Blue Scandal

Blue Scandal
29 - Mencoba berubah


__ADS_3

Pagi hari pertama UTS itu terlihat cerah. Semua siswa menunggu di koridor kelas menunggu bel masuk berbunyi. Ada yang belajar, ada yang mengobrol, ada juga yang hanya bermain hp. Lilia dan Halina saat itu fokus membaca materi yang pernah dicatatnya.


Reza mengamati Lilia dan Halina. Ia masih merasa kaget karena penampilan Halina yang ditemuinya di tempat kerja sangat berbeda dengan saat ada di sekolah. Firasatnya mengatakan ada yang aneh dengan gadis bermata coklat gelap itu.


Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Semua siswa masuk kelasnya masing-masing dan duduk di kursi yang sudah diberi nomor. Lilia mengerjakan soal itu dengan tenang, begitupun dengan siswa lainnya.


Julio yang mengawasi ruangan itu tidak begitu memperhatikan kelas dan malah membaca buku.


Sejak Jumat lalu, Julio memang berusaha tak melihat ke arah Lilia atau mengajaknya bicara agar tidak menimbulkan reaksi dari beberapa orang yang mungkin memperhatikan.


Lilia selesai lebih dulu saat mengerjakan soal UTS itu, ia segera mengumpulkannya ke meja guru di depan lalu keluar dari ruang kelas itu. Beberapa siswa menatapnya dengan pandangan heran dan kagum.


Lilia duduk di salah satu kursi di koridor kelas, ia membuka lagi catatan materi untuk jadwal UTS selanjutnya.


Siswa yang keluar dari kelas itu selanjutnya Reza. Laki-laki itu duduk di seberang Lilia. Ia mengamati ekspresi serius perempuan bermata coklat itu. Namun pandangannya teralihkan begitu Halina juga keluar dari ruang kelas itu.


Halina langsung mendekat ke arah Lilia. “Lilll…”


Lilia menoleh, melihat Halina sedang berdiri dengan ekspresi cemberut membuat Lilia bingung. “Loh kenapa?”


Halina duduk di samping Lilia. “Kayaknya nilai ku bakal turun deh… , udah pusing banget jadi jawab asal deh.”


Lilia tertawa mendengar apa yang dikatakan temannya yang satu itu. “Kan masih banyak waktu luang, bisa dipikir dulu.”


“Nggak mau, udah pusing. Matematika susah banget sih,” ucap Halina dengan ekspresi kesal.


Lilia tertawa melihat Halina yang cemberut. “Kalau mau belajar Matematika, belajar sama Gavin tuh, pinter dia kalau jelasin pelajaran.”


Halina menyenderkan punggungnya di kursi. “Nggak ah, aku nggak mau mikir lagi.”


Reza diam di tempatnya dengan memakai earphone sambil membaca buku. Walau sebenanrya dia tidak menyalakan musik apapun.


Halina melihat ke sekeliling, beberapa siswa sudah keluar dari ruang kelas dan mengeluarkan buku dari tas nya untuk memeriksa jawaban yang sudah dikerjakannya.


“Mereka aneh ya, kenapa periksa jawaban yang udah dijawab, toh itu nggak bakal ngubah apapun… Bukannya lebih bagus manfaatin waktu buat belajar jadwal selanjutnya?” gumam Halina pelan.


“Ya nggak apa-apa kan? Mereka cuma mau memastikan apa yang sudah mereka pilih,” jawab Lilia dengan ekspresi tenang.


“Yaa, beda orang emang beda karakter sih,” ucap Halina sambil tertawa.


Lilia hanya tersenyum lalu fokus kembali membaca buku catatannya. Halina tampak bosan, ia memeriksa ponselnya.


“Lili, aku ke toilet dulu ya,” ucap Halina sambil tersenyum.


“Oke,” jawab Lilia yang tetap fokus membaca buku catatannya.


Halina pun bangkit dari tempat duduknya dan pergi menuju toilet.


...◇◇◇...


Usai UTS hari itu berakhir, Reza berniat ingin langsung pulang dan bersiap untuk melakukan pekerjaan barunya. Namun Gio dan kawan-kawannya sudah menunggu di tempat parkir.


“Ke 'Melon', Za,” ucap Gio yang sudah bersender di motor Reza.


“Nggak dulu deh, gue kerja sekarang, karena ngejar deadline project minggu ini gue nggak bisa main,” ucap Reza yang sudah berdiri di dekat motornya.


“Kerja lu sekarang? Kenapa? Keluarga lu kan kaya,” ucap Gio bingung.


“Ya yang kaya kan mereka, bukan gue.”


“Lah tetep aja lah lu masih dibiayain semua, kenapa kerja?”


“Buat alihin pikiran aja,” jawab Reza singkat. Ia enggan menjelaskan lebih lanjut tentang maksud pernyataannya.


“Yah, yaudahlah gue bareng Farhan aja,” ucap Gio yang agak kecewa.


“Sorry ya,” ucap Reza yang merasa tak enak.


“Santai lah, gue duluan kalau gitu,” ucap Gio lalu berlalu pergi.


Reza menghela nafas panjang, ia pun menyalakan motornya lalu segera pergi.


Fani yang saat itu juga berada di tempat parkir mendengar semua pembicaraan Reza dan Gio. Perempuan berambut pendek itu tampak bingung.


“Maaf Fan, tadi diajak ngobrol bentar sama bu Endah, udah lama nungguin ya?” ucap Lilia yang baru saja muncul setelah dari ruang guru.


“Nggak kok, santai aja, ayo,” jawab Fani sambil menyalakan motornya.


Selama perjalanan menuju rumah, Fani menceritakan tentang apa yang baru saja didengarnya dari tempat parkir tadi.


Sama seperti Fani, Lilia juga kaget mendengar Reza mulai bekerja. Ia mulai berpikir macam-macam dan kembali mengingat apa yang pernah dikatakan Halina kepadanya.


...◇◇◇...


Di studio foto Black Major…


.


.


Reza melakukan pekerjaannya dengan baik. Paras yang berasal dari ibunya membuatnya terlihat memukau dengan barang-barang branded.


“Sipp, giliran Reza sudah ya,” ucap fotografer mengacungkan jempol.


“Makasih mas,” ucap Reza sambil mengangguk sedikit. Laki-laki bermata hitam itu menuju meja yang menyediakan air minum untuk staff.


“Pffttt, di sekolah terkenal berandalan tapi disini kelihatan sopan ya,” ucap Halina yang sudah siap dengan baju yang akan dipotret.

__ADS_1


Reza enggan menanggapi dan melanjutkan meminum air di botol itu.


“Ayo buat kesepekatan,” ucap Halina lagi dengan ekspresi datar.


“Kesepakatan apaan?”


“Biar gue nggak ngasih tau ke Lilia kalau lu berandalan yang suka berantem, lu jangan cerita soal gue disini ke Lilia.”


“Dia udah tau kok, bilang aja.”


Halina tampak kesal namun tertawa. “Hmmm kalau gitu, dia udah tau belum kalau lu… ,“ Haliba menjeda perkataannya sejenak.


“ng * b a t… .” ucap Halina tanpa suara.


Reza duduk di kursi yang tak jauh dari Halina. “Lu kenapa sih?"


Halina tersenyum karena pancingannya berhasil. “Gue butuh kepastian dan jaminan.”


“Kepastian apaan?”


“Ya jangan cerita ke Lilia soal gue kalau di tempat kerja.”


Reza mengernyitkan keningnya, untuk sejenak ia merasa curiga dengan apa yang diucapkan Halina. Laki-laki bermata hitam itu menghela nafas panjang. “Terserah lu aja lah."


Setelah mengucapkan itu, Reza langsung pergi menuju ruang ganti meninggalkan Halina yang semakin merasa kesal.


“Halinaa giliran kamu sini,” ucap fotografer sambil melambaikan tangan.


Halina tersenyum. “Siap kak.”


Setelah berganti pakaian, Reza bermaksud untuk pulang namun Mona yang hari itu datang berkunjung memaksa Reza untuk tidak pulang lebih dulu.


Mona meminta Reza untuk ikut malam dengan para staff lainnya sebagai perayaan selesainya edisi majalah fashion bulan ini.


Reza yang merasa sungkan, akhirnya menerima ajakan Mona yang setengah memaksa. Laki-laki bermata hitam itu duduk di luar studio foto menunggu Mona dan staff lainnya selesai. Ia mengamati penjahit yang sedang berkemas untuk pulang.


“Halina sudah selesai juga, ayo Reza, oh ya kamu naik mobil aja ya sekalian,” ucap Mona yang tiba-tiba muncul dari studio foto itu.


“Eh tapi saya bawa motor, tan.”


Mona tampak berpikir. “Yasudah, tapi jangan ngebut ya naik motornya. Kamu tau restoran Saeroso kan? Kita akan makan disana.”


Reza mengernyitkan keningnya, ia sebenarnya belum pernah ke restoran dengan nama tersebut. “Oh oke tante, nanti saya lihat Gmaps aja.”


Tak lama kemudian Halina keluar dari studio foto dengan memakai rok hitam selutut dan pakaian hitam yang dibalut jaket jeans.


Perempuan bermata coklat gelap itu langsung menyelonong pergi menuju mobil tanpa menyapa Reza lebih dulu.


Mona dan staff lainnya pun menuju mobil yang berbeda sedangkan Reza menuju motornya. Laki-laki bermata hitam itu mengendarai motornya menuju restoran keluarga yang disebut Mona tadi.


Reza mendekat lalu duduk di kursi kosong yang tersedia, di seberangnya Halina duduk dengan ekspresi datar.


Reza benar-benar tidak mengerti mengapa ekspresi perempuan itu bisa begitu lain saat di sekolah dan di tempatnya sekarang.


Makanan yang dipesan datang diantar oleh beberapa pelayan. Meja besar itu penuh dengan makanan yang tampak menggugah selera.


Mona memberikan pidato singkat lalu mempersilakan semuanya untuk makan sepuasnya. Reza berusaha mempertahankan ekspresi ramah di wajah meski ia tidak menyukai acara berkumpul seperti itu.


Halina juga hanya makan secukupnya dan tetap bicara seperlunya saat acara berkumpul itu. Ia hanya sesekali menanggapi obrolan panjang dengan yang lain.


Reza yang mengetahui dua sisi berbeda teman sekelasnya itu tidak ingin ikut campur dalam kehidupan pribadinya. Meski begitu, Reza bermaksud mengamati Halina diam-diam karena ia cukup dekat dengan Lilia.


Drttt…


Bunyi ponsel mengagetkan Reza. Laki-laki bermata hitam itu meminta izin untuk mengangkat telfon lalu berjalan menjauh.


Klik...


^^^“Jam segini masih belum pulang? Jangan jadi anak berandalan! Pulang sekarang juga!”^^^


Suara di telfon itu terdengar nyaring hingga Reza menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


“Sebentar lagi Reza pulang,” ucap laki-laki bermata hitam itu.


Ia menutup ponselnya lalu kembali ke tempat ia tadi berkumpul. Reza mendekat ke arah Mona lalu berkata pelan.


“Maaf sepertinya saya harus pulang sekarang tante,” ucap Reza sambil memaksa tersenyum.


Mona terlihat bingung. “Oh gitu ya, yaudah tunggu bentar biar sebagian makanannya dibungkus.”


“Nggak usah tan.”


“Eh jangan nolak, pokoknya tunggu.”


Mona langsung memanggil pelayan untuk membungkus sebagian makanan. Reza hanya terdiam pasrah sambil menunggu.


Halina tampak tak peduli dan tetap mengobrol dengan staff lainnya. Tak lama kemudian pelayan resto itu membawakan dua tas dari kertas yang cukup besar lalu menyerahkannya ke Mona.


“Ini bawa, salam ya buat orang tua Reza,” ucap Mona sambil menyerahkan bingkisan makanan itu.


Reza menerimanya dan mengucapkan terimakasih lalu pergi.


“Temen mu itu ganteng banget ya Halii,” ucap Mona sambil tersenyum ke arah Halina.


“Ganteng sih, tapi di sekolah katanya yang paling ganteng ketua OSIS," ucap Halina sambil mengambil makanan penutup di depannya.


“Wah? Beneran? Kamu temenan juga sama ketua OSIS? Coba kamu tawarin dia jadi model,” ucap Mona dengan mata berbinar.

__ADS_1


“Cuma sekedar kenal aja sih, lagian dia ketua OSIS yang sibuk banget jadi ya pasti nggak bakal ada waktu buat sambil kerja,” jawab Halina dengan ekspresi malas.


“Gitu ya, sayang sekali… ,” ucap Mona dengan ekspresi kecewa.


Halina tidak menanggapi dan tetap fokus dengan makanan yang ada di hadapannya.


Drtttt….


Halina memeriksa ponselnya lalu segera menghabiskan makanan yang diambil. “Tante Mona, aku balik duluan ya, udah dijemput ayang.”


“Yah ini modelnya kenapa pada kabur semua? Hufft yaudah kamu hati-hati di jalan, izin ke ortu mu dulu kalau pulang malam.”


Halina tersenyum dengan ekspresi yang aneh. “Mereka hari ini nggak pulang kok.”


Mona diam, ia hanya menatap kepergian keponakannya dan menghela nafas panjang.


...◇◇◇...


Di sebuah cafe di kota T…


.


.


Jun duduk bersama dengan perempuan berambut coklat di bagian café yang berada di luar.


“Nih bukti yang udah gue kumpulin,” ucap perempuan itu sambil menaruh map coklat di atas meja.


Jun mengambil map itu lalu memeriksa isinya. “Thanks, Elena.”


“Lu udah nemu tempat-tempat yang jadi lokasi transaksi?”


“Udah, ada tiga tempat, dua diantaranya biasa jadi tempat nongkrong remaja, ada yang masih SMP juga.”


“Gila,” ucap perempuan yang dipanggil Elena itu. Ekspresinya berubah kesal.


“Gue tau industri sampah ini bukan sesuatu yang baik, tapi targetin anak dibawah umur buat 'itu' bukannya keterlaluan?” ucap Elena lagi.


Jun memasukkan map coklat itu ke dalam tasnya. Laki-laki bermata hazel itu tersenyum getir tanpa mengatakan apapun.


“Apa sih yang ada di otaknya mereka? Kan remaja uangnya juga nggak banyak-banyak amat,” ucap Elena lagi.


“Lebih mudah nargetin usia segitu karena mereka rasa penasarannya tinggi dan masa-masa berontak, gampang terpengaruh.”


“Ya tetep aja kan mereka kebanyakan juga nggak ada uang.”


“Lu nggak tau kasus kayak gini udah biasa terjadi di beberapa negara di Asia? Walau mereka nggak punya uang untuk bayar, mereka masih punya tubuh.”


Elena cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Jun. Perempuan blasteran Indonesia Swedia itu mengerti maksud yang dikatakan Jun dan ia merasa marah, namun ia juga sadar ada di tempat yang sama busuknya dengan sampah-sampah itu.


“Bukannya para petinggi organisasi gelap di negara ini udah sepakat kalau nggak bakal nargetin anak di bawah umur?”


“Ya, tapi semua bisa aja berubah, mereka mulai kehilangan pasar orang dewasa yang mulai sadar soal hidup, jadi bisa aja target mereka berubah. Sebelum aturan dari pusat berubah, kita harus gerak cepat,” ucap Jun dengan ekspresi serius.


Elena membuang puntung r*koknya di asbak di depannya. Ia mengambil minuman yang ada di meja. “Kalau mau ngubah kesepakatan bukannya perlu persetujuan dari 4 organisasi besar yang aktif? ‘Ayah’ pasti nggak bakal diem aja kalau sampai itu terjadi.”


Jun menghela nafas panjang. “Semuanya masih belum pasti, kita harus siap apapun kondisinya kan?”


Elena diam, ia memandangi gelas kecil yang dipegangnya. Perempuan bermata biru itu menghela nafas panjang.


Notus yang merupakan salah satu organisasi sekaligus usaha gelap yang berasal dari Jawa Tengah adalah tempat yang sudah menjadi rumah bagi orang-orang yang terpinggirkan seperti Elena.


Meski usaha gelap, pimpinannya punya aturan yang melarang semua mitranya untuk menjual ‘barang’ kepada anak di bawah umur.


Sekilas usaha mereka terlihat seperti usaha biasa seperti konsultan bisnis dan investasi, namun di baliknya terdapat bidang lain yang tidak diketahui masyarakat umum.


Ada 3 organisasi gelap besar lainya yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu ada juga beberapa usaha gelap tingkat menengah seperti Styx yang jumlahnya ada 7 dengan berbagai jenis usaha dan daerah kekuasaan yang berbeda.


“Sekolah aman, Jun?” tanya Elena tiba-tiba.


“Aman sih, tapi ada satu anak yang sepertinya terlibat cukup banyak dalam penyebaran n*rkoba.”


Elena mengambil satu batang r*kok lagi dari bungkus hitam di saku jaketnya. “Cewek yang mirip Nina… gimana?” tanya Elena ragu.


“Gue udah pastiin dia nggak ada hubungan apapun sama EurusZ. Dia cuma siswa berprestasi biasa.”


Jun mengambil gelas di hadapannya lalu meminumnya.


“Kok gue khawatir ya… ,” ucap Elena ragu.


Jun tampak berpikir. “Khawatir gimana?”


“Gue takut pihak ‘mereka’ lihat perempuan itu dan ngira dia ada hubungannya sama Nina… ,” ucap Elena sambil menghela nafas panjang.


Jun diam sejenak, ia tidak pernah berpikir sampai ke hal itu. Entah kenapa ada sedikit rasa cemas di dalam hatinya namun ia mencoba menutupinya.


“Kemungkinan itu kayaknya kecil, dia jarang pergi ke kota, jadi ya… .” Jun tidak melanjutkan perkataannya. Ia sendiri ragu dengan apa yang ingin dikatakannya.


“ ‘Mereka’ nggak tau kan kalau lu nyamar?” tanya Elena memastikan.


“Aman kok, beberapa kali gue ketemu sama pihak ‘mereka’ juga tapi semuanya nggak ngenalin gue, ya walau coba nyari tau dan percuma.”


Elena menghela nafas panjang. “Hati-hati aja, jangan sampai ada kesalahan sedikit pun.”


Jun diam, ia kembali meminum cairan berwarna gelap yang ada di gelas kecil di hadapannya. Ada rasa khawatir yang tiba-tiba muncul dalam hatinya.


...◇◆◇◆◇...

__ADS_1


__ADS_2