Blue Scandal

Blue Scandal
30 - Hambatan


__ADS_3

Bagi beberapa orang, masa muda tentu menjadi masa yang indah dan menyenangkan untuk nantinya diceritakan saat usia menginjak dewasa.


Namun bagi beberapa orang, masa sekolah itu hanya sebuah tahap yang harus dilewati dengan keterpaksaan.


Ada orang yang menikmati masa sekolahnya dengan cerita seperti musim semi pada persahabatan atau hubungan percintaan. Namun ada juga orang yang bahkan untuk bertahan saja sudah sebuah keajaiban.


Laki-laki itu menggenggam botol kecil hitam dengan erat. Sudut bibirnya terluka, begitupun dengan bagian bahunya yang tampak lebam.


Pandangan mata laki-laki itu beralih dari obat ke plester luka yang baru saja terjatuh saat ia membuka casing ponselnya. Ekspresinya sendu, ada rasa sesak yang luar biasa besar dalam hatinya.


...◇◇◇...


Sebelumnya, satu jam yang lalu…


.


.


Beberapa waktu lalu, ayah Reza datang setelah hampir seminggu tak pulang ke rumah.


Bau minuman k*ras tercium menyengat dari pria paruh baya itu. Wajahnya yang mulai berkerut dan pucat selalu sama dengan dua minggu lalu. Tubuhnya terlihat gemuk namun tampak tidak sehat.


Melihat putranya tidak ada di rumah padahal sudah malam, ayah Reza menjadi murka. Ia segera menghubungi anaknya.


Ada kekhawatiran dari sudut hatinya meski ia terlihat sebagai ayah yang tidak peduli pada keluarga.


Baru baru ini ayah Reza, Bayu Putra mendengar peredaran obat terlarang mulai mengkhawatirkan, ia takut anaknya ikut pergaulan yang mengonsumsi barang haram tersebut.


Hanya saja, kondisi emosi yang tidak stabil sering membuat ayah Reza melakukan hal diluar semestinya. Rasa khawatir yang bercampur dengan amarah waktu lampau kadang membuatnya hilang kendali.


Setelah memacu motornya dengan kecepatan tinggi, Reza sampai rumahnya dengan membawa bingkisan makanan. Saat itu ayahnya sedang menonton televisi.


“Reza pulang yah,” ucap Reza memberi salam.


Laki-laki yang dipanggil ayah itu menoleh sebentar. Setelah memastikan anaknya dalam keadaan bai, ia kembali fokus menatap televisi.


Reza meletakkan bingkisan makanan di atas meja makan lalu berniat ke kamar mandi untuk menyuci kaki.


“Dari mana kamu jam segini baru pulang?” tanya ayah Reza tiba-tiba.


Reza menoleh ke jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul 20.00. Laki-laki bermata hitam itu menghela nafas panjang. “Ini belum terlalu malem kok yah.”


Ayah Reza diam, ia menuang cairan kuning keemasan dari botol hijau ke gela kecil yang ada di meja.


"Kamu kerja kan?” tanya ayah Reza lagi karena tak mendapatkan jawaban dari pertanyaan sebelumnya.


Reza tak menjawab, ia masuk kamar mandi yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Setelah menyuci kaki, ia bermaksud untuk langsung masuk kamar.


“Kalau diajak ngomong orang tua itu jawab!” ucap ayah Reza yang mulai berubah ekspresi,


Reza diam mematung di tampatnya. Ia memandangi ayahnya dengan perasaan bercampur.


“Kenapa nggak sekolah yang bener aja sih? Keluar dari tempat kerja mu. Ayah masih bisa kok cari uang," ucap pria paruh baya itu dengan suara serak.


"Reza cuma pengen cari pengalaman."


"Pengalaman apa? Kamu aja nggak pernah masuk juara di sekolah. Mau jadi apa nanti kamu?!" Gerutu pria itu sambil menggenggam botol minuman k*ras dengan isi yang tinggal separuh.


Reza diam memperhatikan ayahnya yang tampak kacau itu. Ia merasa muak dengan keadaan yang seperti itu.


"Kamu nggak pernah nurut sama ayah ya?!" ucap pria itu setengah berteriak.


Sang Ibu yang pulang setelah membeli kopi dan barang lainnya terkejut dengan suara tinggi suaminya itu.


"Ada apa lagi yah?" ucap perempuan paruh baya itu.


"Anak mu itu loh sejak dulu nggak mau nurut sama aku. Dia nurutnya cuma sama kakeknya yang ngasih motor bagus ke dia. Ayahnya ini nggak guna, nggak bisa ngasih apa-apa," ucap pria paruh bayah itu dengan ekspresi sedih, marah dan frustasi.


Sang ibu menatap anaknya yang berdiri mematung dengan ekspresi sendu. Tatapan matanya tampak lekat memperhatikan ayahnya.

__ADS_1


"Reza tetap mau kerja yah, lagian itu bukan usaha milik kakek atau nenek dan juga Reza tetap masuk 10 besar di kelas."


Ayah Reza bangkit, dengan terhuyung menhampiri anaknya yang berdiri dekat dinding.


"Anak kurang ajar! Sebenernya kenapa sih kamu nggak mau sekali pun nurut kata Ayah?!"


"Reza butuh uang buat sekolah juga buat ibu... Ayah kan nggak mau pakai uang yang dari kakek sama nenek."


Prangg...


Botol minuman k*ras itu dilempar tepat di samping Reza berdiri.


"Kamu sekarang remehin ayah, hah?!"


Pria paruh baya itu mencengkeram baju anaknya, memukul wajah anaknya dengan sekuat tenaga.


Reza tetap diam tak menjawab dan juga tidak menghindar, bagian ujung bibirnya sobek. Ada rasa perih yang samar disudut hatinya. Ingatan kejadian setahun yang lalu saat ayahnya begitu marah dan hampir membuatnya kehilangan nyawa juga muncul dalam pikirannya.


Sang Ibu mencoba melerai. Menyuruh Reza masuk kamar, namun ayahnya justru mengambil sebuah vas bunga yang kemudian dihantamkannya ke Reza.


Pria bermata hitam itu menghindar sehingga vas itu terkena bahunya.


"Anak sialan! Ayah juga tau kalau ayah nggak guna! Rumah, kendaraan dan barang yang kamu dapat semua dari kakek kamu. Ya! Semua dari dia! Kakek tua dengan bisnis gelap sialan itu!" ucapnya sambil berteriak.


Reza masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu. Rasa perih dibahunya mulai terasa. Begitupun dengan luka di sudut bibirnya.


Ayahnya masih berteriak diluar dengan suara parau. Menumpahkan segala amarah yang tersimpan sejak bertahun-tahun lalu.


"Gara-gara dia, ayahmu ini jadi kehilangan kerjaan dan sampai dipenjara! Gara-gara dia, ayah mu ini jadi penjahat! Kakek mu itu b*jingan, kakek yang kamu hormati itu bakal korbanin apapun jika terdesak!"


Reza diam, menghela nafas panjang lalu membuka tas yang ada di lemari. Ia mengeluarkan botol kecil hitam. Tubuhnya gemetar hebat, nafasnya menjadi tak beraturan. Tangannya menggengam erat botol kecil berwarna hitam itu.


Lambat laun tak ada lagi suara teriakan yang terdengar. Hanya sayup-sayup suara ayahnya yang tampaknya sedang menangis.


Reza mengalihkan pandangan matanya ke ponselnya. Ia membuka casing ponsel itu, 2 plester luka berwarna pastel dengan motif bintang terjatuh.


Reza sengaja tak memakainya karena merasa sayang. Ia menyimpannya di balik casing ponselnya, untuk dilihat sewaktu waktu.


Reza membuka botol kecil itu, mengambil beberapa butir benda yang mirip dengan obat kemudian meneguknya dengan air di botol yang ada dalam tasnya.


Nafasnya kembali normal, tangannya menggenggam plester luka itu dengan lembut.


“Hah... ternyata dunia kita berbeda sekali ya,” guman Reza pelan.


Pandangan matanya mulai kabur. Samar-samar ia ingat saat Lilia tertawa. Samar-samar ia ingat ekspresi gadis bermata coklat saat mengkhawatirkannya.


Pikiran laki-laki bermata hitam itu bertanya-tanya. Jika gadis itu mengetahui tentang sisi gelapnya, apa nanti dia akan membencinya?


Jika Lilia mengetahui kondisi keluarganya, apa yang kira-kira nanti dipikirkannya?


Reza tersenyum dalam ketidaksadarannya. Ia sepertinya sedang berhalusinasi sebelum akhirnya matanya tertutup karena rasa kantuk yang luar biasa.


...◇◇◇...


 


Tak banyak yang mengetahui keadaan keluarga Reza. Laki-laki yang selalu terlihat keren itu memiliki kehidupan yang bisa dikatakan jauh dari kata normal.


Ibunya berasal dari keluarga berkecukupan yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya di kota T, namun ayahnya hanya pegawai kantor biasa di salah satu perusahaan yang dimiliki keluarga istrinya.


Ayah Reza, Bayu dulu adalah orang yang baik dan lurus. Pria itu memang terkenal tidak begitu pintar saat sekolah dulu, namun dia adalah pekerja keras paling rajin dari semua teman-teman seusianya.


Ketika lulus SMA, Bayu langsung mencari pekerjaan karena tidak memiliki biaya melanjutkan pendidikan lebih tinggi.


Tampangnya yang lumayan serta kulitnya yang bersih cerah membawa keberkahan tersendiri hingga ia direkrut  menjadi salah satu sales di sebuah perusahaan obat di Jawa Timur.


Berkat kerja keras dan ketekunannya, ia diangkat menjadi sales area di salah satu pusat kota.


Saat itulah Bayu bertemu dengan perempuan yang dicintainya. Meski sempat tak mendapatkan restu dari keluarga istrinya. Pria itu tetap nekat menikahinya.

__ADS_1


Semuanya masih lancar hingga beberapa tahun mereka menikah bahkan memiliki seorang putra. Mertuanya mulai luluh dengan kehadiran sang cucu.


Setelah itu Bayu pun diangkat menjadi penanggungjawab pabrik obat yang tak lain adalah salah satu usaha mertuanya.


Hal buruk terjadi ketika anaknya menginjak bangku SMP. Perusahaan tempatnya bekerja terkena masalah.


Pabrik yang memproduksi obat tersebut disebut memproduksi obat terlarang juga hingga akhirnya dilakukan audit dan ditemukan bukti kuat hingga akhirnya perusahaan tersebut ditutup.


Bayu mendapatkan hukuman dan dipenjara karena dianggap menyalahgunakan jabatannya hingga memproduksi obat terlarang.


Saat itu media cukup heboh dengan pemberitaan karena mertua Bayu memang dikenal sebagai salah satu orang terkaya di kota T.


Bayu seharusnya menjalani masa hukuman selama 10 tahun, namun berkat campur tangan mertuanya, ia bisa bebas hanya dalam waktu satu tahun.


Setelah keluar dari penjara, Bayu kesulitan mendapatkan pekerjaan karena latar belakangnya yang sempat dipenjara. Mertuanya juga enggan memperkejakannya lagi karena ingin menjaga citra semua usahanya.


Keadaan semakin sulit karena Bayu tak juga mendapatkan pekerjaan hingga harus menjual rumah mereka.


Saat itulah keluarga sang istri kembali datang dan meminta istrinya dan anaknya untuk dibawa kembali ke keluarga besar mereka.


Istrinya tentu saja menolak karena ingin hidup bersama suaminya, namun keluarga tersebut tak menyerah hingga terus mendekati anaknya.


Keluarga itupun memberikan sebuah rumah untuk anaknya agar cucu mereka tidak hidup kekurangan. Setiap bulan keluarga kaya itu bahkan memberikan jatah bulanan yang cukup fantastis.


Bayu yang merasa terhina dengan tindakan keluarga itu serta rasa tidak berdaya dan penuh rasa bersalah itu perlahan melemahkan mentalnya.


Tak ada lagi sosok Bayu yang pekerja keras. Ia hanya ingin cepat mendapatkan uang yang banyak agar bisa mengganti uang rumah yang diberikan mertuanya itu.


Perilaku Bayu berubah, laki-laki itu menjadi pemarah dan mulai terjebak dalam dunia j*di.


Saat mengetahui mertuanya memberikan berbagai barang elektronik, saat itulah pertama kalinya Bayu memukuli anaknya.


Rasa bersalah, rasa malu dan semua rasa yang ia sembunyikan menjadi tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan seorang ayah kepada anaknya.


Reza memahami itu, ibunya telah bercerita dan memohon pada Reza untuk tidak membenci ayahnya.


Reza berada diambang keraguan. Ia tak suka diperlakukan kasar apalagi dipukuli, namun mengetahui alasan dibalik itu membuatnya tak bisa sepenuhnya membenci ayahnya.


Keadaan seperti itu membuatnya bimbang. Sebisa mungkin Reza menolak pemberian dari kakek dan neneknya agar sang ayah tidak merasa rendah diri. Namun tetap saja yang terlihat di mata ayahnya hanyalah kesalahan.


Reza masih belum mengerti kenapa ayahnya berkata bahwa kakek dan neneknya yang menghancurkan hidupnya. Padahal mereka sudah berbaik hati memberikan rumah dan fasilitas lain yang dibutuhkannya.


Reza tau kakeknya memang memiliki usaha gelap, namun ia merasa tak yakin kakeknya itu akan mengkambing hitamkan ayahnya karena masalah tersebut.


Sosok kakek yang dikenal Reza adalah sosok kakek yang meskipun terlihat keras sebenarnya adalah orang yang tidak tegaan.


Meski terlihat membenci menantunya, kakek Reza kadang masih menanyakan keadaannya. Namun ayahnya berkali-kali mengatakan bahwa kakeknya lah yang membuatnya dipenjara.


Padahal Adhi lah yang membuat nasa hukuman ayahnya menjadi hanya satu tahun.


Sejak emosinya terganggu, ayah Reza jadi sering berj*di demi bisa mendapatkan uang jumlah besar dalam waktu singkat.


Bayu sesekali menang, namun lebih sering kalah. Meski begitu ia tak mau menggunakan uang pemberian mertuanya yang tetap utuh di rekening istrinya.


Pria paruh baya itu juga sering mengonsumsi alkohol untuk mengalihkan pikirannya yang sering kacau. Ibu Reza tak bisa melakukan apapun selain merawat suaminya dengan baik. Meski ingin bekerja, sang suami selalu melarang dan akan marah.


Keadaan rumah yang kacau membawa Reza kepada pergaulan yang salah. Rasa rendah diri yang dimiliki sang ayah tampaknya menurun kepada Reza.


Meski sebelumnya baik-baik saja, Reza akhirnya menjauh dari teman-temannya yang baik dan lebih merasa pantas berteman dengan orang yang memiliki latar belakang yang sama.


Pikirannya kacau namun tak tau harus diapakan. Saat itulah teman-teman setongkrongan mengenalkannya pada ob*t-ob*tan terlarang.


Reza merasa tenang sejenak dan merasa perasaannya ringan selama beberapa waktu. Namun tetap saja kenyataan yang sama akan tetap ada saat dia tersadar.


Tak banyak yang mengetahui banyak anak yang terluka dan kacau secara emosional akibat keadaan keluarga mereka. Meskipun tahu, orang lain tetap akan bersikap tak peduli karena itu bukan masalah mereka.


Seperti itulah kehidupan sebagian manusia...


...◆◇◆◇◆...

__ADS_1


__ADS_2