
Suasana pagi yang tenang itu menjadi ramai usai terdengar suara pertengkaran dari sebuah rumah dipinggiran desa.
"Pergi kamu dasar baj*ngan!" teriak seorang perempuan dengan suara parau.
Bunyi benda dilempar membuat tetangga yang sedang beraktifitas pagi menjadi melihat dengan ekspresi penasaran ke arah rumah itu.
Tangis wanita itu pecah, sedangkan pria berumur sekitar 40 tahun itu hanya diam berdiri memandang perempuan tersebut dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Keduanya tak bergerak pada posisinya masing-masing hingga beberapa waktu. Tak lama kemudian seorang remaja memakai seragam putih abu-abu keluar dari rumah itu dengan ekspresi datar.
"Aku butuh bayar iuran, Pa" ucap Gio tanpa peduli dengan apa yang sedang terjadi.
Pria yang dipanggilnya papa itu menghela nafas panjang lalu mengeluarkan 4 lembar uang Rp50.000 an. Menyodorkannya ke remaja yang berdiri malas tak jauh darinya.
"Thanks, oh ya, kalau mau berantem di dalem aja. Malu tuh diliatin tetangga." Setelah mengucapkan hal tersebut, Gio pun langsung menuju motornya lalu memacunya dengan kecepatan tinggi.
Gio sama sekali tak melihat ke arah Mamanya atau membantunya berdiri. Ia tak ingin ikut campur permasalahan orang dewasa.
Gio sudah terbiasa dengan situasi itu, setiap ayahnya datang selalu saja ibunya akan memulai pertengkaran.
Motor Gio melaju kencang ke arah berlawanan dari tempat ia sekolah. Setelah satu jam mengendarai motor, Gio menghentikan motornya di pinggir pantai di kota T yang terletak jauh dari daerah tempatnya tinggal.
Laki-laki itu duduk melepas dasi dan seragamnya lalu memasukannya ke dalam tas. Pikirannya penuh, jenuh, dan keruh.
Suara deburan ombak itu selalu berhasil menenangkannya. Ombak itu seperti menyeret pikirannya kembali ke waktu lalu, saat semua baik-baik saja.
...◆◇◆...
Flashback…
Gio umur 7 tahun....
"Mama, tadi seru jalan-jalan sama papa," ucap Gio dengan riang.
Perempuan cantik yang dipanggil mama itu tersenyum. Dengan lembut ia meminta anaknya mandi terlebih dulu.
"Aku ada kerjaan keluar kota sampai minggu depan, malam ini berangkat" ucap laki-laki yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Nggak bisa berangkat besok pagi aja, mas?" tanya sang istri.
"Yah mau gimana lagi, ada acara penting pagi harinya" jawab laki-laki itu memberi alasan.
"Apa aja yang perlu disiapin?"
"Baju buat seminggu aja sama hal dasar lainnya, alat mandi sama beberapa dokumen nanti aku sendiri yang siapin."
Sang istri langsung menyiapkan semuanya. Tak lama kemudian Gio muncul dengan ekspresi bingung. "Papa pergi lagi?"
Laki-laki yang dipanggil papa itu langsung menggendongnya.
"Iya, Papa ada kerjaan, cari uang biar bisa ajak jalan-jalan Gio lagi. Jangan bandel ya di rumah sama Mama."
Anak berusia 7 tahun itu mengangguk mengerti. Ia tak menanyakan apapun lagi. Laki-laki yang dipanggilnya papa itu segera pergi setelah semua yang diperlukan untuk dibawa telah disiapkan. Gio dan mamanya makan berdua saja sambil saling bercerita.
"Ma, papa aneh ya" ucap Gio tib-tiba.
"Aneh gimana?"
"Masa tadi papa tanya aku kalau misal ada mama baru, aku bakal seneng apa ngga... ," ucap Gio dengan ekspresi datar.
Perempuan yang dipanggil mama itu diam sejenak, terlihat ekspresi terkejut dari raut wajahnya.
"Papa bilang kalau aku nurut, aku bakal sering diajak jalan-jalan dan dibeliin banyak mainan."
Gio yang saat itu masih berusia 7 tahun belum memahami betul apa yang telah diucapkannya.
"Terus habis papa ngomong gitu, ada perempuan cantik yang datang. Orangnya ramah banget, Gio dibeliin banyak makanan." Gio terus melanjutkan ceritanya.
"Siapa nama perempuan itu?"
"Gio lupa."
Mama Gio diam, menahan ekspresinya. Mencoba mengatur nafasnya yang terasa berat.
"Gio nggak paham. Kenapa harus punya 2 mama? papa aneh kan?"
Perempuan yang duduk dihadapan Gio tak merespon. Gio yang merasa tak didengarkan menjadi kesal.
"Ah cerita sama mama nggak seru. Gio udah selesai makan." Gio pun langsung pergi begitu saja ke kamarnya tanpa menoleh lagi ke arah mamanya.
Perempuan itu diam mematung dengan pandangan mata kosong.
Setelah kejadian itu, semua kembali seperti sedia kala seolah tak ada apapun. Mama Gio lebih memilih bersikap seolah tak pernah mendengar cerita itu.
Meski begitu, tatapan matanya berubah. Terlihat ada luka yang dalam dari mata jernih wanita itu. Tubuhnya juga semakin kurus dari waktu ke waktu dan perasaan yang ia sembunyikan rapat-rapat mulai menggerogoti kewarasannya.
__ADS_1
Hari-hari berlalu dan perempuan itu semakin kehilangan kontrol atas dirinya. Kadang ia marah tiba-tiba, kadang ia menangis tiba-tiba dan kadang ia hanya diam membisu dalam waktu yang lama.
Saat Gio duduk di kelas 6 SD, papa Gio mengakui semua kepada istrinya bahwa diam-diam dia telah menikah lagi.
Mama Gio yang telah mengetahui itu sejak 6 tahun lalu tetap merasa tak siap mendengar hal tersebut langsung dari mulut suaminya sendiri.
Menurutnya akan lebih baik jika pembicaraan itu tak pernah terjadi, akan lebih mudah berpura-pura tak tahu dan menjalani kehidupan seperti biasa.
Keduanya hening dalam waktu lama dengan pikiran maisng-masing.
"Mas, boleh aku tanya kenapa lakuin hal itu? kalau ada yang kurang dariku kan bisa dikomunikasiin," tanya perempuan itu tanpa menatap wajah suaminya.
Laki-laki yang duduk di seberangnya diam sejenak, mencoba memilih kata yang tepat.
"Apa karena kita dijodohkan?" tanya perempuan itu lagi dengan suara parau.
"Maaf..." ucap laki-laki itu sambil menghela nafas.
"Kenapa nggak bilang dari awal? kan kamu nggak perlu terpaksa hidup dengan orang yang nggak kamu cintai," ucap perempuan itu terbata-bata.
Suaranya serak, kesabaran yang ia pertahankan selama bertahun-tahun seolah lenyap bagai buih di lautan.
Perempuan itu merasa semuanya sia-sia. Hal-hal yang mati-matian coba ia pertahankan tak berarti sama sekali di depan laki-laki yang telah menikahinya lebih dari 10 tahun.
"Saya sudah berjanji kepada orang tua mu,"
Perempuan itu semakin terisak. Perasaannya terasa berat, ia ingin mengeluarkan semua rasa sesak dalam hatinya.
"Janji? apa nggak ada sedikitpun perasaan yang tumbuh bahkan setelah ada Gio?"
Laki-laki itu diam, tak lama kemudian ponselnya diatas meja berbunyi.
Perempuan itu bisa melihat sekilas nama perempuan yang dicintai suaminya itu, Lina. Laki-laki itu tak menjawab panggilan itu. Berkali-kali ia menghela nafas panjang.
"Pergi!! jangan datang lagi!" teriak wanita itu tiba-tiba.
Gio yang baru saja membuka pintu rumah, terkejut dengan suara teriakan mamanya.
Papa Gio beranjak dari kursinya lalu mendekat ke arah Gio.
"Jagain Mama ya, papa pergi dulu," ucap laki-laki itu sambil mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
Gio masih tak bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Kedua orang tuanya tak menjelaskan apapun padanya. Mama Gio masih saja menangis bahkan setelah Gio datang.
Papa Gio hanya sesekali datang ke sekolahnya untuk memberikan uang saku.
Gio bosan dengan suasana rumah. Melihat mamanya menangis kadang membuat perasaannya tak nyaman. Sejak itulah ia mencoba melampiaskan perasaan sesaknya dengan berkelahi, minum maupun mengonsumsi ob*t terlarang.
Rasa sesak yang aneh itu bisa hilang sementara saat berkelahi atau bertemu dengan teman-temannya.
Pergaulannya semakin jauh. Banyaknya uang yang diberikan papanya mengantarkannya pada pergaulan yang salah.
Entah sudah berapa kali ia babak belur karena berkelahi bahkan nyaris dikeluarkan dari sekolah. Namun tentu saja papanya bisa menyelesaikannya dengan uang.
...◇◆◇...
Kembali dari flashback...
Matanya yang sedang terpejam mengingat kenangan lama mulai terbuka saat ia merasa ada beberapa orang mendekatinya. Gio terkejut melihat beberapa siswa laki-laki seusianya dengan seragam yang tak pernah dilihatnya sedang berdiri tak jauh darinya.
Empat laki-laki yang berdiri tak jauh dari Gio itu memberikan tatapan mengintimidasi.
“Dari sekolah mana lu?” tanya laki-laki dengan rambut potongan mohawk.
Gio merasa lega karena telah melepas seragam dan dasinya. “Gue nggak ada urusan sama kalian.”
“Kalau ditanya itu jawab bego,” ucap laki-laki dengan jaket biru tua.
Gio melihat ke sekeliling, pinggiran pantai itu tak terlalu ramai bahkan cenderung sepi. Ia mempertimbangkan banyak hal sebelum menjawab.
Laki-laki bermata onyx itu sebenarnya tak ingin memancing amarah, hanya saja ada perasaan sesak yang ingin ia keluarkan. Adrenalinnya muncul begitu ia berpikir bisa melepas rasa jenuh dalam pikirannya.
“Kenapa harus gue jawab? Gue nggak ada urusan sama kalian.”
“Wah nantangin nih? Jawab doang apa susahnya c*k? Mood gue lagi nggak enak nih. Atau jangan-jangan lu satu sekolah sama Nathan baj*ngan itu ya makanya jadi sok?”
“Sorry gue nggak kenal tuh,” jawab Gi singkat.
Laki-laki berrambut mohawk itu melepaskan seragamnya. “Anak sekolahan sekitar sini sekarang nggak ada takut-takutnya ya.”
“Pfttt, bukannya semua anak pasti takut kalau lu dateng keroyokan gini?” ucap Gio memprovokasi.
“Ah b*ngsat! Yaudah lah duel sini lu maju.”
Gio menggerakkan tangannya. Ekspresi sinisnya berhasil memancing amarah laki-laki berambut mohawk itu. Ketiga teman laki-laki lainnya hanya duduk berjongkok tak jauh dari dua pemuda yang siap baku hantam itu.
__ADS_1
Gio yang sedang ingin melampiaskan beban di hatinya pun mengerahkan seluruh tenaganya dalam perkelahian itu. Ketiga pemuda yang menonton perkelahian mulai berekspresi kaget melihat temannya dipukuli.
Laki-laki berambut mohawk itu jatuh tersungkur dengan luka lebam di wajahnya. Ketiga temannya itu langsung bangkit dan mengeroyok Gio.
Meski Gio telah memiliki pengalaman berkelahi sejak SMP dan sering menang, jika jumlah lawannya terlalu banyak tentu ia akan kewalahan.
Bughh…
Suara pukulan yang mengenai perutnya seketika membuat Gio jatuh tersungkur karena kesulitan mempertahankan kesimbangan.
Ketiga remaja berseragam itu pun langsung menendangi Gio. Dengan sigap Gio melindungi bagian kepalanya dan membiarkan punggungnnya ditendangi.
Anehnya ia tak merasakan sakit, yang terasa hanyalah rasa sesak di hatinya dan kenangan lama ketika keluarganya masih dalam keadaan baik-baik saja.
Perlahan kesadarannya menurun. Bau amis darah yang keluar dari mulut dan hidungnya membuatnya merasakan sensasi aneh.
Samar-samar Gio mendnegar suara teriakan.
“Woii! Ngapain itu?!”
Tendangan itu berhenti, Gio masih bisa mendengar derap suara lari dari remaja itu.
“Loh? Nak? Pak Jo tolong ini ada anak luka… ,” ucap seorang laki-laki tua.
Saat itu Gio berpikir bahwa itulah hari terakhirnya. Tiba-tiba ada perasaan sesal dan kilas balik kehidupannya selama ini.
‘Apa setiap orang yang sedang diujung maut selalu merasakan hal ini?’
Lambat laun Gio tak bisa mendengar lagi. Kesadarannya memudar, matanya pun menutup perlahan.
...◇◇◇...
Di sekolah…
Ruang OSIS itu ramai seperti biasa. Lilia sedang melaporkan perkembangan hasil pelatihan kepada pak Darma yang sudah mulai masuk.
Gavin dan Fani serta Andrian yang mengurus persiapan pekan olahraga juga tampak sedang berdiskusi.
Suara derap langkah lari seseorang yang mendekati ruang OSIS itu membuat Lilia berhenti berbicara. Tak lama kemudian bu Endah datang tergopoh-gopoh dengan ekspresi cemas.
“Pak… Pak Darma gawat pak.”
“Ada apa bu? Tarik nafas dulu.”
“Saya dapat telfon pak dari rumah sakit, salah satu siswa sekolah ini sedang dirawat disana pak, katanya kritis habis dipukuli,” ucap bu Endah terengah-engah.
Seketika ruang OSIS itu menjadi hening. Pak Darma langsung bangkit.
“Loh siapa bu?”
“Gio, pak,” ucap bu Endah dengan ekspresi cemas.
Gavin tampak terkejut begitupun dengan Fahmi.
“Aduh pak gimana ini? Pak Julio sedang izin sampai tiga hari kedepan. Saya ingin minta pendapatnya, namun saat saya hubungi nomornya sedang tidak aktif,” ucap bu Endah menjelaskan.
Pak Darma mencoba menenangkan bu Endah dan mencoba mengurus hal tersebut.
“Pak saya boleh ikut? Saya berteman cukup lama dengan Gio dan tinggal sedesa dengannya,” ucap Gavin membuka suara.
Pak Darma tampak bingung. “Yaudah satu orang aja ya yang ikut.”
Pak Darma dan Gavin bergegas keluar dari ruang OSIS itu sedangkan bu Endah kembali ke ruang guru.
Lilia, Fani dan anggota OSIS di ruangan itu terdiam memandang satu sama lain dengan ekspresi bingung.
“Tawuran lagi?” gumam Fani.
“Setauku Reza hari ini masuk sih dan aku sempat lihat Rion juga di kantin. Kalau tawuran biasanya banyak yang bolos?” ucap Lilia memberi pendapat.
Fani menatap Lilia dengan eskpresi serius. Ada kekhawatiran lain yang takut ia katakan namun ia memilih diam.
Lilia juga tampaknya sedang memikirkan sesuatu. Perempuan bermata coklat itu langsung bangkit dan meninggalkan ruang OSIS.
Lilia segera menuju kelas. Matanya tertuju pada bangku Reza yang kosong. Halina yang tampak sedang fokus mengerjakan PR menoleh.
“Reza pulang duluan, Halin?”
“Iya kayaknya Lil, baru aja tadi pergi bawa tas,” ucap Halina menjawab.
Lilia menghela nafas. “Oke Halin, makasih infonya.”
Lilia kembali ke tempat duduknya begitu bel tanda masuk pelajaran berbunyi. Perempuan bermata coklat itu menghela nafas berkali-kali dengan wajah cemas.
__ADS_1
...◆◇◆◇◆...