Blue Scandal

Blue Scandal
24 - Peringatan


__ADS_3

Julio sedang tidak ada di tempat saat Lilia memasuki ruangan BK itu. Hanya ada kacamata hitam dengan pinggiran berwarna merah dan setumpuk kertas di atas meja beserta bolpoint.


Lilia duduk di ruangan itu sambil memandang ke sekeliling ruangan yang rapi itu. Matanya fokus pada kacamata di atas meja itu.


Lilia memperhatikan kacamata itu dengan serius.


‘Keliatannya itu bukan kacamata minus kayak punya papa…’ ucap Lilia dalam hati.


Tak lama kemudian Julio kembali dari toilet. Lilia yang baru pertama kali melihat wajah Julio tanpa kacamata menjadi agak terkejut.


Lilia terdiam cukup lama begitupun dengan Julio yang tampak kaget. Laki-laki bermata coklat terang itu buru-buru memakai kacamatanya kembali.


“Ah maafkan saya memanggil kamu di waktu istirahat. Saya dapat pesan dari pak Darma yang perlu disampaikan,” ucap Julio sambil kembali ke tempat duduknya.


Lilia menatap Julio dengan ekspresi penasaran. Julio yang  dipandangi dengan tatapan seperti itu menjadi gugup.


“Lilia?”


“Maaf pak saya tidak fokus hehe, saya baru pertama kali melihat anda tanpa kacamata tadi. Anda terlihat seperti remaja seusia saya ya,” ucap Lilia sambil tersenyum malu karena sedari tadi tidak fokus.


“Lilia, tolong fokus, dengarkan saya,” ucap Julio sambil membenarkan posisi duduknya.


“Iya pak, ini saya mendengarkan,” jawab Lilia sambil tersenyum.


“Pak Darma hari ini tidak masuk lagi, beliau menjaga anaknya karena istrinya sepertinya sedang sakit. Untuk perlombaan kamis nanti saya diminta menggantikan pak Darma sebagai pendamping dan beliau meminta kamu juga ikut mendampingi siswa yang akan mengikuti lomba kamis nanti,” ucap Julio menjelaskan.


“Saya juga ikut?” tanya Lilia memastikan.


“Itu yang disampaikan pak Darma, saya sendiri tidak tau alasannya.”


Lilia tampak berpikir. “ Tahun lalu yang mendampingi lomba memang ada dari OSIS sih tapi ketuanya langsung, mungkin karena Gavin sibuk mengurus beberapa hal lainnya jadi saya harus menggantikan,” ucap Lilia sambil berpikir.


“Ya kalau kamu keberatan, saya bisa menyampaikannya ke pak Darma.”


“Nggak kok pak, hehe. Saya juga senang bisa pergi kota B dan melihat adik kelas saya mengikuti lomba.”


“Oke, nanti saya konfirmasikan ke pak Darma dan juga akan saya buatkan surat dispensasi sekolah,” ucap Julio sambil menata kertas-kertas di atas mejanya.


Lilia mengangguk mengerti lalu mengernyitkan keningnya.


“Pak, saya boleh tanya?” ucap Lilia dengan ekspresi penasaran.


“Tidak, sebaiknya kamu istirahat dan makan siang dengan teman mu atau kembali ke ruang OSIS,” ucap Julio tegas.


Ia bisa menebak pertanyaan yang akan diajukan Lilia akan membuatnya kerepotan menjawab, karena itu Julio menghindar lebih awal.


Ekspresi penasaran Lilia berubah menjadi kesal setelah mendengar jawaban dari Julio. “Pak Julio sepertinya bisa baca pikiran orang ya? Padahal saya belum mengatakan akan bertanya apa.”


Julio menggaruk telinganya yang tak gatal. “Tanyakan lain kali saja. Jam istirahat sebentar lagi selesai,” ucap Julio menyarankan.


... ◇◇◇...


Sesaat setelah Lilia meninggalkan kelas…


.


.


Fani sedang menuju kelas itu ketika Halina baru saja bangkit dari tempat duduknya.


“Lilia mana?” tanya Fani setelah melihat tak ada Lilia di ruang kelas itu.


“Biasa dipanggil pak Julio. Ke kantin duluan yuk, nanti juga dia nyusul.


Fani mengangguk setuju, keduanya pun menuju kantin untuk makan siang.


“Fan, Lilia tuh pacaran sama Reza ya?” tanya Halina dengan suara yang sangat pelan.


“Hah?!” ucap Fani dengan suara yang cukup kencang.


Semua yang ada di kantin itu reflek menoleh. Fani tersenyum sambil menunduk dengan ekspresi malu. Ia kembali meminum minumannya.


“Dapet info dari mana lu?” tanya Fani dengan ekspresi serius.


“Ih Fani, aku kan nanya,” ucap Halina menekankan.


“Kenapa lu mikir gitu?”


“Lilia sama Reza tuh keliatan deket banget, cara mereka saling ngeliatin aja kayak gimana gitu,” ucap Halina masih dengan suara yang pelan.


Fani tampak berpikir, menghubungkannya dengan apa yang pernah dikatakan oleh Gavin. Selama ini Fani menganggap interaksi dekat antara Lilia dan Reza hanya sebatas pertemanan saja.

__ADS_1


Fani mencoba mengingat ekspresi Lilia setiap ada Reza. “Hmmm… tapi masa iya, kadang mereka bahkan kelihatan kayak orang musuhan,” ucap Fani ragu.


Tak lama kemudian datang Lilia yang baru saja dari ruang BK. Halina dan Fani tidak melanjutkan pembicaraan itu lagi.


Lilia hanya membeli roti dan es jeruk lalu duduk di samping Fani.


“Ada apa lagi dipanggil pak Julio? Bukannya udah nggak ngelesin?” tanya Fani penasaran.


“Pak Darma katanya jagain anaknya karena istrinya sakit, jadi perlombaan besok kamis pak Julio yang bakal jadi pendamdping dan aku disuruh ikut mengantar kesana,” ucap Lilia sambil membuka bungkus roti itu.


Fani mengernyitkan keningnya. “Bukannya tahun lalu ketua OSIS yang ikut nganter? Eh tapi Gavin emang juga masih nyiapin pekan olahraga buat minggu depannya sih,” ucap Fani menjawab pertanyaannya sendiri.


“Emang OSIS ikut ngapain?” tanya Halina dengan ekspresi bingung.


Lilia tampak berpikir. “Dulu sih ketua OSIS nya kayak ngasih semangat sepanjang perjalanan dan ngasih tips gitu biar pesertanya nggak gugup. OSIS sekolah lain juga gitu sih.”


Halina mengangguk mengerti meski tidak begitu paham dengan hal-hal semacam itu


“Lu nggak makan Lil?” tanya Fani yang baru saja menghabiskan makanannya.


“Nggak ah, roti aja cukup, lagian waktunya nggak sempet lah,” ucap Lilia sambil mengehela nafas.


Fani tertawa. “Protes lah, lagian pak Julio manggil mulu pas istirahat.”


Lilia ikut tertawa. “Ya gimana? Kan di jam biasa beliau ngajar dan aku juga di kelas.”


Fani meminum es jeruknya lalu memriksa ponselnya saat ada pesan yang masuk.


“Kalian nggak ke ruang OSIS?” tanya Halina penasaran.


“Hari ini nggak, ada petugas lain yang jaga. Gantian lah, kalau nggak gantian ya nggak bisa makan siang terus dong gue?” ucap Fani sambil tertawa.


Obrolan tersebut berlanjut seru hingga bel tanda jam pelajaran berbunyi. Fani pun kembali ke kelasnya begitupun dengan Lilia dan Halina.


Saat memasuki kelas, Reza sudah duduk di bangkunya sambil membaca buku pelajaran. Saat Lilia duduk, Julio memajukan kursinya lalu berbisik.


“Jangan terlalu deket sama pak Julio.”


Lilia menoleh dengan ekspresi bingung. Pandangan mata mereka bertemu. “Aku salah denger?”


“Nggak,” jawab Reza cepat.


Lilia masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Reza. Ia ingin bertanya lebih lanjut namun guru yang mengajar di jam itu sudah datang.


‘Kenapa Reza tiba-tiba ngomong begitu?’ tanya Lilia dalam hati.


Usai jam pelajaran selesai, Lilia langsung membalikkan badannya ke belakang tempat ia duduk.


“Bentar jangan pulang dulu Za,” ucap Lilia dengan ekspresi serius.


Halina yang melihat itu hanya diam dengan ekspresi serius. Namun ia bisa membaca situasi dengan baik hanya tersenyum lalu pamit pergi lebih dulu.


Lilia mengetikkan sesuatu di ponselnya. Memberitahu Fani untuk pulang lebih dulu.


Reza hanya diam di tempatnya mengamati Lilia yang sedang sibuk dengan ponselnya.


“Maksud mu tadi apa?” ucap Lilia tiba-tiba.


Semua siswa di kelas itu sudah pulang, hanya tinggal mereka berdua di kelas itu.


“Kamu nggak ngelesin lagi?” tanya Reza mengalihkan pembicaraan.


“Nggak, kamis kan udah berangkat.”


“Tadi dipanggil pak Julio ada apa?”


“Kok malah kamu yang nanya? Jawab dulu pertanyaan ku yang tadi.”


Reza diam sejenak, mencoba mencari perkataan yang tepat. “Hmmm, ya jangan terlalu dekat sama pak Julio aja. Waktu itu ada yang lihat kamu makan bakso sama pak Julio. Jangan terlalu dekat sama guru itu nanti ada rumor yang aneh-aneh,” ucap Reza sambil memandang ke arah lain.


“Rumor apa sih? Emang kenapa makan bakso? Kan di tempat umum? Lagian pak Julio itu guru, Za.”


“Iya dia guru, tapi dia laki-laki Lil, dia masih muda. Nanti kalau ada rumor kamu pacaran sama guru gimana?”


Lilia masih tampak bingung dengan apa yang diucapkan Reza.


“Ya nggak mungkin lah Za, seperti katamu, dia guru, jadi nggak mungkin ada rumor aneh-aneh kayak gitu,” ucap Lilia dengan ekspresi serius.


Reza kehabisan akal untuk menjelaskan maksudnya. “Emang kamu nggak ngerasa pak Julio ke kamu itu perhatian atau gimana gitu cara ngeliatnya?”


“Nggak tuh? Lagian pak Julio baik ke semua siswa kok. Kamu nih mikirnya kenapa kemana-mana sih, cemburu?” tanya Lilia bercanda.

__ADS_1


“Nggak,” jawab Reza cepat sambil memandang ke arah lain.


Lilia yang hanya berniat bercanda entah kenapa justru merasa kecewa dengan jawaban Reza.


Keduanya tampak canggung selama beberapa waktu. “Yaudah anterin aku pulang,” ucap Lilia setelah melihat ponselnya.


“Bentar.” Reza memeriksa ponselnya, memastikan sesuatu dulu sebelum bangun dari tempat duduknya.


“Bareng Gavin aja ya, dia kayaknya juga baru mau pulang, aku udah ada janji,” ucap Reza dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


Lilia menghela nafas, entah kenapa ia merasa kecewa sekaligus malu dengan dirinya sendiri.


“Ya,” jawab Lilia singkat.


Reza bisa menangkap ekspresi kecewa Lilia. Ia ingin menghiburnya, mengatakan yang sebenarnya, hanya saja ia menahannya untuk tidak melewati batas yang telah dia tetapkan sendiri.


Tak lama kemudian Gavin datang. Laki-laki bermata coklat keabuan itu tampak menatap Reza dengan ekspresi kesal.


“Ayo Lilia ku anter,” ucap Gavin lalu tersenyum ramah.


Reza mengepalkan tangannya di saku jaket yang ia pakai namun ia menahan ekspresinya.


Lilia mengikuti Gavin ke tempat parkir. “Maaf ngerepotin.”


“Nggak kok, santai aja.”


Gavin pun mengantar Lilia. Reza yang mengamati tak jauh dari tempat parkir itu hanya diam dengan ekspresi datar.


Namun Reza tak tahu bahwa ada seseorang yang sedang ada di ruang BK dan memperhatikannya dalam waktu yang lama.


 


...◇◇◇...


Di perjalanan…


.


.


Lilia diam saja selama perjalanan pulang. Ekspresi kecewanya tak dapat disembunyikan lagi.


“Lilia mau mampir beli es kelapa muda dulu?” tanya Gavin sambil melirik ke spion motornya.


Lilia tampak berpikir sebentar, ekspresi kecewanya justru berubah sedih. “Boleh deh.”


Gavin menghentikan motornya di penjual es kelapa muda yang dulu pernah didatanginya.


“Es kelapa muda 2 gelas bu, tambahin sirup srikaya ya,” ucap Gavin ke penjual.


Lilia duduk terlebih dulu di bagian paling ujung. Perasaannya saat ini entah kenapa justru bertambah berat.


“Tumben kayaknya banyak pikiran,” ucap Gavin sambil menyodorkan es kelapa muda ke arah Lilia.


Lilia memandangi es itu. Menyadari bahwa Gavin tahu rasa kesukaannya membuat Lilia menjadi merasa semakin terbebani.


“Emang kelihatan gitu?”


“Iya. Kenapa? Reza nggak mau temenan lagi?” tanya Gavin asal.


Lilia diam, meminum es kelapa muda itu. “Hmmm, emang selama ini kelihatannya temenan?”


Gavin mengernyitkan keningnya. “Iya kan? Kadang kalian juga ngobrol kan? Apa Reza balik lagi kayak dulu tiba-tiba ngejauh?”


Lilia memandangi es di hadapannya itu. “Nggak sih hehe.”


Gavin diam, tak bertanya lagi karena tidak ingin Lilia merasa terganggu. Ia pun mengalihkan pembicaraan.


“Kamis katanya kamu ikut anter siswa yang lomba cerdas cermat ya? Hehe seharusnya itu tugas ku sih, maaf ya jadi kamu yang harus gantiin.”


“Nggak apa-apa kok, kan enak jalan-jalan gratis hehe.”


Keduanya lanjut mengobrol, Gavin membicarakan hal-hal ringan dan kadang menunjukkan sesuatu yang lucu dari ponselnya.


Setelah menghabiskan es nya, Gavin meminta dibungkuskan 2 bungkus lagi lalu memberikannya kepada Lilia.


“Buat Bu Ani sama Pak Budi, salam ya buat mereka,” ucap Gavin sambil menyodorkan es di kantong plastik itu.


Lilia menerimanya meski sebenarnya ia merasa tidak enak harus menyampaikan itu untuk orang tuanya. Setelah itu Gavin pun mengantar Lilia pulang.


...◆◇◆◇◆...

__ADS_1


Bonus pict : Gavin



__ADS_2