Blue Scandal

Blue Scandal
05 - Kepingan puzzle


__ADS_3

Pada hari minggu itu Lilia bangun pagi seperti biasa. Melakukan rutinitas seperti biasa seperti membantu ibunya menyuci pakaian, bersih-bersih rumah dan juga memberi makan kucing kesayangannya.


Burung-burung berkicau terbang antara dahan pohon yang satu ke pohon yang lain. Terik sinar matahari masih belum terasa panas di desa itu.


“Lilia, kamu kayaknya pagi ini semangat sekali,” ucap sang mama yang sedang membawa air untuk menyiram tanaman.


“Masa sih? Biasa aja tuh.” Lilia tetap melanjutkan menjemur pakaian.


Perempuan bermata coklat itu membalikan badan begitu ingat belum meminta izin ke mamanya untuk menjenguk Reza.


“Oh ya ma, Lilia lupa bilang, hari ini mau jenguk temen yang sakit.”


“Siapa yang sakit? "


 


“Temen Lilia,” jawab perempuan bermata coklat itu enggan menyebut nama.


“Oh yaudah, bareng Fani?”


“Umm, Lilia berangkat sendiri sih, soalnya temen lama yang nggak dikenal Fani.”


 


Bu Ani mengernyitkan dahinya, ia merasa agak aneh dengan jawaban yang diberikan Lilia karena biasanya sang anak Ah"lalu pergi kemanapun bersama Fani.


“Yasudah, hati-hati di jalan aja.”


Lilia mengerjapkan matanya berkali-kali.


Hahh?? Kenapa aku malah bohong sih.. duh, maaf ma…


Usai menjemur pakaian, Lilia pun segera mandi dan bersiap. Ia mengikat rambutnya dibagian belakang dengan karet rambut berwarna senada dengan kardigan merah maroon yang digunakannya.


“Lili, kamu nanti bawa buah atau apa kesana?” ucap bu Ani yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar anaknya.


“Ih mama ngagetin aja… Oh iya ya, duh mana perginya pakai bus, nggak bisa mampir beli buah dong.”


“Kamu ini mau jenguk orang sakit kok nggak siap sih. Yasudah mama beliin roti aja, kamu sarapan dulu.”


“Mama makasihh, oh iya beli rotinya kalau ada yang isi kacang hijau yaa.”


Bu Ani mengangguk mengerti. Sebenarnya perempuan paruh baya itu merasa tidak asing dengan roti isi kacang hijau yang disebut anaknya, namun ia tak bisa mengingat jelas siapa teman Lilia yang menyukai roti isi kacang hijau.


Setelah pulang dari toko kelontong, bu Ani menata roti-roti yang akan dibawa anaknya.


“Lilia…”


“Ya ma?”


“Kamu mau jenguk orang sakit kan? Bukan mau kencan?”


Lilia terkejut mendengar ucapan mamanya. “Ih mama, emang Lilia keliatan segitu berlebihannya?”


Bu Ani tertawa. “Mama Cuma bercanda.”


“Yee, biasanya juga Lilia selalu rapi kalau kemana-mana, dan kalau misal mau kencan mah pasti izin lah.”


Bu Ani hanya tertawa mendengar ucapan anaknya, meski ada sedikit rasa geli melihat tingkah anaknya.


Mungkin Lilia tidak merasa begitu, namun sang mama tentu saja hafal kebiasaan anaknya.


Kardigan merah maroon dengan kombinasi garis hitam dan putih itu jarang sekali dipakai putrinya.


Dulu Lilia berkata kepada mamanya bahwa ada dua baju yang memang jarang dipakainya karena hanya dipakai saat ada hal penting.


“Ma, Lilia berangkat dulu.”


“Iya, hati-hati di jalan. Pulangnya jangan kesorean.”


... ◇◇◇...


 


Suasana rumah sakit yang lumayan besar itu membuat Lilia takjub. Taman yang hijau dengan pohon yang rindang membuatnya merasa tenang.


"Panata gedungnya keren ya, tau banget kalau orang sakit perlu melihat penghijauan yang bisa membuat tenang."


“Permisi…”


“Ya dik silahkan, ada yang bisa saya bantu?”


“Saya mau jenguk teman saya yang sakit, emmm namanya Reza Bayu, mmm… duh saya kurang tau nama belakangnya, bu.”


Petugas resepsionis itu tampak memperhatikan Lilia cukup lama lalu tersenyum ramah.


“Reza Bayu Adhijaya ya? Mari saya antarkan,” ucap petugas itu sopan.


Lilia menurut dan mengikuti petugas resepsionis itu. Mereka menaiki lift menuju lantai 2.


“Silahkan, di ruangan nomor 37B,” ucap petugas resepsionis itu menunjuk arah bagian kanan.


“Terimakasih.”


Setelah mendapat petunjuk, Lilia pun menuju ke arah yang ditunjuk oleh petugas resepsionis itu tadi.

__ADS_1


Setelah menemukan nomor ruangan itu, Lilia mengetuk pintu.


“Za?”


“Oh, masuk aja.”


“Nggak bisa dibuka pintunya…”


“Pffftt… geser ke kiri, bukan di dorong.”


Lilia membuka pintu itu perlahan. Ia merasa malu karena gagal paham dengan cara membuka pintu yang seharusnya digeser itu.


Lilia meletakkan bingkisan roti yang dibawanya ke atas meja. Sedangkan tas kertas berisi jaket Reza di serahkan langsung kepada orangnya.


“Makasih… ,” ucap Lilia.


“Santai aja kali, tapi waktu itu ada kejadian apa sampai heboh gitu?”


“Biaslah, kakak kelas nggak jelas. Katanya aku godain pacarnya.”


“Sama kayak waktu SMP ya?”


Ucapan Reza membuat Lilia terdiam. Ia tak menyangka Reza masih mengingat kejadian waktu SMP itu.


 "Ah, ternyata dia masih ingat juga ya?"


“Ya gitu lah. Kamu kalau sakit gini lebih keliatan normal ya?” Lilia tampak kesal dengan sikap Reza yang terlihat biasa saja itu.


Reza tertawa. “Jadi maksudnya aku lebih bagus kalau sakit nih? "


Lilia mengamati ekspresi Reza. Lagi-lagi ia menangkap sesuatu yang menyakitkan di mata hitam milik pria itu. Lilia mengalihkan pendangannya.


“Ya nggak gitu. Kalau lagi sakit gini kamu keliatan lebih bisa diajak bicara…”


“Emang aku biasanya nggak gitu?”


Lilia memasang ekspresi kesalnya. “Reza Bayu tuh kalau ngomong di sekolah pakenya gue lu. Reza Bayu tuh nggak mau temenan sama anak SMP yang cuma tau belajar… nyenyenye.”


“Pfftt.” Reza menahan tawanya melihat ekspresi kesal Lilia dan caranya mencibir.


Entah kenapa Lilia merasa lega melihat Reza. “Kamu kapan terakhir ketawa kayak gitu, Za?”


Reza diam, menghela nafas panjang. Ia menyesal membiarkan perempuan satu ini menemuinya saat dia tak bisa memakai topeng.


“Yah, tiap hari aku ketawa kok, masa harus dilihatin.”


Sejenak hening, hanya detak jam yang terdengar memecah keheningan.


“Kamu sakit apa? Kayaknya seger aja tuh, sampai satu bulan nggak masuk.”


Melihat Lilia yang tampak tak percaya, Reza pun bermaksud bercanda. “Nggak percayaan amat, mau lihat?”


“Ya,” jawab Lilia cepat.


"Sial, ni anak nggak bisa diajak bercanda..."


“Nggak jadi, jangan sembarangan lihat badan cowok wkwkwk.”


Lilia mendengus kesal lalu mengambil beberapa roti dari bingkisan yang dibawanya.


“Roti isi kacang hijau kesukaan mu.” Lilia menyodorkan roti itu.


Reza menatap Lilia dengan ekspresi yang tak bisa Lilia mengerti.


“Kamu tuh jangan baik ke gini sama semua cowok, nanti ada yang ge er.” Reza pun menggaruk pelipisnya yang tak gatal.


"Hahhh, gawat, aku jadi sulit mengendalikan perasaan, aku jadi ingin lebih…, ucap Reza dalam hati."


Lilia tak memperdulikan apa yang diucapkan Reza padanya. Bukannya tak mengerti dengan apa yang Reza maksud, hanya saja sekarang ia merasa aneh dengan apa yang sedang dilakukannya.


“Makasih… ,” ucap Reza lagi sambil memakan roti isi kacang itu.


“Aneh ya, rasanya masih sama… ,” ucap Reza lagi sambil tersenyum sendu melihat ke arah roti yang ada di tangannya.


“Yah, pembuatnya, penjualnya masih sama…”


Hening lagi, Lilia diam memperhatikan keluar jendela. Langit terlihat biru, tampak serasi dengan putihnya awan.


“Za… .”


“Ah kamu kalau ngomong gitu pasti mau ngomong serius, gamau ah,” ucap Reza sambil segera menghabiskan roti yang digenggamnya.


“Kamu kenapa waktu dulu tiba-tiba ngejauh, apa aku atau Fani lakuin kesalahan yang nggak kami tau?”


Reza diam dengan posisi pura-pura tidur. Lilia yang kesal bermaksud memukul laki-laki itu, namun karena teringat temanya itu sedang sakit, Lilia mengurungkan niatnya.


Perempuan bermata coklat itu hanya kembali duduk dengan tenang tak jauh dari tempat Reza berbaring.


“Yah, nggak masalah sih kalau nggak mau jawab. Itu cuma asumsi ku aja, karena ku denger kamu tetap akrab sama Gavin... ,” ucap Lilia.


Lilia memberi jeda ucapannya kemudian menghela nafas panjang.


“Aku nggak tau apa yang terjadi dan mungkin omongan ku ini terdengar sok tau… Jangan ngerasa sendirian, banyak kok yang khawatir sama kamu.” Lilia mengatakan hal tersebut sambil memandangi ujung sepatu yang ia pakai.


Ada sedikit keraguan tentang hubungan pertemanan itu.

__ADS_1


Reza perlahan membuka matanya, melihat ke arah Lilia yang sedang menunduk dengan ekspresi sedih.


“Makasih, Lil.”


Lilia yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Reza.


“Yah, banyak alasannya sih, tapi aku seneng loh dipikirin terus hehe. Dapet plester luka gratis tiap hari… thanks,” ucap Reza sambil tertawa kecil.


Wajah Lilia memerah mendengar itu. “Loh, kamu tau?”


Reza tak menjawab, dia hanya tersenyum simpul sambil mengingat masa-masa itu.


“Jangan terlalu mikirin aku atau terlibat banyak di kehidupan aku. Aku menjauh karena sadar diri, aku ini tipe manusia yang bakal kamu benci kalau kamu tau tentang kehidupan ku,” ucap Reza mengalihkan pandangannya.


“Kenapa ngomong gitu…?"


 


Sretttt, suara pintu terbuka. Seorang kakek tua dengan kaos berkerah melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Lilia pun memberi salam dan memperkenalkan diri.


“Loh saya kira kamu pacarnya cucu saya," ucap kakek sambil tertawa.


“Kek!” Ekspresi Reza tampak kesal.


“Hahaha, maaf jika saya berlebihan.”


Reza enggan ikut dalam obrolan Lilia dengan kakeknya. Tak lama kemudian perawat datang mengingatkan bahwa jam kunjungan telah selesai.


“Lilia saya antar ya?”


“Eh? Tidak usah..”


“Tentu harus saya antar, rumah mu jauh kan dari sini. Tunggu diluar sebentar ya.”


Lilia pun mengangguk, menuruti perkataan pria tua itu Lilia keluar dari ruangan setelah berpamitan dengan Reza.


“Kakek kenapa dateng cepet sih?” gerutu Reza kesal.


“Hahaha dasar anak muda, tentu saja kamu harus ikut jadwal jam jenguk rumah sakit walau sedang pura-pura sakit.”


“Stt jangan keras-keras.”


“Tenang, suara di ruangan ini tak akan terdengar dari luar. Yah sebenarnya kakek pengen tau siapa teman mu yang kamu perbolehkan menjenguk itu,” ucap kakek sambil tersenyum.


Reza diam, merasa sedang tertangkap basah. Mungkin perasaannya terlihat jelas sekarang.


“Dia terlihat baik, kenapa nggak kamu pacarin aja? Cantik juga,” ucap kakeknya setengah berbisik.


“Seperti yang kakek bilang, dia memang baik. Aku nggak mau libatin dia dengan keluarga yang seperti ini,” jawab Reza dengan ekspresi dingin.


Kakek tua itu tertawa. “Kamu sudah dewasa ya sekarang.”


Kakek pun pergi untuk mengantarkan Lilia pulang. Meski perempuan bermata coklat itu sudah menolak.


“Anu, kira-kira kapan ya Reza bisa kembali bersekolah?”


Kakek tua itu tersenyum. “Secepatnya, saya senang sekali ada yang mengkhawatirkannya, terimakasih.”


“Saya dengar rumahnya kerampokan… bagaimana dengan orang tua Reza?”


Kakek itu mengernyitkan dahinya. “Saya juga tidak terlalu tau tentang itu, tapi orang tuanya baik-baik saja.”


“Terimakasih… .”


Kakek tua itu tersenyum ramah. Sesaat sebelum sampai di gapura desa, pria berambut putih itu memberikan jam tangan Reza kepada Lilia.


“Kembalikan ini ke Reza kalau dia sudah masuk sekolah.”


“Eh?”


“Hehe, dia itu kadang sulit diajak bicara jika tak ada sebab yang mengharuskan dia bicara.”


Lilia hanya berdiri mematung di gapura desa itu. Jam tangan itu dimasukkan ke dalam tas.


"Ini nanti aku dikira nyuri jam nya dia nggak sih? Kakeknya sama cucunya kenapa sama aja nggak jelasnya sih? " Ucap Lilia dalam hati.


Lilia pun kembali ke rumahnya. Sepanjang perjalanan ia hanya memikirkan percakapannya dengan Reza.


“Maa, Lilia pulang.”


“Mama kira sampai sore.”


“Nggak lah, kan ada jam kunjungannya.”


Setelah membersihkan tangan dan kaki serta berganti baju, Lilia merebahkan badannya di atas kasur.


Lilia teringat obrolannya dengan Reza saat di rumah sakit tadi. Padahal sudah mencoba membuka percakapan, namun lagi-lagi obrolanan itu tak memperjelas keadaan yang ada.


Meski begitu, Lilia bisa melihat dengan baik cara bicara Reza yang tampak berbeda dengan saat berada di lingkungan sekolah.


Lambat laun angin yang masuk melalui jendela kamarnya membuatnya terlelap.


 


...◆◇◆◇◆...

__ADS_1


__ADS_2