
Beberapa hari setelah Lilia menjenguk di rumah sakit, Reza mulai kembali masuk sekolah. Banyak rumor yang menyebutkan Reza berkelahi hingga dirawat di rumah sakit. Entah darimana isu itu beredar.
Lilia yang mendengar rumor itu menjadi berpikir mungkin saja dulu saat SMP, Reza tak sepenuhnya sering berkelahi hingga banyak luka-luka.
Lilia berpikir bahwa mungkin saja ada kejadian serupa perampokkan seperti yang dialami Reza beberapa waktu lalu.
Entah sejak kapan pikirannya menjadi memikirkan lebih banyak tentang laki-laki bermata hitam itu. Saat melihat tatapan mata Reza, Lilia merasa ada sesuatu hal yang sedang dialami oleh temannya itu.
Melihat tindakan dan ucapan dari kakek Reza, Lilia bisa menyimpulkan bahwa selama ini Reza memang menjauhi hampir semua orang.
Lilia mengetikkan sesuatu di ponselnya, ia bermaksud memberitahu Reza bahwa jam tangannya ada padanya setelah diberikan oleh kakek saat berkunjung ke rumah sakit.
Lilia juga bermaksud mengajak Reza bicara panjang lebar untuk meluruskan asumsi Lilia yang sudah menumpuk di dalam pikirannya.
Akhir-akhir ini Lilia menyadari tindakannya menjadi semakin impulsif jika itu berkaitan dengan Reza. Bahkan saat akan menjenguk laki-laki itu, Lilia berbohong kepada mamanya.
Perasaannya menjadi tidak tenang, Lilia masih ragu apakah perasaannya kepada Reza adalah karena rasa kasihan, rasa khawatir sebagai teman atau ada perasaan khusus lainnya.
“Dorrr!”
Lilia hampir mengumpat karena terkejut. Fani tertawa melihat ekspresi Lilia.
“Lu kenapa akhir-akhir ini bengong mulu?” tanya Fani penasaran.
“Kenapa ya…?” gumam Lilia pelan.
“Lu aneh deh, oh iya. Beberapa hari yang lalu gue ketemu mama lu di pasar. Beliau nanya siapa temen yang sakit karena katanya lu jenguk sendirian… .” Fani sengaja tak menyelesaikan perkataannya.
Sesuai dugaan Fani, Lilia tampak terkejut dengan apa yang diucapkannya.
“Reza?” tanya Fani sambil tertawa.
Merasa tertangkap basah, Lilia pun akhirnya menceritakan semuanya kepada Fani.
Fani tampak mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Sesekali perempuan berambut pendek itu tampak mengernyitkan keningnya.
“Hah? Kerampokan? Operasi? Hah terus gimana Reza sekarang? Kok lu nggak bilang sih?” Fani kali ini tampak khawatir.
“Udah sadar sih dia makanya aku bisa jenguk. Lagian hari ini dia udah masuk.”
Fani tampak lega namun tiba-tiba pikirannya menjadi menghubungkan dengan hal lainnya.
“Lil, ini cuma perkiraan gue aja, tapi lu tuh suka sama-“
Belum sempat melanjutkan perkataannya, tiba-tiba datang Gavin membawakan satu kantong roti.
Fani yang melihat itu akhirnya memilih diam dan tak melanjutkan pertanyaannya.
“Lili, gue dapet hadiah habis bantuin wali kelas, ini camilan kesukaan mu kan? Roti isi kacang hijau?”
Lilia tampak terkejut dengan apa yang dikatakan Gavin. Otaknya memutar kejadian di waktu lalu.
“Lu masih inget aja kesukaan Lilia,” ucap Fani sambil tertawa.
Lilia mencoba menyembunyikan rasa gugupnya. “Makasih Gav.”
“Gue inget dulu kamu sering banget banget beli roti isi kacang hijau,” ucap Gavin bersemangat.
Lilia memakan roti isi kacang hijau itu dengan perasaan canggung. Sebenarnya yang sangat menyukai roti isi kacang hijau bukanlah dirinya. Dulu Lilia sering membawa roti itu ke sekolah untuk diberikan kepada Reza.
Melihat senyum dan tatapan mata Gavin yang hangat, Lilia baru menyadari sesuatu yang sudah diketahui teman lainnya lebih dulu.
Mata Lilia melihat ke arah Fani namun temannya itu justru mengalihkan pandangan matanya.
__ADS_1
“Eh, gue lupa tadi disuruh nemuin bu Endah, gue ke kantor duluan ya.”
Setelah mengucapkan itu Fani langsung pergi begitu saja. Sekarang hanya tinggal Lilia dan Gavin di koridor kelas itu
‘Fani sialan’ Lilia akhirnya mengumpat dalam hati.
“Roti isi kacang hijaunya nggak seenak yang dijual deket rumah mu ya?” tanya Reza setelah melihat Lilia tampak dengan setengah hati memakan roti yang diberikannya itu.
“Enak kok, tapi tadi aku habis makan kenyang banget,” ucap Lilia berkelit.
Gavin memandangi Lilia yang sedang pura-pura fokus makan roti. Tiba-tiba suara getar dari ponsel Lilia bergetar.
Lilia pun langsung memeriksa pesan yang masuk.
“Eh Gavin, maaf ya ku tinggal dulu soalnya aku mau balikin sesuatu ke temen,” ucap Lilia sambil mengambil kantong kecil dari dalam tasnya.
“Oh oke,” jawab Gavin sambil tetap tersenyum hangat.
Lilia pun langsung pergi dengan membawa roti isi kacang hijau yang masih belum dihabiskannya itu.
...◇◇◇...
Lilia melihat ke sekeliling taman di depan perpustakaan itu. Tangan kirinya membawa kantong kecil berisi jam tangan Reza, sedangkan tangan kanannya masih memegang roti isi kacang hijau yang tinggal separuh.
“Lilia.”
Lilia pun menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya.
Reza tampak membawa beberapa buku dari perpustakaan.
“Ini nggak salah lihat kamu di perpustakaan?”
Lilia tertawa lalu mencoba memindahkan posisi kantong itu ke tangan kanan namun tangannya justru diraih oleh Reza.
“Wah ada roti isi kacang hijau nggak bagi-bagi, yaudah ini buat gue aja.”
Reza pun langsung merebut roti isi kacang hijau yang tinggal separuh itu dan langsung memakannya.
“Reza itu kan bekas aku, kalau mau nanti ku beliin.”
“Kelamaan, gue dah laper.”
Lilia menghela nafas panjang lalu memberikan kantong kecil berisi jam tangan milik Reza.
“Kamu nggak mau gitu lurusin hal yang dulu dan temenan lagi sama yang lain?” ucap Lilia tiba-tiba.
“Aku udah nggak ada di posisi bisa temenan sama semua orang Lil.”
“Maksudnya?”
“Aku ngerasa nggak cocok aja sama banyak orang dan aku nggak mau orang yang jadi temen ku ikut kena rumor buruk.”
Lilia diam sejenak, mencoba memeriksa keseriusan ucapan Reza.
“Ya paling nggak kamu tetep jelasin dan nggak jauh tiba-tiba kayak gitu lah," ucap Lilia dengan ekspresi kesal.
“Nggak ada bedanya.”
“Aku sama Fani khawatir Za.”
Reza diam, lagi-lagi jahitan di bagian perutnya terasa nyeri.
__ADS_1
Laki-laki bermata hitam itu tersenyum. Entah kenapa ada sedikit rasa senang saat mengetahui ada yang mengkhawatirkannya.
Reza menghela nafas panjang. “Aku minta maaf dan tolong sampaiin maaf ku juga ke Fani. Ada hal-hal yang emang nggak bisa ku jelasin, tapi aku ngejauh bukan karena kalian ngelakuin salah kok.”
“Terus? Kamu mau tetep ngilang?”
Reza tertawa melihat Lilia yang tampak kesal itu.
“Ngilang kemana sih Lil? Aku bakal tetep ngobrol biasa kok ke kamu, ke Fani, ke yang lain, tapi aku nggak bisa kalau harus temenan dekat sama orang lain.”
Lilia menatap Reza dengan pandangan heran karena tak mengerti dengan apa yang diucapkannya.
“Udah-udah, kamu fokus belajar yang rajin oke? Sesekali kalau ketemu nanti ku sapa,” ucap Reza mencoba meyakinkan Lilia yang tampak kesal.
Reza melanjutkan melahap roti isi kacang hijau itu dan menghabiskannya.
“Jangan banyak berantem, jangan banyak luka lagi,” ucap Lilia pelan.
Reza tersenyum namun menghela nafas. “Lil, jangan ngomongin sesuatu yang bikin orang baper.”
Lilia menatap Reza dengan ekspresi serius. Namun Reza justru mengalihkan pandangannya.
“Gue cabut duluan, mau ngasih lapor ini ke pak Billi,” ucap Reza sambil menunjukkan tumpukkan buku dan selembar kertas.
Puk…
Entah karena terbawa suasana atau reflek tangan, Reza mengusap kepala Lilia sebentar.
Reza pun segera menyadari tindakan konyolnya dan langsung berlalu pergi sedangkan Lilia mematung ditempatnya dalam waktu yang cukup lama.
Penggunaan kata yang Reza katakan kadang berbeda, juga barusan tangan Reza yang mengelus kepalanya membuat Lilia tidak dapat memproses kejadian itu.
'Bentar, Reza barusan ngelus kepala ku? Hah??'
Kesadaran Lilia baru kembali setelah beberapa saat. Perempuan bermata coklat itu langsung menutup wajahnya yang memerah.
...◇◇◇...
Dalam perjalanan pulang sekolah, Lilia mengungkapkan kekesalannya kepada Fani yang meninggalkannya dengan Gavin berdua saja.
Fani yang mendengar itu tertawa dan tetap fokus melihat jalan.
“Jadi gimana tadi Gavin ngomong apa?”
“Nggak ngomong apa-apa soalnya aku langsung pergi,” jawab Lilia singkat.
Fani yang mendengar jawaban Lilia hanya tertawa getir. Ia merasakan firasat buruk jika keadaan pertemanannya ini diperjelas.
Selain itu entah kenapa Lilia belum ingin membicarakan hal tersebut lebih lanjut. Meski sekarang bisa melihat jelas perbedaan cara pandang Gavin kepadanya.
Sesampainya di rumah, Lilia segera berganti baju dan menyuci mukanya yang terlihat lelah.
Angin sore yang masuk lewat jendela kamarnya seperti membawa kenangan lama. Entah kenapa Lilia merasa tidak tenang dengan keadaan yang seperti sekarang.
Setelah bisa melihat dengan jelas ekspresi Gavin, ia menjadi merasa tak nyaman namun takut melukai.
Di sisi lain, semakin hari Lilia merasa semakin tak bisa mengendalikan sikapnya. Setiap melihat Reza ada suatu perasaan aneh yang memberatkan hatinya.
Lilia takut salah bersikap dan menjadikan masa sekolahnya menjadi kacau. Oleh karena itu perempuan bermata coklat itu sepertinya memilih tetap bersikap seperti biasa seolah belum mengetahui apapun seperti sebelumnya.
Lilia hanya bisa berharap masa sekolahnya tetap bisa bertahan damai dan tidak ada permasalahan berat.
__ADS_1
...◆◇◆◇◆...