Blue Scandal

Blue Scandal
27 - Penerimaan


__ADS_3

Di sebuah pantai di kota B


.


.


Julio, Lilia dan empat siswa lainnya turun dari mobil sekolah itu. Keenam orang itu menginjakkan kakinya di pantai pasir putih yang terkenal di daerah itu.


“Wahh bagus,” ucap Lilia takjub.


“Kamu belum pernah kesini?”


“Belum hehe, kehidupan saya selama ini hanya sekitar rumah dan sekolah,” jawab Lilia sambil terus memandangi lautan yang luas itu dengan ekspresi takjub.


“Pak Julio, kami main kesana boleh?” tanya siswa yang memakai bando.


“Silahkan, kalian bebas kok bermain, tapi karena kalian tidak membawa baju ganti, jangan sampai terlalu banyak kena air.”


“Kami bawa kok,” ucap siswa yang memakai pita.


Julio tertawa. “Sepertinya kalian sudah sangat siap jalan-jalan ya?”


Keempat siswa itu tertawa lalu berlari menjauh menyusuri tepi pantai.


“Kamu nggak ikut, Lilia?” tanya Julio sambil melihat ke arah gadis itu.


“Nggak, saya nggak bawa baju ganti hehe.”


“Ya jangan sampai kena air,” ucap Julio meyakinkan.


“Kalau saya kesana pasti pengen main air, jadi mendingan disini aja.”


Lilia mengeluarkan ponselnya lalu memotret beberapa kali.


“Mau saya fotokan?” ucap Julio menawarkan.


“Mau pak, yang bagus ya.”


Lilia bangkit dari duduknya setelah memberikan ponselnya. Ia berjalan beberapa langkah lalu berbalik menghadap Julio.


Julio memotret berkali-kali meski Lilia belum siap berpose.


‘Ya sebentar gini nggak apa-apa kan?’ ucap Julio dalam hati.


Setelah dipotret banyak, Lilia kembali ke tempatnya. Perempuan bermata coklat itu memeriksa hasil fotonya. “Wah bagus ya… Kenapa pak Julio nggak jadi fotografer saja?”


Julio tersenyum. “Saya juga kadang bekerja sebagai fotografer lepas kok.”


Lilia menoleh dengan ekspresi terkejut. “Oh pantesan pak Julio bisa membelikan banyak jajan untuk anak OSIS padahal gaji guru honorer kecil.”


Julio yang mendengar itu agak terkejut. Ia baru saja menyadari bahwa penyamarannya kali ini tidak sesempurna seperti misi-misi sebelumnya.


“Ah iya, selain jadi guru, saya memang kerja serabutan sebagai pekerja lepas, fotografer, jasa terjemahan dan masih ada beberapa hal lainnya.”


Lilia menatap Julio dengan ekspresi heran. “Apa pak Julio tidak lelah mengerjakan banyak hal?”


Julio diam, mata jernih gadis itu entah kenapa seperti sedang menyeretnya masuk ke dalam perasaan aneh.


Julio mengalihkan pandangannya dan berusaha mengingat misi pentingnya. “Ya lelah, tapi kehidupan orang dewasa memang penuh dengan kerja keras.”


Lilia masih terus memandangi Julio dengan ekspresi penasaran. “Oh iya yang waktu itu saya tanyakan… Umur pak Julio sebenarnya berapa? Waktu anda melepas kacamata kelihatan seperti seumuran saya.”


Julio tertawa. “Yang pasti saya lebih tua dari kamu.”


Lilia sebenarnya kurang puas dengan jawaban Julio. Namun ia tak bertanya lagi, matanya fokus mengamati adik kelasnya yang sedang mencari kerang di pinggiran pantai.


“Tadi kamu agak kurang bersemangat, tumben sekali, ada masalah apa?” tanya Julio sambil ikut memperhatikan siswa lainnya.


Lilia diam sejenak. “Hmm, saya juga tidak tau kenapa saya merasa tidak semangat…”


“Sebelumnya memangnya ada kejadian apa?”


Lilia mendekap kakinya erat, ekspresinya berubah. “Saya merasa malu dengan diri sendiri karena sudah ge er, hehe.”


Julio mengernyitkan keningnya. “Ge er bagaimana?”


“Saya pikir orang yang saya sukai juga menyukai saya, ternyata tidak… .”


Julio tampak berpikir. “Memangnya kamu sudah menyatakan perasaan dan ditolak?”


“Ya nggak gitu… ,” ucap Lilia sambil memandangi ujung kakinya.


“Lalu?”


“Ada perkataan yang sepertinya bermakna begitu… .”


Julio menghela nafas, ia merasa tak tenang melihat gadis yang biasanya ceria itu menjadi murung.


“Jangan berasumsi sendiri… Kamu bisa menanyakannya langsung.”


“Saya takut itu justru hanya akan membuat keadaan buruk… Lagian saya juga sudah menerima itu, saya tidak ingin membebaninya lebih banyak.”


Julio melihat ke arah Lilia dengan ekspresi sendu.


“Saya kurang paham situasinya, memangnya orang tersebut berkata apa sampai kamu mengira ia tidak menyukai mu?”


Lilia melihat ke arah julio dengan eskpresi ragu. Setelah diam selama beberapa waktu, akhirnya perempuan bermata coklat itu menceritakan tentang kejadian sebelumnya.


Julio terkejut dengan apa yang dikatakan Lilia. Ia tak menyangka Reza langsung menyampaikan hal tersebut kepada gadis bermata coklat itu.


“Tapi dari cerita mu, mungkin saja Reza berbohong jika ia mengatakan tidak cemburu… ,” ucap Julio sambil mengernyitkan kening.


“Loh, saya kan nggak nyebut nama, pak…,” ucap Lilia dengan ekspresi terkejut.


Julio tertawa. “Maafkan saya, saya hanya asal bicara.. saya tidak tau apa-apa.”


Lilia cemberut, ia sebenarnya merasa sangat malu karena Julio mengetahui orang yang  dimaksud.


“Tapi pak, kenapa ya Reza berkata begitu? Menurut saya sikap anda ramah ke semua orang… Kenapa dia bilang cara memperlakukan anda ke saya beda?”


Julio mengalihkan pandangan matanya. “Ya tentu saja karena dia cemburu. Mungkin dia tidak suka kamu terlihat dekat dengan lawan jenis.”


“Kan anda guru… kalau seumuran sih saya bisa berpikir begitu,” ucap Lilia dengan ekspresi serius.


Julio memegangi dahinya, kepalanya terasa sakit. “Ya namanya juga cemburu jadi ya walau yang dekat kamu sudah berumur pun pasti ya sama saja.”


Lilia tertawa. “Pak Julio ini bercandanya…, tidak perlu menghibur saya. Saya kan sudah bilang telah menerima itu… .”


Tak lama kemudian salah seorang siswa yang daritadi main mulai mendekat.

__ADS_1


“Kak Lilia ayo nyari kerang,” ajak siswa yang memakai pita itu.


“Aku nggak baju ganti,” jawab Lilia ragu.


“Nggak main air kok, nyari kerang di pinggiran aja, bagus-bagus.”


“Iya, cari kerang sana, mumpung disini kan? Buat kenangan” ucap Julio meyakinkan.


Lilia menghela nafas lalu bangkit dari tempat duduknya. Siswa yang memakai pita itu menarik tangan Lilia menuju tepi pantai yang banyak kerangnya.


Julio menghela nafas panjang. Ia merasa penyamarannya kali ini benar-benar mengalami banyak masalah.


‘Aku harus lebih hati-hati…’


Julio mengeluarkan ponselnya, memeriksa beberapa pesan dan laporan dari rekannya.


Setelah hari mulai sore, Julio bangkit dan berjalan ke arah siswa nya yang masih bermain di pinggir pantai.


“Semuanya, ayo balik udah sore,” teriak Julio.


“Yahhh pakk, masih pengen main,” sahut siswa yang memakai pita.


Julio menghela nafas panjang. “Sudah sore, perjalanan dari sini ke rumah kalian kan butuh waktu juga.”


Keempat siswa itu menurut meski merasa agak kecewa. Lilia hanya tersenyum simpul melihat adik kelasnya cemberut.


Rombongan itu pun kembali ke dalam mobil. Selama perjalanan, Lilia dan keempat siswa itu mengobrol tentang banyak hal.


“Hatchiii… .” Lilia menutup hidung dan mulutnya dengan lengannya.


Julio melirik. “Tuhkan, sudah saya bilang jangan kesorean mainnya,” ucap Julio sambil berusaha tetap fokus menyetir.


“Yah kak, aku cuma bawa jaket satu… Kak Lilia kenapa tadi nggak bawa jaket?” ucap siswa yang memakai bando.


“Hehe aku kira udara di kota panas, tapi pas di pantai kena angin lama-lama juga nggak enak ya… ,” ucap Lilia sambil mengambil tisu yang ada di hadapannya.


Julio mengernyitkan keningnya. “Sepertinya di bagian belakang ada tas warna hitam, disitu ada jaket bersih. Kalian yang duduk di belakang bisa tolong ambilkan?”


“Siap pak,” ucap siswa berkacamata. Ia pun memeriksa ke bagian belakang mobil dan menemukan tas hitam.


Siswa itu langsung mengopernya ke arah temannya dan temannya memberikannya ke Lilia.


Lilia membuka tas itu. Ada jaket, buku, dan juga parfum. Perempuan bermata coklat itu mengeluarkan jaket dari tas itu.


“Loh, jaket perempuan pak?” tanya Lilia.


“Ah iya, itu jaket teman saya, bersih kok. Sebenarnya saya berniat sekalian mengembalikannya karena dia bilang mau ke kota B, tapi ternyata ia batal kesana,” ucap Julio menjelaskan.


Lilia tampak ragu. “Ini nggak apa-apa saya pakai?”


“Pakai saja,” jawab Julio cepat.


“Perempuan itu temen atau teman, pak?” tanya siswa yang memakai pita.


“Kalian ini… ,” ucap Julio sambil tertawa.


“Kok bisa jaketnya ada di pak Julio?” tanya siswa yang rambutnya diikat dua.


Julio sebenarnya merasa kesal karena ditanya macam-macam, namun ia menyembunyikan ekspresinya dengan baik. “Jaketnya tercampur dengan barang bawaan saya…”


“Kok bisa? Pacarnya pak Julio kah?” tanya siswa berkacamata.


“Loh, memangnya pak Julio tinggal di kos yang sama dengan perempuan itu?” tanya siswa yang memakai bando.


Julio menghela nafas panjang. “Kos kan banyak kamarnya. Saya memang satu kos dengan teman saya, tapi tentu saja kamarnya berbeda… .”


Keempat siswa itu tertawa. “Hehe saya kan cuma nanya kos nya sama apa nggak pak, bukan nanya sekamar atau nggak,” ucap siswa yang memakai pita.


Julio merasa terjebak dengan obrolan siswanya itu. Ia geleng-geleng kepala. “Jangan bercanda seperti itu ke orang dewasa ya, tidak baik.”


“Hehe maaf pak,” ucap siswa yang memakai bando.


Julio melirik ke arah Lilia yang sedari tadi diam, ternyata gadis bermata coklat itu sudah tertidur.


“Kalian ngobrolnya pelan-pelan saja ya, kakak kelas kalian sepertinya tertidur,” ucap Julio dengan suara pelan.


Keempat siswa itu mengaangguk mengerti. “Kak Lilia sepertinya sedang kurang sehat, pak. Dari pagi kayaknya memang agak pucat.”


Julio mengernyitkan keningnya. “Saya lupa, ini sudah sore sih. Kalian mau makan dulu atau langsung pulang?”


“Makan pak,” jawab keempat siswa itu kompak.


Julio mengangguk mengerti lalu mengamati jalanan. Memeriksa apakah ada tempat makan yang enak.


“Kalian ada alergi makanan tertentu nggak?” tanya Julio sambil mengamati warung makan di sepanjang jalan.


“Nggak sih pak, tapi nggak tau kalau kak Lilia,” jawab siswa berkacamata.


Julio mengangguk mengerti lalu menghentikan mobilnya di tempat penjual sate.


“Wih asik makan sate,” ucap siswa yang rambutnya diikat dua.


Keempat siswa itu langsung turun dari mobil. Julio melepas sabuk pengamannya lalu memeriksa dahi perempuan itu terlebih dahulu. Meski agak hangat tapi suhunya masih normal. Ia pun berusaha membangunkan Lilia.


“Lilia, bangun dulu, ayo makan.”


Lilia membuka matanya perlahan setelah samar-samar mendengar ada yang memanggilnya.


Julio mengamati wajah perempuan yang masih mengantuk itu. “Atau mau tidur saja nanti saya bungkuskan?”


Lilia berusaha mendapatkan kembali kesadarannya. “Anda turun duluan saja, pak. Nanti saya menyusul.”


“Kamu mau saya pesankan dulu? Ini di tempat penjual sate, mungkin menunya ada sate ayam, kambing atau tongseng.”


Lilia mengucek matanya lalu menguap, ia segera menutupinya dengan tangan.


“Tongseng saja pak, kalau ada. Kalau nggak ada, samakan dengan siswa lainnya,” jawab Lilia masih dengan suara pelan.


Julio mengangguk mengerti. Ia pun turun dari mobil dan bergabung dengan siswa lainnya.


“Kak Lilia nggak ikut makan pak?” tanya siswa berkacamata.


“Nanti dia nyusul, ayo pesan dulu.”


Julio dan keempat siswa itu masuk ke rumah makan yang khusus menjual sate dan tongseng itu.       


Tak lama kemudian Lilia masuk tempat makan itu dengan masih memakai jaket yang dipinjamnya dari Julio.


Julio dan keempat siswa itu sudah duduk di kursi mengitari meja yang agak besar.

__ADS_1


“Kak Lilia sini,” panggil siswa berkacamata.


Lilia berjalan mendekat lalu duduk di kursi kosong di seberang Julio. Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Semuanya makan dengan lahap.


Setelah makan, semuanya tampak lebih segar dan semangat begitupun dengan Lilia. Mereka pun kembali ke mobil dan meneruskan perjalanannya.


Julio mengantar satu persatu siswa tersebut hingga ke rumahnya. Sekarang hanya tinggal mengantar Lilia.


Perempuan bermata coklat itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya lalu meletakkannya di dashboard mobil.


“Untuk pak Julio, tadi saya menemukan kerang yang bagus,” ucap Lilia sambil tersenyum.


“Nggak kamu simpan saja sebagai kenangan dari pantai itu?” tanya Julio bingung.


“Saya udah ngambil beberapa kerang kok. Itu hadiah buat pak Julio karena sudah menghibur saya hehe.”


Julio tertawa. “Guru tidak boleh menerima sogokan loh.”


“Saya tau, karena itu saya memberikan benda yang tidak bisa dijual dan tidak memiliki nilai dalam rupiah hehe,” ucap Lilia percaya diri.


“Kalau Reza tau, dia pasti akan memarahi saya… .”


“Hahaha, benarkah? Kalau begitu apa saya berikan benda yang lebih mencolok supaya Reza tau?” ucap Lilia sambil tertawa.


Julio hanya geleng-geleng kepala mendengar candaan siswanya itu.


“Ini jaketnya saya bawa dulu ya? Setelah saya cuci, akan saya kembalikan.”


“Ya, bawa saja.”


Tak lama kemudian keduanya sampai di gapura desa tempat tinggal Lilia.


“Saya turun disini saja,” ucap Lilia.


“Nggak dianter sampai ke depan rumah?”


“Nggak pak, nanti diomongin tetangga. Orang desa itu kalau lihat orang diantar mobil pikirannya kemana-mana.”


“Oh gitu, baiklah.”


“Terimakasih pak, hati-hati di jalan.”


Lilia pun turun dari mobil itu dan segera berjalan menuju rumahnya yang terletak di ujung desa.


Julio menghela nafas panjang. Ia mengambil kerang kecil dengan motif unik berwarna oranye lalu meletakkannya kembali. Pria bermata coklat terang itu pun lanjut mengemudikan mobilnya ke arah sekolah.


...◇◇◇...


 


Di tempat lain…


.


.


Reza hanya berkumpul dengan teman-temannya sebentar. Ia langsung pergi ke rumah kakeknya begitu jam menunjukkan pukul 19.00


“Tumben kamu jam segini berkunjung kesini?” tanya  Iansa, nenek Reza.


“Reza mau ngomong sama kakek,” jawab Reza cepat.


Adhi, kakek Reza muncul dari lantai atas. “Reza? Tumben kesini malem-malem?”


Reza tersenyum. “Ada yang pengen Reza omongin… Kakek udah mau tidur ya?”


Pria berambut putih itu tertawa. “Nggak kok.”


Reza dan kakek neneknya menuju ruang keluarga yang tak jauh dari ruangan depan. Ketiganya duduk di sebuah sofa berwarna abu gelap.


“Pak Karmin, buatkan teh hangat.”


“Baik tuan,” ucap pria tua yang dipanggil Karmin.


Pria berambut putih itu mengalihkan pandangannya kepada Reza. “Jadi apa yang mau diomongin?”


“Reza pengen sekolah sambil kerja kek.”


Kakek dan nenek Reza saling berpandangan dengan ekspresi bingung.


“Kok tiba-tiba? Apa yang kakek beri untuk uang jajan mu masih kurang? Atau ibu mu butuh biaya tambahan?”


Reza menghela nafas panjang. “Bukan gitu kek, Reza cuma pengen lakuin hal baru supaya waktu luangnya bisa dipakai.”


Kakek Reza tersenyum cerah mendengar jawaban cucunya, begitupun dengan neneknya.


Tak lama kemudian pak Karmin datang membawa satu teko teh dan 3 gelas kecil. Pria paruh baya itu meletakannya di meja lalu segera pergi lagi.


“Ya kalau seperti itu gampang bisa diatur. Memangnya kamu ingin kerjaan yang seperti apa?”


Reza diam, sebenarnya ia belum memikirkan hingga jauh kesana. “Kalau menurut kakek, Reza cocoknya kerja sebagai apa?”


Kakek mengernyitkan keningnya, sebisa mungkin Adhi tidak ingin cucunya berada dekat dengannya karena bisa saja cucunya itu nanti mengetahui hal lain yang disembunyikannya.


“Bagaimana kalau jadi model? Reza kan badannya bagus, wajahnya juga cocok kayaknya jadi model,” ucap Iansa dengan mata berbinar.


“Emang ada kerjaan jadi model di kecamatan ini, nek?” tanya Reza heran.


Iansa tertawa. “Tidak disini, tapi di kota, mungkin perjalanannya memakan waktu sekitar 40 menit. Nenek ada kenalan yang punya usaha di industri fashion disana.”


Reza tampak berpikir, ia sebenarnya cukup terkejut karena kakek neneknya tidak menyarankannya bekerja di salah satu usahanya dan justru menyarankan di tempat lain.


“Tapi emang nggak apa-apa? Reza kan nggak punya pengalaman.”


Adhi tertawa. “Ya kan kamu mau cari pengalaman. Tenang aja orang itu kenalan baiknya nenek kamu.”


“Oh iya nenek ingat, keponakannya dia juga kayaknya seumuran dengan mu.”


“Keponakannya laki-laki juga?”


Iansa tampak berpikir. “Nenek lupa.”


“Oke deh, jadi Reza kapan kesananya?"


“Sabtu sepulang sekolah gimana?”


“Oke,” jawab Reza cepat.


Ketiga orang itu pun lanjut membicarakan banyak hal. Kali ini Reza benar-benar ingin mencoba mengalihkan pikirannya dengan sesuatu yang lebih bermanfaat.

__ADS_1


...◆◇◆◇◆...


__ADS_2