
Jun dan Elena langsung kembali ke Semarang setelah beberapa waktu lalu melakukan penyelidikan. Adhi juga dipanggil oleh Tommy untuk dimintai keterangan. Namun kakek tua itu mengatakan rumah itu bukanlah miliknya lagi.
Meski enggan, Adhi tetap harus menjelaskan bahwa rumah tersebut telah diberikan kepada anaknya dari wanita yang lain. Kakek tua itu sendiri mengaku tidak mengetahui digunakan untuk apa rumahnya itu.
Elena telah menyelidiki semua hal dan mendapatkan beberapa bukti tentang keterkaitan EurusZ dengan maraknya kasus orang hilang akhir-akhir ini. Namun ia dan Jun masih diminta Tommy untuk mendapatkan bukti lainnya.
Jun dan Elena pun kembali lagi ke kota U untuk melanjutkan penyelidikan tersebut sedangkan Tommy sendiri memeriksa tentang transaksi di dark web dengan bantuan Robert.
“Gue denger dari Alex, katanya ada dua siswa sekolah lu yang hilang ya Jun?”
“Iya, mungkin ada kaitannya juga sama kasus orang hilang di kota ini. Gerry kan kaki tangannya EurusZ juga, anaknya sekolah di sana.”
“Lu curigain anaknya Gerry?”
“Ya, ada kemungkinan kan, lagian dia juga pengedar.”
“Gila.”
Jun tetap fokus menyetir mobil birunya itu. Ia tiba-tiba teringat Lilia yang saat terakhir itu sedang marah dengannya. Ia sebenarnya khawatir akan keselamatan gadis itu, tapi ia harus tetap fokus dengan tugasnya.
“Oh iya Jun, kata lu waktu itu tuh cewek yang mirip Nina ketemu sama Jerry Andara? Tapi selama pantauan tim gue, Jerry nggak ada pergerakan mencurigakan tuh.”
Jun diam, ia merasa lega sedikit. “Tetep awasin terus. Kalau ada pergerakan dari mereka langsung kabarin gue.”
“Terus Lilia nanya nanya soal itu nggak?”
Jun diam sejenak, ia menghela nafas panjang. “Jerry manggil dia Nina saat pertama ketemu, aku dulu juga nggak sengaja manggil dia pakai nama itu… .”
“Lah terus gimana? Lu jelasin ke dia?”
“Nggak.”
Elena memandang Jun dengan ekspresi bingung. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan atau direncanakan oleh laki-laki bermata hazel itu.
“Btw Jun, apa rencana lu kalau semua udah selesai?” tanya Elena penasaran.
“Rencana apa maksud lu?”
“Ya… lu harus ninggalin Lilia kan karena dia juga nggak ada hubungannya sama tugas-tugas lu…”
“Gue bakal mastiin dulu situasinya aman.”
Elena menatap Jun dengan ekspresi kesal. Firasatnya mengatakan hal buruk jika Jun tidak mengambil tindakan tegas.
...◇◇◇...
Di tempat lainnya…
.
.
__ADS_1
“Om dari mana?” tanya seorang remaja bermata onyx.
“Nyari buku buat mu, nih,” ucap Jerry sambil menyodorkan satu kantong plastik berisi berbagai macam buku. Keponakan Jerry memang selalu meminta pamannya secara rutin untuk membeli berbagai macam buku tentang strategi maupun psikologi.
“Thanks.”
Jerry melihat ke sekitar, setelah memastikan tidak ada siapapun, pria itu mendekat ke arah Nathan. “Apa Halina sudah memberitahu mu tentang perempuan yang mirip dengan Nina?”
Remaja yang sedang memeriksa buku itu menatap Jerry dengan ekspresi kesal. “Ck, Halina juga laporan ke paman?”
“Tentu saja.”
“Hahhh… cewek nggak guna, disuruh diem dulu nggak bisa.”
“Nathan, jangan terlalu nyalahin dia, paman yang maksa di cerita karena lihat fotonya.”
Remaja bernama Nathan itu memejamkan matanya. ‘Padahal aku sudah memintanya hati-hati… .”
“Apa daddy sudah tau tentang gadis itu?”
“Setahu paman belum, kalau sudah pasti beliau sudah meminta paman bergerak.”
“Tapi kenapa paman tiba-tiba menanyakan itu pada ku?”
Jerry menyenderkan punggungnya di sofa. “Alasan mu minta pindah itu karena kamu ingin mendekatinya langsung kan?”
Nathan terdiam, ia menatap tajam ke arah pamannya. ‘Apa aku harus membunuh paman supaya daddy tidak tau tentang ini?”
“Itu tidak mungkin, tempatnya sekolah saja ada di pinggiran kecamatan kecil begitu,” sahut Nathan yakin.
Jerry tertawa. “Aku bertemu dengan gadis itu 2 kali bulan ini.”
Mata Nathan terbelalak saat mendengar ucapan Jerry. “Paman bercanda kan?”
“Tentu saja tidak, beberapa saat lalu paman juga baru saja bertemu dengannya.”
“Dia di kota ini? Kenapa?”
“Sepertinya untuk jalan-jalan.”
“Dimana paman bertemu dengannya?”
“Di pusat buku di desa Ilmu, sekarang mungkin saja sudah ke tempat lain. Memangnya kamu mau mencari di kota seluas ini? Hahahaha.”
Nathan diam, ia memang terlihat tenang tapi sebenarnya saat ini ia sedang panik. Ia bergerak sepelan mungkin agar ayahnya tidak mencurigainya tapi justru gadis itu malah datang ke kota U yang menjadi wilayah kekuasaan ayahnya.
‘Kacau… .’
Nathan langsung bangkit dari tempat duduknya, ia langsung terburu-buru menju kamarnya untuk mengambil ransel yang berisi laptop. Setelah berganti baju dan memakai masker, laki-laki bermata onyx itu bermaksud pergi namun ayahnya justru baru saja datang kembali.
“Kamu mau kemana, Nathan?” tanya Andra dengan ekspresi datar.
__ADS_1
“Mau main aja, bosen di rumah.”
“Jangan pulang larut malam seperti sebelumnya.”
“iya.”
“Oh iya, kamu serius ingin pindah sekolah semester depan?”
“Iya.”
“Kamu hanya boleh bersenang-senang asal tetap melakukan tugas mu.”
“Saya mengerti.”
Andra langsung melanjutkan langkahnya. Nathan menghela nafas pelan lalu segera meninggalkan kediamannya itu. Mobil berwarna hitam yang dikendarai Nathan itu melaju cepat ke tempat yang disebutkan oleh Jerry. Namun tentu saja ia tidak bisa menemukan orang yang sedang dicarinya itu.
“Hahhh… .”
Drrrtttt… Nathan memandang malas ke layar ponselnya.
Klik…
“Hai Haley tumben kamu menelfon di akhir pekan begini?”
“Ehmm Nathan kamu sekarang lagi luang nggak?”
“Ada apa?”
“Aku lagi di mall U.“
“Tumben? Biasanya kamu jarang ke kota ini karena lumayan jauh?”
“Iya lagi ketemu temen SMP ku dulu, temen-temen ku masa nggak percaya aku pacaran sama kamu, kamu bisa dateng nggak sekarang?”
“Okay aku kesana.”
“Ku tunggu sayang.”
Klikk…
‘Kalau udh kelihatan jalan sama Halina, daddy nggak bakal nanya kemana aku pergi kan?’ gumam Nathan dalam hati. Laki-laki bermata onyx itu bermaksud mencari Lilia kembali setelah menemui Halina sebentar.
Mobil hitam itu kembali melaju menuju mall U yang merupakan mall terbesar di kota tersebut. Sambil mengemudi ia mencoba memikirkan tempat-tempat yang mungkin didatangi oleh pengunjung dari luar kota U.
Pikirannya bisa menebak bahwa mungkin saja gadis yang mirip dengan Nina itu mengunjungi mall U tapi ia sendiri langung menyangkalnya.
Setelah sampai di mall tersebut, Nathan langsung menuju tempat yang disebutkan Halina namun dalam perjalanannya, ia melihat seorang gadis yang dicarinya tampak sedang berada di salah satu restoran cepat saji yang tidak jauh dari tempat Halina.
‘Dia benar-benar mirip dengan kak Nina… ,” gumam Nathan dalam hati. Laki-laki bermata onyx itu terdiam cukup lama di tempatnya.
...◆◇◆◇◆...
__ADS_1