
H*nda Jazz warna merah memasuki halaman rumah mewah itu. 2 orang turun secara bersamaan disusul 1 orang lagi dengan kacamata hitam.
Ketiganya langsung masuk ke rumah mewah itu.
“Tuan sudah menunggu di ruang keluarga,” ucap pria yang rambutnya sudah memutih.
Jun mengangguk, ia melepas kacamatanya lalu menuju ruang keluarga bersama Elena dan Ken.
Pria berkemeja biru itu sudah berpakaian rapi sambil meminum kopi hitam.
“Selamat pagi, ayah,” sapa Elena memberi hormat. Ken juga melakukan hal yang sama. Hanya Jun yang tampak tak peduli dengan semua itu.
Pria yang dipanggil ayah itu tersenyum lalu mempersilakan semuanya duduk. “Kalian sudah sarapan?”
“Sudah.”
“Bagus”
Hening… Ken tampak tidak tenang dengan suasana canggung itu.
“Jun, nanti kamu perlu menyampaikan laporan dan bukti yang sudah kamu kumpulkan. Hari ini salah satu orang pusat akan datang.”
Ken dan Elena tampak terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan pria itu.
“Baik… apa ada hal khusus yang perlu saya perhatikan?”
“Laporkan saja tentang pelanggaran yang terjadi, jangan mengatakan hal lain yang tidak ada kaitannya dengan itu,” ucap Ayah menekankan.
“Baik ayah.”
“Elena, Ken nanti kalian satu mobil dengan Alex dan Robert ya. Mereka ada di bawah”
“Baik, kalau begitu kami pergi dulu.” jawab Elena dan Ken kompak karena sudah mengetahui kode yang diberikan Tommy.
Tommy, pria yang dipanggil ayah itu menyodorkan gelas kosong ke arah Jun lalu menuang kopi dari teko kecil keramik yang cantik itu.
Jun mengangkat gelas itu dan meminumnya sedikit. “Elena bilang saya harus menemui ayah secara terpisah, apa sekarang?”
Tommy tertawa. “Itu nanti habis pertemuan. Ayah ingin membicarakan hal lain dulu.”
Jun diam, mencoba menebak apa yang akan dikatakan oleh pria yang sudah merawatnya selama 15 tahun itu.
“Ayah dengar kamu melakukan tes DNA untuk seseorang… .”
Jun diam sejenak, tidak ada gunanya menyembunyikan apapun yang dliakukannya karena ayahnya memang akan mengetahui itu.
“Benar.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
Hening, Jun tidak bisa menjawab pertanyaan ayahnya.
“Kamu sudah pastikan gadis itu tidak berhubungan dengan EurusZ?” ucap Tommy lagi sambil melihat ke arah gelas berisi kopi hitam.
“Saya sudah mencari tau, dia tidak ada hubungan dengan mereka, tapi justru mungkin ia kerabat jauh ayah.”
Tommy mengerutkan keningnya. “Kerabat?”
“Pemilik hotel tempat kami biasa menginap di Surabaya itu punya saudara ayah kan? Saudara orang tersebut adalah saudaranya gadis itu.”
Tommy berpikir sejenak mencoba memahami maksud Jun. “Wah, kenyataan yang aneh.”
Hening lagi. Tommy menyeruput kopi hitamnya yang mulai dingin. “Jun, ayah ingin mengetahui semua yang ada di sekitar mu bukan untuk mengekang, tapi untuk memastikan tidak ada hal yang terlalu berbahaya untuk mu.”
__ADS_1
“Saya mengerti… .”
“Apa kamu masih marah karena kejadian waktu itu?”
Jun diam sejenak. “Tidak ada hak saya untuk marah. Saat itu saya memang sedang emosional dan menyalahkan keadaan. Namun setelah saya pikirkan di saat tenang, saya bisa mengerti prioritas ayah.”
Jawaban Jun yang terdengar netral itu justru memperlihatkan dengan jelas bahwa selama ini ia benar-benar marah karena kejadian itu.
Jun menjalin hubungan dengan seorang perempuan yang ternyata adalah mata-mata yang dikirimkan pihak EurusZ, Nina. Namun ternyata wanita itu berkhianat dari kelompoknya karena terlanjur menyukai Jun.
Pihak EurusZ yang takut rahasianya diberikan kepada Notus, memilih membunuh perempuan tersebut.
Saat itu Jun sedang berada di luar pulau untuk tugas yang diberikan ayahnya.
Nina sempat menghubungi Jun dan memintanya untuk menemani bertemu dengan kelompok tersebut, namun Tommy meminta Jun untuk tetap menyelesaikan tugasnya lebih dulu.
“Jun, ayah minta maaf sekali lagi atas kejadian itu.”
Laki-laki bermata hazel itu menghela nafas. “Itu salah mereka kok, bukan salah ayah. Ada tanggung jawab yang memang lebih penting daripada hal pribadi kan?”
“Tidak, ada kalanya hal pribadi itu lebih penting dari apapun, hal yang tetap membuat mu masih bisa merasa sebagai manusia.”
Jun diam, ia ingin tertawa karena mendengar ucapan ayahnya yang seperti itu. Namun ia hanya tersenyum getir.
Bukankah hal itu seharusnya ia katakan sejak dulu, sebelum ia kehilangan orang yang disukainya.
“Bukankah ayah dulu bilang, hal pribadi hanya menjadi kelemahan di dunia gelap ini?”
Tommy diam, ia memandang kopi di gelas yang sudah habis. “Ya, kelemahan itu yang bisa membuat mu masih merasa sebagai manusia.”
Jun diam, ia tak mengatakan apapun lagi.
“Jangan menyebut saudara Nina dalam pertemuan nanti. Ayo berangkat.”
...◇◆◇...
Di waktu yang sama di tempat lain…
.
.
Rion dan teman-temannya berkumpul di café melon seperti biasa. Kali ini Reza datang juga.
Melihat teman-temannya yang asik bermain hp saat berkumpul dan tidak bermain r*mi seperti biasa membuat Reza bingung.
J*di Sl*t yang disebarkan Rion itu sudah menyebar dari mulut ke mulut hingga sekarang hampir semua anak remaja seusia mereka memainkan itu.
“Tumben pada nggak main r*mi?” tanya Reza penasaran.
“Lagi pada main game katanya,” jawab Gio sambil membuka minuman kaleng.
“Game apaan?”
“Nggak tau, katanya main itu bisa dapet uang.”
Reza mengernyitkan dahinya, ia masih belum paham apa yang dimaksud Gio.
“Lu nggak main juga?”
“Nggak tertarik.”
Reza diam sejenak, tidak membicarakan hal itu lagi.
__ADS_1
“Mas, es sama spr*te dong 1,” ucap Reza ke Nino.
Gio dan Nino memandang heran ke arah Reza. “Lu tumben?” tanya Gio dengan wajah bingung.
“Lagi pengen aja.”
“Lu udah berhenti minum?” tanya Nino yang juga heran.
“Masih kok kadang, tapi ya nggak sesering dulu.”
Nino mengangguk mengerti, ia menyodorkan minuman dan es batu yang dipesan Reza.
“Mas Nino tau itu mereka lagi main apaan?”
“J*di sl*t.”
“Loh katanya game?”
“Ya bentuknya kayak game.”
Reza tidak bertanya lagi, ia tetap tak mengerti dan enggan bertanya lagi. Laki-laki bermata hitam itu hanya melihat dengan ekspresi datar ke arah kerumunan temannya yang ramai bermain itu.
“Kerjaan lu lancar Za?” tanya Gio tiba-tiba.
“Lancar.”
“Halina model disana juga ya?”
“Iya.”
“Anak kalem kayak gitu kalau lagi jadi model beda banget ya auranya.”
Reza mengernyitkan keningnya. “Kalem?”
“Iya kan dia kalem, dia aja nggak banyak temen. Tipe-tipe introvert gitu emang menarik ya.”
“Introvert?” tanya Reza bingung.
Gio melihat ke arah Reza dengan ekspresi bingung juga. “Lah bukannya lu juga satu komplek sama rumah dia juga satu kerjaan?”
Reza diam, ia ragu untuk mengatakan pendapatnya. “Entahlah, gue nggak terlalu akrab.”
“Iyalah, orang pendiem kayak gitu harusnya emang diajak ngobrol duluan.”
Reza diam dengan ekspresi aneh. Jika ia mengatakan tentang sikap Halina saat diluar sekolah, pasti tidak ada yang mempercayainya.
“Zora mana, Gio?” tanya Nino tiba-tiba.
“Jalan sama pacarnya mungkin, mas.”
“Dia punya pacar sekarang?”
“Udah dari dua minggu lalu kayaknya. Sama anak SMK kecamatan sebelah mas.”
Nino mengerutkan keningnya lalu melihat ke arah Reza yang tetap berekspresi datar sambil meminum spr*te nya.
“Baik nggak pacarnya?”
“Ya nggak tau mas. Dia kan udah gede masa nggak bisa bedain mana baik buruk,” jawab Gio malas.
“Dia kan sepupu lu, ya paling nggak, lu pastiin lah tuh cowok kayak gimana. Zora kan cewe,” ucap Nino menekankan.
Ekspresi Gio berubah. Ia membenarkan perkataan Nino. Laki-laki pemilik bar itu memang lumayan perhatian dengan para remaja yang kadang dinilai baik olehnya.
__ADS_1
...◆◇◆◇◆...