Blue Scandal

Blue Scandal
47 - Salah Siapa?


__ADS_3

Julio bergegas masuk ke dalam rumah itu. Bau amis darah tericum menyengat dari sebuah ruangan.


“Siapa kamu?! Siapa yang izinin kamu masuk?” tanya ayah Zora dengan nada suara tinggi.


“Maafkan saya, saya guru di sekolah tempat Zora belajar.”


Ekspresi pria tua itu berubah bingung. Tentu saja ia tidak menyangka ada pihak sekolah yang tiba-tiba datang seolah mengetahui apa yang terjadi.


“Kamu gurunya?! Di sekolah dia belajar apa sampai jual diri begitu?! Nggak becus kamu jadi guru didik anak saya!”


Julio diam meski merasa kesal. Tak lama kemudian datang ambulan, petugas kesehatan itu langsung masuk dan berbicara dengan ayah Zora.


Guru muda itu masuk ke sebuah ruangan yang berbau amis. Darah berceceran di lantai dan seorang perempuan tergeletak lemas. Gio terlihat panik namun membeku di tempatnya.


“Permisi pak…,” ucap salah satu petugas kesehatan.


Ekspresi kedua orang itu menjadi tegang begitu melihat banyak darah. Dengan sigap kedua petugas itu melakukan tindakan pencegahan awal lalu segera membawa Zora ke puskesmas. Ya, tentu saja ke puskesmas, jarak kediaman Zora dengan rumah sakit sangat jauh dan tentu itu lebih berbahaya.


Julio menghela nafas panjang, ia bisa memperkirakan muridnya itu masih bisa selamat. Suasana rumah itu masih ramai oleh warga yang penasaran.


“Pergi kalian semua!” teriak ayah Zora.


Setelah mendapat cacian dan makian, para warga pun bubar dan kembali ke rumahnya masing-masing. Fokus ayah Zora sekarang mengarah kepada Julio. “Anda juga pergilah.”


Brukk…


Julio dan ayah Zora menoleh karena terkejut, keduanya kaget melihat Gio tiba-tiba ambruk. Dengan sigap guru muda itu mengurus Gio. Ia sempat lupa jika muridnya yang satu ini harusnya masih istirahat.


“Maafkan saya, apa boleh kami disini lebih dulu sampai Gio sadar? Saya tidak bisa membawanya pergi menaiki motor dalam keadaan begini,” ucap Julio dengan ekspresi memelas yang dibuat-buat.


“Yasudah!” jawab ayah Zora ketus.


Julio memindahkan Gio ke salah satu sofa, ia menghela nafas panjang. Pikirannya tiba-tiba menuju Lilia.


“Sebenarnya sekolah kalian itu ngapain aja sampai muridnya begini semua?” ucap ayah Zora setelah melihat Gio yang babak belur.


Julio diam, ia tidak bisa menjawab. Ia malah memikirkan hal lain. ‘Kenapa ayahnya nggak ikut ke puskesmas? Lalu siapa yang mengurus disana?’

__ADS_1


Suasana hening itu tiba-tiba berubah saat seorang perempuan dengan dandanan glamour dan pakaian seksi datang.


“Pak… pak, aku dikasih tau tetangga, Zora kenapa pak? Sekarang dimana?” Perempuan berusia sekitar 35 tahun itu tampak panik, wajahnya pucat.


“Gara-gara kamu tuh anak mu ikut jadi pel*cur! Harusnya kalau mau mati itu jangan di rumah! Ngerepotin orang aja,” ucap ayah Zora dengan nada tinggi.


Perempuan di seberang laki-laki itu menangis. Ia bahkan tidak menyadari keberadaan orang lain di rumahnya karena begitu khawatir dengan putrinya.


Julio terdiam. ‘Apa semua siswa sekolah latar belakang keluarganya seperti ini? Apa Sella juga begitu?''


Pandangan ayah Zora beralih ke Julio. “Mamanya pel*cur, tempat sekolahnya nggak guna, apa kalian mengajari semua siswa perempuan menjual diri?!”


Pandangan perempuan itu beralih juga ke arah suaminya memandang. Ekspresi terkejutnya menandakan ia baru sadar ada tamu lain di kediamannnya.


Perempuan itu segera mengusap air matanya lalu masuk ke sebuah ruangan. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan pakaian yang lebih sopan.


“Maafkan saya tidak menyadari ada orang lain disini…. .”


Tatapan mata ibu Zora beralih ke laki-laki berseragam sekolah di samping Julio. Perempuan itu tampak bingung.


Julio berdiri kemudian menyalami perempuan itu. “Saya guru di sekolahnya Zora.”


“Saya membawa Gio untuk mengarahkan kesini karena saya tidak tau alamat tempat Zora tinggal, tapi sebenarnya kondisi Gio juga sedang tidak begitu baik.”


Ayah Zora berlalu pergi begitu saja keluar dari ruang tamu itu karena enggan berbincang lebih lama dengan siapapun,


“Maafkan saya, apa anda bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” ucap ibu Zora.


Julio diam, ia ragu untuk mengatakan apa yang diketahuinya. “Saya sendiri sebenarnya tidak begitu paham, saya kesini karena salah satu siswi di sekolah kami mendapatkan pesan dari Zora bahwa ia akan bunuh diri.”


“Apa? Memangnya ada apa?” tanya ibu Zora bingung.


“Saya harap anda tidak terlalu menyalahkan putri anda setelah mendengar ini… .”


Ibu Zora membenarkan posisi duduknya, bersiap mendengarkan apa yang dikatakan Julio. Guru muda itu menceritakan apa yang sudah didengarnya dari Lilia, ia sendiri mengatakan belum yakin dengan apa yang terjadi.


“Dari cerita temannya, kemungkinan ini adalah perbuatan pacarnya… Saya sendiri belum tau kejadian sebenarnya. Setelah ini saya akan mencoba menyelidiknya.,” ucap Julio mengakhiri ceritanya.

__ADS_1


Ekspresi perempuan itu berubah. Air matanya jatuh, ia terisak. “Ini gara-gara saya tidak mendidiknya dengan baik, ini gara-gara saya menjadi contoh yang buruk… .”


Tangisan menyayat hati dari seorang ibu yang merasa gagal menjadi orang tua membuat siapapun yang mendengarnya pasti ikut bersedih.


Julio diam, ia rasanya ingn cepat pergi dari rumah itu. Ia lebih suka berurusan dengan obat-obatan atau hal buruk lainnya daripada harus berurusan dengan emosi manusia.


Drrrtttt…


Laki-laki bermata coklat terang itu segera memeriksa ponselnya. Guru-guru di sekolah sepertinya sudah mulai tahu apa yang terjadi.


Guru muda itu membalas pesan dari Pak Damar, ia berusaha menjelaskannya dengan kalimat senetral mungkin dan berpesan untuk membiarkan Lilia tidak mengikuti pelajaran dulu.


Tidak lama kemudian, Gio membuka matanya. Ia langsung menoleh begitu mendengar suara tangisan. Otaknya bekerja cepat, laki-laki bermata onyx itu langsung bangun.


“Pak?!”


Julio menoleh. “Sudah sadar?”


“Maafkan saya, Zora gimana pak?” Gio terlihat panik. Entah kenapa laki-laki itu merasakan rasa ngilu pada pergelangan tangannya saat mengingat Zora tadi.


“Dia dibawa ke puskesmas.”


“Pak, apa saya boleh minta tolong?” tanya ibu Zora tiba-tiba.


“Apa yang bisa saya bantu?”


“Tolong antarkan saya ke puskesmas tempat Zora dirawat.”


Julio diam, melirik ke arah Gio. “Kamu disini dulu tidak apa-apa Gio?”


Gio mengangguk cepat. “Iya pak, antarkan budhe dulu aja.” Gio sudah melupakan rasa sakit di kepalanya dan perih di bibirnya. Rasa takut dan cemas sudah mendominasinya.


Julio mengangguk lalu bangkit dari tempat duduknya. Ibu Zora pun bangkit lalu menuju kamarnya. Setelah membersihkan wajah dan berganti pakaian, ibu Zora segera keluar dari rumah tersebut. Julio pun mengantarkan perempuan itu ke puskesmas tempat putrinya dirawat.


Rumit… kejadian diluar tugas Julio justru terasa lebih berat. Ia ingin segera menyelesaikan seluruh tugasnya dan berhenti menyamar. Ia ingin kembali ke kehidupan normalnya di dalam bayangan. Meski sebenarnya ia masih ingin berada di dekat Lilia.


Berurusan dengan sesama penjahat tidak bermoral, melakukan segala sesuatu tanpa pengaruh emosi maupun perasaan adalah hal yang menurut Julio lebih ringan daripada berurusan dengan kondisi emosi keluarga yang seperti ini.

__ADS_1


...◆◇◆◇◆...


__ADS_2