Blue Scandal

Blue Scandal
54 - Nina itu Siapa?


__ADS_3

Setelah Gavin selesai dengan presentasi essaynya, ia dan Julio segera keluar dari gedung bercat abu-abu itu. Lilia dan Fani sudah menunggu di halaman depan sambil minum es jeruk dan makan jajan.


“Kalian beli minuman sama makanan dimana?” tanya Gavin bingung.


“Di kantin fakultas teknik situ,” jawab Fani sambil menunjuk ke arah timur bangunan itu.


Julio mengernyitkan keningnya. “Kalian jalan-jalan kesana?”


“Tadi ada salah satu pegawai universitas yang menabrak Lilia, lalu beliau meminta maaf dan membelikan kami minuman.”


Julio mengangguk mengerti, ia tidak bertanya lebih lanjut tentang kejadian itu. “Jadi kalian mau jalan-jalan kemana?”


“Ke pantai,” jawab Fani bersemangat.


“Kalian bawa motor sendiri?”


“Iya pak.”


“Hahh, kalau begitu titipkan motornya disini dulu, kita pakai mobil saja.”


“Pak Julio bawa mobil?” tanya Gavin penasaran.


“Ya, ayo.”


Lilia, Fani dan Gavin mengikuti Julio yang menuju parkiran mobil. Keempat orang itupun meninggalkan kampus itu menuju pantai yang terletak agak jauh dari tempat itu.


“Kita harus kembali sebelum jam 5 oke? Kalian kan pulang dengan motor,” ucap Julio mengingatkan.


“Yahh, nggak bisa lihat sunset dong pak?” ucap Fani kecewa.


“Kalau kalian tidak membawa motor tentu saja tidak apa-apa, tapi perjalanan pulang dengan motor kan jauh, nanti kalian terlalu malam sampai rumah.”


Gavin tidak berkomentar, ia setuju dengan pendapat Julio. Ia juga tidak ingin teman-teman perempuannya terlalu lama berada di jalanan saat malam. Lilia juga tidak berkomentar terhadap obrolanan itu.


Setelah 20 menit perjalanan, mobil berwarna hitam itu sampai di sebuah pantai berpasir putih. Keempat orang itupun langsung turun.


“Wah, bagus banget,” ucap Fani takjub.


Gavin mengambil beberapa foto dengan ponsel pintar miliknya. Kedua teman Lilia itu berlarian di pasir putih yang cantik itu.


Lilia berjalan pelan diikuti Julio menyusuri pasir putih yang hangat itu. Mata coklat gadis itu menatap laut lalu memejamkan mata merasakan terpaan angin laut mengenai tubuhnya.


“Kamu tidak ikut Fani dan Gavin kesana?” tanya Julio.


Lilia membuka matanya perlahan lalu melihat ke arah Julio yang sejak tadi berjalan di sampingnya. “Tidak… .”


“Bagaimana kabar mu? Saya dengar kamu akhir-akhir ini menjadi pendiam?”

__ADS_1


Lilia menatap ujung sepatu yang dipakainya. “Saya memang sedang butuh ketenangan… .”


“Jangan menyalahkan dirimu sendiri atas sesuatu yang terjadi pada orang lain,” ucap Julio pelan.


Lilia memandang ke arah yang jauh. “Lalu saya harus menyalahkan siapa?”


Julio menatap Lilia dengan ekspresi kaget, ia baru menyadari ekspresi gadis itu tampak tidak seceria sebelumnya. “Jangan menyalahkan siapapun. Sesuatu yang sudah terjadi mungkin memang sudah seharusnya terjadi, itu bukan karena kamu, bukan karena siapapun.”


Lilia diam lalu menghela nafas panjang. “Ya, saya akan coba memahami itu.”


Lilia melanjutkan langkahnya begitu juga dengan Julio. Keduanya menyusuri bibir pantai berlawanan arah dengan Fani dan Gavin.


“Ehmm pak, ada yang ingin saya tanyakan.”


“Ya?”


“Apa anda kenal pria bernama Jerry Andara?”


Mendengar pertanyaan itu, wajah Julio menjadi pucat. Ia tampak terkejut dengan apa yang ditanyakan Lilia.


“Kamu bertemu dimana dengan laki-laki itu?”


Melihat reaksi Julio yang tidak wajar, ia merasa ada sesuatu yang aneh yang mungkin berhubungan dengan seorang perempuan bernama ‘Nina’.


“Anda mengenalnya? Itu orang yang mengantar saya dan Fani ke kantin fakultas teknik.”


“Pak? Anda kenapa?” tanya Lilia bingung.


Julio diam dengan ekspresi anehnya. “Tidak apa-apa… .”


“Anda belum menjawab pertanyaan saya, tapi sepertinya pak Julio mengenal nama itu ya?”


Julio diam mematung di tempatnya dengan ekspresi orang yang tampak frustasi.


“Pak?”


“Ah, maafkan saya, kita kembali sekarang.”


“Anda kenapa sih? Setidaknya beritahu saya ada apa.”


Julio memijat dahinya, tiba-tiba kepalanya terasa sakit. “Maafkan saya, tapi saya akan jelaskan nanti.”


Lilia memandang Julio dengan ekspresi heran. “Apa ini ada hubungannya dengan perempuan bernama Nina?”


Julio melihat Lilia dengan ekspresi terkejut. Wajahnya semakin memucat mendengar nama itu.


“Sebenarnya Nina itu siapa?” tanya Lilia lagi.

__ADS_1


“Apa orang itu mengatakan sesuatu?” tanya Julio dengan ekspresi cemas, pkirannya menjadi kacau.


'Jika Jerry sudah mengetahui keberadaan gadis ini, pasti ia akan mencari tahu. Sebaiknya aku menyuruh mereka semua segera pulang, ' gumam Julio dalam hati.


“Lagi-lagi anda tidak menjawab pertanyaan saya.” Lilia berbalik menjauh dari Julio dengan ekspresi kesal. Ia tidak menoleh lagi meski Julio memanggilnya.


Gadis bermata coklat itu langsung kembali ke mobil tanpa menoleh lagi. Fani dan Gavin terlihat bingung saat melihat Lilia kembali lebih dulu ke arah mobil.


Tidak lama kemudian Julio mendekat ke arah mereka berdua. “Fani, Gavin, kita kembali sekarang.”


“Eh? Kenapa pak?”


“Saya ada urusan, jadi saya harus segera kembali sekarang,” jawab Julio beralasan.


Fani dan Gavin berpandangan dengan ekspresi heran. Keduanya tidak pernah melihat guru muda itu berekspresi seperti itu. Ketiga orang tersebut kembali ke mobil hitam itu. Lilia sudah duduk dengan mata terpejam sambil memakai earphone. Hal tersebut membuat Fani dan Gavin bingung.


“Pak, Lilia kenapa?” tanya Fani penasaran.


“Apa karena kita harus kembali lebih awal?” tanya Gavin.


“Ehmm ya kira-kira seperti itu. Oh iya, kalian saya antar langsung saja ya?” ucap Julio pelan.


“Loh lalu motor kami bagaimana?” tanya Gavin bingung.


“Motor mu dan Fani akan diantar oleh teman saya, apa kalian bisa memberikan kuncinya?” ucap Julio dengan ekspresi serius.


Fani dan Gavin masih heran dengan sikap gurunya yang tiba-tiba aneh itu. Namun mereka mempercayai guru muda itu lalu memberikan kunci motornya.


Lilia tetap diam dengan mata terpejam meski ia tidak sedang tidur. Ia merasa marah karena Julio tidak menjelaskan apapun padanya. Padahal ekspresi guru muda itu sampai terlihat begitu khawatir, tapi ia sama sekali tidak memberitahu Lilia apa yang membuatnya khawatir.


‘Siapa Nina?’ gumam Lilia dalam hati.


“Apa saya boleh minta tolong kepada kalian?” ucap Julio tiba-tiba.


“Kalau kami bisa tentu kami akan menolong,” jawab Gavin cepat.


“Betul,” sahut Fani yang setuju dengan ucapan Gavin.


“Tolong kalian jaga Lilia, jangan sekalipun meninggalkan ia sendirian,” ucap Julio pelan. Ia berharap Lilia tetap tidur dan tidak mendengarkan apapun yang dikatakannya. Ya, meski sebenarnya gadis itu tidak sedang tidur. Tentu saja ia mendengar semua pembicaraan yang sejak tadi diucapkan Julio.


Fani mengangguk. “Kami akan menjaga Lilia kok, memangnya kenapa pak Julio meminta begitu?”


“Ehmmm, itu karena saya ingin kalian lebih memperhatikan teman kalian yang sepertinya masih syok sejak kejadian Zora."


Gavin dan Fani menganggguk mengerti. Keduanya tidak bertanya apapun lagi dan membiarkan guru muda itu fokus ke jalan raya.


...◆◇◆◇◆...

__ADS_1


__ADS_2