Blue Scandal

Blue Scandal
36 - Penenang


__ADS_3

Julio menuju tempat parkir. Ia memacu motornya yang berwarna biru itu keluar dari sekolahan. Saat melewati gerbang, matanya menangkap sosok perempuan yang sedang duduk sendiri di depan sekolah itu. Eskpresi siswa itu tampak sedih.


Julio mengarahkan motornya ke dekat gadis itu. “Lilia?”


Perempuan yang merasa dipanggil namanya itu menoleh. “Oh pak Julio baru mau pulang?”


“Iya. Loh kamu belum pulang?” tanya Julio sambil memeriksa jam tangannya.


“Tadi sebenarnya Papa saya bilang mau menjemput, jadi saya bilang ke Fani untuk pulang dulu. Tapi sampai sekarang Papa saya tidak bisa dihubungi… .”


“Hmm, kalau begitu biar saya antar, sudah tidak ada bis lewat jika sudah sore kan?”


Lilia sebenarnya tidak ingin merepotkan guru itu terus, hanya saja ia tidak punya pilihan lain karena Fani akan pulang lebih sore.


“Maaf saya selalu merepotkan,” ucap Lilia pelan.


“Tidak kok.”


Julio pun mengantar Lilia terlebih dahulu. Laki-laki berkacamata itu teringat dengan hasil tes DNA yang dibacanya beberapa hari lalu.


“Kamu hari ini tidak seperti biasanya,” ucap Julio membuka percakapan,


“Hmmm entahlah, suasana hati saya sedang kurang baik.”


“Tumben sekali, apa tentang Reza lagi?”


Lilia diam, entah kenapa ia merasa kesal dengan tebakan Julio yang selalu tepat sasaran.


“Kenapa pak Julio berpikir begitu?”


Julio tertawa. “Saya jarang melihat kamu tidak semangat, biasanya yang bisa membuat kamu berekspresi seperti itu pasti berhubungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Reza, apa kamu ditolak?”


Lilia kesal dengan ucapan guru muda itu namun disaat yang sama ia merasa terhibur dengan tebakan yang diucapkan Julio.


“Hmm entahlah, saya merasa sudah ditolak tanpa melakukan apapun hehe.”


“Memangnya Reza bilang apa lagi?”


“Nggak bilang apa-apa kok. Saya bahkan belum berbicara lagi dengannya akhir-akhir ini… Dia seperti sedang sengaja menjauh lagi…”


"Kalau kamu sedih karena tidak bicara dengannya ya ajak bicara.”


Lilia tertawa, “Sebenarnya saya bukannya sedih karena nggak ngobrol sih pak… “


“Lalu?”


“Anda jangan tertawa ya… .”


“Tidak kok, saya memahami perasaan anak muda.”


“Hmmm… entah kenapa saya ngerasa seperti ditinggal semua orang. Semua tau sekarang Reza bekerja jadi model, saya justru baru mengetahuinya hari ini… Perasaan semacam, saya ini nggak sepenting itu untuk diberitahu…” ucap Lilia pelan.


Julio diam sejenak. Ia melirik ke kaca spion motornya. Ia bisa melihat ekspresi gadis itu terlihat sendu.


“Ya jika itu berkaitan dengan orang yang spesial, pasti jika terlambat tau, tentu itu jadi hal yang membuat perasaan tidak nyaman… tapi bukan berarti kamu ditinggalkan kok.”


Lilia menunduk. “Mungkin saya pms jadi merasa terlalu emosional… ,”


“Merasakan perasaan seperti itu bukanlah hal yang salah kok, itu tandanya kamu menyayangi teman-teman mu,” ucap Julio menghibur.


Mata Lilia menjadi berkaca-kaca. “Saya sebenarnya tidak terlalu suka pandangan orang lain yang menyebut saya seperti hidup di dunia lain... “


“Dunia lain? Alam ghaib maksudnya?” tanya Julio mencoba bercanda.


“Ih pak Julio.. .” Lilia kesal karena candaan yang sebenarnya tidak salah juga,


“Bukan begitu, maksud saya, mereka selalu menganggap saya siswa yang punya kehidupan sempurna, lain dari siswa lainnya bahkan beberapa orang ada yang merasa untuk berteman dengan saya tidak pantas, padahal saya kan tidak seperti itu… Saya ingin berteman dengan siapapun dan Reza salah satu orang yang mungkin berpikir begitu,“ ucap Lilia sambil menghela nafas.


Julio melirik lagi ke spion motor, raut wajah Lilia sudah terlihat lebih lega. Guru muda itu tersenyum di balik helmnya.


“Ya tidak apa-apa, bukannya bagus? Orang yang ada di dekat mu secara otomatis adalah orang tertentu yang terpilih. Kalau Reza berpikir begitu ya biar saja, lebih baik kamu berteman dengan orang yang benar-benar memahami mu dan tidak menilai kamu secara sepihak.”


Lilia menghela nafas, kali ini ia merasa tidak puas dengan jawaban Julio.

__ADS_1


Tak lama kemudian ia tiba di gapura desa. Lilia dan Julio tampak bingung karena ada banyak orang berkumpul.


Julio mematikan motornya, Lilia turun lalu bertanya ke salah satu warga sekitar.


“Permisi pakde, ada apa ya?”


“Loh nak, kamu baru pulang? Itu tadi Papa mu kecelakaan di depan sini, baru saja di bawa ke puskesmas kecamatan.”


Pria tua tersebut menjelaskan kronologi kecelakaan yang menimpa ayah Lilia.


Lilia terkejut, ia membeku selama beberapa saat. Julio pun turun dari motornya dan mendekati Lilia.


“Ada apa?”


“Pak, Papa saya kecelakaan… ,” ucap Lilia dengan ekspresi bingung dan panik.


“Lilia, tarik nafas… “ ucap Julio mencoba menenangkan.


Lilia menurut, setelah agak tenang Lilia baru menjelaskan apa yang baru saja didengarnya.


“Kamu mau saya antar ke puskesmas?”


“Apa tidak apa-apa bolak-balik?” tanya Lilia ragu.


“Nggak apa-apa kok, ayo saya antar.”


Lilia menaiki motor itu lagi. Mereka pun segera menuju ke puskesmas kecamatan.


Selama perjalanan, kepala Lilia dipenuhi pikiran buruk dan berbagai kemungkinan yang tidak baik. Ia sangat khawatir dengan kondisi ayahnya sekarang.


...◇◇◇...


Begitu sampai puskemas, Lilia langsung bergegas masuk. Setelah mendapatkan informasi dari salah satu petugas puskesmas, gadis bermata coklat itu langsung menuju ruangan tempat ayahnya di rawat.


“Papa!”


Laki-laki paruh baya itu menoleh, ia tampak terkejut melihat putrinya ada di puskesmas itu.


“Lilia, maaf Papa nggak jadi jemput.”


Ayah Lilia mencoba memahami kekhawatiran anaknya. “Papa nggak apa-apa kok, cuma retak doang tulang kakinya.”


Lilia semakin kencang menangis. Ia bahkan tidak peduli jika ada orang lain yang mendengarnya.


“Aduh anak Papa kenapa nangisan gini? Beneran kok Papa nggak apa-apa. Ngomong-ngomong kamu kesini sama siapa?”


Tangisan Lilia menjadi pelan, ia baru ingat Julio. Gadis itu menoleh ke ruangan itu namun tak ada orang yang sedang dicarinya.


“Oh, tadi pas mau pulang dianter guru Lilia, tapi sampe gapura desa tadi dikasih tau kalau Papa kecelakaan, terus guru Lilia anter kesini,” ucap Lilia menjelaskan dengan suara yang masih serak.


“Kok nggak diajak masuk? Suruh kesini, Papa mau ngucapin terimakasih… .”


Lilia mengelap air matanya yang masih tertinggal di wajah. Ia keluar dari ruangan itu masih dengan mata sembab.


Julio sedang duduk di depan puskesmas itu sambil memainkan ponsel dengan ekspresi serius.


“Pak Julio, maaf saya tadi langsung masuk,” ucap Lilia tanpa berani melihat ke arah guru itu karena matanya masih sembab,


“Tidak apa-apa. Bagaimana ayah mu? Baik-baik aja?”


Lilia mengangguk. “Anu, Papa minta pak Julio masuk.”


Julio diam sejenak lalu mendekat ke arah Lilia. Keduanya pun masuk ke salah satu ruangan di puskesmas itu.


Seorang laki-laki paruh baya sedang berbaring di ranjang puskesmas dengan ekspresi tenang.


‘Ayahnya Nina ya..’ ucap Julio dalam hati.


“Selamat sore pak, saya Julio gurunya Lilia,” ucap pria berkacamata itu memperkenalkan diri.


Ayah Lilia tersenyum ramah. “Terimakasih ya sudah mau mengantar Lilia kesini, maaf anda jadi harus bolak-balik. Saya Budi, Papanya Lilia.”


“Tidak apa-apa kok, tidak repot sama sekali.”

__ADS_1


Ayah Lilia memperhatikan Julio dengan teliti. “Pak Julio masih muda sekali ya.”


“Iya pak, saya guru baru di sekolah tempat Lilia belajar. Belum ada satu tahun saya disini.”


“Ohh gitu, pantas saja, saya ini hafal hampir semua guru loh, wajah pak Julio ini yang baru saya lihat.”


Lilia diam di dekat ayahnya sambil menggenggam tangan laki-laki paruh baya itu. Ia enggan ikut dalam obrolan antara ayah dan gurunya.


Tak lama kemudian datang dokter yang baru saja datang lagi karena sebelumnya sudah pulang.


“Permisi, ini anak-anaknya bisa tolong keluar dulu ya,” ucap perempuan berjas putih.


Julio yang disebut juga anak oleh dokter itu hanya bisa diam karena Budi hanya tertawa. Lilia dan guru muda itupun keluar dari ruangan itu.


“Kamu tadi menangis?” tanya Julio memecah keheningan.


“Saya sepertinya memang sedang pms dan jadi lebih emosional, saya terlalu banyak memikirkan kemungkinan yang buruk.”


“Begitu juga nggak apa-apa kok, kamu tidak perlu menahan perasaan mu, justru lebih sehat jika diekspresikan.”


Lilia diam, kalimat dari Julio selalu berhasil membuatnya tenang. Tak lama kemudian dokter perempuan dan perawat tadi keluar dari ruangan itu lalu berbicara dengan Lilia sebentar.


Julio masuk lebih dulu ke ruangan itu karena ayah Lilia melambaikan tangan kepadanya meminta masuk.


“Pak Julio, saya minta maaf sebelumnya, apa saya boleh minta tolong lagi?”


“Kalau saya bisa, tentu saya bersedia pak.”


Pria paruh baya itu tersenyum lega. “Tolong antarkan anak saya pulang ke rumah ya, kalau dia disini hingga malam nanti malah nggak bisa pulang.”


“Lalu bagaimana dengan anda?”


“Dokternya bilang saya harus istirahat dulu, tapi tidak apa-apa kok.


“Baik.”


Setelah berbicara dengan dokter, Lilia pun ikut masuk ke dalam ruangan itu.


“Lilia, kamu pulang aja ya sama pak Julio.”


Lilia terkejut dengan apa yang dikatakan ayahnya. “Nggak mau, Lili mau nemenin Papa.”


“Masa kamu mau tidur di kursi?”


“Ya nggak apa-apa, besok kan minggu juga. Pokoknya Lili nggak mau pulang.”


“Nggak boleh gitu dong anak Papa, Mama mu nanti sendirian di rumah.


Lilia diam, ia ingin menunggui ayahnya namun ia juga jadi memikirkan ibunya.


Melihat putrinya ragu, Budi mengambl kesempatan. “Temen Papa nanti kesini, jadi kamu temenin Mama aja ya?”


Lilia cemberut namun ia akhirnya setuju.


“Maaf, begini, saya rencananya akan ke Semarang malam ini, ada yang perlu saya ambil dulu di rumah, biar sekalian mengantar Lilia dan tidak bolak-balik, Lilia tunggu disini dulu ya.”


Budi mengangguk setuju begitupun dengan Lilia. “Maaf ya pak merepotkan,” ucap Budi lagi.


“Tidak kok, kan sekalian lewat juga pak. Saya permisi dulu, nanti saya kembali.”


Budi mengangguk begitupun dengan Lilia. Julio pun meninggalkan puskesmas itu.


“Guru mu baik sekali ya nak, masih muda pula” ucap Budi sambil senyum senyum.


“Hayo Papa mikir apa?”


Budi tertawa melihat putrinya cemberut. “Berpikir dia mungkin jadi mantu yang baik.”


“Paa! Jangan bercanda gitu, nggak enak ah sama beliau,” ucap Lilia kesal.


“Iya iya maafin Papa. Tapi dia muda sekali, Papa kira dia teman mu.”


Lilia meletakkan tas yang sedari tadi digendongnya. “Nggak tau, masa Lili nanya gitu kan nggak sopan. Ke guru kan harus sopan.”

__ADS_1


Budi tersenyum, bangga dengan sikap anaknya. Keduanya pun lanjut mengobrol sambil menunggu Julio kembali.


...◆◇◆◇◆...


__ADS_2