
Meeting room di salah satu hotel mewah di pusat simpang lima Semarang itu sudah dipenuhi oleh banyak orang yang memakai jas hitam.
Meski dikatakan sebagai pertemuan besar, anggota yang diizinkan datang dalam pertemuan itu hanya sekitar 17 orang. Masing-masing adalah ketua divisi maupun asisten khusus.
Tommy memasuki ruangan tersebut diikuti oleh Jun, Robert, Alex, Elena, dan Ken.
Tak lama kemudian seorang pria berumur 40 tahun masuk bersama 1 pengawal perempuan yang memakai kacamata hitam.
Semua duduk dengan ekspresi serius, hanya Ken yang tampak tidak tenang.
“Apa kabar Tommy?”
“Ya baik, semakin tua semakin matang,” jawab Tommy sambil tersenyum.
“Anak mu sudah besar ya?” ucap pria berjas abu-abu itu sambil menatap ke arah Jun.
Setelah berbasa-basi sebentar, agenda pertemuan itu dimulai. Jun menyampaikan tentang pembunuhan yang terjadi di wilayah perbatasan. Laki-laki bermata hazel itu menyampaikan semua hasil penyelidikan yang telah dilakukan.
Pria berjas abu-abu itu sesekali mengangguk namun sesekali mengerutkan dahinya saat mendengar penjelasan yang disampaikan oleh Jun.
Ekspresi pria itu tampak serius saat Jun mulai membahas tentang peredaran ob*t terlarang yang menyasar anak di bawah umur.
“Sebentar… ,” potong pria berjas abu itu.
Jun menghentikan laporannya dengan ekspresi dingin. Ia sebenarnya tidak suka jika pembicaraannya dipotong. “Ada yang ingin anda tanyakan?”
Pria berumur 40 tahun itu tertawa kecil karena untuk sejenak ia merasa terintimidasi dengan tatapan dingin Jun.
“Saya sudah membaca sebagian laporan dan mendengar semua yang sudah kamu jelaskan… Bagimanapun ini juga kelalaian Styx kan?”
“Benar… .”
“Saya mengerti.”
Hening… Pria berjas abu-abu itu tampak sedang berpikir. “Saya akan sampaikan ke pusat. Tunggulah kabar selanjutnya di lain hari.”
“Jadi pertemuan ini hanya untuk hal yang tidak bisa kami dengar langsung hasilnya?” tanya Tommy dengan ekspresi datar.
Pria berjas abu-abu itu tertawa. “Maafkan saya, tapi bagaimanapun yang mengambil keputusan kan bukan saya. Saya hanya bisa mengatakan posisi Notus dalam hal ini aman dan sanksi pasti diberikan kepada mereka yang melanggar peraturan. Untuk lebih lengkapnya tentu saja ‘beliau’ yang menyampaikan.”
Tommy tersenyum meski masih kurang puas dengan jawaban itu.
“Kalau begitu saya pergi dulu… Saya ada janji dengan salah satu kawan lama di dekat sini," ucap pria berjas abu-abu itu lagi.
Tommy mengangguk dan membiarkan laki-laki itu keluar dari ruangan bersama pengawalnya.
Tommy kembali fokus menatap semua yang hadir di ruangan itu. Mereka pun mulai pembicaraan dengan topik lainnya.
...◇◇◇...
Di tempat lain…
.
.
Gio meninggalkan café tersebut lebih cepat setelah mendengar saran dari Nino. Reza juga ikut membantu karena dipaksa.
“Ini tempat pacaran?” tanya Reza dengan suara pelan.
“Nggak tau, info yang gue dapet Zora lagi disini.”
Reza melihat ke sekeliling mencoba mencari Zora. Beberapa detik kemudian matanya menangkap dua sosok perempuan yang dikenalnya.
“Sstt, Gio sini!” ucap Reza pelan sambil menarik temannya mendekat ke arah pohon besar.
Gio menurut dan diam melihat ke arah yang sedang dilihat Reza.
“Lu ngapain sih?!” teriak Zora dengan nada tinggi.
“Kamu pacaran sama Deon?”
“Apaan sih? Kalau iya kenapa? Iri?”
“Putusin dia ra, dia itu bukan cowok baik-baik.”
“Apaan sih lu? Deket enggak, nyuruh-nyuruh, lu pikir lu siapa seenaknya nilai orang? Lu iri karena gue pacaran sama cowok populer?”
“Kalau kamu tau dia populer, kamu pasti tau juga dia itu bermasalah.”
“Gue bilang nggak usah nilai orang seenaknya!” suara Zora kembali meninggi. Ia tampak kesal dengan apa yang dikatakan teman satu sekolahannya itu.
“Tapi ra… .”
“Urusin aja hidup lu sendiri! Orang yang tumbuh di lingkungan harmonis dan di tempat baik-baik emang tau apa sih sama kehidupan orang lain? Gue paling nggak suka sama orang yang suka nilai orang lain seenaknya cuma karena rumor tanpa tau kenyatannnya!”
Zora langsung pergi begitu saja tanpa menoleh, meninggalkan perempuan berkuncir satu yang masih diam mematung di tempatnya.
“Lili… .”
__ADS_1
Mendengar suaranya dipanggil, Lilia menoleh.
“Aduh kamu ini disuruh nunggu sebentar malah kemana mana. Sebelum pulang ayo pamitan dulu ke budhe Iin,” ucap pria paruh baya itu lagi.
“Tadi Lilia lihat temen disini jadi nyapa bentar,” jawab Lilia pelan.
Lilia masih menoleh ke arah Zora pergi, ekspresi cemasnya tidak dapat disembunyikan. Ia tadi tidak sengaja melihat Zora sedang bersama dengan seorang laki-laki.
Gio dan Reza baru mengangkat wajahnya begitu dua gadis itu pergi. Kedua laki-laki itu berpandangan dengan ekspresi heran.
“Lilia ngapain disini sama ayahnya?” tanya Gio heran.
“Ya nggak tau, kok lu nanya gue? Tapi kayaknya Lilia tau sesuatu soal pacarnya Zora?”
Gio mengernyitkan keningnya. “Kok bisa tau? Gue aja nggak tau loh.”
Reza juga tampak bingung. “Lu tanya gih.”
“Kok gue? Kan yang deket sama Lilia lu?”
Reza menggaruk dahinya yang tak gatal. “Gue udah nggak sedeket dulu. Lagian Zora sepupu lu.”
Gio menghela nafas panjang. “Ya gue kan nggak akrab juga sama dia.”
Kedua laki-laki itu diam dalam waktu lama, bingung harus bagaimana.
“Yaudah balik aja lah,” ucap Gio lalu menguap.
“Terus gimana itu sepupu lu?”
“Ya gimana? Udah diomongin Lilia kayak gitu masih ngeyel.”
Reza tak mengatakan apapun lagi. Ia dan Gio pun bermaksud kembali ke café melon.
Selama perjalanan Gio masih memikirkan apa yang tadi dikatakan oleh Lilia. “Za.”
“Apa?” Reza berusaha tetap fokus mengendarai motor milik Gio itu.
“Mampir ke rumah Lilia yuk.”
“Gue salah denger?”
“Nggak, gue tetep kepikiran itu.”
Reza diam, di satu sisi ia sudah lama tidak bicara dengan Lilia. Di sisi lain ia merasa tidak enak jika temannya sedang perlu bantuannya seperti itu.
“Iya iya, tapi lu yang ngomong sendiri ya.”
“Oke.”
Tak lama kemudian keduanya tiba di gapura desa. Reza membelokan motornya menuju rumah Lilia. Ia menghela nafas berkali-kali.
“Lu pernah ke rumah Lilia?” tanya Gio penasraan.
“Pernah waktu belajar kelompok pas SMP.”
“Oh,” jawab Gio singkat.
Motor yang dinaiki kedua remaja itu berhenti di sebuah rumah dengan pekarangan yang luas.
Rumah sederhana yang tampak serasi dengan banyak bunga dan tanaman membuatnya terlihat indah. Gio yang baru pertama kali ke rumah Lilia benar-benar merasa kagum.
Mendengar ada bunyi motor yang berhenti di depan rumahnya, bu Ani keluar dari rumah itu.
Reza yang melihat bu Ani pun langsung mendekat. “Permisi bu, Lilianya ada?” tanya Reza sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Bu Ani mengernyitkan dahinya. “Oh, ini teman Lilia SMP dulu ya? Reza?”
“Benar bu,” jawab Reza pelan.
“Loh yang ini siapa?”
“Saya teman Lilia satu SMA, bu. Nama saya Gio.”
“Oh begitu, mari masuk dulu. Lilia baru saja pulang beberapa waktu yang lalu dan masih mandi sekarang.”
“Oh kami tunggu di luar aja deh bu,” ucap Gio sambil melirik ke arah bangku taman.
“Oh yasudah, kalian mau minum apa? Udah lama nggak ada temen Lili yang datang.”
“Eh nggak usah bu. Oh iya, emang Lilia habis darimana bu Takutnya saya malah ganggu istirahatnya,” ucap Reza pelan.
“Itu Lilia habis ikut Papanya nganter barang yang dipesan budhenya."
“Oh begitu.”
“Tunggu sebentar ya, saya buatkan minuman.”
Bu Ani langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkan dua pemuda yang tampak canggung itu. Reza dan Gio pun duduk di bangku taman yang ada di halaman bagian kiri.
__ADS_1
“Rumahnya adem banget ya, tenang gitu, pasti ini nunjukin pemiliknya yang juga adem,” ucap Gio sambil melihat ke sekeliling.
Reza diam, ia tampak tidak tenang. Memikirkan harus mengatakan apa saat bertemu Lilia nanti.
Sekitar 5 menit kemudian Lilia datang dengan membawa 2 gelas es teh. Tampilan gadis itu sudah rapi dan wangi. Lilia memandang dengan tatapan aneh ke kedua remaja itu.
“Makasih es nya, kebetulan haus banget,” ucap Gio lalu segera minum es itu.
Reza mematung di tempatnya, entah kenapa ia merasa malu.
“Jadi, ada perlu apa sampai ke rumah? Tumben banget,” tanya Lilia dengan ekspresi datar.
“Aku cuma nganter Gio, katanya ada yang mau ditanyain,” jawab Reza masih sambil menunduk.
Gio memandang Reza dengan ekspresi bingung. 'Ini kalau gomong sama Lilia harus pakai kata ‘aku’ ‘kamu’ kah?" ucap Gio dalam hati.
Reza mengalihkan pandangan matanya enggan melihat Gio. Ia berkali-kali mengumpat dalam hati karena merasa malu tiba-tiba muncul setelah bersikap sesukanya.
“Anu, itu.. aku mau nanya.. “
“Pakai bahasa yang biasa kamu pakai aja biar lebih enak,” ucap Lilia memotong.
Reza menahan tawanya namun tetap memandang ke arah yang lain. Gio menghela nafas panjang.
“Gue mau nanya soal pacarnya Zora.”
Lilia diam sejenak dengan ekspresi datar. “Kenapa nggak nanya sendiri ke orangnya? Kalian kan tadi juga disana kan?”
Reza dan Gio berpandangan dengan ekspresi kaget. Mereka tidak tau jika Lilia mengetahui saat Reza dan Gio sedang sembunyi.
Gio menghela nafas lagi, ia tau pasti Lilia tidak ingin ikut campur lagi apalagi Zora sudah mengatakan hal yang mungkin membuat gadis itu kesal.
“Gue sepupunya Zora. Gue tau setiap orang ada privasi masing-masing, tapi gue khawatir… Gue nggak bisa nanya langsung karena pasti Zora nggak mau jawab, tapi gue khawatir.”
Lilia diam, memandangi meja yang terbuat dari akar kayu itu, ia menghela nafas. Walau tidak ingin ikut campur, tapi ia tak bisa mengabaikan jika ada saudara yang mengkhawatirkan saudaranya.
“Deon, nama pacarnya, sekolah di SMK 2 R. Orang-orang taunya soal rumor dia yang suka ganti cewek dan terlibat pencurian… .”
“Serius? Kok lu bisa tau rumor kayak gitu?” tanya Gio heran.
“Temennya Fani yang ngasih tau, sebenernya bukan cuma itu aja… ,” ucap Lilia ragu.
“Ada lagi?”
“Salah satu temen ku yang pernah satu SMP sama dia pernah bilang, Deon lecehin guru baru yang masih muda.”
“Apa?”
Lilia memandang ke arah lain, ia merasa tak nyaman membicarakan itu. “Kejadian itu emang nggak banyak diketahui karena pihak sekolah pun nutupin dengan dalih dia masih dianggap anak dan belum tau mana bener dan mana yang salah.”
Gio mengernyitan keningnya. “Bentuk pelecehannya kayak apa?”
Reza langsung menyela karena melihat Lilia tampak tak nyaman. “Hmmm, kamu masih ada kontak temen mu itu nggak?”
Lilia menghela nafas. “Dia satu sekolahan sama kita kok, Mia.”
Reza mengangguk mengerti lalu memberi kode ke Gio agar tidak bertanya lebih jauh lagi.
“Yaudah kalau gitu kita pamit ya Lilia. Makasih ya. Gue tunggu di motor ya Za,” ucap Gio lalu menjauh.
Reza menghela nafas panjang. “Maaf tiba-tiba dateng tanpa ngasih tau lebih dulu.”
“Nggak apa-apa kok, kalau emang ada keperluan. Oh iya, selamat ya udah mulai berkarir lebih awal sebagai model.”
Reza diam, ia tak tau harus mengatakan apa. “Makasih.”
“Oh iya, kamu nggak perlu ngehindar atau sembunyi lagi kalau ada aku. Jangan terlalu mikirin reaksi ku atau bingung harus apa. Kayak biasa aja, aku yang harusnya minta maaf karena ngebebanin maksa buat temenan lagi.”
“Bukan gitu… .”
“Udah ditungguin Gio tuh,” ucap Lilia memotong sambil tersenyum.
Reza tersenyum getir lalu pamit. Ia bersyukur Lilia memotong ucapannya, karena jika tidak, mungkin ia akan mengatakan omong kosong lagi.
“Udah Za?” tanya Gio memastikan.
“Apaan yang udah?”
Gio hanya tertawa kecil lalu segera membonceng. Ia melambaikan tangan ke arah Lilia yang masih menatap dua pemuda itu.
“Kita ke rumah Mia?” tanya Reza penasasaran.
“Besok lah di sekolah, balik dulu. Bapak gue pulang, jadi sore ini gue harus udah ada di rumah,” jawab Gio dengan ekspresi serius.
Reza tak menjawab dan langsung mengendarai motor temannya itu dengan kecepatan sedang.
Semua diam dengan pikirannya masing-masing. Tidak ada satupun yang tahu akan ada kejadian yang mungkin akan membuat mereka menyalahkan diri mereka sendiri.
...◆◇◆◇◆...
__ADS_1