Blue Scandal

Blue Scandal
15 - Identitas tersembunyi


__ADS_3

Suasana di ruang guru pagi itu tampak berbeda dari biasanya. Tampak beberapa guru bergerombol membicarakan sesuatu.


Begitu Julio datang, semua guru kembali ke tempatnya masing-masing. Laki-laki berkacamata itu tak ambil pusing dengan suasana yang berubah, ia tetap tersenyum ramah dan menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya.


Saat Julio meletakkan tasnya di samping kursinya, pak Damar mendekat dengan ekspresi cemas.


“Pak Julio, saya dengar anda mau mendatangi orang tua siswa?” tanya pak Damar dengan suara pelan.


Julio tersenyum tenang. “Iya, ada yang harus saya bicarakan dengan orang tua siswa langsung.”


“Pak, saya tau anda sangat bersemangat dalam mendidik siswa, tapi saya sarankan untuk tidak terlalu jauh terlibat dengan urusan siswa.”


Julio tersenyum lagi. “Saya sudah mendengar hal serupa kemarin. Saya berterimakasih jika pak Damar mengkhawatirkan saya, tapi saya sungguh tidak apa-apa.”


Pak Damar tampak tetap cemas. “Pak, saya sungguh menyarankan untuk tidak berurusan dengan ayahnya Rion,” ucap pak Damar dengan suara sepelan mungkin.


Julio menepuk bahu pak Damar. “Terimaksih atas sarannya, tapi saya tidak bisa diam saja melihat sesuatu yang salah.”


Pak Damar menghela nafas panjang. “Baiklah jika memang anda sudah bertekad, jika ada yang bisa saya bantu tolong beritahu.”


Julio cukup terkejut dengan apa yang dikatakan pak Damar. Guru lainnya tentu saja akan menghindar karena menurut mereka itu adalah hal yang hanya mendatangkan masalah.


“Saya cukup terkejut mendengar pak Damar menawarkan bantuan, saya dengar orang tua Rion cukup berpengaruh, apa pak Damar tidak takut?”


Pak Damar menghela nafas panjang. “Saya malu dengan semangat anda, padahal lebih muda. Saya yang sudah lama menjadi pendidik justru terlalu takut. Selain itu saya seperti melihat orang yang saya kenal dari pak Julio… ,” ucap pak Damar dengan suara ragu.


Julio menatap pak Damar dengan ekspresi bingung.


“Tidak usah dipikirkan… pak Julio mau menemui kepala sekolah lebih dulu kan? Biasanya jam segini sudah datang,” ucap pak Damar sambil memperhatikan jam dinding.


Julio mengangguk mengerti lalu mengucapkan terimakasih. Pria bermata coklat terang itu langsung menata beberapa kertas lalu keluar dari ruang guru menuju ruang kepala sekolah.


...◇◇◇...


Ruang kepala sekolah itu tampak rapi seperti biasa. Tatapan matanya tertuju pada sebuah foto diatas lemari kecil. Laki-laki bermata coklat terang itu tersenyum simpul.


“Ada apa Jun?” tanya kepala sekolah yang muncul dari pintu yang menghubungkan dengan ruang tata usaha.


“Jangan memanggil saya seperti itu disini,” ucap Julio dengan ekspresi dingin.


Kepala sekolah itu tertawa. Pria  dengan jas hitam itu duduk lalu menyilangkan kakinya.


“Saya dengar ada keributan di ruang guru kemarin?”


Julio meletakkan sebuah berkas diatas meja di hadapan kepala sekolah. “Saya butuh surat tugas untuk menemui orang tua siswa.”


Kepala sekolah itu tertawa. “Sikap mu yang seperti itu harus diperbaiki bukan? Pak Julio ini harus menjawab pertanyaan saya dulu.”


“Kan anda sudah tau, apa saya perlu menjelaskan ulang?” tanya Julio tanpa dengan ekspresi datar.


Kepala sekolah itu tertawa. “Ya ya, dasar keras kepala. Saya harap pak Julio bisa bersikap lebih baik demi kelancaran tugas yang sedang anda lakukan.”


Kepala sekolah itu mengambil kertas diatas meja lalu menandatanganinya dengan cepat.


“Pak Julio sudah bertemu Lilia?” tanya kepala sekolah sambil tersenyum.


Julio menatap tajam kepala sekolah itu. “Saya harap pak Alex tidak ikut berkomentar tentang hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadi saya.”


“Apa anda salah mengingat nama saya? Hahaha, awalnya saya juga terkejut saat pertama kali melihat siswa itu… Saya seperti melihat Nina hidup lagi.”


“Sepertinya anda sudah bosan menjadi kepala sekolah disini?”


“Maafkan saya pak Julio hahaha, saya ini senang sekali ada pangeran Notus datang ke tempat yang damai seperti ini.”


“Anda memang tidak punya rasa takut ya? Jika ada yang mendengar anda berbicara seperti ini bisa saja besok ada berita orang hilang,” ucap Julio sambil merapikan berkas yang sudah ditandangani kepala sekolah.


“Saya benar-benar minta maaf pak hehe, tolong sampaikan salam saya ke ‘Ayah’.”


“Ya,” jawab Julio singkat lalu bangkit dari tempat duduknya.


“Oh iya saya hampir lupa, ada informasi terbaru tentang angin timur kali ini, saya harap anda berhati-hati dengan salah satu orang yang akan anda temui nanti meski tentu saja orang itu tidak akan berkutik di depan anda hahaha.”


Julio malas menanggapi. Tak lama kemudian suara pintu diketuk. Laki-laki berkacamata itu menatap tajam lagi ke arah kepala sekolah.


“Tenang ruangan ini kedap suara,” ucap kepala sekolah pelan sambil melangkah ke arah pintu.


“Maaf pak Arman, ada tamu yang datang… .” ucapan salah satu petugas tata usaha itu terhenti saat melihat Julio.


“Oh sedang ada pak Julio ya? Maafkan saya,” ucap pria paruh baya itu.


“Urusan saya dengan pak kepala sekolah sudah selesai kok,” ucap Julio sambil tersenyum.

__ADS_1


“Terimaksih pak Arman, saya permisi dahulu,” ucap Julio menambahkan.


Kepala sekolah mengangguk mengerti lalu berjalan ke ruang depannya untuk menemui tamu yang datang dari sekolah lain.


 


...◇◇◇...


Julio kembali ke ruang guru dengan ekspresi tenang, setelah memindai dokumen yang ditandatangani kepala sekolah, laki-laki bermata coklat terang itu segera membuat surat pemberitahuan dan mengirimkannya kepada orang tua dari tiga siswa yang melanggar peraturan.


Julio menghela nafas lagi, ia tampak kesal dengan apa yang diucapkan oleh kepala sekolah.


“Tumben wajah pak Julio terlihat penuh beban. Biasanya selalu tampak ceria,” ucap pak Bambang sambil tertawa.


“Pusing mikirin siswa yang bikin masalah tuh pak,” sahut pak Bili yang juga ikut tertawa.


Julio mau tidak mau akhirnya ikut tertawa.


“Ya gitulah pak kalau ngajar di desa ada saja kelakuan murid, nggak kayak di kota yang biasanya selalu nurut,” ucap pak Bambang sambil menyodorkan minuman dingin ke Julio.


“Terimakasih pak.” Julio pun menerima minuman itu dan langsung meminumnya.


Suasana ruang guru itu kembali normal, tidak seperti tadi pagi yang terasa seperti diselimuti ketegangan.


“Semangat ya pak,” ucap bu Sri ikut menimbrung.


“Terimakasih.”


Obrolan antara guru itu berlanjut dan Julio hanya sesekali menanggapi karena malas.


Bel istirahat pun berbunyi, tak lama kemudian guru lain yang sedang mengajar kembali ke ruang guru. Julio pun langsung bangkit dan segera menuju ruang osis.


 


...◇◇◇...


Saat memasuki ruang OSIS, Julio melihat ke sekeliling dan tak menemukan Lilia.


“Nyari siapa pak?” tanya Fahmi yang melihat Julio tampak celingukan.


“Lilia belum datang?”


“Masih di kantin sama Fani mungkin pak.”


“Oh siap pak nanti saya sampaikan.”


Julio pun langsung kembali ke ruang guru. Laki-laki berkacamata itu diam sejenak karena baru menyadari tindakan konyolnya.


Sebenarnya Julio tidak perlu memberitahu melalui Fahmi karena dia sendiri bisa langsung menghubungi melalui pesan.


Julio menghela nafas panjang lagi dan dalam hati menyalahkan kepala sekolah yang mengingatkannya pada Nina secara tiba-tiba.


Julio memeriksa pesan yang masuk kemudian merapikan barang bawaannya.


“Mau kemana pak Julio?” tanya bu Sri penasaran.


“Ada keperluan dengan orang tua siswa, bu.”


“Loh pak Julio serius mau menemui orang tua siswa?”


“Ya seriuslah bu, ini kan hal penting yang harus dibicarakan.”


“Aduh pak, yaudah hati-hati ya.”


“Kalau boleh tau kenapa ya bu hampir semua guru berpesan hal yang sama?”


“Duh pak Julio ini baru disini sebentar sih… .”


Bu Sri pun menceritakan tentang salah satu guru yang pernah melakukan hal serupa dengan Julio saat Rion masih SMP dan tak lama kemudian dipindahtugaskan. Julio yang mendengar itu mengangguk mengerti dan berterimakasih atas informasi yang diberikan.


Laki-laki dengan tinggi 177 cm tersenyum, namun tatapan matanya tampak tajam seolah sudah siap menghadapi appaun yang akan terjadi.


...◇◇◇...


Julio memarkir motornya di ujung tempat parkir di salah satu P*lres di daerah Jawa Timur itu.


Laki-laki berkacamata itu memasuki P*lres dengan ekspresi tenang. Setelah berbicara dengan resepsionis, Julio diarahkan ke ruang tamu khusus karena sudah memiliki janji dengan kepala divisi Pr*pam P*lres, Gerry Adjie Pangestu yang merupakan ayah dari Rion.


“Selamat siang pak, maaf mengganggu waktunya dan terimakasih sudah mau meluangkan waktu. Saya Julio guru BK dari sekolah tempat putra anda belajar,” ucap Julio sambil menjabat tangan kadiv Pr*pam itu.


Laki-laki berjenggot tipis itu memperhatikan Julio agak lama.

__ADS_1


“Oh ya ya, maaf pak, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


“Tidak pak, baru kali ini saya bertemu anda,” ucap Julio sambil tersenyum.


“Oh begitu, soalnya wajah anda tampak familiar. Eh silahkan duduk, monggo… “ucap Gerry mempersilakan.


Julio langsung duduk lalu mulai menjelaskan maksud kedatangannya dan menceritakan kronologis yang terjadi.


Gerry mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Meski sempat terkejut, laki-laki yang memakai seragam coklat itu tampak cepat mengendalikan ekspresinya.


“Saya ingin memastikan kebenaran yang diucapkan oleh Rion,” ucap Julio mengakhiri penjelasan.


Gerry menggaruk alisnya yang terasa gatal lalu memasang ekspresi seolah cemas.


“Maafkan saya pak, sebagai orang tua saya ini sebenarnya bisa disebut gagal… ,” ucap Gerry dengan ekspresi sedih.


“Anak saya memang mengalami depresi berat sejak kematian ibunya… Terkadang anak itu tidak bisa mengendalikan emosinya sehingga harus membawa obat kemanapun dia pergi,” ucap Gerry menjelaskan.


Julio yang terbiasa menghadapi banyak orang dengan berbagai ekspresi, bisa mengetahui bahwa orang di hadapannya ini sedang berbohong.


Julio tersenyum. “Maafkan saya jika saya menanyakan hal ini. Saya mengkhawatirkan siswa sekolah saya telibat dengan sesuatu yang tidak baik.”


“Saya mengerti itu. Saya justru merasa tenang jika ada guru yang bertanggungjawab seperti pak Julio di sekolah anak saya.”


Julio tersenyum lagi. “Baiklah karena saya sudah mengonfirmasi hal ini, saya pamit undur diri.”


“Oh iya, anda bisa langsung menghubungi saya melalui pesan saja jika ada yang ingin ditanyakan. Kadang saya tidak memiliki banyak waktu luang untuk menemui.”


“Baik saya mengerti. Maafkan kedatangan saya yang kali ini mengganggu waktu luang anda yang sedikit itu,” ucap Julio menekankan.


Gerry tampak terkejut. “Ah maksud saya akan lebih efesien jika melalui pesan saya karena akan sayang sekali jika anda ingin menemui saya disaat saya kebetulan sedang bertugas.”


“Ya, saya mengerti. Saya pamit dulu.”


Usai berpamitan, Julio pun langsung pergi.


Ekspresi Gerry berubah begitu Julio pergi. Laki-laki berseragam coklat itu tampak marah. Ia langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


“Pak, apa anda bisa memindah tugaskan seorang guru?”


“Gampang itu pak, seperti sebelumnya kan?”


“Nama guru itu Julio, dia mengajar di sekolah anak saya. Saya tidak ingin ada masalah, tolong cari tau tentangnya dan pindahkan dia ke sekolah lain.”


“Siap.”


Klik…


Gerry langsung memasukkan ponsel ke sakunya. Ia masih tampak marah. Baru kali ini ada seorang guru yang berani lagi menemuinya setelah kejadian dua tahun lalu saat anaknya SMP.


Gerry juga merasa marah karena anaknya melakukan sesuatu yang membuatnya harus membereskan hal itu.


Drrtttt


Gerry langsung mengangkat ponsel itu.


“Maaf pak Ger…”


“Ada apa?”


“Sepertinya kali ini saya tidak bisa memindahtugaskan orang yang bapak maksud, dia hanya guru honorer.”


“Apa?”


“Wewenang tentang guru itu sepenuhnya ada di sekolah…”


“Ya hubungi saja pihak sekolahnya lah ! Suruh berhentikan langsung. Anda kan juga kenal dengan kepala sekolah SMA 1 Harapan Negeri.”


“Maaf pak, pak Arman diluar pengaruh kami…”


“Dasar tidak berguna!”


Klik


Gerry langsung mematikan ponselnya dengan penuh emosi. Giginya gemertak menahan amarah yang semakin membesar.


Meski begitu pikirannya tampak bekerja normal.


Memangnya ada sekolah yang tidak ada dalam pengaruh UPT pendidikan setempat?


Gerry tampak berpikir dalam-dalam. Ia merasa ada sesuatu yang tak seperti biasanya.

__ADS_1


“Arman… Julio…” gumam Gerry mencoba mengingat barangkali ada nama yang ia kenali, namun laki-laki itu yakin tak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Meski wajah guru itu tampak familiar, ia yakin tak mengenal kedua nama tersebut.


...◆◇◆◇◆...


__ADS_2