Blue Scandal

Blue Scandal
23 - Bukan hukuman


__ADS_3

Pagi itu Julio tetap hadir ke sekolah meski sebenarnya ia sudah izin selama beberapa hari. Wajahnya sudah kembali segar setelah beristirahat dan mengonsumsi makanan yang cukup.


“Wah pak Julio nggak jadi izin?” tanya pak Bili sambil tertawa.


Julio geleng-geleng kepala. “Baru saja ditinggal sebentar saja sudah begini pak.”


“Loh ceritanya itu gimana tah pak? Terus Gio nya gimana sekarang? Katanya ada siswa yang sempat ditahan polisi di kota T pak?”


“Duh pak Bili ini tanyanya satu-satu lah,” ucap pak Damar menyela.


Guru lainnya tampak menunggu jawaban Julio namun tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi.


Julio hanya tertawa kecil melihat ekspresi guru lainnya yang tampak kecewa karena belum mendengar penjelasan tentang kejadian yang menimpa salah siswanya.


“Maaf pak, bu, nanti yang dikelasnya ada siswa bernama Reza, Rion, Reno, Farhan, Dion, Angga, Rozi dan Alan setelah pelajaran jam kesatu selesai, tolong minta mereka ke ruang BK,” ucap Julio memberi pesan kepada semua guru itu.


Semuanya mengangguk mengerti dan memberi acungan jempol.


Sebagian besar guru pun pergi untuk mengajar di kelas masing-masing, hanya tinggal 4 guru saja di ruangan itu.


“Jadi gimana pak, Gio sekarang?” tanya pak Bili mengulang pertanyaannya.


“Saya dapat kabar dari orang tuanya, Gio sudah sadar sejak semalam, nanti saya berencana kesana.”


“Terus katanya yang siswa ditahan p*lisi itu gimana pak?”


Julio menghela nafas. “Yang saya dengar dari p*lisi disana, teman-teman Gio ini balas dendam dan memukuli siswa yang memukuli Gio, pak, tapi saya belum dengar langsung dari mereka. Nanti baru mau saya tanyakan,” ucap Julio menjelaskan.


Pak Bili mengangguk mengerti.


“Tapi mereka nggak ditahan p*lisi, pak?” tanya pak Darma penasaran.


“Ah iya, saya juga tidak tau kenapa begitu, mungkin karena salah satu keluarga siswa itu yang mengurus di belakang… ,” ucap Julio ragu.


“Oh? Di antara siswa itu ada Rion dan Reza kan, pak?”


Julio tampak bingung, lebih tepatnya berpura-pura bingung. “Iya sih pak… .”


“Oalah yo pantes pak. Anda sudah pernah ketemu bapaknya Rion kan?”


Julio mengangguk. “Iya, tapi memangnya boleh begitu, pak?”


“Lho anda ini jangan terlalu polos, pak. Banyak oknum p*lisi yang memang bisa menyelesaikan segala ‘permasalahan’ keluarganya hahaha. Bapaknya Rion kan kadiv pr*pam p*lres di kota S, pak,” jawab pak Bili sambil tertawa.


“Saya ndak ikut-ikut loh ya,” ucap pak Darma dengan ekspresi takut sedangkan Julio hanya geleng-geleng kepala. 


Julio menuju mesin fotocopy untuk mencetak soal ulangan tengah semester yang akan diselenggarakan minggu depan.


“Loh pak Julio sudah selesai membuat soal untuk UTS?” tanya pak Bili lagi.


“Iya pak sudah,” jawab Julio sambil tersenyum ramah.


‘ya walau bukan saya yang bikin soal sih hehe’ ucap Julio dalam hati.


“Wah anda ini padahal kelihatannya sangat sibuk tapi malah sudah siap duluan. Saya saja belum pak,” ucap pak Bili sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Julio hanya tersenyum, ia enggan menanggapi karena nanti pasti percakapan itu menjadi semakin panjang.


Setelah selesai mencetak soal ulangan, Julio pun kembali ke tempat duduknya dan fokus kembali dengan laptopnya.


...◇◇◇...


Di kelas…


Reza hampir terlambat masuk kelas, tepat saat bel berbunyi ia baru tiba di kelas. Melihat Lilia duduk di tempatnya dengan ekspresi serius, Reza mengalihkan pandangannya.


Reza meletakkan tasnya lalu duduk di tempatnya sambil memandangi Lilia yang tetap fokus menghadap depan.


Halina yang melihat interaksi Lilia dan Reza hanya diam mengamati tanpa bertanya.


Melihat Reza yang kadang tampak sangat dekat dengan Lilia membuat Halina memikirkan banyak hal. Apalagi waktu itu Lilia sempat menyuruhnya kembali lebih dulu karena ingin berbicara dengan Reza. Namun kali ini interaksi keduanya terlihat berjarak.


Tak lama kemudian guru datang.


“Reza, setelah pelajaran ini selesai kamu disuruh ke ruang BK,” ucap bu Sri dengan ekspresi serius.


“Siap, bu,” ucap Reza dengan ekspresi santai.


Pelajaran berlangsung seperti biasa. Di akhir pertemuan, bu Sri memberikan kisi-kisi untuk ulangan tengah semester yang akan diadakan minggu depan.


Usai pelajaran, reza langsung bangkit menuju ruang BK. Begitu Reza pergi, Lilia meletakkan plester luka di laci mejanya.

__ADS_1


Halina tidak mengetahui itu karena sedang fokus membaca buku pelajaran untuk jam berikutnya.


...◇◇◇...


Di ruang BK…


Saat Julio memasuki ruang BK, 8 siswa yang diminta datang sudah berdiri di ruangan itu.


Julio duduk lalu mengabsen wajah siswa itu satu persatu. Ia menghela nafas. “Kalian tau kenapa dipanggil kesini?”


“Soal kemarin kan pak?” tebak Rion sambil tertawa kecil.


“Ya benar, sepertinya tidak ada rasa bersalah ya kalian ini?”


“Kenapa ngerasa bersalah pak? Yang mulai duluankan mereka, temen kita dipukuli,” ucap Reno bersungut.


“Nah, coba ceritakan kronologinya,” pinta Julio dengan ekspresi datar.


“Saya dapat info Gio dipukuli pak,” jawab Gio cepat.


“Lalu darimana kamu tau kalau siswa SMK itu yang memukuli Gio?”


“Yang menolong Gio sempat memotret saat mereka kabur pak,” jawab Reno.


Julio mengernyitkan dahinya. “Darimana kalian tau orang yang menolong Gio?”


Semua siswa itu diam tak ada yang membuka suara. Julio tampak berpikir. “Wah, pertemanan kalian ini memang patut diapresiasi ya? Apa karena tidak ingin melibatkan siswa berprestasi?”


Ekspresi Reza tampak berubah, ia bisa menebak Julio sudah mengetahui orang yang membocorkan informasi terkait Gio yang dipukuli.


“Yah saya tidak ingin membicarakan pemukulan yang kalian lakukan karena bahkan pihak kep*lisian tidak mempermasalahkan itu… ,” ucap Julio menggantungkan kalimat yang diucapkannya.


Rion tampak tetap tenang meski tahu Julio bermaksud menyindirnya.


“Saya akan memberikan hukuman karena kalian pulang saat jam sekolah belum berakhir. Ada beberapa siswa yang sudah membolos 3 kali bulan ini. Kalian tau kan jika membolos tiga kali dalam satu bulan kan mendapat hukuman?”


Beberapa siswa itu tampak cemas. “Tau pak.”


“Nah saya ingin memberikan kalian keringanan. Saya ingin memberikan hukuman sebagai ganti pemanggilan orang tua.”


Sebaagian siswa itu tampak lega. “Hukuman apa pak?”


“Ikuti kegiatan ekstrakulikuler selama satu bulan,” ucap Julio sambil memainkan pensil dengan tangannya.


“Itu pak hukumannya?” tanya Reno penasaran.


“Ya,” jawab Julio singkat.


“Itu bukan hukuman,” ucap Rion dengan ekspresi tak senang.


“Ya pada umumnya itu bukan hukuman, tapi untuk kalian itu hukuman. Kalian tidak suka kan kegiatan semacam itu? Bukankah menyuruh kalian mengikuti kegiatan yang tidak disukai itu sama saja hukuman?”


Sebagian siswa itu tampak lega namun sebagian siswa lainnya tampak kesal dengan apa yang dikatakan Julio.


“Silahkan isi form ini, kalian dapat memilih hukuman atau pemanggilan orang tua, oh yang belum bolos tiga kali tidak perlu mengisi,” ucap Julio menjelaskan sambil menyodorkan lembaran kertas itu.


“Yang sudah mengisi formnya sudah bisa kembali ke kelas,” ucap Julio menambahkan.


Setelah beberapa menit, Reza masih diam sambil memegangi selembar kertas itu. 7 siswa lainnya sudah kembali lebih dulu.


“Kenapa Reza?”


“Apa tidak ada hukuman lain?”


“Tentu saja tidak.”


Reza menatap tajam ke arah Julio. Namun guru muda itu malah tertawa.


“Kamu ini siswa, jangan melihat guru mu dengan ekspresi seperti itu, kan saya jadi takut,” ucap Julio bercanda.


“Bagaimana keadaan Gio?”


“Saya dapat info dia sudah sadar tadi malam. Siang nanti saya berencana kesana.”


Reza diam, sebenarnya ia sangat malas jika harus berbicara banyak dengan guru yang menurutnya mencurigakan itu.


“Boleh saya tanya?”


“Tanya apa?”


“Anda kenapa memilih mengajar disini?”

__ADS_1


Julio tidak terlalu terkejut mendengar pertanyaan itu karena sebelumnya kakeknya Reza sudah pernah menyampaikan pembicaraan dengan cucunya itu.


“Ya, ada banyak hal alasan saya memilih mengajar disini. Kenapa Reza ingin tahu hal itu?”


“Karena anda mencurigakan,” jawab Reza singkat.


Julio mengernyitkan dahinya. “Mencurigakan?”


Reza diam dalam waktu yang lama. Julio mengambil botol minuman karena merasa haus menunggu Reza yang tak kunjung bicara.


“Cara anda menatap Lilia mencurigakan… .”


“Uhukk… hghh.” Julio yang sedang minum langsung tersedak mendengar perkataan Reza. Ia sama sekali tak menyangka akan mendengar perkataan semacam itu.


“Hahh, apa itu sebabnya kamu mengatakan hal aneh waktu itu? Pfttt.” Julio tertawa.


Reza tampak kesal dengan respon Julio. “Seharusnya saya foto ya waktu anda melihat ke arah Lilia dan saat melihat siswa lainnya.”


Julio memutar otaknya mencoba mencari alasan yang tepat, namun kali ini ia tak menemukan solusi untuk menghadapi situasi ini.


“Saya tidak mengerti apa yang kamu maksud, saya memperlakukan semua siswa dengan perlakuan yang sama,” ucap Julio mencoba menyangkal.


Reza masih menatap Julio dengan ekspresi tak senang. “Jawaban anda berbelit-belit. Sepertinya mau bagaimanapun saya bertanya, anda akan tetap menyangkal. Kalau begitu biar saya ingatkan satu hal ini, Lilia murid anda, jangan melakukan hal melebihi tugas anda sebagai pengajar.”


“Reza sepertinya kamu berpikir terlalu jauh... .”


“Orang lain mungkin bisa anda tipu, tapi orang sudah memperhatikan Lilia sejak lama pasti bisa menyadari tindakan anda. Sebaiknya anda hati-hati agar tidak ada rumor buruk.”


“Reza, saya tau kamu menyukai Lilia dan dekat dengannya tapi menuduh guru mu seperti ini bukankah keterlaluan?”


Reza menghela nafas. “Terserah pak Julio ingin menyangkal pun, saya hanya mengingatkan. Satu lagi jangan makan berdua dengan murid anda… ."


Julio diam, ia tau hal yang dimaksud oleh Reza. Laki-laki bermata coklat terang itu tampak terkejut karena hal tersebut dipermasalahkan oleh Reza.


“Saya tidak tau kamu dapat informasi hal itu darimana, tapi saya membelikan makan untuk Lilia sebagai ucapan terimakasih karena dia sudah mau mendampingi persiapan lomba cerdas cermat. Saat itu juga ada bu Sri di tempat itu…”


Reza diam sejenak. “Ya sebisa mungkin jangan menciptakan keadaan yang membuat siswa lain salah paham lah pak. Kalau ada yang menyebarkan rumor bagaimana?”


Julio diam, ia tampak terkejut dengan perkataan Reza yang beruntun.


“Maafkan saya jika itu membuat orang lain menjadi berpikir kemana-mana. Terimakasih sudah mengingatkan saya, Reza,” ucap julio menyudahi perdebatan itu.


Reza meletakkan kertas yang sudah diisi itu kemudian langsung pergi dari ruang BK itu.


Julio masih duduk di tempatnya, memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Ia tak menyangka jika selama ini ada yang memperhatikan perilakunya.


‘Apa memang aku terlalu memperhatikan Lilia karena ia sangat mirip dengan Nina?’ ucap Julio dalam hati.


Julio juga teringat peringatan ayahnya kemarin. Ia tau Lilia bukanlah Nina, tapi hanya dengan melihat gadis itu, perasaan rindunya kepada Nina bisa sedikit terobati.


Meski begitu, Julio membenarkan ucapan Reza. Jika sampai ada rumor buruk yang muncul karena dirinya, bukan hanya tugasnya yang gagal, tapi kehidupan gadis itu mungkin bisa menjadi buruk.


Julio menghela nafas berkali-kali lalu bangkit dari tempat duduknya setelah membereskan form yang sudah diisi oleh 8 siswa itu.


...◇◇◇...


Reza kembali ke tempat duduknya usai selesai dari ruang BK, ia melihat pletser luka di laci mejanya. Laki-laki bermata hitam itu tersenyum. Ia tau siapa yang memberikan itu.


Usai jam pelajaran selesai dan masuk waktu istirahat, seorang perempuan berkacamata mendatangi kelas Lilia dan menyampaikan bahwa Lilia diminta menghadap Julio di ruang BK.


Reza menghela nafas panjang dengan ekspresi tak senang sedangkan Halina hanya pasrah meski kecewa karena tidak bisa makan bertiga lagi.


Rasa curiga Reza kepada Julio semakin membesar karena ia berulang kali melihat tatapan mata Julio saat melihat Lilia tampak lain.


Hanya saja tidak mungkin ia memberitahukan hal tersebut langsung kepada Lilia karena pasti gadis bermata coklat itu tak menyadarinya.


Reza berusaha memikirkan berbagai cara, namun tak menemukan solusi yang tepat.


Sejak perkelahian yang dilakukannya beberapa waktu lalu, Reza sudah bertekad untuk tidak mendekati Lilia karena sadar diri bahwa ia bukanlah orang yang pantas ada di dekat gadis bermata coklat itu.


Perilakunya bisa membawa dampak buruk jika banyak yang mengetahui ia berteman dengan perempuan berprestasi satu sekolahan itu.


Laki-laki bermata hitam itu menghela nafas panjang berkali-kali karena tak menemukan solusi yang tepat agar Lilia bisa menjaga jarak dengan Julio.


 


...◆◇◆◇◆...


Bonus pict...


__ADS_1


Char : Reza ☆


__ADS_2