
Setelah lomba cerdas cermat itu, kegiatan kembali seperti semula. Julio juga berusaha untuk tidak berinteraksi terlalu banyak dengan Lilia setelah mengetahui bahwa Reza mencurigainya terus menerus.
Lilia fokus dengan tugas OSIS nya dan persiapan ulangan tengah semester. Meski sempat murung selama beberapa waktu, sekarang ia terlihat telah kembali bersemangat.
Saat harus berinteraksi dengan Reza, Lilia juga tetap seperti biasa dan tidak menunjukkan ekspresi kesal maupun ekspresi orang yang sedang senang.
Semua yang terlihat normal, namun tidak untuk Halina. Melihat interaksi Lilia dan Reza yang tak terlihat sedekat sebelumnya membuat gadis berambut sepunggung itu merasa bingung.
Meski begitu, Halina tidak menanyakan apapun pada Lilia. Ia tidak ingin ikut campur urusan pribadi temannya jika Lilia sendiri tidak mengatakannya langsung kepadanya.
Saat sedang makan siang bersama di kantin, Gavin dan Fahmi tiba-tiba ikut duduk mengitari meja yang sama.
“Gabung ya, biar kursi lainnya dipakai siswa lain,” ucap Fahmi yang sudah membawa satu mangkuk bakso.
“Tumben amat, Mia mana?” tanya Fani sambil tersenyum meledek.
Gavin tertawa. “Jangan ditanyain.”
Fahmi hanya tertawa kecil mendengar ucapan Gavin. Ia pun mulai fokus memakan baksonya.
“Oh hai? Kamu Halina ya?” sapa Gavin.
“Iya, pak ketua, aku figuran disini,” ucap Halina mencoba bercanda.
Gavin tertawa. “Maaf ya baru sempat nyapa.”
“Santai kak.”
“Kita seumuran loh, jangan manggil Gavin pake kata ‘kak’. Oh iya kenalin, gue Fahmi, cowok paling tampan di OSIS,” ucap Fahmi sambil tersenyum.
“Inget ayang, Fahmi. Gue bilangin Mia loh,” ucap Lilia sambil tertawa.
“Kenalan doang… ,” ucap Fahmi cemberut.
“Halo Fahmi, salam kenal aku Halina. Eh kayaknya dulu waktu kelas 1 kita pernah sekelas deh,” ucap Halina sambil berpikir.
Fahmi mengernyitkan keningnya. Ia mencoba mengingat namun tak berhasil mengingat. “Iyakah? Waduh ingatan gue jelek banget, maaf.”
Semua yang ada disana tertawa. Kelima orang tersebut pun lanjut mengobrol hingga jam istirahat habis.
...◇◇◇...
Sabtu, sepulang sekolah…
.
.
Seperti yang dijanjikan oleh Iansa. Hari Sabtu sepulang sekolah Reza dibawa ke kota T untuk bertemu dengan kenalan neneknya.
Teman dekat neneknya memiliki usaha di bidang fashion dengan brand yang cukup terkenal di Indonesia, Black Major.
Seperti namanya, produk fashion dari brand ini rata-rata didominasi oleh pakaian warna hitam untuk laki-laki maupun perempuan.
Reza memasuki bangunan tersebut. Laki-laki bermata hitam itu tampak takjub dengan lokasi strategis bangunan 4 lantai yang terlihat mewah itu.
Ada perempuan cantik berseragam hitam kombinasi warna emas yang menyambut dan memandu Iansa dan Reza.
2 lantai bangunan itu dipergunakan untuk penjualan pakaian dengan penataan ala toko pakaian super mewah yang luas.
Lantai 3 digunakan sebagai studio foto dan juga tempat produksi pakaian. Sedangkan lantai 4 digunakan sebagai ruang kantor untuk beberapa divisi.
Reza tampak takjub dengan tempat itu. Setelah menaiki lift khusus karyawan, mereka pun tiba di lantai 3.
“Ini langsung ke studionya nek?” tanya Reza penasaran.
“Ya, sekalian kamu lihat juga kan.”
Reza melihat ke sekeliling, di bagian lain terlihat penjahit yang bekerja untuk perusahaan ini.
“Nek, kenapa mereka produksi sendiri? Bukannya lebih efesien kalau pesan di industri jahit rumahan?”
“Untuk menjamin kualitas dan membantu orang-orang agar dapat pekerjaan,” ucap Iansa menjelaskan.
Reza mengangguk mengerti. Ia dan neneknya lalu memasuki studio foto yang cukup luas.
Mata Reza fokus pada model perempuan yang sedang melakukan pemotretan. Ia mengenal wajah itu.
Tak lama kemudian pemilik usaha tersebut muncul.
“Iansaa, apa kabar?” ucap Mona lalu menyalami Iansa.
“Baik kok, sangat baik,” jawab Iansa sambil tersenyum.
Mata Mona melihat ke arah Reza. Iansa pun langsung mengenalkannya.
“Dia cucu saya yang saya ceritakan waktu itu.”
“Saya Reza bu,” ucap Reza sopan sambil menyalami Mona.
“Yaampun, ganteng sekali cucu mu. Mirip seperti Adhi waktu masih muda tapi lebih ganteng ya,” ucap Mona dengan mata berbinar.
Mona mengamati wajah Reza baik-baik. Ia sudah membayangkan laki-laki bermata hitam itu berpose dengan fashion miliknya.
“Cocok sekali, jadi kapan kamu bisa mulai? Kebetulan sekali saya memang sangat membutuhkan model pria,” ucap Mona lagi.
“Saya bisa mulai kapan pun,” ucap Reza cepat.
“Wah saya suka semangat anak muda hahaha. Oh iya, kenalin dulu sama keponakan tante,” ucap Mona sambil memandang ke arah perempuan seusia Reza yang baru saja menyelesaikan sesi foto.
__ADS_1
“Loh, Reza?” ucap perempuan itu kaget.
“Kalian saling mengenal?” tanya Mona dan Iansa.
“Iya, kami satu sekolahan, bu, eh tante… ,” ucap Reza membenarkan.
Halina tampak bingung. Mona pun menjelaskan bahwa Reza akan bekerja sebagai model juga untuk fashion miliknya.
Halina tidak pernah berpikir hal ini akan terjadi di hidupnya. Ia sebenarnya tidak ingin ada yang tau apa yang dilakuknnya setelah pulang sekolah.
“Kamu disini dulu ngobrol dengan teman mu, nenek mau bicara dulu dengan teman nenk,” ucap Iansa sambil melambaikan tangan lalu pergi.
Reza duduk di kursi yang sudah disediakan begitupun dengan Halina yang tampak canggung.
“Lu ngapain daftar model disini?” tanya Halina dengan ekspresi kesal.
“Wah? Kepribadian lu ada 2 ya? Di sekolah ngomong pakai aku kamu sama Lilia.”
Halina memutar matanya dengan ekspresi malas. “Ngomong aku kamu ya buat orang tertentu aja lah. Jawab pertanyaan gue yang tadi.”
Reza melihat ke arah Halina dengan ekspresi serius. Perempuan di hadapannya sekarang itu benar-benar berbeda dengan Halina yang dikenalnya di sekolah.
“Pengen aja, gue nggak tau sih kalau lu juga model disini. Tau gitu gue nggak daftar,” ucap Reza dengan ekspresi malas.
“Kan tinggal mundur?” ucap Halina dengan tatapan sinis.
“Lu kenapa sih kayaknya sensi banget sama gue?” tanya Reza bingung.
“Gue nggak suka aja sama cowok yang suka tebar pesona,” jawab Halina sambil melihat ke arah lain.
“Hah?”
“Jangan deketin Lilia lagi, gue nggak suka ada lalat-lalat deketin dia,” ucap Halina dengan tatapan matanya yang tajam. Ia pun bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan itu.
Reza tertegun, Ia benar-benar terkejut dengan perkataan Halina. Tak lama kemudian Mona dan Iansa datang.
“Reza kamu bisa coba pemotretan hari ini juga?” tanya Mona dengan ekspresi penuh harap.
“Boleh deh,” ucap Reza lalu bangkit dari tempat duduknya.
Staff lain kemudian mengarahkan Reza untuk berganti pakaian.
Reza keluar dari ruang ganti dengan ekspresi canggung. Halina sudah berganti pakaian dengan baju biasa dan duduk di bagian pinggir ruangan.
“Wahh, memang ya gen unggulnya Adhi itu menakjubkan, hanya dengan sedikit sentuhan wajahnya sudah terlihat begitu bersinar,” ucap Mona dengan ekspresi senang.
Iansa hanya tersenyum mendengar temannya menganggumi tampang cucunya.
Reza pun mulai melakukan pose seperti yang diarahkan oleh fotografer.
“Dia berbakat ya, diam saja sudah indah,” ucap Mona lagi.
“Loh tumben? Biasanya kamu senang disini sampai malam?” tanya perempuan paruh baya itu.
“Minggu depan UTS, Halina mau belajar,” jawab perempuan itu beralasan.
“Yah padahal tante mau ngajak kamu makan sekalian sama Reza- “
“Nggak tante, Halina harus belajar,” ucap Halina cepat memotong.
Mona tampak bingung namun akhirnya mengangguk mengerti. “Oke deh, biar tante suruh pak Agus antar ya?”
“Nggak usah tante, Sera bakal jemput Halina kok,” ucap gadis bermata coklat gelap itu.
Mona mengangguk mengerti. Halina pun pergi dari tempat itu dengan wajah jengkel.
Suasana toko pakaian mewah itu tampak ramai di sore hari. Di antara pengunjung itu ada satu perempuan sedang bersandar di samping eskalator sambil bermain ponsel.
“Sera!”
Perempuan yang dipanggil Sera itu menoleh ke arah Halina.
“Tumben lu pulang duluan?”
“Ada orang yang bikin gue males,” ucap Halina sambil berjalan.
Keduanya memasuki mobil biru mungil yang ada di basement parkir.
“Gimana kehidupan sekolah lu? Udah lama banget nggak ketemu lu.”
Halina melepas kacamata hitamnya. “Seru, gue ketemu temen-temen yang menarik.”
Sera hanya tersenyum simpul mendengar jawaban Halina. Ia mengemudikan mobilnya menuju salah satu kafe.
“Haleyy…,” panggil seorang laki-laki yang memakai hodie abu-abu sambil melambaikan tangan dari tempat duduknya.
Halina dan Sera mendekat ke arah laki-laki yang tampak seumuran dengan kedua gadis itu.
“Jangan manggil gue kayak gitu,” ucap Halina kesal.
Laki-laki itu hanya tertawa. “Halo Sera.”
“Tuan putri lagi badmood tuh, hibur dia gih,” ucap Sera sambil tersenyum.
“Sera…” ucap Halina dengan ekspresi kesal.
“Tumben badmood, kenapa?”
“Nggak apa-apa, btw katanya kamu mau pindah? Kapan??”
__ADS_1
“Hmmm, belum dibolehin daddy. Katanya belum waktunya,” jawab laki-laki bermata onyx itu.
“Huh, paling juga nggak jadi pindah.”
“Tapi temen yang kamu bilang itu beneran mirip kak Nina?” tanya laki-laki itu.
“Ya, mirip banget sampai ku kira mereka orang yang sama,” ucap Halina dengan ekspresi datar.
Laki-laki itu tampak berpikir dengan ekspresi serius. Ia lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah Sera yang sedang fokus makan.
...◇◇◇...
Di tempat lain di café melon….
.
.
Kegiatan malam minggu para remaja itu berlangsung seperti biasa. Café melon itu sudah dipenuhi remaja dari berbagai umur.
“Reza katanya malem ini nggak ikut ya?” tanya Rion sambil fokus membagikan kartu di atas meja.
“Iya, katanya ada urusan,” jawab Gio sambil mengupas kacang.
“Urusan apa? Tumben banget.”
“Nggak tau, nggak bilang dia,” jawab Gio singkat.
Rion tersenyum dan tidak mengatakan apapun lagi. Laki-laki dengan potongan rambut yang cukup unik mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan kepada seseorang.
Setelah itu Rion memasukkan ponselnya ke dalam jaket dan lanjut bermain kartu dengan memasang taruhan lebih tinggi.
Setelah satu jam berlalu, teman-teman Rion duduk dengan ekspresi kesal karena selalu kalah.
“Wah hari ini gue hoki lagi. Oke karena gue hoki, gue mau ngasih hadiah nanti.”
Remaja yang dapat duduk memutari meja besar itu tertawa. Tak lama kemudian datang pak botak. Gio bingung melihat kedatangan orang itu yang diluar jadwal kedatangan biasanya.
“Lu yang manggil pak botak yon?” tanya Gio heran.
“Iya, kenapa?” jawab Rion dengan ekspresi datar.
“Senin UTS c*k, lu mau make sekarang?”
“Besok kan masih minggu,” ucap Rion sambil tertawa.
Transaksi berjalan seperti biasa dan pak botak langsung pergi begitu saja setelah selesai.
Rion kembali ke tempatnya sambil memamerkan keresek hitam di tangannya.
“Barang baru bos?” tanya salah satu remaja yang memakai kaos hitam.
“Yups, yang ini agak beda. Kalian dapet jatah masing-masing satu khusus hari ini karena gue sering menang,” ucap Rion dengan ekspresi senang.
Gio diam memandang ragu ke arah Rion. Rion meletakkan kresek hitam itu di tengah meja.
“Tembakau?” tanya seorang remaja yang memakai baju abu-abu.
“Tembakau G*, yang pernah masuk berita itu,” ucap Rion dengan ekspresi senang.
Remaja yang mengitari meja itu tampak senang dengan hal baru yang akan mereka cicipi. Masing-masing remaja itu mengambil kertas lintingan r*kok satu persatu dan tembakau itu.
Gio mencium aroma aneh dari tembakau di kresek hitam itu. “Gue skip dulu,” ucap Gio dengan ekspresi ragu.
Rion tertawa. “Cupu lu.”
Gio bangkit dari tempat duduknya lalu menuju bagian tengah café.
Remaja yang duduk bersama Rion itu mulai menyalakan r*kok buatannya. Gio hanya diam di tempat duduk yang sambil minum minumannya.
Tak lama kemudian terdengar suara tawa keras sekali dari tempat Rion dan teman-temannya yang sedang berkumpul.
“Gio nggak ikutan?” tanya Nino.
“Nggak, saya senin UTS mas.”
“Wah masih mikirin UTS juga?”
“Saya emang nakal mas, tapi ya nilai sekolah jangan sampai jelek banget lah,” ucap Gio dengan eskpresi datar.
Nino tertawa. “Oh ya katanya lu habis dikeroyok orang di kota T, ngapain bisa sampai kesana?”
Gio menghela nafas panjang. “Rencananya bolos sekolah tapi nggak tau kemana, yaudah jalan aja terus motornya. Pas sampai pantai bagus akhirnya berhenti, eh malah ada berandalan sekolah yang dateng.”
“Terus dikeroyok?”
“Ya gitu lah mas,” jawab Gio malas.
“Udah sembuh kan sekarang?”
“Udah kok, saya sehari dua hari juga normal lagi.”
Nino tertawa lalu geleng-geleng kepala. Ia cukup terkesan dengan pemuda di hadapannya itu.
“Reza mana?”
“Ada urusan katanya,” jawab Gio singkat.
Nino mengangguk mengerti dan tak bertanya lagi. Membiarkan remaja itu terdiam dalam pikirannya sendiri.
__ADS_1
...◆◇◆◇◆...