
Jun membuka matanya tiba-tiba karena terkejut. Ia sudah berada di kamarnya. Laki-laki bermata hazel itu melihat ke arah jam digital diatas meja di samping tempat tidurnya.
Setelah menghela nafas panjang, Jun bangun dari ranjangnya. Ia keluar dari kamar itu untuk memeriksa keadaan. Hening… sepertinya semua orang masih tidur.
Jun menuju dapur di lantai 3 lalu mengambil gelas, es batu dan satu botol minuman dari tempat penyimpanan. Ia pun kembali ke kamarnya namun tetap tak menyalakan lampu di ruangan itu.
Lak-laki bermata hazel itu membuka pintu beranda kamarnya. Membiarkan cahaya bulan masuk ke dalam kamarnya yang gelap.
Jun duduk di beranda, meresapi hening dan dinginnya pagi. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 04.17.
Bunyi gemercik air yang dituang dari botol ke gelas yang berisi es batu kecil itu terdengar lebih keras karena suasana yang hening di pagi buta itu.
Jun menghela nafas, ia perlahan menyesap minuman di gelasnya. Akhir-akhir ini ia menyadari jarang beristirahat karena banyak hal yang harus dikerjakan.
Tiba-tiba laki-laki bermata hazel itu teringat Lilia yang saat itu memperlihatkan sisi lain yang tidak ia tau sebelumnya. Jun tersenyum namun selang beberapa detik ekspresinya berubah lagi. Ia tiba-tiba teringat Nina.
‘Hei, kalau kamu masih ada, kamu pasti senang mengetahui kalau kamu punya adik… ,' ucap Jun dalam hati.
Jun menghela nafas panjang. Udara segar pagi itu seperti memnuhi paru-parunya yang terasa sesak. Mata hazelnya melihat ke arah langit yang masih gelap. Bintang yang bersinar terang di kegelapaan itu selalu mengingatkannya pada Nina.
Beberapa saat kemudian ia teringat tentang foto yang ia lihat sesaat sebelum pingsan. Jun kembali masuk kedalam kamarnya lalu menyalakan lampu.
Mata laki-laki itu melihat ke beberapa tempat seperti sedang mencari sesuatu. Map warna hitam yang diletakkan di bagian atas lemari pendek menarik perhatiannya.
Jun mendekat, ada sebuah catatan lain beserta obat diatas map tersebut. Laki-laki itu membaca catatan dengan tulisan yang ia kenali.
“Istirahat yang cukup? Mana mungkin… ,” gumam Jun lalu meletakkan kertas itu lagi. Ia hanya membawa map hitam yang sedari tadi dicarinya.
Jun mengeluarkan foto yang sebelumnya menarik perhatiannya. Ia ingin memastikan sesuatu. Perempuan dalam foto itu memang tampak berbeda. Namun Jun pernah sekali melihat penampilan perempuan itu. Ia membuka ponselnya, mengetikkan nama sebuah brand fashion yang terkenal di Jawa Timur itu.
Dahi Jun berkerut, perempuan yang ada pada foto yang dipegangnya sama dengan model itu.
Melihat wajah Reza yang juga terdapat dalam akun Instagram itu membuat Jun berpikir lama. Ia baru ingat Lilia kemarin sempat bercerita jika Reza memang menjadi model.
“Apa hubungannya Reza dengan Halina dan anaknya Andra?” gumam Jun pelan.
Kepalanya tiba-tiba terasa sakit lagi. Jun pun menutup ponsel dan mengembalikan foto itu. Ia berusaha untuk tidak berpikir terlalu berat.
“Apa hari ini aku kurang olahraga ya?” gumam Jun lagi sambil mencoba mengingat apa saja yang dilakukannya minggu ini.
Laki-laki bermata hazel itu menghela nafas. Ia memang lupa jika sudah lama tidak olahraga karena harus mengurus banyak hal.
Jun bangkit dari tempat duduknya. Ia berganti pakaian dengan baju yang nyaman digunakan untuk olahraga. Mata laki-laki itu melihat ke arah jam digital di atas meja. Waktu menunjukkan pukul 05.00.
Jun keluar dari kamarnya lalu mengunci pintu. Ia langsung menuju lantai dasar rumah itu.
Kos mewah itu menyediakan arena olahraga seperti gym di bagian belakang kos. Ada juga kolam renang dan gazebo kecil untuk bersantai.
Jun membuka ruangan itu lalu menyalakan lampu. Ia mulai melakukan pemanasan dan melatih pernafasannya. Setelah itu ia melakukan beberapa kali pull up, push up, plank, dan side plank secara berurutan.
__ADS_1
Jun berhenti sejenak karena merasa kelelahan. Ia menyesal melewatkan jadwal olahraga rutinnya.
Tak lama kemudian Elena masuk ruangan itu dengan pakaian olahraga yang biasa ia kenakan.
“Loh, lu udah disini ternyata, gue kira belum bangun. Dari tadi?”
Jun melihat ke arah jam yang ada di dinding. “Dari sekitar jam 5. Gue lama nggak olahraga.”
Elena tertawa, ia mulai melakukan pemanasan.
“Lu tetep rutin olahraga jam segini Len?” tanya Jun penasaran.
“Iya, soalnya gue banyak duduk dan di depan komputer. Kalau nggak diimbangin sama olahraga ntar gue cepet pegel-pegel.”
Jun hanya tersenyum. Ia kagum dengan konsistensi yang dilakukan Elena.
Jun lanjut menangkat beban ringan terlebih dulu. Secara bertahap Jun melatih semua bagian tubuhnya.
Tak lama kemudian Ken datang dan bermaksud berolahraga juga.
“Wah udah pada duluin,” ucap Ken yang baru saja memasuki ruang olahraga itu.
“Tumben lu mau olahraga?” tanya Elena dengan ekspresi mengejek.
“Gue akhir-akhir ini rajin olahraga kok,” jawab Ken dengan ekspresi kesal.
Elena melihat ke arah jam di dinding. 3 jam lagi mereka harus sudah berada di rumah ‘Ayah’.
“Pak Jojo bilang lu harus cukup istirahat Jun. Lu sehari tidur berapa jam sih akhir-akhir ini sampai pingsan kelelahan?”
“Mana bisa tidur cukup, lu kan tau kerjaan gue dobel… Selama dua minggu ini gue paling banyak tidur 3 jam, sampai jadwal olahraga gue aja berantakan.”
Elena menghela nafas panjang. “Kan ayah udah bilang jangan terlalu serius berperan jadi guru.”
Jun diam, ia enggan menanggapi pernyataan Elena dan malah mengalihkan pembicaraan.
“Yang gue minta tadi malem udah lu cari?”
“Gue semalem sempet nyari sebentar tapi belum lengkap, dia itu siswa di sekolah tempat lu kerja kan?”
“Iya.”
“Tuh cewek anaknya salah satu petinggi di Jawa Timur. SMP nya dulu dia di sekolah Internasional.”
Jun diam, sama perti Elena yang juga bertanya-tanya kenapa anak dengan latar belakang kaya raya itu bersekolah di sekolah yang jauh berbeda standar kekayaannya.
“Lu masuk kesana bukan sejak 2017 kan?” tanya Elena memastikan.
“Nggak, gue kan baru beberapa bulan di sekolah itu Len.”
__ADS_1
“Kok aneh ya?”
Jun diam, memikirkan berbagai kemungkinan, sama seperti Elena. Pria bermata hazel itu ingat Lilia dekat dengan gadis itu.
“Tuh cewek nggak aneh-aneh kan di sekolah?” tanya Elena curiga.
“Biasa aja sih, dia nggak sepopuler beberapa siswa perempuan lainnya, dia juga penampilannya beda dari foto lu kasih.”
Elena mengernyitkan keningnya. “Yaudah ntar gue cari tau lagi deh.”
Ken yang tidak mengerti pembicaraan itu hanya bisa diam dan fokus melakukan plank.
“Gue duluan ya,” ucap Jun sambil melambaikan tangan dan meninggalkan ruangan olahraga itu.
Elena dan Ken masih melanjutkan kegiatannya masing-masing.
“Cewek yang lu maksud itu yang ada di foto semalem?”
“Iya, lu tau?”
“Tau lah, dia terkenal banget di kota T.”
“Hah? Serius lu?”
“Beneran, tapi lu bilang tuh cewek sekolah di tempat Jun ngajar? Bercanda lu? Bukan ngeremehin ya, tapi sekolah itu kayaknya nggak sesuatu standar orang kaya deh.”
Elena melepaskan tangannya dari salah satu alat olahraga itu. Ia mengelap keringatnya. “Kalau udah balik ke kota T, bantu cari tau ya.”
“Oke, hadiahnya kencan ya?”
“Mau gue pukul?”
“Bercanda doang. Galak amat sih syster,” ucap Ken cemberut.
Elena enggan menanggapi dan segera pergi dari ruangan itu. Tak lama kemudian anak kos lain datang ke ruang itu.
“Loh ada mas Ichi,” ucap pemuda berkaos abu.
“Oh hai, kalian baru mau olahraga?”
“Iya mas, mas Ichi sendiri udah disini dari tadi?” tanya pemuda berbaju hitam.
“Iya, ini udah mau selesai.”
Ketiga orang itu pun mengobrol selama beberapa menit.
Jun, Elena dan Ken memang memiliki banyak nama lain agar tetap aman beraktivitas dimanapun. Tak hanya mereka bertiga, semua angggota ‘family’ memiliki lebih dari satu identitas.
...◆◇◆◇◆...
__ADS_1