
Ruang OSIS itu tampak tenang meski ada beberapa pengurus yang sedang duduk. Setiap angota OSIS itu tampak fokus mengerjakan tugasnya masing-masing.
Gavin yang ada di ruangan itu juga tampak sedang fokus memeriksa laporan setiap divisi OSIS.
Berbanding terbalik dengan beberapa anggota OSIS lainnya, Fani tampak sedang bosan karena tak melakukan apapun. Gadis berambut pendek itu memainkan bolpoint merah menggunakan tangan kanannya.
“Gav, mau dibantu nggak?” tanya Fani dengan ekspresi bosan.
“Nggak.”
“Hahhh, bosen gue.”
“Lilia kemana?”
“Ke pak Julio lagi bukan sih? Minggu ini kan terakhir beliau dampingin les buat persiapan lomba cerdas cermat. Minggu depan katanya pak Darma udah mulai masuk.”
Gavin melanjutkan memeriksa lembaran kertas itu. “Gimana persiapan buat pekan olahraga?”
Fani menyenderkan kepalanya di meja yang besar itu. “Lancar, kelas 1 anaknya rajin dan emang jago olahraga deh.”
Gavin diam dan tetap melanjutkan memeriksa lembaran kertas yang bertumpuk itu.
“Gav, Fan, gue sama Mia mau makan duluan yak, laper,” ucap Fahmi dengan ekspresi lemas.
“Ya makanlah kalau laper, masa izin gue dulu?”
Fahmi menyengir lalu segera keluar dari ruangan itu bersama Mia. Sekarang hanya tinggal Gavin dan Fani di ruangan itu.
“Fahmi sama Mia pacaran?”
“Nggak tau,” jawab Gavin singkat.
“Btw, gimana lanjutan lu sama Lilia?”
“Nggak ada lanjutannya.”
“Kok gitu? Lu nggak usaha dulu gitu?”
“Ya lu masa nggak bisa lihat sih Fan kalau Lilia suka orang lain?”
Fani diam, ia cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Gavin.
“Serius? Siapa?”
Gavin meletakkan lembaran kertas yang sedari tadi dipegangnya.
“Serius lu nggak tau?”
“Siapa-“
Fani menghentikan perkataannya saat melihat Lilia sedang menuju ruang OSIS.
Gavin melanjutkan memeriksa laporan itu lagi.
“Hahhh pegel banget,” ucap Lilia yang baru saja memasuki ruang OSIS itu.
Fani tertawa. “Sibuk amat kak.”
“Gantin aku Fan.”
“Mau deh, yuk tukeran, gue juga pengen lihat pak Julio terus hehe.”
Lilia duduk tak jauh dari Fani lalu menyenderkan kepalanya di meja.
“Yuk tukeran lah.”
Fani hanya tertawa lalu memberikan jajanan ke Lilia.
“Dapet darimana?”
“Pak Julio kan sering beliin anak OSIS jajan.”
Lilia melihat tumpukan jajan itu, tak ada roti yang sama seperti yang dibawakan Julio waktu itu. Dahinya mengernyit.
“Aneh nggak sih pak Julio beliin jajan sebanyak ini? Bukannya gaji guru honorer kecil ya?”
Fani tampak berpikir setelah mendengar ucapan Lilia.
“Iya juga ya, motornya juga bagus, anaknya orang kaya nggak sih? Beliau dari kota kan?”
Lilia diam lalu melihat ke arah Gavin. “Gav, emang pak Julio anaknya orang kaya?”
“Ya mana gue tau.”
Fani ikut melihat ke arah Gavin. “Lu kan ketua OSIS.”
“Ya terus? Karena gue ketua OSIS jadi langsung tau semua gitu? Lagian gue juga cuma sesekali ngobrol sama pak Julio kalau ada perlu.”
Lilia tampak berpikir setelah mendengar ucapan Gavin. Ia memang jarang melihat Gavin berbicara dengan Julio.
“Menurut kalian pak Julio orangnya kayak gimana sih?” tanya Lilia penasaran.
Fani tertawa. “Ganteng?”
“Ih kamu tuh ya, maksudnya sikapnya.”
“Ramah, baik, tegas, tapi menurut gue nih ya, beliau itu kayak kurang empati gitu nggak sih?”
“Kurang empati gimana?” tanya Lilia bingung.
Fani tampak berpikir. “Itu loh yang soal razia dadakan, gue denger dari guru-guru yang gosip, katanya nih ya, sempat ada debat karena pak Julio ngotot mau panggil orang tua siswa padahal bu Endah udah jelasin kondisi keluarga salah satu siswa. Terus katanya buat urusan siswa perempuan akhirnya diserahin ke bu Endah,” ucap Fani menjelaskan panjang lebar.
“Beberapa hari lalu waktu ada siswa telat karena ada masalah keluarga aja tetap dihukum,” ucap Gavin ikut menambahkan
Lilia tampak bingung dengan apa yang dikatakan dua temannya itu.
“Terus nih ya, walau keliatan ramah sama semua orang, pak Julio tuh nggak suka kalau ada siswa cewek yang duduknya deket-deket beliau gitu,” ucap Fani menambahkan.
“Ya wajarlah, gue juga nggak suka kalau ada cewek deket-deket, apalagi beliau kan guru Fan. Opini lu yang ini jelek deh,” ucap Gavin dengan ekspresi datar.
Lilia diam, ia semakin bingung dengan apa yang dikatakan teman-temannya itu karena selama ini Julio selalu bersikap baik padanya.
“Beliau fobia cewek kali yak? Kadang nggak sengaja kesentuh tangannya aja langsung marah,” ucap Fani sambil membuka jajanan.
“Menjaga diri mungkin karena udah punya pasangan. Lagian siapa yang sentuh-sentuh guru? Pelecehan itu,” ucap Gavin dengan ekspresi serius.
“Yee kan gue bilang nggak sengaja,” jawab Fani berkelit.
“Lu yang nyentuh?”
__ADS_1
“Nggak anj*r, gue diceritain kelas sebelah, katanya Faye nggak sengaja nyenggol tangan beliau.”
“Faye? Nggak sengaja? Pfttt,” ucap Gavin sambil tertawa geli.
“Lah kenapa?”
“Setau gue tuh cewek emang suka gitu kalau lihat orang ganteng.”
“Hah? Emang lu pernah disentuh-sentuh?”
Ekspresi Gavin berubah seolah sedang merasa jijik terhadap sesuatu. “Gue ganteng ya?”
Fani yang melihat ekspresi temannya itu menjadi tertawa. Lilia hanya diam mendengarkan percakapan dua temannya itu.
“Eh iya Lil, lu kan sering ketemu pak Julio, pernah dimarahin nggak?”
“Nggak sih…”
Gavin melanjutkan memeriksa tumpukan kertas itu lagi.
“Tapi kenapa lu tiba-tiba nanya pendapat pak Julio kayak gimana? Kan lu yang sering ketemu beliau.”
Lilia meraih salah satu wafer yang tak jauh darinya. “Penasaran aja sama pendapat orang lain.”
Fani mengernyitkan keningnya. “Kalau menurut lu, pak Julio emang kayak gimana?”
Lilia terkejut dengan pertanyaan Fani. Gavin pun diam bersiap mendengarkan.
“Ummm, disiplin dan bagus atur agenda kegiatan, beliau juga ternyata pinter di pelajaran lainnya, banyak ngasih penjelasan juga buat persiapan lomba.”
“Wah serius? Terus kalau kepribadiannya? Udah punya pacar belum sih?”
“Yee mana aku tau, kan aku juga ketemu beliau buat urusan tertentu Fan, gimana bisa tau udah punya pacar atau belum.”
“Siapa tau lu kepo trus nanya nanya, ya kan?”
“Nggak sopan tau.”
“Cih nggak seru,” gerutu Fani sambil tetap makan jajanan yang dipegangnya.
“Kalau lu penasaran tanya aja langsung Fan,” ucap Gavin sambil tertawa.
“Ya masa gue nanya langsung kayak gitu ke pak Julio?”
Tanpa disadari oleh ketiga siswa itu, orang yang sedang dibicarakan sudah ada di ambang pintu ruang OSIS.
“Mau nanya apa?” tanya Julio dengan ekspresi ramah.
Fani dan Gavin tergagap sedangkan Lilia hanya tertawa kecil.
“Eh, nggak pak… ,” jawab Fani terbata-bata.
“Loh katanya mau nanya?”
“Fani mau nanya apa pak Julio sudah punya pacar?” sahut Gavin sambil menahan tawa.
Waja Fani memerah. “Maaf pak, nggak usah didengerin tuh anak.”
Diluar dugaan justru Julio tertawa. “Kalian ini…”
Ekspresi Julio berubah. “Saya pernah punya orang yang saya cintai…”
Fani tampak serius mendengarkan. “Pernah?”
Fani tampak terkejut, begitu pula dengan Lilia dan Gavin.
“Eh… maaf pak,” ucap Fani dengan ekspresi khawatir.
“Tidak apa.”
Suasana di ruangan itu menjadi canggung.
“Anu pak, saya mau konfirmasi deh sekalian daripada dengar rumor aja,” ucap Fani agak ragu.
“Rumor apa?”
“Pak Julio katanya bisa marah-marah kalau ada siswa perempuan yang menyentuh tangan anda?”
Julio membenarkan kacamatanya. “Hahaha, bukankah itu wajar? Memangnya Fani tidak akan marah jika ada yang menyentuh semabarangan? Itu tidak sopan loh.”
Fani menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Iya juga sih pak…”
“Sepertinya banyak rumor tentang saya ya, lain kali tolong ceritakan ke saya. Sekarang ada yang ingin saya bicarakan dulu dengan ketua OSIS.”
“Siap pak!” ucap Fani sambil memberi hormat dengan tangannya.
Julio hanya tertawa melihat Fani lalu mendekat ke arah Gavin untuk membicarakan sesuatu.
Lilia hanya diam dengan pikirannya yang semakin penuh. Ada beberapa hal yang membuatnya tidak mengerti.
“Eh Lil, nanti ngelesin anak lomba lagi?” tanya Fani sambil tetap makan jajan lainnya.
“Iya, kenapa?”
“Yah, gue libur ngelatih buat pekan olahraga…”
“Pulang duluan aja.”
“Terus lu pulang bareng siapa?”
“Mungkin nanti diantar pak Julio lagi.”
“Oh gitu, oke.”
Tak lama kemudian bel tanda jam masuk pelajaran berbunyi. Ketiga siswa itupun segera kembali ke kelas.
...◇◇◇...
Usai jam sekolah berakhir, keempat siswa kelas X sudah siap dan menunggu di kelas, begitupun dengan Lilia.
Julio datang dengan membawa beberapa soal latihan.
Pelatihan hari itu berlangsung lancar. Menjelang akhir pelatihan tersebut, Julio berpamitan karena minggu depan pak Darma akan kembali menjadi pendamping untuk persiapan lomba cerdas cermat tersebut.
Usai pelatihan itu, Julio dan Lilia bersiap untuk pulang. Saat itu suasana sekolah sudah cukup sepi, hanya tersisa siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler.
“Lilia, nanti mau mampir makan sebentar? Saya lapar.”
Lilia diam sejenak, ia tampak ragu selama beberapa saat. Namun perempuan bermata coklat itu menepis pikiran buruknya.
__ADS_1
“Boleh deh, saya izin orang tua saya dulu ya.”
Julio mengiyakan. Setelah Lilia meminta izin kepada orang tuanya untuk pulang lebih lambat, keduanya pun pergi ke tempat makan yang ada di pusat kecamatan.
Sambil menunggu pesanan datang, Julio dan Lilia mengobrol.
“Eh maaaf saya tidak menanyakan lebih dulu apakah kamu suka bakso atau tidak, " ucap Julio.
Lilia tersenyum. “Saya suka kok.”
“Maaf saya cuma bisa berterimakasih dengan cara seperti ini.”
“Terimakasih untuk apa ya pak?”
“Karena kamu sudah mau meluangkan waktu membantu persiapan untuk lomba cerdas cermat.”
“Hehe saya senang kok bisa membantu. Jadi ini traktiran buat saya?”
“Ya, kamu bisa manambah sebanyak yang kamu mau.”
“Wah asyikk.”
Tak lama kemudian pesanan datang. Keduanya pun makan dengan lahap.
“Saya akan izin mulai hari senin hingga rabu, jadi saya tidak datang ke sekolah.”
“Oh yang pernah pak Julio katakan waktu itu ya?”
“Saya sudah pernah bilang?”
“Ya, waktu anda mengantar saya pulang. Apa ada saudara anda yang akan menikah?”
Julio tertawa mendengar pertanyaan Lilia. “Bukan.”
“Lalu apa? Biasanya guru izin kalau ada acara seperti itu.”
“Selasa depan adalah tanggal lahir tunangan saya yang sudah meninggal, saya ingin mengunjunginya.”
Lilia diam sejenak, memperhatikan ekspresi Julio. “Pak Julio sangat menyukainya ya? Beliau orang yang seperti apa?”
Julio diam, laki-laki berkacamata itu meletakkan sendoknya.
“Dia orang yang cerdas namun ceroboh, tatapan matanya hangat, punya pendirian yang kuat walau hidup di situasi sulit… .”
Julio tak melanjutkan perkataannnya, ia menatap ke arah Lilia yang masih sibuk mengunyah bakso.
“Loh pak Julio?”
Suara itu mengagetkan Julio. Lilia menoleh ke arah sumber suara.
“Loh ada Lilia juga?”
Julio berdiri lalu menyalami perempuan paruh baya itu, begitupun dengan Lilia.
“Iya bu, saya sedang mentraktir Lilia yang sudah banyak membantu persiapan lomba cerdas cermat kali ini,” ucap Julio menjelaskan.
“Kok traktirannya cuma bakso sih pak?” tanya bu Sri sambil tertawa.
“Waduh seharusnya saya traktir apa ya bu?” ucap Julio yang mencoba mengikuti candaan bu Sri.
“Traktir makanan enak lah pak.”
“Ini juga makanan enak kok bu,” sahut Lilia sambil tersenyum.
Bu Sri tertawa lalu ikut duduk bersama Julio dan Lilia sambil menunggu pesanannya jadi.
“Makan disini juga bu?” tanya Julio ramah.
“Nggak pak, saya bungkus soalnya anak saya yang minta. Oh iya katanya pak Julio senin sampai rabu nanti izin ya?”
“Benar.”
“Duh kepo saya, ada acara apa pak? Lamaran?”
“Bukan bu hehe, ada urusan pribadi saja.”
Tak lama kemudian pesanan bu Sri sudah jadi. Perempuan paruh baya itu pun pamit,
“Saya duluan ya pak Julio, Lilia.”
Julio dan Lilia mengiyakan lalu keduanya lanjut makan yang tertunda.
“Apa anda memang tidak menyebutkan alasan izin?” tanya Lilia penasaran.
“Tidak, saya tidak ingin menjelaskan kepada semua orang tentang kehidupan pribadi saya.”
Lilia diam, tampak berpikir. Namun lagi-lagi ia menepis pikiran itu.
“Terimakasih pak traktirannya, semoga perjalanannya nanti lancar,” ucap Lilia setelah menghabiskan satu mangkuk bakso.
Julio tersenyum lalu segera mengantar Lilia pulang. Keduanya pun mengobrol lagi sepanjang perjalanan.
“Hubunganmu dengan Reza membaik?”
Pertanyataan Julio membuatnya teringat kejadian tadi pagi.
“Saya tidak ingin membicarakan hal-hal pribadi,” ucap Lilia dengan ekspresi kesal.
Julio tertawa. “Kalian terlihat serasi.”
“Pak…”
Julio tertawa lagi. “Jangan berpacaran di sekolah walau saya tidak ada. Jagalah lingkungan sekolah sebagai tempat belajar yang nyaman.”
“Siapa sih yang pacaran? Lagian itu kan urusan pribadi saya,” ucap Lilia kesal.
“Iya iya saya hanya bercanda. Jangan sampai melewati batas, kalian masih muda.”
“Duh pak Julio ini ya bahasannya kemana-mana.”
“Saya hanya mengingatkan kok. Tugas saya kan memang hanya mengingatkan.”
“Iya saya mengerti jadi tolong jangan membicarakan hal itu lagi. Hahh, saya tidak bisa membayangkan jika anda punya adik, pasti anda akan menasehatinya sehari tiga kali.”
Julio tertawa. “Tentu saya akan lakukan itu.”
Lilia ikut tertawa dengan candaan guru itu. Tanpa terasa keduanya telah sampai di gapura desa dimana Lilia tinggal.
“Terimakasih pak.”
__ADS_1
Julio hanya tersenyum lalu memandangi Lilia yang berjalan menjauh. Laki-laki itu melepas kacamatanya lalu memakai helm iu lagi. Tatapannya yang hangat beberapa waktu lalu berubah menjadi terlihat dingin.
...◆◇◆◇◆...