
Kabar tentang Gio yang dipukuli siswa sekolah lain menyebar dengan cepat siang itu juga. Reza tak dapat menahan amarahnya begitu mendapat kabar temannya sedang berada di rumah sakit dengan kondisi kritis.
Tidak hanya Reza, teman-temannya yang berteman juga dengan Gio juga merasa dihina dengan kejadian kali ini. Siang itu meski jam sekolah belum berakhir, banyak siswa yang langsung keluar dari sekolah itu dengan memanjat pagar sekolah.
Sebagian siswa memang meninggalkan motornya diluar sekolah, jadi jika ada yang ingin bolos saat jam pelajaran tertentu, mereka tetap bisa pergi.
8 siswa yang masih berseragam itu berkumpul di warung yang tak jauh dari sekolah itu.
“Ada kabar nggak za siapa yang mukulin Gio?”
“Belum, kata Gavin Gio ditemuin bapak nelayan di pantai Kota T.”
“Jauh banget c*k. Ngapain Gio kesana?” ucap laki-laki berjaket coklat.
“Nggak tau, katanya Gio belum bisa ditanyain karena belum sadar.” Ucap Reza lalu memasukkan ponselnya ke tas.
“Yang nolongin Gio masih di rumah sakit sana nggak, Za? Tanyain ciri seragamnya.” Tanya Rion dengan ekspresi serius.
Reza mengeluarkan ponselnya lagi. Tak lama kemudian ia mendapat pesan balasan.
“Ada bapak-bapak yang sempet motret pas mereka kabur katanya, nih,” ucap Reza sambil memperlihatkan foto yang dikirimkan Gavin.
“Gavin si ketua OSIS juga temennya Gio?” tanya Reno penasaran.
“Iya, dari desa yang sama, udah temenan dari lama.”
Laki-laki yang bertanya itu mengangguk mengerti. Dalam hati ia cukup takjub Gavin mau berteman dengan salah satu siswa berandalan sekolah itu.
“Ini logonya SMK Teknik 1 bukan sih?” tanya Rion memastikan.
Reza mencoba mencari tahu logo sekolah yang dimaksud Rion. “Iya sama.”
“Oke, dari cirinya bisa dicari sih ini.”
Semua siswa itu melepas seragamnya lalu memasukkannya ke dalam tas. Rombongan pelajar yang berumlah 8 orang itu pun mengendarai motornya dengan berboncengan menuju daerah yang cukup jauh dari sekolahnya itu.
...◇◇◇...
Di waktu yang sama di tempat lain…
Suasana rumah mewah itu tampak ramai sejak pagi. Ada 6 mobil yang terparkir di halaman rumah itu. Tak lama kemudian datang mobil H*nda Jazz berwarna merah.
Seorang laki-laki muda dengan hodie warna putih turun dari mobil tersebut.
Seorang laki-laki tua dengan sigap menghampiri pemuda itu.
“Tuan besar masih ada pertemuan dengan koleganya, mas Jun,” ucap laki-laki tua itu.
“Oh yaudah, saya langsung ke atas aja.”
“Nona Elena juga datang, beliau sedang ada di ruang baca.”
“Nanti saya temui dia.”
Pemuda yang dipanggil Jun itu menyerahkan kunci mobilnya lalu segera masuk ke dalam rumah mewah itu. Laki-laki bermata hazel itu memasuki kamarnya. Melihat foto yang ada di meja dekat ranjangnya.
Setelah meletakkan tasnya, laki-laki itu keluar dari kamarnya dan segera menuju ruang baca.
Seorang perempuan sedang duduk di dekat jendela sambil membaca buku.
“Udah dateng dari lama Len?” ucap Jun lalu duduk di salah satu sofa di ruang baca itu.
Perempuan yang sedang fokus membaca itu menoleh lalu meletakkan bukunya.
“Hmmm sekitar 20 menit mungkin. Ini gue manggilnya pakai nama yang mana? Jun? Julio?” ucap gadis berambut coklat itu sambil tertawa.
“Jangan bercanda,” jawab laki-laki itu dengan ekspresi datar.
“Penampilan lu beda banget ya waktu di sekolah? Gue dikirimin foto dari Alex.”
“Hahh, dasar pak tua itu… ,” ucap Jun kesal.
“Tapi kenapa lu udah pakai lensa masih pakai kacamata?”
“Buat pengaman tambahan lah, lu kan tau jarang ada orang yang warna matanya hazel kayak gue,” jawab Jun dengan ekspresi malas.
“Hahaha, tapi beda gaya rambut sama kacamata aja bisa kelihatan kayak orang lain ya?”
“Elena… ,” ucap Jun dengan ekspresi kesal.
“Okay, okay… ,” jawab Elena sambil tersenyum geli.
Elena lanjut membaca bukunya sedangkan Jun hanya diam dengan ekspresi datar.
Tak lama kemudian laki-laki tua datang menghampiri ruang baca itu.
“Tamu tuan besar sudah pulang, mas Jun dan nona Elena sudah bisa menemui tuan. Beliau sudah pindah ke ruang keluarga.”
Jun bangkit dari tempat duduknya begitupun dengan Elena. Keduanya menuju ruang keluarga yang terletak dengan bagian halaman belakang rumah.
“Wah kamu ini baru mengunjungi ayah saat peringatan hari lahirnya Nina ya,” ucap pria berkemeja hitam yang sedang menuang bir hitam ke dalam gelasnya.
__ADS_1
Jun dan Elena mendekat lalu duduk di seberang kursi pria itu.
“Banyak yang harus saya urus 'ayah', jadi saya berkunjungnya ya sekalian,” ucap Jun dengan ekspresi datar.
Pria disebrang Jun tertawa kecil. “Bagaimana kehidupan mu disana?”
“Ayah tidak perlu khawatir, saya menjalankan tugas saya dengan baik. Pihak EurusZ melakukan-“
“No no no, jangan bicarakan pekerjaan dulu, ayah sedang bertanya tentang kehidupan mu disana,” ucap pria itu memotong.
Jun diam, ia justru merasa enggan menceritakan hal lain selain pekerjaan.
“Haha, kamu ini dari dulu justru tidak tertarik dengan hal selain pekerjaan ya?”
Pria yang dipanggil ayah itu meneguk minumannya lalu beralih memandang Elena.
“Bagaimana kabar mu Elena?”
“Kehidupan saya atau pekerjaan saya?”
“Tentu saja kehidupan mu hahaha.”
“Yah tidak seseru pekerjaan saya,” ucap gadis bermata biru itu.
“Kalian ini sepertinya memang lebih suka berbicara pekerjaan ya? Jadi gimana dengan tugas mu kali ini Elena?”
“Ini mungkin sulit dipercaya, tapi dari penyelidikan yang saya lakukan, ada banyak anggota mereka yang tidak memiliki identitas... ,” ucap Elena ragu.
Laki-laki yang memegang gelas berisi cairan berwarna hitam itu melirik ke arah Jun. Ekspresi pemuda itu sedikit berubah setelah mendengar apa yang diucapkan Elena.
“Kalau begitu tolong kirimkan bukti-bukti yang sudah kamu kumpulkan. Setelah ini kamu bisa menemui Alex, dia ada di ruang latihan.”
Elena mengangguk mengerti, perempuan itu bangkit lalu segera meninggalkan ruangan itu.
“Jadi gimana Jun? Kamu sudah menemukan orang tua mu?” tanya 'Ayah' sambil menyodorkan gelas dan botol bir hitam ke arah Jun.
Jun mengambil botol itu lalu menuangkan isinya ke dalam gelas.
“Saya belum yakin, ada beberapa orang yang masih dalam pengamatan saya,” ucap Jun lalu meneguk minuman di gelas itu.
Pria berkemaja hitam itu diam dalam waktu yang cukup lama dengan ekspresi datarnya.
“Jangan terlibat terlalu banyak dengan siswa disana,” ucap 'Ayah' setelah diam selama beberapa waktu.
“Peredaran obat itu justru terjadi di kalangan pelajar,’ ucap Julio lalu menyenderkan punggungnya di sofa.
“Styx?”
“ ‘Kurir’ mereka melakukannya tanpa sepengetahuan Adhi. Selain itu obat yang beredar dicampur dengan yang lain.”
Jun diam, matanya fokus memandang ke cairan hitam di gelas yang sedang ia pegang.
“Ayah dengar ada perempuan menarik di sekolah itu,” ucap pria itu tiba-tiba.
Jun menahan nafasnya, ia mengumpat berkali-kali dalam hati.
“Jangan berpikiran buruk atau berniat melakukan sesuatu ke Alex, dia orang kepercayaan Ayah. Ayah sengaja menempatkannya di dekat mu supaya dia bisa mengawasi mu.”
Jun menggengam erat gelas itu, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.
Pria berkemeja hitam itu meneguk minumannya lagi. “Ayah juga terkejut saat melihat fotonya. Rasanya seolah Nina hidup lagi… Apa Nina bersaudara dengan gadis itu?”
“Setau saya dia adalah anak tunggal,” ucap Julio tanpa memandang ke arah ‘Ayahnya’.
“Kamu sudah memastikannya? Bisa bahaya kalau ternyata dia juga orangnya EurusZ.”
“Dia hanya siswa berprestasi biasa yang hidup dengan baik,” ucap Jun menegaskan.
Pria diseberang Jun tersenyum tipis. “Jun, ingat… dia bukan Nina. Tetaplah fokus pada tugas mu.”
“Saya mengerti,” ucap Jun tanpa ekspresi.
Ruangan itu hening lagi selama beberapa waktu. Masing-masing pria itu tenggelam dalam pikiranya masing-masing.
“Maaf tuan, mas Robert sudah tiba,” ucap laki-laki tua yang muncul dari samping.
“Oh ya suruh dia tunggu di ruang latihan bersama Elena dan Alex, saya akan segera kesana.”
“Baik tuan.” Laki-laki tua itu segera berlalu pergi.
“Jun, kamu sudah bisa pergi,” ucap pria berkemeja hitam itu lalu bangkit.
“Baik Ayah,” jawab Jun tanpa ekspresi.
Setelah pria yang dipanggil ‘ayah’ itu pergi, Jun menghela nafas panjang. Laki-laki bermata hazel itu bangkit, kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ia memakai kemeja hitam dengan coat berwarna senada.
Jun memakai kacamata hitamnya lalu segera keluar dari rumah mewah itu dengan mobil merahnya.
...◇◇◇...
Di makam...
Suasana di makam itu sangat sepi. Ada beberapa orang yang sepertinya sedang berziarah. Jun menatap ke arah batu nisan bertuliskan nama Nina. Ia meletakkan bunga krisan putih di dekat nisan itu.
Selama beberapa waktu Jun memejamkan mata, membiarkan angin menerpa tubuhnya. Ia membuka matanya kembali. Matanya berkaca-kaca, tangannya mengepal erat menahan kesedihan mendalam. Ingatannya kembali membawanya pada saat ketika perempuan bermata coklat itu masih hidup.
__ADS_1
“Nina… Selamat ulang tahun… ,” ucap Jun dengan suara lirih.
Drrrttt….
Bunyi getaran ponselnya menganggu waktu ketenangannya. Ia mengambil ponsel di sakunya dengan ekspresi kesal.
“Ada apa?”
“Nomer hp pak Julio nggak aktif ya Jun hehe? Saya dapat kabar katanya ada siswa yang dipukuli hingga masuk rumah sakit. Sepertinya anda harus kembali lebih cepat pak Julio, hahaha.”
Suara Alex alias Arman dari telfon itu terdengar begitu kencang.
“Ya, terimakasih informasinya.”
Klik…
Jun mematikan ponselnya. “Sepertinya aku tidak bisa disini lama-lama, Nina. Aku kembali dulu.”
Jun berbalik menuju tempat ia memarkir mobil. Ia menghidupan ponsel lainnya yang diletakkan dalam tas kecil.
Banyak pesan yang langsung masuk begitu ia menyalakan ponselnya. Laki-laki bermata hazel itu menghela nafas lalu segera menjalankankan mobilnya menuju rumah.
...◇◇◇...
Jun tampak bergegas menuju kamarnya lalu membereskan barang bawaannya. Ia memakai kembali lensa mata berwarna coklat terang, ia juga manata rambutnya sedemikian rupa.
Penampilannya tampak begitu berbeda meski masih memakai pakaian yang sama.
Dengan tergesa-gesa ia menuju ruang latihan tempat ‘keluarga’nya berkumpul.
“Ayah saya izin kembali lebih awal,” ucap Jun dengan ekspresi canggung.
“Loh? Kamu balik hari ini juga? Katanya izin?”
“Ada masalah di sekolah.”
“Yasudah hati-hati di jalan. Perlu diantar?” tanya sang ‘Ayah’.
“Tidak, saya hanya perlu mengambil motor saya di tempat Elena.”
“Eh Jun ada yang kurang, kacamata lu mana?” tanya Elena sambil tertawa geli melihat tampilan ala ‘guru’ Julio.
“Ada di mobil,” jawab Jun singkat.
“Saya pergi dulu ayah, Alex, Robert, Elena gue duluan.”
Semua yang ada di ruangan itu mengangguk. Jun pun segera meninggalkan rumah mewah itu dan menuju tempat Elena untuk mengambil motor.
Jun sudah mendapatkan penjelasan singkat tentang apa yang terjadi. Pikirannya sudah memprediksi akan ada kejadian lanjutan yang mungkin saja akan membuat pekerjaannya menjadi terganggu.
Setibanya di tempat Elena, Jun alias Julio menghubungi pak Darma terlebih dahulu untuk meminta alamat rumah sakit.
Setelah mendapatkan informasi, Jun langsung memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit tempat Gio dirawat.
...◇◇◇...
Di tempat lainnya…
Rombongan siswa yang membolos itu sedang berkeliling kemudian berhenti di depan sekolah SMK Teknik 1.
Rion memisahkan diri untuk mencari informasi. Ia meminta teman lainnya untuk tak menampakkan diri terlebih dahulu agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Rion menarik paksa salah satu siswa yang kebetulan sedang keluar sekolah untuk fotocopy.
“Bentar gue mau nanya, lu kenal sama orang ini nggak?” tanya Rion sambil memperlihatkan sebuah foto.
Laki-laki berkacamata itu mengamati foto di ponsel Rion dengan serius.
“Setahu saya yang potongan rambutnya mohawk kayak gini cuma si Didi sih. Kenapa ya kak?”
Rion tersenyum ramah. “Bukan apa-apa kok, saya punya hutang budi dengannya.”
Laki-laki berkacamata itu tampak bingung. “Berhutang budi? Setahu saya dia itu anak berandalan deh kak. Kakak nggak salah orang? Kayaknya hari ini juga nggak masuk.”
“Hmm, tempat nongkrongnya dimana ya?”
“Lah kakaknya ini bukan dari daerah sini kah? Semua orang biasanya tau.”
“Temennya dia dari jauh, mau ngasih kejutan gitu,” ucap Rion berkelit.
“Oh gitu, dia biasanya nongkrong di rumah kosong deket pantai.”
Rion tersenyum puas lalu mengeluarkan lembaran uang Rp50.000 dan memasukannya ke dalam saku siswa berkacamata itu.
“Thanks.”
Siswa itu tampak bingung namun ia segera masuk kembali ke sekolahnya.
Rion pun kembali ke teman-temannya yang sedang menunggu di kejauhan. Laki-laki berjaket hitam itu menyampaikan informasi yang didapatnya.
8 remaja itu tampak sudah bersiap. Mereka segera menuju tempat yang disebut sebagai lokasi nongkrong Didi dan kawan-kawannya yang telah memukuli Gio.
...◆◇◆◇◆...
__ADS_1