Blue Scandal

Blue Scandal
22 - Konflik ganda


__ADS_3

Julio sampai di rumah sakit saat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Tak banyak yang bisa dilakukan guru itu disana.


“Maaf pak saya terlambat,” ucap Julio begitu sampai di rumah sakit itu.


“Loh pak Julio bukannya sudah izin 3 hari karena ada urusan pribadi di Semarang?” tanya pak Darma penasaran.


“Iya, karena itu saya mematikan ponsel saya selama seharian ini. Namun ketika saya menyalakannya, saya mendapat informasi tentang sesuatu yang terjadi. Pak kepala sekolah meminta saya mengurusnya.”


“Waduh, saya jadi nggak enak pak… ,” ucap pak Darma dengan ekspresi sungkan.


“Gio masih belum sadarkan diri?”


“Belum pak, sepertinya luka di kepala nya cukup parah.”


Pak Darma pun menjelaskan apa yang dikatakan dokter sebelumnya dan juga kronologi yang diceritakan oleh nelayan setempat yang menolong Gio.


“Orang tuanya belum datang pak?” tanya Julio penasaran.


“Saya sudah menghubunginya pak, tapi ayahnya tidak menjawab telfon saya.”


Julio menghela nafas lalu mengalihkan pandangannya ke Gavin. “Oh iya Gavin katanya kamu sedesa dengan Gio?”


“Benar pak,” jawab Gavin cepat.


Julio tampak berpikir. “Apa sebaiknya kita datangi rumahnya langsung?”


Ekspresi Gavin berubah, ia tampak cemas. Julio yang tak mendapat jawaban pun menjadi bingung.


“Kenapa Gavin? Ini kondisi Gio kan cukup parah, orang tuanya harus mengetahui ini kan?”


“Iya pak… ,” ucap Gavin ragu.


“Maaf pak Julio menyela… .” Pak Darma tampak menghela nafas berkali-kali setelah memeriksa ponselnya.


“Sepertinya saya tidak bisa menunggui Gio. Istri saya… ,” ucap pak Darma dengan ragu.


Julio baru ingat jika istri pak Darma satu minggu lalu baru saja melahirkan. Tentu saja pak Darma harus mendampingi istrinya yang masih dalam keadaan lemah pasca melahirkan.


“Maafkan saya pak Darma, saya justru tidak ingat. Pak Darma bisa kembali lebih dulu, saya yang akan menjaga Gio. Oh ya, saya minta nomor telfon ayahnya Gio dulu.”


Setelah pak Darma memberikan nomor telfon ayah Gio, ia pun segera pergi dari rumah sakit itu dan kembali ke rumah.


“Gavin, kamu juga bisa pulang, ini sudah sore,” ucap Julio sambil memijat dahinya yang tiba-tiba terasa sakit.


“Tapi pak…”


“Saya akan menjaga Gio. Kalau bisa tolong sampaikan ke orang tuanya.”


Gavin menghela nafas panjang, ada kekhawatiran lain yang baru saja muncul.


“Baiklah… saya kembali dulu. Tapi apa tidak apa-apa pak Julio sendiri?”


“Nanti saya hubungi guru lainnya.”


Gavin mengangguk mengerti, ia pun segera meninggalkan rumah sakit itu dan kembali ke rumah.


Julio menghela nafas berkali-kali. Ia pun mencoba menghubungi ayah Gio melalui panggilan suara maupun pesan.


Beberapa jam berlalu tanpa hasil. Julio tampak kesal.


‘Ngurus bocah ternyata lebih susah ya…’


Julio mencoba menghubungi beberapa guru yang mungkin saja bisa ikut menjaga Gio. Namun kemudian tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


Klik…


“Halo selamat malam, apa ini dengan pembina OSIS SMA Harapan negeri?”


“Iya, saya pembina OSIS SMA Harapan negeri.”


“Kami dari polres Kota T pak, 8 siswa anda terlibat perkelahian dengan siswa di sekolah daerah ini.”


“Maaf pak, apa bapak tidak salah? SMA Harapan negeri dan daerah itu kan jaraknya cukup jauh… ,” ucap Julio ragu.


“Kartu pelajar yang dibawa siswa ini benar dari SMA Harapan negeri pak. Ada 8 siswa mungkin bapak bisa mengenali salah satu diantaranya, Reza Bayu Adh-“


Suara itu terhenti. “Loh kamu ini cucunya pak Adhi?”


Terdengar suara petugas yang sepertinya sedang berbicara dengan Reza. Julio geleng-geleng kepala. Satu masalah belum selesai sudah ada masalah lain.


“Eh maaf pak, ya itu namanya, benar kan salah satu siswa di sekolah anda?”

__ADS_1


“Benar, saya akan segera kesana tapi mohon maaf sepertinya butuh waktu karena masih ada urusan yang sedang saya selesaikan disini, saya akan kesana secepatnya.”


Klik…


Julio menghela nafas lagi, tak lama kemudian pak Bambang datang.


“Pak Julio,” sapa pak Bambang sambil menyalami dengan ekspresi serius.


“Maaf pak Bambang meminta anda datang disaat harusnya sudah istirahat.”


“Oh tidak apa-apa pak, saya tadi siang sudah dijelaskan apa yang terjadi, tapi saya masih belum paham ini Gio dipukuli karena apa ya pak?”


Belum sempat menjawab, datang perempuan dengan wajah cemas bersama Gavin yang tampak khawatir.


“Sebentar ya pak Bambang, saya juga belum begitu jelas mendapatkan informasinya karena saya baru tiba disini sore tadi dari Semarang,” ucap Julio dengan wajah lelah.


Pak Bambang mengangguk mengerti, ia ingin mengatakan sesuatu namun mengurungkan niatnya karena perempuan yang datang bersama Gavin langsung mengajak Julio berbicara.


“Pak, anak saya katanya luka-luka karena dipukuli? Bagaimana keadaannya?” tanya perempuan berbaju hitam itu.


“Gio sekarang sudah melewati masa kritis, hanya saja sekarang dia masih menjalani perawatan lebih lanjut.”


Tak lama kemudian datang laki-laki seumuran pak Bambang yang memakai jas abu-abu.


Laki-laki itu juga tampak cemas. Setelah berbicara dengan Gavin sebentar, laki-laki itu langsung mendekat ke arah Julio.


Setelah mengetahui bahwa perempuan dan laki-laki tersebut adalah orang tua Gio, Julio pun menjelaskan sebisanya tentang kondisi Gio.


Setelah beberapa menit berhasil menenangkan kedua orang tua itu, Julio mendekat ke arah pak Bambang.


“Pak, maaf apa pak Bambang bisa berjaga disini sebentar? Saya harus mengurus siswa lainnya yang sedang ada di kantor polisi,” ucap Julio dengan suara pelan.


Pak Bambang tampak terkejut dengan apa yang dikatakan Julio, ia ingin bertanya lebih lanjut namun melihat ekspresi Julio yang tak seperti biasa itu membuat pak Bambang hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun.


“Gavin, kamu pulang saja, ini sudah malam… Sepertinya kamu juga tidak perlu mengantar ibunya Gio karena suaminya juga sudah datang,” ucap Julio dengan ekspresi lelah.


“Ya pak, saya akan pulang sebentar lagi,” sahut Gavin yang masih mengkhawatirkan Gio.


Julio tak mengatakan apapun lagi dan langsung pergi dari rumah sakit itu.


...◇◇◇...


Di kantor polisi…


Di seberang sisi 8 siswa itu ada  2 orang laki-laki seumuran mereka yang luka-luka ringan,


“Permisi, saya perwakilan dari SMA Harapan negeri, saya Julio,” ucap Julio sambil menyalami salah satu petugas kepolisian tersebut.


Julio dipersilakan masuk sebuah ruangan. Laki-laki bermata coklat terang itu tampak sedang berdiskusi dengan seorang petugas lain yang tampaknya memiliki jabatan yang lebih tinggi.


Julio diberi penjelasan tentang kronologi yang terjadi.


“Salah satu dari siswa anda mengatakan bahwa temannya dipukuli dan hingga kini menjalani perawatan karena masih kritis, apa itu benar pak?” tanya petugas itu.


“Ya, urusan yang sedang saya tangani tadi adalah hal tersebut. Salah satu siswa kami dalam kondisi kritis dan masih belum sadarkan diri.”


“Motifnya pembalasan ya… 8 siswa anda yang sedang ada disini juga melakukan pemukulan hingga salah satu siswa dari SMK Teknik 1 dirawat di puskesmas terdekat disini… .”


Petugas itu diam sejenak, Julio juga tak mengatakan apapun. Tak lama kemudian telfon di ruangan itu berbunyi.


“Ya selamat malam…”


Petugas itu tampak mengernyitkan keningnya lalu memeriksa berkas yang ada dihadapannya.


Julio tidak mengetahui siapa yang menelfon dan apa yang sedang dibicarakan, namun Julio bisa melihat petugas itu sedang membaca kertas yang berisi identitas Rion.


“Ya pak, saya mengerti.”


Petugas itu meletakkan gagang telfon itu ke tempatnya lalu geleng-geleng kepala.


Petugas itu menghela nafas panjang. “Begini saja pak, karena sepertinya kedua belah pihak mengalami kerugian yang sama dan ini dilakukan antar siswa, sebaiknya damaikan saja keduanya.”


Julio diam sejenak mengamati petugas itu. “Saya mengerti, apa ada syarat lain yang perlu saya penuhi?”


“Tidak ada, selebihnya biar kami yang mengurus dengan para orang tua siswa tersebut.”


Mendapat jawaban yang seperti itu, Julio sudah bisa menebak bahwa yang menghubungi petugas tersebut mungkin adalah ayahnya Rion.


“Terimakasih, saya permisi dulu. Saya akan menasehati siswa kami,” ucap Julio lalu menjabat tangan laki-laki berseragam coklat tersebut.


Julio keluar dari ruangan itu lalu berbicara singkat dengan 8 siswa yang sedang duduk santai.

__ADS_1


Reza hanya diam, luka di wajahnya bertambah lagi. Julio tiba-tiba ingat dengan sesuatu yang pernah diucapkan Reza namun laki-laki bermata coklat terang itu berusaha tak menunjukkan emosi apapun.


8 remaja itu diminta untuk langsung pulang oleh Julio. Rion tersenyum mengejek ke arah guru muda itu. Namun Julio terlalu lelah untuk berekspresi.


“Loh pak, kok mereka dibiarkan begitu saja?” tanya salah seorang remaja berjaket hitam.


“Kamu ini diam saja, untung saja keluarga mereka tidak menuntut ke kalian, harusnya kalian bersyukur karena permasalahan ini tidak diperpanjang,” ucap seroang petugas yang tampak masih muda.


Julio yang sekilas mendengar percakapan itu hanya diam saja sambil melihat siswanya pergi dari kantor p*lisi itu.


Julio melihat ke arah langit yang gelap, angin malam ini terasa lebih dingin dari biasanya.


Drrttt…


Julio memeriksa ponselnya, ia menghela nafas lagi. Laki-laki berkacamata itu baru saja mendapat info dari pak Bambang yang menyuruhnya langsung pulang saja karena sudah ada orang tua Gio yang menunggui anaknya.


Seharian ini laki-laki bermata coklat terang ini merasa sangat lelah dan belum sempat beristirahat sama sekali. Ia juga belum makan sejak kembali dari Semarang.


Julio melepas kacamatanya lalu memasukkan benda tersebut ke dalam tas. Ia memakai kembali sarung tangan hitam dan helmnya.


Julio menyalakan motornya, kembali ke tempat tinggalnya yang ada di kecamatan S.


...◇◇◇...


Di rumah sakit…


Seorang perempuan dan laki-laki sedang berada di ruangan yang sama dengan seorang remaja yang masih belum sadarkan diri.


Kedua pasangan itu hanya diam di tempatnya masing-masing dengan ekspresi cemas.


“Pulang lah mas, keluarga mu pasti sedang menunggu,” ucap wanita itu tiba-tiba.


Laki-laki yang diajak bicara itu hanya diam dengan tetap fokus melihat ke arah anaknya yang sedang terbaring lemah.


“Aku bisa mengurusnya sendiri,” ucap perempuan itu lagi.


Pria berjas abu-abu itu menoleh. “Bisa mengurus sendiri? Kamu lihat anak mu sekarang? Apanya yang bisa kamu urus sendiri?”


Perempuan itu memandang pria di seberangnya dengan ekspresi marah.


“Bertengkarlah di luar, pa, ma, bahkan saat Gio beginipun kalian tetap saja bertengkar,” ucap Gio tiba-tiba dengan suara pelan.


Kedua orang dewasa itu bangun dari tempat duduknya.


“Gio… “


“Jam berapa ma?”


Perempuan itu memeriksa ponselnya. “23:55, apa perlu mama panggilkan suster?”


“Nggak usah, Gio mau tidur lagi, kalian kalau mau berantem di luar aja,” ucap Gio dengan suara lemah.


“Apa sih yang kamu lakukan sampai begini?” tanya ayah Gio.


“Gio mau istirahat pa… .”


Ibu Gio menarik lengan suaminya lalu menyuruhnya keluar dari ruangan itu.


Perempuan berusia 37 tahun itu duduk di kursi yang ada di depan ruangan anaknya dirawat. Wajahnya terlihat lelah.


“Kamu sudah makan?” tanya pria yang duduk di seberangnya.


Perempuan itu tak menjawab. Tak lama kemudian ponsel laki-laki itu berbunyi.


“Pulanglah, besok datanglah lagi,” ucap perempuan itu tanpa menoleh.


Laki-laki berusia 40 tahun itu menghela nafas panjang lalu pergi begitu saja. Perempuan itu menyenderkan punggunggnya di kursi itu.


5 menit kemudian laki-laki berjas abu-abu itu datang lagi dengan membawa sekantong roti dan air kemasan. Ia meletakkan benda itu di samping perempuan yang memejamkan matanya itu.


“Aku pulang dulu, besok aku akan kesini lagi,” ucap pria itu pelan.


Setelah laki-laki itu pergi, perempuan itu membuka matanya. Ia menoleh ke arah kantong kresek berisi beberapa roti dan air kemasan.


Perempuan bermata onyx itu menghela nafas, tatapan matanya yang sayu itu beralih ke cincin di jarinya lalu ia memejamkan mata lagi.


...◆◇◆◇◆...


Bonus pict...


__ADS_1


Char : Jun/Julio


__ADS_2