Blue Scandal

Blue Scandal
56 – Berita Orang Hilang


__ADS_3

Pagi yang damai itu dikejutkan oleh informasi mengejutkan. Beberapa siswa sekolah yang sudah lama membolos dikabarkan tidak kembali ke rumah.


“Lilia udah tau berita terbaru?” tanya Fani dengan ekspresi serius.


“Berita apaan?”


“Ada 2 anak sekolah ini hilang.”


“Hilang gimana?”


“Ya hilang, mereka kan udah seminggu nggak masuk, terus orang tuanya tuh nyari ke sekolah dan nanyain soal anaknya… .”


Lilia mengernyitkan keningnya. “Terus gimana?”


“Nggak tau juga, katanya sih orang tua keduanya udah lapor polisi. Guru-guru aja ditanyain semua,” jawab Gavin ikut menimbrung.


“Serius?”


Obrolanan di ruang OSIS itu terhenti saat pak Darma memasuki ruangan dengan ekspresi lelah.


“Kalian ada yang tau siapa aja yang berteman dengan Rozi dan Alan?”


“Ehmm, setau saya mereka temenan sama sekelompoknya Rion, pak, memangnya ada apa, pak?” jawab Fani dengan ekspresi penasaran


“Hahhh, tolong panggilkan semua yang berteman dengan Rozi dan Alan ke ruang serba guna,” ucap pak Darma sambil menggaruk kepalanya. Guru itu tampak sedang kesulitan menghadapi masalah kali ini.


“Baik pak.”


Pak Darma segera berlalu pergi. Gavin juga mulai bangkit dari tempat duduknya. “Biar gue aja yang panggil mereka.”


“Oh oke, tolong ya,” sahut Fani sambil mengacungkan jempol.


Lilia mengernyitkan keningnya. Ia merasa aneh dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini. “Yang hilang Rozi sama Alan?”


“Iya tadi yang domongin pak Darma.”


Suara langkah kaki mendekat ke arah ruang OSIS itu. “Gaes aku ada info terbaru.”


“Apaan lagi sih, Mia?” ucap Fani kesal.


“Ada polisi dateng.”


“Hah? Seriusan?”


“Beneran, ada di ruang serba guna.”


Lilia mengernyitkan keningnya, ia mengingat apa yang dikatakan pak Darma beberapa saat yang lalu. ‘Teman-temannya akan diinterogasi?’


“Aduh jadi nggak tenang gini, sekolah ini sering kena sorotan kalau ada masalah terus gini,” gerutu Mia.


Lilia tidak menanggapi. Ia tidak ingin berkomentar sebelum benar-benar mengetahui situasinya dengan jelas.


Fani mengernyitkan keningnya. “Mau cari tau nggak?”


“Cari tau gimana?” tanya Mia bingung.


“Ya cari tau kenapa dua orang itu hilang, siapa tau cuma kabur karena ortu nya kasar kan?”

__ADS_1


“Orang tua Alan sama Rozi tuh baik, justru anaknya yang nggak ada akhlak,” sahut Mia dengan ekspresi kesal.


Suasana menjadi hening, semua yang ada di ruang OSIS itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Tidak lama kemudian Gavin kembali dengan ekspresi cemas.


“Gimana Gav?” tanya Fani penasaran.


“Nggak gimana-gimana, polisi yang datang cuma nanya-nanya aja kapan terakhir lihat Alan sama Rozi gitu.”


“Nggak ada informasi lainnya?” tanya Lilia penasaran.


Gavin diam sejenak lalu menghela nafas. “Nggak tau.”


Fani menghela nafas. “Eh Gav, lu bisa cari tahu nggak kapan terakhi Alan sama Rozi kelihatan?”


“Mau ngapain emang?”


“Penasaran gue.”


“Nggak usah aneh-aneh deh.”


“Huh, nggak seru.”


Suasana kembali menjadi hening. Tidak lama kemudian bel tanda masuk berbunyi. Semua siswa itu pun kembali ke kelasnya masing-masing.


...◇◇◇...


Beberapa hari kemudian…


.


.


“Lil, akhir pekan ini mau jalan-jalan nggak?” tanya Gavin tiba-tiba.


“Jalan-jalan kemana?”


“Ke kota U, waktu itu kan kita ke pantainya cuma sebentar, aku juga mau ngajak Fani juga.”


Lilia diam, ia jadi merasa bersalah karena Gavin mengiranya marah karena hanya ke pantai itu sebentar. Tiba-tiba pikirannya teringat seseorang yang memanggilnya dengan nama Nina.


“Boleh aja sih, nggak sekalian Mia sama Fahmi juga?” saran Lilia.


“Rencananya sih gitu, aku sekalian bawa mobil.”


Fani, Mia dan Fahmi yang sedang dibicarakan tiba-tiba muncul. Fahmi mengambil tempat duduk dekat Gavin. “Ngomongin apa tuh gue denger bawa mobil gitu?”


“Lagi rencanain jalan-jalan akhir pekan nanti, kalian mau ikut nggak?”


“Waduh pasti yang diajak Lilia dulu,” ucap Fahmi sambil tertawa mengejek. Gavin langsung memukul Fahmi dengan buku yang digulung.


“Jalan-jalan kemana Gav?” tanya Fani penasaran.


“Ke pantai di kota U.”


“Serius? Mau banget ikut, katanya bagus banget pantai disana,” sahut Mia bersemangat.


“Nah, semua setuju berarti?” tanya Gavin memastikan.

__ADS_1


“Setuju dong,” jawab Mia dan Fahmi kompak.


“Lu gimana Fan?” tanya Gavin yang melihat Fani hanya terdiam.


“Hmmm gue pengen ikut tapi ada jadwal latihan sama kakek gue,” jawab Fani tidak bersemangat.


“Yah… bolos lah sekali.”


“Gue udah bolos tiga kali. Yaudah lah kalian berempat aja yang main, tapi bawain gue jajan yang banyak senin nanti. Lilia nggak apa-apa kan gue nggak ikut?”


“Ehmm ya mau gimana lagi kalau emang ada latihan, nanti aku beliin banyak makanan dari sana.”


“Asyik…”


“Makanan mulu lu,” gerutu Fahmi.


Semua yang ada di ruang OSIS itu tertawa. Gavin tersenyum, ia merasa lega karena Lilia sudah tidak sering menyendiri atau diam lagi.


“Oh iya Gav, kita ke Universitas U lagi nggak?” tanya Lilia tiba-tiba.


“Enggak, aku nggak ada urusan disana kok, nggak dapat juara hehe."


Lilia terkejut, ia tidak bermaksud bertanya tentang hasil lomba yang diikuti temannya itu. “Tapi bisa sampai presentasi disana kan udah keren, apalagi dari sekolah pinggiran kayak gini.”


“Bener tuh kata Lilia,” sahut Fani.


“Loh, Gavin ikut lomba? Di universitas U?” tanya Fahmi kaget.


“Iya, keren kan,” jawab Fani dengan bangga.


“Iya yang keren Gavin, bukan lu Fan,” sahut Mia sambil tertawa.


Fani menatap kesal ke arah Mia. “Aku keren karena punya temen keren.”


Semua yang ada di tempat itu tertawa kecuali Gavin, laki-laki bermata coklat keabuan itu hanya tersenyum. Ia merasa sudah lama tidak melihat Lilia tertawa selepas itu.


‘Padahal aku berharap bisa bertemu orang itu lagi untuk bertanya tentang Nina, tapi ternyata Gavin nggak ke Universitas U lagi ya?’ gumam Lilia dalam hati.


Gadis bermata coklat itu tidak lagi menaruh curiga pada orang tersebut meski Julio saat itu tampak khawatir saat Lilia menyebut nama Jerry Andara.


“Lilia kenapa ngelamun lagi?” tanya Mia sambil memukul pelan Lilia dengan penggaris plastik.


“Hehe cuma keinget sesuatu aja.”


“Apa tuh?” tanya Fani penasaran.


“Keinget kalau sebentar lagi mau ujian akhir semester, tapi malah jalan-jalan,” ucap Lilia berkelit.


“Waduh, iya yak ujian,” sahut Mia yang tiba-tiba ikut teringat juga.


“Nggak apa-apa jalan-jalan dulu, habis ujian semester kan libur pada sibuk masing-masing,” sahut Gavin sambil tertawa.


“Iya juga ya,” ucap Fahmi setuju dengan apa yang diucapkan Gavin.


Fani hanya geleng-geleng kepala melihat teman yang biasanya paling rajin belajar itu justru lebih memilih jalan-jalan saat mendekati ujian akhir semester.


...◆◇◆◇◆...

__ADS_1


__ADS_2