata coklat keabuan itu merasakan sebuah perasaan tidak tenang yang tak ia kenali.


Gavin dan Reza sudah bersahabat sejak SMP. Awalnya keduanya memiliki sikap yang sama namun karena permasalahan keluarga, Reza menjadi berubah.


Gavin mengetahui hal tersebut, karena itu ia bisa lebih memaklumi sikap Reza yang kadang suka seenaknya.


Gavin mengetahui hal-hal yang disembunyikan Reza dari orang lain dan ia tak mempermasalahkan itu karena merasa cukup berempati kepada temannya itu


Fakta tentang Reza yang sering terluka bukan sepenuhnya karena berkelahi dengan siswa seusianya pun diketahui Gavin.


Sebenarnya Gavin merasa khawatir karena dulu Reza menjauh tiba-tiba. Namun entah kenapa perasaan Gavin menjadi tidak tenang melihat Reza yang seakan mendekat kembali.


Bukankah seharusnya ia senang karena Reza sudah membaik daripada sebelumnya? Hal itu bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan olehnya.


Waktu pun berlalu tanpa kejelasan pasti diantara hubungan pertemanan itu. Lilia yang memilih bersikap seolah tak mengetahui apapun akhirnya bisa membuat hubungan pertemanan itu tak berubah.


Tak terasa sudah satu tahun Lilia menjadi siswa SMA. Hanya tinggal class meeting hari ini lalu akan tiba libur kenaikan kelas selama 2 minggu.


“Lil, kalau nanti kelas 2 nggak sekelas gimana?” tanya Fani tiba-tiba.


“Jangan ngomong gitu duluan lah, kamu kan tau apa yang kamu omongin biasanya beneran kejadian… ,” jawab Lilia dengan ekspresi kesal.


Fani tertawa lepas. Ya, sejak beberapa bulan yang lalu memang entah kenapa apa yang diucapkan Fani selalu saja terjadi.


“Yah gimana dong udah terlanjur… ,”


“Berarti kalau kita nggak sekelas itu salah mu.”


Fani tertawa lagi. “Tapi Lil, perasaan gue ngomong kalau kelas 2 bakal jadi waktu yang panjang ya…”


“Jangan ngomong aneh-aneh deh. Lagian waktu sebenernya sama aja. Manusianya aja yang ngerasa lama atau cepet.”


Fani tertawa lagi. Tak lama kemudian wakil ketua kelas, Fahmi datang mendekat.


“Kalian ini bukannya standby di lapangan malah males malesan disini… ,” ucap Fahmi kesal.


Fani masih enggan beranjak dan tetap dalam posisi setengah tiduran dengan ekspresi malas.


“Ayo cepet ke lapangan! Final bulu tangkis ganda putri bentar lagi dimulai,” ucap Fami menambahkan.


“Eh anj*r kok nggak bilang daritadi. Ayo Lilia!”


Fani pun menarik tangan Lilia dan keduanya berjalan secepat mungkin menuju lapangan.


Fahmi yang ditinggalkan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah teman sekelasnya itu.


...◇◇◇...


Semua yang ada di lapangan itu langsung menoleh begitu Lilia dan Fani datang.


Lilia yang sudah terbiasa dengan itu tak begitu memikirkan pandangan orang-orang, begitupun dengan Fani.


“Gila, tuh anak kelas 1?” tanya salah seorang kakak kelas yang memakai hoodie berwarna abu gelap.


“Iya, katanya sih dua cewek paling cakep di kelas 1,” jawab pria yang memakai jaket warna hitam.


“Gila, gue kira si Faye sama Zora udah yang paling cakep.”


Suara bisik-bisik dari berbagai siswa yang bergerombol membuat Lilia tiba-tiba menjadi gugup.


Pertandingan akan dimulai 5 menit lagi. Lilia dan Fani pun melakukan peregangan yang kemudian membuat bisik-bisik di antara siswa itu semakin terdengar keras.


“Kenapa makin banyak yang nonton sih?” ucap Lilia kesal.


Fani hanya tertawa dan mencoba tak memperhatikan sekeliling lapangan agar tidak ikut gugup.


“Anj*r badannya bagus c*k,” ucap seorang laki-laki yang memakai baju olahraga oranye hitam.


“Kayaknya gue masuk sekolah kecepetan,” sahut teman disebelahnya.


Reza yang berdiri tak jauh dari kedua orang itu akhirnya memilih pindah ke bagian tempat lain. Namun sayang justru malah percakapan di sisi lainnya semakin vulgar.


“Foto cepet, kalau jadi pacar gue, betah dah gue lihatin,” ucap pria yang juga memakai baju olahraga oranye hitam.

__ADS_1


“Iya anj*r, kok bisa ya bagus gitu bodynya, jangan-jangan sering digrep* sama pacarnya wkkwkw,” sahut teman di sampingnya.


Pyurr...


Reza yang tak bisa menahan emosi akhirnya menuangkan air dari botol yang ia bawa ke atas kepala kakak kelas itu.


Keduanya reflek menoleh. “Bangs*t!! ngajak ribut lu?”


Beberapa siswa lain menoleh. Reza tetap di posisinya dengan ekspresi dingin.


“Sorry, gue tadi nyium bau sampah, ternyata bau mulut lu,” ucap Reza mengejek.


“Anj*ng!.” kakak kelas itu memukul Reza.


Kedua teman kakak kelas itu langsung memegangi laki-laki yang sedang emosi itu.


“Jangan Ron, anj*r tahan emosi lu kalau masih mau hidup.”


“Dia yang mulai duluan bangs*t!”


Reza menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.


“Pffttt, pentesan mulutnya bau kayak kutu busuk.”


Laki-laki itu hendak memukul lagi namun Reza menghalaunya dan memukul wajah kakak kelas itu.


“Jangan ganggu pertandingan disini bab*, kalau mau ayo cari tempat lain,” ucap Reza sambil menyeringai.


Kedua kakak kelas lainnya bergidik. “Sorry Za, tolong biarin masalah kali ini lewat ya.”


Salah satu kakak kelas itu menyeret pergi pria yang dipanggil Ron itu.


“Kalau ngomong yang hati-hati. Sekali lagi gue denger omongan semacam itu, gue bakal buat lu nggak bisa ngomong lagi.”


Bersamaan dengan itu peluit tanda pertandingan dimulai berbunyi. Setelah kakak kelas itu pergi, Reza duduk di bagian paling ujung dengan ekspresi tenang.


Final pertandingan bulu tangkis ganda perempuan antara kelas X B dengan X D berlangsung seru. Sekeliling lapangan dipenuhi oleh siswa yang ingin melihat pertandingan itu.


“Gila ya tuh empat cewek paling cakep, udah pinter di akademik masih aja pinter olahraga. Kok bisa ada manusia yang nggak punya kekurangan?” ucap salah satu siswa yang memakai baju olahraga biru hitam.


“Yah, ku denger juga keluarganya harmonis. Nggak adil banget ada orang yang sesempurna itu,” sahut perempuan yang duduk di sebelah laki-laki itu.


Pritttt


Bunyi peluit tanda pertandingan selesai berbunyi. Semua penonton termasuk disana memberikan tepuk tangan yang meriah.


Pertandingan itu dimenangkan oleh kelas X B dengan skor akhir 15-13.


Lilia dan Fani pun menuju ke bangku yang disediakan untuk beristirahat sambil mendengarkan instruksi dari guru olahraga.


“Ke depan situ yok ambil foto Lilia wkwkk,” ucap salah satu siswa laki-laki yang duduk tak jauh dari Reza.


Reza juga melihat beberapa siswa laki-laki mengarahkan ponselnya ke lapangan untuk memotret.


Reza pun secepat mungkin turun ke lapangan menuju ke tempat Lilia dan Fani yang sedang berbicara dengan guru olahraga.


Laki-laki bermata hitam itu mendekat ke arah guru olahraga dan menyampaikan sesuatu dengan suara yang pelan.


Lilia dan Fani hanya berpandangan heran. Tak lama kemudian Reza melemparkan jaketnya yang sudah dilepas ke arah Lilia.


“Pakai, kalau bisa habis ini langsung ganti seragam atau baju lain kalau bawa. Kalau nggak, pakai jaket gue aja dulu.”


Setelah mengucapkan itu Reza pun langsung mengucapkan terimakasih ke guru olahraga tersebut kemudian pergi.


Lilia berpandangan heran dengan Fani. Keduanya juga melihat ekspresi guru olahraga yang tampak serius sedang memperhatikan bagian samping lapangan.


Lilia dan Fani pun ikut menoleh ke bagian sekliling lapangan dan melihat ada beberapa siswa yang tampak mengarahkan kamera ponselnya ke tempatnya duduk.


“Anj*r, pake cepet!” Fani terlihat terkejut dan baru memahami maksud Reza memberi Lilia jaket setelah melihat baju olahraga yang agak terlihat tembus pandang karena terkena banyak keringat.


Lilia pun baru menyadari jika hari ini ia lupa memakai kaus rangkap. Ia pun segera memakai jaket yang Reza berikan.


“Kalian segera kembali ke kelas saja ya,” ucap guru olahraga itu dengan ekspresi kesal.


Lilia dan Fani pun menuruti perkataan guru olahraga itu dan segera kembali ke kelas. Sayangnya keduanya tak membawa baju ganti karena kegiatan class meeting hari ini memang memakai pakaian olahraga.


Hari ini Fani pun banyak berkeringat karena pertandingan yang cukup intens dan mengharuskan dia aktif bergerak.


“Anj*r kenapa yang dikasih jaket lu doang sih.” Fani menggerutu karena merasa kesal.

__ADS_1


Lilia tertawa. “Mau separuhan?”


“Nggak.”


“Tadi Fani lihat wajah Reza nggak?”


“Lihat lah wajah ganteng yang ngeselin itu.”


Lilia tertawa kesal mendengar candaan Fani disaat seperti ini. “Bukan gitu, maksud ku…”


Belum sempat melanjutkan perkataannya Gavin berlari ke arah Lilia dan Fani yang sedang berjalan menuju kelas.


Dalam beberapa detik, mata Gavin bisa melihat Lilia memakai jaket yang ia kenali.


Tanpa mengatakan apapun, Gavin langsung memberikan jaketnya ke Fani.


Fani langsung memakai jaket yang disodorkan kepadanya itu. “Darimana aja lu ketua kelas?”


Gavin tampak masih mengatur nafas. “Disuruh bantuin ngeprint raport, dah itu nggak penting. Tadi gue denger guru olahraga ngamuk ngomongin kejadian di lapangan.”


Lilia dan Fani saling berpandangan dengan ekspresi kaget.


Setelah mengatur nafasnya, Gavin lanjut berbicara. “Gue kurang tau jelasnya gimana tapi katanya baju olahraga untuk semua siswa perempuan di angkatan kita bakal diganti.”


“Lah? Serius? Dulu gue sama Lilia pernah bilang tapi katanya nggak ada siswa lain yang protes,” ucap Fani kesal.


“Gatau lah, tapi masalahnya, gue dikasih tau salah satu temen gue di grupnya ada yang nyebarin foto… ,”


“Gav, tarik nafas, hembuskan. Kamu jelasin buru-buru gitu malah nggak jelas,” ucap Lilia memotong.


Ketiga siswa itupun sepakat untuk kembali ke kelas terlebih dahulu agar lebih leluasa mengobrol.


Sesampainya di kelas, Gavin menceritakan bahwa ia diberitahu temannya ada sebuah foto yang menyebar di salah satu grup perkumpulan remaja laki-laki.


Gavin menunjukkan tangkapan layar yang dikirim temannya.


Foto yang tersebar adalah foto Zora dan Faye yang sedang berada di lapangan setelah pertandingan.


Baju olahraga yang terkena banyak keringat itu membuat bentuk tubuh mereka tampak terbentuk jelas.


“Hah? Gila parah banget!” Fani tampak bergidik ngeri dengan isi chat pada tangkapan layar itu.


“Ada berapa foto?” tanya Lilia dengan ekspresi khawatir.


“Dua foto, tapi yang ada Faye nggak jelas karena kehalang orang yang tiba-tiba lewat. Sejauh ini gue nggak dapet info ada foto kalian apa nggak sih.”


Lilia dan Fani menghela nafas panjang. Keduanya tidak menyangka ada hal-hal seperti itu karena selama ini tidak ada kejadian serupa.


“Gue denger dari kakak kelas katanya Reza langsung turun ke lapangan?”


“Iya.”


Ketiganya diam, Lilia mengeluarkan ponselnya dari tas. Tampaknya sedang mengirim pesan kepada seseorang.


“Eh maaf ya aku pergi bentar,” ucap Lilia tiba-tiba.


“Kemana?” tanya Fani penasaran.


“Mau ngasih barang titipan ke temen,” ucap Lilia asal.


Fani mengangguk mengerti begitupun dengan Reza. Fani mengeluarkan ponselnya juga setelah Lilia pergi.


“Gav, lu tuh belum nembak Lilia, ya?” tanya Fani penasaran.


Gavin menghela nafas panjang. “Gue udah nyoba berkali-kali dan selalu aja ada gangguan… .”


“Yah lu kayaknya kelamaan deh. Insting gue sebagai temen nih ya, dia udah pindah ke lain hati.”


Gavin menatap Fani dengan ekspresi serius. “Jangan bercanda kayak gitu deh.”


“Gue nggak bercanda, Gav. Ya atau emang sebenernya sejak awal yang dia suka bukan lu.”


Reza yang mendengar itu tampak kesal. Meski enggan memikirkan hal tersebut, firasatnya mengatakan hal yang serupa dengan Fani.


Selama setahun ini bukannya Gavin tak menyadari sikap Lilia. Meski sikap terlihat seperti biasa, Gavin bisa mengetahui perubahan sikap Lilia. Gadis bermata coklat itu sering memalingkan wajahnya saat tak sengaja bertatap mata dengan Gavin.


Gavin menyadari itu namun enggan bertanya karena takut dengan jawaban yang akan didapatkannya. Laki-laki bermata coklat keabuan itu pun bersikap seperti biasa seolah tak ada apa-apa dan tak menyadari apapun.


 

__ADS_1


... ◆◇◆◇◆...


__ADS_2