
...(Hello… cerita di bab ini mengandung sedikit adegan yang kurang pantas dibaca anak di bawah umur. Mohon menyikapinya dengan bijak hingga di bab selanjutnya.)...
“Kamu kenapa dari tadi cemberut terus?”
Zora memandangi wajah laki-laki yang baru dipacarinya dua minggu itu. “Cuma lagi kesel aja karena ada yang ngomong nggak enak soal kamu.”
Laki-laki berjaket jeans kehitaman itu tersenyum. “Nggak apa-apa kok. Emang siapa yang ngomong kayak gitu?”
Zora diam sejenak, enggan menyebut nama. “Cuma kenalan di sekolah. Ngeselin, sok tau banget jadi orang.”
“Cowok?”
“Cewek.”
“Oh, ya wajarlah, aku kan emang dikenal jelek dimata para cewek hehe.”
Gadis berambut pendek itu cemberut. “Jangan ngomong gitu.”
“Iya iya, maaf. Mau coklat nggak? Katanya makanan manis bisa bikin mood baikan.”
“Mau.”
Deon membuka bungkus coklat itu. Ia memotong satu bagian coklat itu lalu memakannya.
“Kok malah kamu yang makan?” ucap Zora kesal.
Deon mendekatkan wajahnya ke dekat Zora, ia tersenyum lalu mulai menempelkan bibirnya ke milik gadis berambut pendek itu.
Wajah Zora memerah namun ia menyambut ciuman pacarnya yang disertai coklat itu.
Zora mendorong Deon karena ia hampir saja kehabisan nafas. Laki-laki itu hanya tersenyum menyadari balasan ciuman pacarnya yang kaku itu.
‘Masih polos ternyata…’ ucap Deon dalam hati. Ia tak menyangka perempuan yang dikenal sering bergaul dengan banyak laki-laki itu justru sepertinya belum pernah berpacaran.
Wajah Zora masih memerah. Ia tak berani melihat ke arah Deon.
“Kamu belum pernah pacaran?” tanya Deon memastikan.
Zora berusaha menyembunyikan rasa malunya. “Hmmm, aku nggak begitu tertarik sama cowok sebelumnya.”
“Oh? Aku pacar pertama kamu nih berarti?”
Zora diam, ia enggan menjawab dan mengalihkan pembicaraan. “Siniin coklatnya biar ku makan sendiri.”
Deon tertawa. “Kamu nggak suka aku suapin?”
“Nggak gitu… ,” jawab Zora ragu. Ia melihat ke sekeliling, meski tidak ada orang di sekitar tempat itu, tapi tempat itu cukup terbuka.
“Kamu malu? Kaget loh aku, padahal kata orang-orang kamu seringnya kumpul sama cowok kalau main, ku kira kamu udah jago banget.”
Zora cemberut. “Iya iya yang lebih jago.”
“Nggak gitu sayang.”
Zora diam, perutnya terasa tergelitik saat Deon memanggilnya dengan sebutan sayang.
Laki-laki bermata hitam itu mengubah posisi duduknya lalu menarik Zora ke dekapannya. “Kamu lucu banget hehe.”
Zora masih sebal karena ia baru menyadari bahwa pacarnya ini sepertinya sangat berpengalaman dengan perempuan.
“Jangan ngambek dong. Satu ciuman lagi, ku kasih coklat.”
“Nggak mau.”
Deon mencubit gemas pipi Zora. “Yaudah, nih ku suapin pakai tangan deh.”
Deon mengambil satu bagian coklat itu lagi lalu bermaksud menyuapkannya ke Zora.
“Aaa, buka mulutnya.”
“Aku kan bisa makan sendiri.”
“Harus ku suapin dong biar nggak ngambek.”
Zora akhirnya mau membuka mulutnya. Ia mengunyah coklat itu perlahan.
“Btw kamu juga pasti udah denger rumor soal aku kan? Kenapa kamu tetep mau jadi pacar ku?” tanya Deon membuka suara.
“Setau ku kamu baik selama aku kenal ini, walau belum lama sih. Walau mungkin kamu punya masa lalu buruk, pasti ada penyebabnya kan sampai ada rumor kayak gitu?”
Zora memandang jauh ke arah lain. Caranya menilai orang lain memang selalu diukur dari pemahaman kepada dirinya sendiri. Ia sendiri sudah banyak mendapatkan rumor buruk karena sering berteman dengan banyak laki-laki. Oleh karena itu ia tidak begitu mempercayai tentang rumor yang beredar.
Deon tersenyum, ia mengeratkan pelukan di pinggang gadis itu. “Makasih.”
“Mana lagi coklatnya,” pinta Zora.
“Sabar.” Deon mengambil bagian coklat itu lebih banyak lalu menyuapkannya ke Zora.
“Sayang, hadap sini,” pinta Deon.
Zora menoleh, ia membelalakan matanya karena kaget, Deon lagi-lagi menempelkan bibirnya.
Ciuman itu lebih panjang karena coklat yang dimakan Zora lebih banyak. Keduanya baru berhenti setelah hampir kehabisan nafas.
“Curang,” ucap Zora sambil cemberut.
Deon hanya tertawa. Tak lama kemudian beberapa teman Deon datang. Zora langsung membenarkan posisi duduknya. Laki-laki berjaket jeans kehitaman itu hanya tertawa kecil.
“Oi Den,” panggil salah satu remaja berjaket biru dongker. Temannya satu lagi duduk di motor agak jauh.
“Nama bagus-bagus, manggilnya begitu,” jawab Deon kesal.
“Ck, kepanjangan kalau Deon.”
“Beda sehuruf doang anj*r.”
“Sini dulu bentar,” ucap remaja itu lagi sambil melambaikan tangan. Matanya sejenak melirik ke arah Zora.
“Eits jangan lirik-lirik bangs*t.”
“Yaelah gitu doang.”
Deon mendekat ke arah temannya itu. “Lu ganggu banget.”
“Sorry, katanya lu cari info cewek yang lu incer dari beberapa tahun lalu, gue dapet infonya.”
Deon mengernyitkan keningnya, ia mencoba mengingat seorang perempuan.
“Yang ini bukan sih fotonya?” ucap remaja itu lagi sambil memperlihatkan sebuah foto.
Ekspresi Deon berubah, ia seperti mengingat sesuatu lalu membuka ponselnya. Ia menyamakan foto di ponselnya dengan foto di hp temannya itu.
__ADS_1
“Wah, sekarang makin cakep,” ucap Deon sambil tersenyum.
“Sekolah dimana dia?”
“Satu sekolahan sama cewek lu yang sekarang.”
“C*k, bisa kebetulan gitu ya.” Deon tertawa, ia merasa senang sekali.
“Dapet info darimana lu setelah sekian tahun?”
“Dari salah satu temen gue yang sekolah disana, waktu itu gue nggak sengaja lihat foto tuh cewek waktu temen gue lagi lihat Instagramnya sekolah itu, gue inget banget wajahnya mirip sama foto yang ada di hp lu yang lu lihatin terus dulu, yaudah gue tanya.”
Deon tersenyum lagi. “Cari tau lagi dong, yang ini mau gue habisin dulu.”
“Komisi lah,” ucap remaja itu sambil memainkan jarinya.
“Mau uang atau mau barang?”
“Dua duanya lah.”
“Bangs*t. Yaudah sono lu jangan ganggu.” Deon tertawa lagi.
“Gue udah pastiin kalau anak-anak malem ini nggak bakal dateng ke rumah lu.”
“Good.”
“Ortu lu nggak pulang lagi?”
“Nggak, minggu depan kayaknya. ‘Itu’ udah diatur belum?”
“Aman, yaudah gue balik duluan yak.” jawab remaja itu sambil tertawa kecil.
Deon tak menjawab dan langsung menuju Zora yang sedang duduk dengan ekspresi bosan.
“Maaf sayang ku tinggal lama.”
“Nggak apa-apa kok, itu kenapa temennya disuruh pergi?”
“Hmmm, biar nggak ada yang ganggu.”
Zora tertawa, ia merasa menjadi perempuan yang spesial karena lebih diutamakan dari teman-teman pacarnya.
Hari sudah semakin gelap, nyamuk di tepi waduk itu juga semakin banyak.
“Banyak nyamuk nih, mau pindah?”
“Kemana?” tanya Zora yang sudah bangkit dari tempat duduknya.
“Mau makan dulu?”
“Boleh.”
“Pengen makan apa?”
"Mie?”
“Yee masa makan Mie? Mumpung diluar nih.”
“Aku suka Mie, kan enak malem-malem gini makan mie.”
“Kalau itu sih bisa dibuat di rumah.”
“Enggak, orang tua ku lagi keluar kota,” jawab Deon pelan.
Zora mengusap kepala Deon, mencoba menghiburnya. Laki-laki itu hanya tertawa diperlakukan seperti anak kecil oleh pacarnya.
“Yaudah makan mie di rumah mu aja,” ucap Zora lalu melingkarkan tangannya di pinggang Deon.
Laki-laki berjaket jeans kehitaman itu tersenyum penuh kemenangan. Ia pun membawa motornya dengan kecepatan tinggi sehingga membuat Zora semakin mengeratkan tangannya.
Motor merah itu berhenti di sebuah rumah mewah dengan halaman yang cantik dengan lampu taman yang menghiasi.
Deon menggandeng tangan Zora masuk ke dalam rumahnya.
“Katamu ortu mu nggak di rumah? Lampunya nyala?”
“Kan ada ART disini.”
“Oh… “
“Kamu ke atas duluan gih, ada banyak game di ruang tengah di atas.”
“Oke.”
Zora menurut dan segera menuju lantai atas dengan langkah ragu. Deon menuju dapur mencoba memanggil ART yang bekerja di rumahnya.
“Mbok Sri, buatin Mie 2 ya, pake telur, sosis, komplit.”
“Siap mas. Ada temen dateng lagi ya? Mau dibuatkan minuman juga?”
“Hmmm, es jeruk aja.”
“Oke. Oh iya mas, tadi mas Ari dateng katanya disuruh mas Deon ambil gitar?” tanya Mbok Sri memastikan.
“Iya, dia pinjem gitar.”
Mbok Sri mengangguk mengerti, ia tak bertanya lebih lanjut karena enggan membuat susana hati Deon memburuk.
Deon langsung pergi dari dapur dan pergi ke ruangan atas. Laki-laki itu berjalan pelan ke arah Zora yang tampak sedang mengamati foto di dinding.
Deon melingkarkan tangannya di pinggang Zora. “Sayang lagi lihat apa?”
Zora hampir saja memukul Deon karena kaget. “Itu foto saudara mu?”
“Iya, ganteng ya? Namanya kak Rey.”
Zora tertawa lalu mencium pipi pacarnya itu. “Lebih ganteng kamu.”
Deon tersenyum puas lalu melepaskan pelukannya. Ia membiarkan Zora melihat ke sekeliling.
“Temen mu sering kesini?” tanya Zora penasaran.
“Ya kadang.”
“Mantan mu yang pernah kesini ada berapa?” tanya Zora lagi.
Deon tertawa. “Kamu ini kenapa nanya begitu sih?”
“Kepo aja,” jawab Zora singkat.
Tak lama kemudian Mbok Sri datang membawakan mie dan es jeruk. “Silahkan makan dulu.”
__ADS_1
“Terimakasih,” ucap Zora sambil mengambil es jeruk itu.
Mbok Sri langsung pergi begitu selesai mengantarkan makanan. Zora dan Deon langsung makan. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh kencang disusul suara hujan yang tiba-tiba turun deras.
“Wah hujan ya, pantes dari tadi gerah banget diluar,” ucap Zora sambil tetap menikmati mienya.
“Sekarang masih panas?”
“Nggak kok, ruangannya ademnya pas, enak ya ada AC.”
Deon hanya tersenyum lalu melanjutkan makan. Beberapa saat setelah menghabiskan mie dan es jeruk itu, listrik di rumah itu padam.
Zora membeku di tempatnya karena ia sangat takut gelap.
“Ra?”
“Kamu nggak ada lampu atau apa gitu? Aku takut gelap.”
Deon mendekat ke arah Zora, mencoba menenangkan gadis itu.
“Ada sih lampu emergency di bawah, ku ambil bentar ya?”
Zora memegangi lengan Deon dengan erat. “Nggak usah, kamu disini aja.”
Deon mengelus rambut gadis yang ada dipelukannya itu.
“Maaf, aku takut gelap,” ucap Zora dengan suara gemetar.
“Nggak apa-apa kok, aku disini.”
Klang… es jeruk di gelas itu tumpah terkena kaki Deon. “Aduh, gelasnya lupa belum dipinggirin. Kamu ketumpahan nggak?” tanya Deon memastikan.”
“Iya kena celana sama baju dikit.”
“Duh… Ganti ya ku pinjemin baju?”
“Tunggu lampunya nyala ya?” ucap Zora sambil mengeratkan genggaman tangannya ke lengan Deon.
“Kalau listrinya nyala tengah malem gimana?”
Zora diam, Deon mencoba menenangkan gadis yang sudah menjadi pacarnya itu. “Gini aja, pegangan aku, ayo ambil baju bareng.”
“Oke.”
Deon berdiri perlahan, diikuti oleh Zora yang memegang lengannya. Keduanya berjalan perlahan menuju salah satu ruangan.
Blarrr… Suara petir bergemuruh memecah kegelapan malam itu.
Zora semakin erat merekatkan badannya ke dekat Deon.
“Ra, sebentar, aku susah buka lemarinya kalau gini.”
Dengan susah payah akhirnya Deon berhasil mengambil satu kaos dan 1 celana pendek. Ia menyodorkanya ke Zora.
“Ganti pakai ini.”
“Gelap… ,” ucap Zora ragu.
“Ku tungguin, aku hadap arah lain. Harus ganti, nanti kamu masuk angin kalau lama pakai pakaian basah.”
Zora akhirnya melepaskan tangannya dari lengan Deon, ia mengambil pakaian yang disodorkan untuknya.
“Ku tungguin, 5 langkah dari tempat kamu berdiri sekarang, oke?”
“Iya,” jawab Zora pasrah.
Zora mulai melepas pakaiannya dan bermaksud menggantinya dengan kaos yang ada di pangkuannya, namun gemuruh petir yang menggelegar itu membuatnya ketakutan lagi.
Zora panik, ia tiba-tiba teringat masa kecilnya saat dikurung ayahnya di gudang. Saat itu listrik mati sehingga membuat gudang itu menjadi sangat gelap. Ia menangis minta dikeluarkan dari ruangan itu namun justru suara gemuruh petir menyambar yang menyambut tangisannya.
“Ra? Udah?”
Tak ada jawaban, Deon mengernyitkan dahinya, ia mendengar suara tangisan lirih tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Zora?” Deon mendekat, suara tangisan gadis itu semakin jelas.
“Hey? Kamu nangis? Aku nggak kemana-mana kok? Kamu takut banget sama gelap ya?” ucap Deon sambil mengelus kepala gadis itu.
Deon bermaksud menenangkan Zora, ia melingkarkan tangannya ke tubuh Zora. Namun ia melepaskannya lagi secepat mungkin.
“Maaf, kamu belum ganti bajunya ya… .”
Deon ingin menyingkir sebentar, tapi Zora menahan bajunya. “Nggak apa, jangan pergi.”
“Okay.” Deon membelai lembut kepala gadis itu, membiarkan perempuan beramput pendek itu bersandar kepadanya.
“Maaf… ,” ucap Zora lirih.
“Hmm? Kenapa minta maaf?”
“Aku kayak gini… .”
“Nggak apa-apa kok. Masih belum bisa ganti? Mau ku bantu?”
“Nggak,” jawab Zora cepat. Ia langsung berbalik lalu segera memakai kaos yang berada tak jauh dari tempat ia duduk.
“Hujannya deres, kamu mau nginep atau ku anterin pakai jas hujan?”
“Hmmm, ini jam berapa?”
“Nggak tau, hp nya ketinggalan di depan.”
“Nanti lihat jam dulu, kalau redanya sebelum jam 9, aku pulang aja.”
“Oke.”
Blarrr… suara gemuruh dan kilat itu membuat Zora kembali merekatkan tubuhnya di dekat Deon. Laki-laki itu tersenyum lalu bangkit.
“Mau kemana?” tanya Zora cemas.
Deon mengangkat Zora dengan tenang lalu menurunkannya di atas kasur miliknya.
“Disini dulu, di lantai dingin. Hmm, aku ambil hp di depan dulu boleh?”
Zora masih memegang erat lengan Deon, ia perlahan melepaskannya. “Jangan lama-lama.”
“Oke, bentar ya.”
Setelah itu Deon langsung keluar dari ruangan itu meninggalkan Zora yang meringkuk di tempat tidur miliknya. Perempuan berambut pendek itu mencoba menenangkan dirinya dengan menutup matanya dan menghela nafas panjang.
...◆◇◆◇◆...
__ADS_1